
Hari ini genap tiga Minggu sudah Dylan berada di Moskow. Rencananya ia akan pulang nanti sore. "Lan gue udah siapin semua keperluan kita nanti sore" ucap Alex menjelaskan
Dylan meletakkan gelas kopi yang ia pegang. "terima kasih Lex, sekarang Lo bisa santai-santai dulu sambil menunggu nanti sore" jawab Dylan
Alex mengangguk kemudian menyesap kopi hitam di depannya. Tiba-tiba Alex kepikiran bahwa Ziena hampir lima hari ini tidak mengirim pesan perihal menanyakan kabar suaminya ataupun kapan suaminya pulang. "Lo gak berencana memberitahu nona"
"tentang apa?" tanya Dylan
"kepulangan Lo hari ini" jelas Alex
Dylan terdiam. "gak perlu"
"Lima hari ini nona gak mengirim pesan apa-apa ke gue biasanya dia selalu kirim pesan menanyakan kabar Lo" ucap Alex memberitahu
Dylan terdiam Kemudian ia menoleh ke arah Alex. "gue lagi ada masalah dengan perasaan gue sendiri" ucap Dylan
Alex kemudian terdiam mencoba mendengarkan curhatan sahabatnya. "gue gak mau Ziena terlalu dalam mencintai gue karena gue gak mungkin bisa balas cinta dia dan gue juga gak mau perasaan gue ke dia yang awalnya hanya sedikit malah berubah jadi dalam, Lo tahukan pernikahan gue itu cuman karena perjodohan" jelas Dylan
"nona gak salah cinta sama Lo Lan karena Lo adalah suaminya sah secara hukum dan agama yang salah itu Lo, coba Lo tanya ke diri Lo sendiri kenapa Lo bisa seegois ini? Lo mempermainkan hati dua orang wanita sekaligus" jawab Alex menanggapi curhatan Dylan
__ADS_1
"gue sadar Lex kalau gue egois bahkan gue adalah laki-laki bajingan yang gak bisa menegaskan ke mana perasaan gue ini, tapi cinta yang hadir di antara gue dan Ziena itu menurut gue salah karena kehadiran dia di tengah-tengah hubungan gue dengan Mela itu udah salah" balas Dylan
"kehadiran nona gak salah jika Lo dari awal sudah tegas, kalau Lo udah menganggap kehadiran nona salah seharusnya Lo gak menerima perjodohan itu dulu karena kalau Lo udah memilih perjodohan itu seharusnya Lo bisa melepaskan Mela dan begitu juga sebaliknya kalau Lo udah memilih perjodohan itu Lo harus mulai menerima kehadiran nona di sisi Lo" ucap Alex memberi pendapatnya
"gue gak bisa melepas Mela dengan mudah Lex, Lo tahukan gue sudah menjalin hubungan yang cukup lama dengannya" jawab Dylan
"Lan mungkin dalam urusan kerjaan gue masih bisa bantu untuk memutuskan tapi dalam masalah ini semua keputusan ada di tangan Lo karena Lo yang menjalaninya bukan gue"
"semoga aja keputusan yang Lo pilih itu memang terbaik buat Lo dan juga buat wanita-wanitamu karena sejatinya gak ada wanita yang mau berbagi cinta" jelas Alex
Dylan mengangguk tanda mengerti maksud sahabatnya. Bagi Dylan bercerita dengan Alex adalah pilihan yang tepat karena selain sudah kenal lama dan juga seusia Alex juga tipikal orang yang enak diajak berbicara meski kadang ucapan yang Alex bilang sedikit terlihat jujur dan menyakitkan tapi ia paling bisa mengerti situasi keadaan disekitarnya.
Setelah kepergian Alex, Dylan benar-benar merenungkan kembali setiap ucapan yang Alex bilang. Yang Alex ucapkan memang benar dan Dylan juga menyadari itu tapi sekarang ia dihadapkan dalam sebuah pilihan, jika Dylan memilih Ziena maka ia akan melepaskan Mela dan mengingkari semua janji-janji yang pernah ia ucapkan tapi sebaliknya jika ia memilih Mela maka ia harus siap-siap berhadapan dengan kedua orang tuanya sekaligus bukan hanya Ziena saja.
Dylan mengambil ponselnya. Ia membuka sebuah foto yang Ziena kirim kepadanya saat mereka berbulan madu dulu. "maafkan saya na... mungkin pilihan yang saya ambil akan menyakiti kamu tapi perasaan cinta saya tidak bisa dipaksakan" ucap Dylan sambil menatap foto mereka yang sama-sama tersenyum
Kemudian Dylan beralih ke menu telepon. Ia mencari nama seseorang yang sudah ia rindukan beberapa hari ini. "hallo Mel" sapa Dylan
"iya sayang ada apa?'' tanya Mela di seberang sana
__ADS_1
"kamu masih di Bali?"
"iya sayang, mungkin nambah dua sampai empat hari lagi" jawab Mela
"ya sudah kalau urusan kamu selesai jangan lupa beritahu aku" balas Dylan sebelum memutuskan sambungan teleponnya
...*****...
"mas Dylan" ucap Ziena lirih dengan keadaan setengah sadar, tapi kemudian ia kembali terlelap
Dylan tiba pada pukul dua pagi. Ia hanya memberi tahu Bu Inah bila ia akan pulang hari ini namun ia juga berpesan kepada Bu Inah untuk tidak memberitahukan ke Ziena perihal kepulangannya. Bu Inah hanya mengiyakan perintah Dylan tanpa berani bertanya alasannya.
Sejujurnya meskipun Bu Inah baru beberapa minggu ini tinggal bersama istri majikan, ia tahu betul bagaimana sosok Ziena. Menurutnya Ziena adalah wanita yang polos dan tulus, ia tahu betul karena bagaimanapun juga Bu Inah sudah pernah mencicipi pahit dan manisnya kehidupan.
Terkadang Bu Inah juga merasa bersalah sekaligus kasihan kepada Ziena karena terkadang ia harus berbohong demi menjalankan perintah Dylan. Tapi yang membuat Bu Inah merasa kasihan adalah saat tahu bila tuannya tidak pernah memberi kabar kepada Ziena.
Meski bagaimanapun Ziena tetaplah istri Dylan dan tidak seharusnya Dylan berlaku seperti itu kepada istrinya pikir Bu Inah. Bu Inah tahu betul bagaimana perasaan Ziena karena ia pernah berada di posisi itu, ingin sekali Bu Inah menegur perilaku Dylan tapi apalah dayanya yang hanya seorang pekerjaan di rumah ini.
Saat Dylan tiba di rumah suasana masih sangat sepi karena ia datang saat dini hari sekali hanya Bu Inah dan satpam yang bertugas yang tahu kedatangannya. "selamat pagi tuan" sapa Bu Inah sambil membawa masuk koper yang Dylan bawa
__ADS_1
Dylan berlalu masuk ke dalam menuju kamarnya. Pemandangan yang Dylan lihat pertama kali adalah Ziena yang masih terlelap di bawah selimut tebal. Ia memalingkan pandangannya dan segera mengganti pakaian yang ia kenakan untuk segera tidur karena jujur sekali badannya masih terasa lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.