Pesta Di Masa Depan

Pesta Di Masa Depan
BAB 114


__ADS_3

Hari ini Dylan tidak berangkat ke kantor, dari kemarin badannya panas dan Ziena juga izin tidak masuk kuliah karena ingin merawat suaminya. Meski hubungannya tidak baik ia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.


Pagi tadi Ziena menghubungi dokter pribadi suaminya. Dokter bilang Dylan hanya kelelahan. "mas makan dulu yuk habis itu diminum obatnya"


Dylan menggeleng. "gak *****"


"kalau kamu gak makan gak kamu minum obatnya terus mau sembuh dari mana" omel Ziena


Tadi pagi Dylan juga mengatakan hal yang sama, tidak *****. Ia baru mau makan setelah mendengar omelan Ziena. Sejujurnya ia terpaksa makan karena jika tidak istrinya akan terus mengomel dan tak mau berhenti.


"ya udah kita ke rumah sakit aja, biar kamu di infus" ancam Ziena


Dylan bangun dari tidurnya, ia langsung bersandar di sandaran tempat tidur. Jujur kepalanya masih pusing tapi ia tetap memaksakan untuk duduk agar bisa makan. "bawa sini makanannya" ucap Dylan


Ziena memberi semangkuk bubur ayam yang di buat Bu Inah tadi. "gak dihabiskan gak apa-apa yang penting perut kamu ada isinya" kata Ziena


Dylan mengangguk, ia mulai memasukkan bubur ke dalam mulutnya. Setelah empat sendok ia memberikan mangkuk itu kepada Ziena. Kemudian Ziena memberikan air minum dan obat yang harus Dylan minum. "aku mau ke bawah, nanti kalau kamu perlu apa-apa tinggal panggil aku atau Bu Inah" kata Ziena


Dylan tidak menjawab, ia masih memperhatikan Ziena yang sedang menyiapkan kompres untuknya. Setelah menaruh handuk dingin di kening suaminya Ziena pergi. Dylan memperhatikan setiap perlakuan istrinya. Benar kata Alex, Ziena sangat baik kepadanya.


Di bawah Ziena membantu Bu Inah yang sedang mencuci piring. "non jangan, ini tugasnya ibu"


"gak apa-apa Bu cuman sedikit"


"jangan non nanti ibu makan gaji buta lagi" kata Bu Inah sambil tertawa


Begitulah interaksi mereka. "non habis ini ibu izin ke toko depan mau belanja kebutuhan rumah soalnya sudah pada habis" ucap Bu Inah


"depan kompleks itukan Bu yang ada penjual roti bakarnya?" tanya Ziena memastikan


"iya non"


"kalau begitu saya sekalian nitip roti bakar selai nanas boleh gak Bu"


"iya boleh lah non"


"nitip empat ya Bu dua selai nanas sama dua selai coklat" kata Ziena sambil memberikan dua puluh lembar uang pecahan seratus ribu, kebetulan ia membawa dompetnya tadi karena ia mau membeli es puter yang sering lewat di depan rumahnya.

__ADS_1


"segitu kurang gak Bu buat belanja?"


"ini malah kebanyakan non"


"ya udah nanti ibu kalau belanja agak banyakan aja biar gak bolak-balik beli" kata Ziena


Bu Inah mengangguk setelah itu pergi.


Ziena berjalan ke pos jaga. "pak penjual es puter yang biasanya keliling depan rumah udah lewat apa belum?" tanyanya pada satpam yang bertugas


"belum nona"


"nanti kalau sudah lewat tolong bapak hentiin penjualan saya mau beli soalnya" jelas Ziena


Setelah mengatakan itu ia berjalan menuju teras rumah sambil menunggu penjual es puternya lewat. Tak lama kemudian terdengar suara khas penjual es puter.


Tong Tong Tong Tong


Suaranya begitu khas, berasal dari besi berbentuk gong kecil yang dipukul menggunakan kayu seukuran genggaman tangan.


Pak satpam memanggil penjual itu dan Ziena segera menghampirinya. "pak es puternya satu berapa?" tanya Ziena


"bungkus dua pak"


Ziena membeli dua, satu untuknya dan satunya lagi untuk satpam yang berjaga. Ia tidak mungkin membelikan suaminya es karena sedang sakit. "terima kasih nona" kata pak satpam


............


"sedang apa kamu di sini?" tanya Dylan


Sore tadi badannya lebih mendingan, ia memutuskan untuk mandi menggunakan air hangat dan menyelesaikan pekerjaan yang ia tinggal dari kemarin.


Ia juga menyuruh Bu Inah untuk mengantarkan makan malamnya ke ruangannya sebab banyak sekali laporan yang harus ia selesaikan.


Baru jam sepuluh malam Dylan keluar dari ruangannya. Ia juga langsung memutuskan untuk segera tidur, tapi saat membuka pintu kamar ia melihat istrinya sedang duduk di balkon kamar mereka, ia pikir Ziena sudah tidur dari tadi.


Ziena menatap wajah suaminya. "duduk" jawabnya

__ADS_1


Memang benar jawaban Ziena. Ia memang sedang duduk sambil menikmati angin malam. "gak tidur?"


"belum ngantuk"


Dylan menggeser kursi di sebelahnya. "saya perhatikan kamu sering duduk sendiri seperti ini" ucap Dylan tanpa menoleh ke arah Ziena


"iya aku suka melakukannya"


Setelah itu hanya keheningan diantara mereka. "na" panggil Dylan, kali ini ia menatap Ziena


"iya" Ziena ikut menoleh menatap suaminya


"maaf" ucapnya sambil menggenggam tangan Ziena


Ziena diam. "saya minta maaf atas semua perlakuan saya, ucapan kasar saya dan apapun yang menyakiti hati kamu selama ini"


"hari ini saya memohon kepada kamu ingin memulai semuanya dari awal, kita buka lembaran baru, kita jalani hidup baru kita bersama-sama"


"kamu mau kan?" tanya Dylan penuh harap


Ziena masih diam. Hatinya bergejolak antara iya dan tidak. Perlu diketahui hatinya tak seyakin dulu, sekarang lebih banyak ragu daripada yakin.


Ziena melepaskan tangannya dari genggaman Dylan. "aku tidak tau harus jawab apa mas"


"selama menikah aku tidak merasakan perbedaan antara hidupku yang dulu dan sekarang, aku selalu menjadi Ziena yang sendiri hanya statusku saja yang berubah dan hatiku juga tidak seyakin dulu untuk mempertahankan pernikahan ini" jelas Ziena


Dylan beranjak, kemudian bersujud memohon di kaki Ziena. "saya gak tau bagaimana menghilangkan ragu kamu na yang saya tau saya adalah laki-laki bajingan yang gak mau mengakui perasaannya sendiri"


"saya terjebak diantara janji-janji saya dengan Mela dan terjebak cinta yang tumbuh untuk kamu, saya gak tau na saat itu harus bagaimana, saya bingung"


Dylan mendongakkan kepalanya menatap mata Ziena. "saya mohon beri saya kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita"


Ziena menepuk pundak suaminya. "mas jangan begini, aku gak bisa jawab sekarang" ucapnya sambil berdiri hendak pergi


Dylan langsung memeluk Ziena dari belakang, menaruh kepalanya di pundak Ziena. "saya mau kamu jawab sekarang na, saya mau dengar apa keputusan kamu hari ini, saya mohon" bisiknya


Ziena meneteskan air matanya. Tembok yang ia bangun tinggi-tinggi akhirnya runtuh juga. "iya saya beri kamu kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita, tapi jika suatu saat nanti kamu mengulangi perbuatanmu jangan harap ada kata kembali mas"

__ADS_1


"terima kasih na, saya janji gak akan berbuat kesalahan yang sama" ucap Dylan dengan bahagia


Dylan membalikkan tubuh Ziena, ia mencium lama kening istrinya dan memeluknya dengan erat. Rasa lemas dan pusingnya tiba-tiba menghilangkan. Beginikah kekuatan cinta? mampu menyembuhkan rasa sakitnya


__ADS_2