
Sesudah menyadari kesalahannya Dylan segera keluar dari kamar mandi dan berniat untuk menghampiri Ziena dan meminta maaf atas perkataannya tadi. "ya ampun rambutnya masih basah kenapa dibiarkan begitu sih" batin Dylan yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat rambut Ziena yang masih basah
Ia mengambil hairdryer dan berjalan mendekati Ziena. "mas Dylan mau apa bawa-bawa hairdryer?" tanya Ziena sedikit ketus
"mau mengeringkan rambut mu yang masih basah itu" jawab Dylan
"ummm" balas Ziena tanpa menoleh ke arah Dylan
"ayo sini mendekatlah sedikit aku keringkan" ucap Dylan sambil menarik Ziena untuk sedikit mendekat
"gak perlu mas aku bisa sendiri" tolak Ziena sambil melepas tangan Dylan
Dylan tidak kehilangan akal untuk memaksa Ziena menuruti keinginannya. Ia langsung naik ke tas tempat tidur dan menggendong tubuh Ziena kemudian mendudukkannya perlahan di pinggiran tempat tidur. "mas Dylan apaan sih" ucap Ziena dengan ketus
"udah diam jangan bawel, aku mau mengeringkan rambut mu ini" jawab Dylan
__ADS_1
"aku kan udah bilang aku bisa sendiri mas" balas Ziena
"aku gak nyaman lihat rambut kamu yang basah ini na" balas Dylan sambil terus mengeringkan rambut Ziena tanpa memperdulikan ocehan Ziena.
"udah kamu diam aja jangan bawel biar suami kamu ini yang bantu mengerikan" lanjut Dylan dan seketika Ziena berhenti mengoceh
"oh ya ampun mas Dylan bilang suami tadi, uhhhh membuatku bahagia saja" batin Ziena sambil tersenyum tanpa Dylan sadari karena posisi Ziena yang membelakangi Dylan
Suasana seketika hening hanya suara mesin hairdryer yang mengisi kamar ini. "maaf na" ucap Dylan lirih di salah satu telinga Ziena
Ziena langsung menoleh ke belakang menatap wajah suaminya. "maaf untuk apa mas?" tanya Ziena yang sudah lupa akan mode marahnya kepada Dylan
"tidak apa-apa aku memang sadar posisi kok mas" balas Ziena dengan raut wajah yang berubah kembali seperti awak tadi
mendengar jawaban Ziena membuat hati Dylan tambah merasa bersalah lagi. "maaf na aku masih belum tau dengan perasaan ku ini, yang jelas hatiku merasa ingin denganmu tapi mulutku selalu berkata sebaliknya" batin Dylan
__ADS_1
cup
Dylan mencium pipi Ziena sekilas membuat orang yang dicium mati kutu seketika. "apa...mas Dylan mencium pipiku, ciuman pertamaku? bukan-bukan na mas Dylan pernah mencium keningmu waktu pernikahan dulu, lalu ini ciuman pertama atau ciuman kedua ya? tidak penting mau ini ciuman keberapa yang penting aku bersyukur sekali oh tuhan rezeki mu sungguh luar biasa" batin Ziena berteriak histeris sambil tersenyum tersipu malu
Sedangkan Dylan menatap Ziena yang masih terdiam mematung setelah ia cium. "astaga aku ini kenapa sih main nyosor aja, biasanya aku juga bisa mengontrol diriku, tapi kenapa kalo sama Nana aku jadi lemah begini ya? apa karena rasanya beda ya kalo udah sah sama belum sah gitu?" batin Dylan
"tapi bagaimanapun juga aku ini laki-laki normal sekuat-kuatnya aku menahan pasti akan ada masanya juga aku tidak bisa menahannya lagi" batin Dylan lagi
Tersadar dari lamunannya, Dylan langsung menatap Ziena yang masih diam dengan pipi yang merona menahan malu. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyumnya kala melihat wajah malu Ziena. "maaf na tadi itu ciuman sebelum tidur" ucap Dylan tanpa malu dan langsung naik ke atas tempat tidur
"iya mas Dylan gak apa-apa" jawab Ziena asal
Ia masih terpikir dengan kejadian yang baru saja terjadi padanya. "aku tidur dulu na, selamat malam" ucap Dylan yang sudah berbaring di samping Ziena
"aku juga mau tidur mas, selamat malam" sahut Ziena sambil tidur dengan posisi membelakangi Dylan
__ADS_1
Melihat tingkah Ziena membuat Dylan semakin menjadi-jadi untuk menggoda istrinya ini. Tanpa malu ia melingkarkan tangannya memeluk tubuh Ziena yang membelakanginya. Ia bisa merasakan tubuh Ziena yang menegang kala ia memeluknya. "sudah jangan tegang ayo tidur" bisik Dylan disalah satu telinga Ziena
Ziena hanya diam tak menanggapi ucapan Dylan. "kamu kalau gini gemesin banget na" batin Dylan dengan mata terpejamnya