
tok tok tok
suara pintu diketuk
"masuk" ucap Dylan
"permisi pak, tuan besar ada di luar" ucap Alex
"ada apa papa datang ke kantor" gumam Dylan
"suruh masuk Lex" jawab Dylan
"baik pak" jawab Alex sambil berjalan keluar
papa Juna masuk dengan wajah menahan marah
"selamat datang pa, ada perlu apa papa datang kemari?" tanya Dylan
"seminggu lagi pernikahan kamu dengan Nana anak dari teman papa" ucap papa Juna
perkataan papa Juna membuat Dylan terkejut, bagai disambar petir di siang bolong.
"maksudnya apa pa" bentak Dylan
"seminggu lagi kamu akan menikah" jawab papa Juna
"aku gak mau pa" jawab Dylan
"lagi pula papa belum membicarakan ini dengan ku, apa aku setuju atau tidak" lanjut Dylan
"itu salah kamu" jawab papa Juna
"salah ku dari mana pa, jelas-jelas papa dan mama belum membicarakan Masalah ini dengan ku" jawab Dylan
"bukannya malam itu kamu memilih tidak pulang ke rumah" jawab papa Juna
Dylan hanya diam karena memang saat itu dia tak ingin pulang ke mansion orang tuanya.
"dan jangan pernah bilang jika papa belum pernah membicarakan Masalah ini dengan kamu" ucap papa Juna
"terserah pa, pokoknya Dylan gak mau menikah dengan anak teman papa itu" jawab Dylan ketus
"Dylan hanya cinta sama Mela dan akan menikah denga Mela pa" lanjut Dylan
"kamu pilih jadi anak papa dan mama atau memilih wanita yang menjadi kekasih mu itu" ucap papa Juna tegas
Dylan hanya terdiam karena dia sangat bingung.
"papa tunggu jawaban kamu di rumah" ucap papa Juna sambil berjalan keluar
"dan satu lagi Dylan, papa harap kamu memutuskan jawaban yang tepat" lanjut papa Juna sambil menutup pintu ruangan Dylan
"sialan" teriak Dylan sambil melempar vas bunga sampai hancur
papa Juna tau Dylan tak mungkin membantahnya maka dari itu papa Juna mengancam Dylan dengan cara itu.
Alex yang melihat om Juna keluar dengan wajah merah menahan marah serta mendengar teriakan Dylan dari dalam memutuskan untuk masuk tanpa mengetuk pintu.
Alex melihat pecahan vas bunga di sudut ruangan dan beralih melihat Dylan yang sedang duduk bersandar di sofa.
"kenapa lan?" tanya Alex
"seminggu lagi aku nikah Lex" jawab Dylan
"sama siapa lan?" tanya Alex
"sama anak temen papa gue Lex" jawab Dylan
"apa yang dijodohin sama Lo itu lan?" tanya Alex
"iya Lex" jawab Dylan
"terus kenapa Lo banting-banting vas bunga gini" ucap Alex sambil melihat vas bunga yang sudah hancur
"gue emosi Lex, seminggu lagi gue harus nikah sama orang lain yang gak gue kenal sedangkan gue hanya pengen nikah sama Mela" jawab Dylan
"bahkan tadi papa gue ngancem gue Lex" lanjut Dylan
"om Juna ngancem lo?" tanya Alex
"iya Lex gue dikasih pilihan, gue harus milih orang tua gue atau Mela pacar gue" jawab Dylan
"pilihan ada di tangan Lo lan" jawab Alex
"lo jangan sampai salah milih keputusan lan" lanjut Alex
"maka dari itu Lex gue bingung" jawab Dylan
"pilihan orang tua gak pernah salah lan" ucap Alex sambil menepuk pundak Dylan
"iya lex" jawba Dylan
"gue pergi dulu bro, mau nyuruh OB buat bersihin pecahan itu" ucap Alex sambil menunjuk pecahan vas bunga
di sisi lain Ziena sedang berbincang dengan ketiga sahabatnya.
"eh kalian udah punya pandangan mau kuliah di mana gak sih?" tanya Mila
"aku masih bingung mil" jawab Dea
__ADS_1
"kemarin kakak sepupu ku ngasih aku brosur tentang kampusnya" ucap Rista sambil mengeluarkan brosur dalam tasnya
"kampusnya bagus kok, akreditasinya juga A" lanjut Rista
"coba sini aku lihat" jawab Mila
"wah cocok nih ada jurusan yang aku pengeni" lanjut Mila
"coba sini lihat mil" sahut Dea
"wah kampusnya bagus" lanjut Dea
"kita daftar di kampus ini yuk" ajak Rista
"Ayuk" jawab Dea
"zie gimana?" tanya Rista
"coba aku lihat" jawab Ziena sambil melihat brosurnya
"gimana zie?" tanya Rista lagi
"iya aku mau daftar kuliah di sini" jawab Ziena
"kita daftarnya barengan aja yuk" ucap Mila
"eh tapi kamu ngambil jurusan apa mil?" tanya Rista
"aku sih pengen ngambil jurusan hukum" jawab Mila
"oh" jawab Rista
"terus kalo kamu apa Ris?" tanya Mila
"aku pengen ngambil jurusan kedokteran mil" jawab Rista
"jadi sama kayak papa kamu ya Ris" jawab Mila
"iya mil" jawab Rista
"terus kalian mau ngambil jurusan apa?" tanya Rista sambil melihat Ziena dan dea
"aku mau ngambil jurusan manajemen bisnis" jawab Ziena
"terus kalo kamu apa de?" tanya Mila
"aku juga mau ngambil jurusan manajemen bisnis mil" jawab Dea
"wah sama kayak ziena dong" ucap Rista
"iya Ris biar aku sama Ziena terus" jawab Dea sambil tertawa
"iya de" jawab Ziena sambil tersenyum
"terus kapan pendaftarannya dibuka Ris?" tanya Dea
"sembilan hari lagi" ucap Rista
"ya udah kalo udah buka kita daftar bareng-bareng ya" ajak Mila
"iya mil" jawab mereka bersamaan
"udah yuk kita ke bioskop sekarang" ucap Mila
"iya ayo keburu habis tiketnya nanti" sahut Rista
"gak usah khawatir gitu Ris" jawab Mila
"maksudnya?" tanya Rista
"nih udah aku pesenin tiket" jawab Mila sambil menunjukkan layar ponselnya
"tumben cekatan kamu mil" ucap Dea
"dari dulu aku tuh cekatan de" jawba Mila
"kita bayar berapa mil tiketnya?" tanya Ziena
"udah gak usah hari ini tiketnya aku yang bayarin" jawab Mila
"wah makasih Mila" jawab mereka bersamaan
"tapi lain kali gantian" ucap Mila cengengesan
"ih Mila mah" gerutu Rista
"gak kok temen-temen aku cuman bercanda" ucap Mila
"udah ayo berangkat sekarang keburu filmnya mulai" ajak Dea
mereka pergi meninggalkan cafe menuju bioskop.
jarum jam menunjukkan pukul 3 sore, Dylan yang sedari tadi tidak bisa fokus bekerja akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Lex siapkan mobil, aku ingin pulang sekarang" ucap Dylan sambil menekan tombol yang terhubung dengan Alex sekertarisnya
"baik pak" jawab Alex
hanya butuh waktu 3 menit untuk Alex menyiapkan mobilnya.
__ADS_1
tok tok tok
suara pintu diketuk
"permisi pak mobil sudah siap" ucap Alex
"iya" jawab Dylan sambil berjalan keluar diikuti Alex
Dylan berjalan keluar perusahaan. Di depan sudah ada mobil yang akan mengantar Dylan pulang.
Alex membukakan pintu untuk Dylan dan menutupnya kembali, kemudian Alex membuka pintu depan mobil dan duduk di samping supir.
mobil yang ditumpangi Dylan berjalan dengan sangat santai menembus jalanan yang macet.
"kita pulang ke mansion utama" ucap Dylan
"baik tuan" jawab sopir pribadi Dylan
suasana di dalam mobil sangat hening hanya terdengar suara mesin mobil yang Melaju.
mobil yang ditumpangi Dylan sudah masuk ke dalam mansion, para pelayan yang melihat memberi salam.
"selamat datang tuan muda" sapa beberapa pelayan
Dylan hanya diam dan terus berjalan masuk ke dalam mansion.
"selamat datang tuan muda" sapa pak Han selaku kepala pelayan di mansion ini
"di mana papa dan mama ku pak?" tanya Dylan
"ada di taman belakang tuan" jawab pak Han
"beritahu mereka saya sudah datang pak" ucap Dylan
"baik tuan muda" jawab pak Han sambil berjalan pergi meninggalkan Dylan
pak Han berjalan menuju taman belakang.
"permisi tuan, tuan muda ada di ruang keluarga" ucap pak Han
"baik saya akan ke sana" jawab papa Juna
papa Juna dan mama ana berjalan menuju ruang keluarga.
"bagaimana keputusanmu" tanya papa Juna yang baru saja sampai
"apa kita tidak bisa bernegosiasi pa?" tanya Dylan
"apa menurutmu keputusan papa bisa ditawar" jawab papa Juna
"aku rasa papa hanya sedang main-mainkan dengan perjodohan ini agar aku meninggalkan Mela" ucap Dylan
"apa papa pernah main-main Dylan?" tanya papa Juna dengan wajah serius
"sekarang kau putuskan, kau pilih kedua orang tuamu ini dan menikah dengan wanita pilihan kita berdua atau kekasihmu itu" ucap papa Juna tegas
"ayolah pa jangan suka mengancam" jawab Dylan
"kau pilih kedua orang tuamu ini atau kekasihmu itu" ucap papa Juna lagi
"aku tak bisa memilih pa" jawab Dylan
"apa kau ingin jadi anak yang durhaka kepada orang tua Dylan" ucap papa Juna dengan menahan emosinya
"Dylan jangan membuat mama kecewa" teriak mama ana sambil menahan air matanya
"ma Dylan menyayangi kalian dan Dylan juga mencintai Mela ma" jawab Dylan
"Dylan bingung Dylan gak bisa milih ma" lanjut Dylan
"jadi kamu lebih memilih kekasihmu itu dari pada orang tuamu ini" jawab mama ana
"bukan begitu ma" jawba Dylan
"sekali lagi mama tanya kamu Dylan, kamu pilih kami KEDUA ORANG TUAMU atau kekasihmu itu" teriak mama ana sambil menekankan kata kedua orang tuamu
"mama harap keputusanmu tidak membuat orang yang sudah melahirkan dan membesarkanmu ini kecewa Dylan" lanjut mama ana
Dylan terdiam lama sambil memikirkan jawaban apa yang akan dia ambil.
"baiklah Dylan sudah mengambil keputusan" ucap Dylan
"apa keputusanmu?" tanya papa Juna
"Dylan menyetujui pernikahan ini" jawab Dylan
mama ana langsung memeluk Dylan.
"seminggu lagi pernikahanmu dan selama seminggu ini kamu tinggal di mansion ini bersama kami" ucap papa Juna sambil berjalan meninggalkan Dylan dan mama ana
"iya pa" jawab Dylan
"ma Dylan mau ke kamar" ucap Dylan
"iya nak beristirahatlah kamu pasti capek" jawab mama ana
Dylan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya.
setelah selesai mandi Dylan memutuskan untuk tidur karena memang dia sangat lelah hari ini.
__ADS_1