Pesta Di Masa Depan

Pesta Di Masa Depan
BAB 60


__ADS_3

Perlahan Ziena mendorong kenop pintu kamar orang tuanya. Kamar yang sudah tiga tahun lebih tidak pernah ia sentuh. Bersih, itulah yang pertama kali Ziena ucapkan. Meskipun sudah tiga tahun kamar ini tidak pernah ditempati bukan berarti tidak perlu dibersihkan.


Ziena selalu menyuruh pelayan untuk tetap membersihkan kamar ini tanpa merubah posisi terakhir barang-barang di dalamnya. "kamar ini masih sama tidak ada yang berubah" batin Ziena mulai meneteskan air matanya


Ia berjalan mendekati tempat tidur dan mendudukkan tubuhnya. Dingin, itulah yang Ziena rasakan. Sudah lama kamar ini kosong tak dihuni, meski sinar matahari bisa masuk dari celah-celah jendela tetap saja dingin yang Ziena rasakan. "maafkan Nana yang selama ini egois tidak mau mengikhlaskan kepergian kalian, asal mama dan papa tau kejadian itu benar-benar mengguncang mentalku bahkan setelah itu aku tidak pernah lagi merayakan hari ulang tahunku, aku selalu menganggap hari ulang tahunku adalah hari sial di mana dalam sekejap duniaku benar-benar berubah" batinnya berucap sambil membaringkan tubuhnya memeluk guling yang terasa dingin


"kali ini aku ingin berdamai dengan semuanya, terutama dengan kenangan masa laluku, doakan aku ma pa" lanjutnya sambil memejamkan matanya yang sudah basah dengan air matanya


.............•••••..............


Ditempat lain Dylan sedang berapi-api menahan kecemburuannya. Jika dibilang cemburu, Dylan akan mengakuinya tapi jika dibilang ia mulai mencintai sosok Ziena yang selalu berada di dekatnya, ia sendiri tidak yakin. "Lex ini semua benar fotonya, tidak ada yang direkayasa bukan?" tanya Dylan yang sudah berapi-api


"itu semua benar pak, tidak ada yang direkayasa" jawab Alex


"astaga kenapa temen gue kalau cemburu jadi bodoh gini sih, mana berani gue rekayasa foto beginian yang ada bisa dipenggal nih kepala" batin Alex mengelus dadanya mengahadapi kepribadian baru dari sahabatnya


"jelaskan padaku ke mana saja dia pergi hari ini" perintah Dylan

__ADS_1


"pertama nona pergi ke perusahaan Aldar, lalu saat jam makan siang nona pergi menuju suatu hunian yang lumayan mewah pak" jelas Alex dengan sabar


"kenapa ia pergi ke perusahaan Aldar?" tanya Dylan


"saya kurang tau pak, tapi menurut mata-mata yang saya kirim nona diperlakukan sangat sopan dan baik di perusahaan itu bahkan petinggi perusahaan saling memberi hormat kepada nona pak " jawab Alex


"lalu siapa laki-laki yang ada di foto ini, kenapa wajahnya begitu familiar?" tanya Dylan


"itu Irfan pak, sekertaris di perusahaan Aldar" jawab Alex


"terus siapa pemilik hunian mewah itu?" tanya Dylan yang sudah mirip seperti wartawan


"kalau begitu cepat selidiki" perintah Dylan


"baik pak" jawab Alex


"ngapain kamu masih di sini, kembali kerja sana" usir Dylan

__ADS_1


Alex hanya mengangguk pasrah meninggalkan ruangan bosnya. "capek juga kalau ngomong sama orang yang cemburu, temperamennya tinggi banget mana bawaannya ngegas pula" batin Alex sambil membuang nafas panjang


Sepeninggal Alex dari ruangannya, Dylan masih menatap foto-foto yang dikirimkan oleh mata-matanya. "kenapa semua tentang Aldar, Ricko juga bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Aldar lalu Irfan juga atau jangan-jangan Nana selingkuh dengan mereka ya" ucap Dylan menebak-nebak


"tapi kalau dia selingkuh kenapa dengan kedua sekertaris perusahaan Aldar, mereka kan sama-sama sekertaris, jabatannya saja masih tinggi aku" lanjutnya sambil sedikit membanggakan dirinya sendiri


Dylan masih berpikir menebak-nebak kemungkinan yang terjadi. "atau jangan-jangan Nana selingkuh dengan pemilik Aldar, Alex tadi juga bilang kalau Nana diperlakukan baik bahkan petinggi di perusahaan Aldar juga memberinya hormat" batin Dylan mulai was-was jika benar Ziena selingkuh di belakangnya


"tapi kalau dipikir-pikir aku belum pernah bertemu dengan pemilik perusahaan itu, ah sudahlah itu juga masih perkiraanku" ucap Dylan


Tak mau berpikiran yang aneh-aneh akhirnya Dylan memutuskan untuk pulang lebih awal guna memastikan. "Lex saya pulang dulu, kepala saya agak pusing" pamit Dylan sebelum turun ke bawah


Kali ini Dylan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah. "tumben tuan pulang jam segini?" tanya pak satpam yang membuka pintu gerbang


bukannya menjawab pertanyaan pak satpam Dylan malah mengajukan pertanyaan balik. "istri saya sudah pulang apa belum pak?" tanya Dylan


"belum tuan" jawab pak satpam

__ADS_1


"ya sudah" balas Dylan sambil melajukan mobilnya masuk ke dalam


__ADS_2