
Mobil yang Dylan dan Ziena kendarai memasuki rumah besar milik keluarga cakradara. Sudah lama sekali mereka tidak menginjakkan kaki ke rumah ini, kira-kira semenjak rumah tangga mereka diterpa badai.
Setelah memarkirkan mobilnya mereka turun bersama. Di depan sudah ada pak Han yang menanti kedatangan mereka. "selamat malam tuan dan nona" sapanya
Ziena membalas dengan senyuman. Setelah itu mereka diantar masuk ke dalam.
Di ruang keluarga sudah ada papa dan mama yang menunggu kedatangan mereka. Ada rasa bahagia bercampur lega melihat mereka datang berdua. Terlihat dari cara mama Ana menyambut menantunya.
Memang itu urusan mereka, itu juga rumah tangga mereka dan tak seharusnya orang tua ikut campur terlalu dalam, tapi orang tua mana yang tak ikut sedih melihat rumah tangga anaknya tak baik-baik saja. "kok baru datang? katanya tadi sorean ke sini, mama tungguin dari tadi" tanya mama Ana
"mas Dylan pulangnya kesorean ma dan tadi jalanan juga lumayan macet soalnya malam Minggu" jawab Ziena seadanya
Papa Juna juga ikut mengiyakan jawaban Ziena. "iya jalanan lumayan macet, ini saja papa juga baru pulang" kata papa Juna
Terlihat dari rambut Papa Juna yang sedikit basah. "papa setiap hari juga ke kantor?" tanya Ziena, karena setau dia papa Juna sudah tidak ikut mengelola kantornya
"papa gak setiap hari ke kantor, mungkin seminggu cuman 3 atau 4 kali saja dan itu pun hanya mampir" jelas papa Juna
__ADS_1
Ziena hanya mengangguk saja. "kalian menginap kan?" tanya mama Ana
Ziena menatap suaminya, dalam hal ini ia tak perlu memberi jawaban apapun karena semua jawaban ada di tangan suaminya. "sepertinya iya ma, soalnya kita berangkat tadi udah malem dan gak mungkin juga aku nyetir mobil di tengah malam" jawabnya
"benar itu, lebih baik menginap saja toh besok juga hari libur" sahut papa Juna
Setelah itu obrolah mereka berlanjut dan seperti biasa Ziena lebih banyak diam dari pada ikut bicara sebab ia masih merasa sedikit canggung berada di tengah-tengah keharmonisan keluarga ini.
Meski pernikahannya sudah setahun lebih tapi tak pernah dalam sehari ia duduk bersama-sama seperti ini dan berbincang-bincang layaknya keluarga yang hangat. Percayalah kali ini ia merasa menjadi orang asing kembali.
Sesekali mungkin Ziena akan angkat bicara bila ada pertanyaan yang khusus ditujukan untuknya tapi selebihnya ia hanya menyimak, mengangguk dan tersenyum saja.
Ziena ikut tersenyum melihat suaminya beberapa kali menampilkan deretan gigi putihnya. Menurutnya itu suatu hal yang langka di dunia ini. Terkesan alay tapi memang begitulah kenyataannya, setiap berada di dekatnya Dylan hanyalah orang asing yang tak pernah Ziena kenal, berhati dingin, kaku, dan kadang kasar. Begitulah Dylan di mata Ziena.
"kamu terlihat lebih bahagia berada di dekat orang-orang yang memang kamu cintai mas" tanpa sengaja Ziena terus melihat interaksi antara Dylan dengan kedua orang tuanya
"aku iri melihatnya, aku juga ingin menjadi salah satu alasan kamu bahagia, menjadi alasan kamu tersenyum, mendengar kamu memanggil namaku dengan nada penuh cinta, tapi nyatanya aku hanyalah sebuah kotak masalah untukmu"
__ADS_1
.............
Tengah malam Ziena terbangun, entah karena apa tapi tiba-tiba ia terbangun dan tidak bisa tidur kembali. Melihat cahaya rembulan yang sedikit masuk di celah-celah jendela, ia memutuskan untuk duduk dibawah sinarnya.
Ziena membuka gordennya sedikit lebar membiarkan sinar rembulan leluasa masuk ke dalam kamarnya. Kamarnya gelap karena Dylan tidak bisa tidur jika menggunakan penerangan.
Setelah itu Ziena duduk sambil menatap ke arah luar jendela. Ia suka berada di bawah pantulan sinar rembulan, menurutnya saat seperti ini adalah saat yang pas untuk merenung. Tidak akan ada yang mengganggu, tidak akan ada yang melihat ia sedang menangis, bahagia ataupun tertawa. Yang tahu hanya benda-benda mati di dalam kamarnya, sebab itulah merenung saat tengah malam begitu Ziena sukai.
Ziena masih memegang kuat kendali untuk dirinya agar tidak menangis. Sebab ia masih sadar jika ia sedang tidak sendirian, ada Dylan juga di sini, meskipun suaminya itu tidur.
Beberapa kali ia membuang nafas kasar guna membuang rasa sesak di dalam dadanya. Semua terlalu berat untuknya.
Ia terus menatap rembulan itu, tidak ada yang tau apa yang sedang ia pikirkan, apa yang sedang ia ucapkan dalam hatinya, yang jelas hanya tatapan mata yang mampu menjelaskan bagaimana keadaannya saat ini.
Lelah.
Mungkin satu kata itu mewakili segala perasaannya. Tubuhnya cukup lelah, hatinya juga lelah, pikirannya pun juga lelah.
__ADS_1
Mungkin beristirahat adalah jawaban. Tapi tak ada yang tau istirahat apa yang membuat lelahnya hilang, tidur seharian tetap tak menjamin lelahnya hilang atau bahkan berkurang.