
Dylan mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Pikirannya sekarang tertuju pada Ziena. "kamu tega membohongi saya na" batinya dengan kesal
Tiba-tiba ingatan-ingatan saat dia mau menikah terlintas kembali. Ucapan-ucapan kedua orang tuanya yang mengatakan bahwa Ziena adalah anak dari seseorang yang sangat berpengaruh untuk perusahaan ikut muncul.
Dylan merasa marah karena telah dibohongi oleh semua orang. Ia tidak menyangka jika Ziena adalah pemilik Aldar. Sekarang ia tahu alasan kenapa kedua orang tuanya sangat takut jika ia dan Ziena berpisah. "jadi ini alasannya mama dan papa sangat melarang aku menyakiti kamu na" batinnya sambil memukul kemudi
Setelah sampai rumah Dylan segera masuk mencari Ziena. Tapi ternyata yang dicari belum sampai di rumah. "BU INAH!" teriak Dylan
Bu Inah berlari ke arah sumber suara. "iya tuan" ucapnya dengan ngos-ngosan
"di mana istri saya?" tanya Dylan
"nona dari tadi pagi belum pulang tuan, tapi tadi nona memberita tahu saya jika nona akan pulang agak malam" jawab Bu Inah jujur
"kalau dia sudah pulang beritahu dia bahwa saya tunggu dia di atas" ucap Dylan sebelum akhirnya ia pergi naik ke atas
setelah kepergian Dylan, Bu Inah segera menghubungi Ziena. "nona anda di mana?" batin Bu Inah
Karena tidak ada jawab dari Ziena akhirnya Bu Inah memilih menunggu di luar sambil terus berdoa. "ya Allah sebenarnya apa yang sedang terjadi ini" batin Bu Inah khawatir
lima belas menit sudah Bu Inah duduk menunggu di luar tapi Ziena belum menunjukkan tanda-tanda datang sampai akhirnya pintu gerbang di buka dan menampilkan seorang wanita menggunakan gaun pesta masuk ke dalam. "nona ke mana saja?" tanya Bu Inah dengan panik
Melihat raut panik Bu Inah membuat Ziena bertanya-tanya. "Bu Inah kenapa?"
"nona tuan sudah pulang dari tadi dan sekarang menunggu anda di atas" jawab Bu Inah
Ziena menghela nafasnya. "apa lagi sekarang?" tanyanya
__ADS_1
Ia masih diam menatap pintu rumah seolah-olah enggan masuk ke dalam. "nona sebaiknya anda segera masuk agar tuan tidak bertambah marah" ucap Bu Inah
Ziena mengangguk kemudian ia melangkah masuk dengan pasrah. Sampai di depan pintu kamar ia terdiam sambil menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya menarik gagang pintu.
Dylan sedang duduk di sofa kamar sambil memegang sebotol alkohol di tangannya dan menatap langkah kaki Ziena. Saat Ziena sudah dekat dengannya ia baru berdiri dan menatap Ziena dengan tajam. "kamu mencariku mas" ucap Ziena
"siapa kamu sebenarnya na?" tanya Dylan
Ziena mengerutkan keningnya. "apa maksudmu mas?"
"pemilik sekaligus CEO Aldar" ucap Dylan
Ziena diam mendengarkan kata per kata yang Dylan lontarkan kepada. "puaskan kamu membuat saya malu di pesta tadi, tiba-tiba muncul membuat semua orang membicara saya dan Mela"
"puaskah kamu telah membohongi saya selama ini" ucap Dylan dengan nada tinggi
"CUKUP MAS!"
"dan untuk masalah kamu dan Mela itu tidak ada hubungannya dengan saya mas"
Dylan terdiam ia kembali teringat waktu ia pernah menanyakan tentang CEO Aldar kepada Ziena dan Ziena juga memberitahukan hal yang sama kepadanya hanya saja waktu itu ia tidak percaya. "aku dan Mela ada hubungannya dengan kamu na, jika kamu tadi tidak datang mungkin aku dan Mela tidak akan mendapatkan gunjingan dari orang-orang di sana"
"kenapa kamu hadir tadi na bahkan membawa laki-laki lain di sampingmu? apa mereka laki-laki pemberi sandaran untukmu? apa kamu sebegitu sakit hatinya denganku sampai mencari laki-laki saja yang masih di bawahku?" ucap Dylan tanpa tahu malu
plak!
Satu tamparan mendarat dengan keras di pipi kanan Dylan. "seharusnya kamu bercermin dulu sebelum mengatakan hal itu mas"
__ADS_1
Ziena menahan air matanya untuk tidak jatuh. Ia benar-benar marah dan sakit hati saat Dylan mengatakan hal itu. "siapapun mereka itu tidak ada hubungannya dengan kamu mas" lanjutnya sambil meneteskan air mata yang sudah tidak bisa ia bendung
Karena Dylan diliputi kemarahan dan sedikit berada di bawah pengaruh alkohol, ia mendorong tubuh Ziena di atas tempat tidur dan mencium bibir Ziena dengan paksa.
Setelah hampir kehabisan nafas, Dylan melepaskan ciumannya. "ku mohon jangan menangis na" ucapnya sambil mengusap bekas tangisan Ziena
"percayalah aku tidak suka melihat seseorang yang aku cintai menangis"
"aku mohon berhentilah menangis"
Ziena terdiam terkejut mendengar ucapan suaminya. "siapa orang yang kamu cintai mas?" tanya Ziena dengan sedikit terisak
"mas katakan padaku siapa orang yang kamu cintai?" tanya Ziena sekali lagi namun Dylan masih diam
"mas katakan jangan buat aku terus berharap kepadamu"
ssstt!
Dylan menutup mulut Ziena dengan jari telunjuknya. "orang yang aku cintai selalu ada di dalam hatiku" jawab Dylan
Mendengar jawab Dylan membuat Ziena kecewa dan dia hendak memberontak pergi dari kungkungan Dylan, namun Dylan malah mempererat pelukannya. "jangan memberontak"
"lepaskan aku mas, aku mau pergi"
Dylan malah mempererat pelukannya. "aku mencintaimu na" ucap Dylan membuat Ziena diam mematung
"mas apa yang kamu ucapkan tadi?"
__ADS_1
"apa itu benar mas?" tanya Ziena
Ia antara percaya dan tidak percaya karena suaminya sedang berada di bawah pengaruh alkohol, tapi biasanya orang yang mabuk akan berkata jujur. Saat Ziena membuka mulutnya hendak bertanya lagi tiba-tiba Dylan menempel bibirnya dan mencium bibir Ziena. Kali ini ia mencium dengan sangat lembut bahkan sampai membuat Ziena ikut terbuai.