Pesta Di Masa Depan

Pesta Di Masa Depan
BAB 92


__ADS_3

Ziena terbangun karena mencium aroma seseorang yang sudah ia rindukan selama tiga Minggu ini. Saat membuka matanya pemandangan yang pertama ia lihat adalah tubuh kekar suaminya yang sedang berbaring disampingnya. Ziena sempat tidak percaya bahwa sosok di sampingnya itu adalah suaminya.


Ia berpikir itu hanya halusinasinya saja namun saat menatap lekat wajah suaminya dan mendengar deru nafas yang keluar dari rongga hidung suaminya ia baru percaya bahwa itu kenyataan bukan halusinasinya saja. "akhirnya kamu pulang juga mas" batin Ziena sambil tersenyum bahagia menatap suaminya


"berarti semalam aku tidak sedang bermimpi" lanjutnya sambil mengingat saat semalam ia bermimpi melihat bayangan suaminya yang begitu nyata menurutnya


Kemudian Ziena turun perlahan dari tempat tidur agar tidak membangunkan suaminya. Ia segera bergegas mandi dan turun ke bawah untuk membuat makan untuk suaminya. "selamat pagi nona" sapa Bu Inah


"pagi juga Bu" balas Ziena dengan senyum bahagia yang baru pertama Bu Inah lihat setelah tiga minggu tinggal di sini


Ziena berjalan mendekati Bu Inah yang sedang menyiapkan bahan-bahan untuk memasak. "Bu Inah saya mau masak hari ini" ucap Ziena


"tapi nona kata tuan nona tidak boleh melakukan pekerjaan rumah" jawab Bu Inah sambil mengingatkan perintah Dylan kepada Ziena


"kalau begitu aku bantu Bu Inah memasak saja"


Bu Inah akhirnya mengangguk karena bagaimanapun juga melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati seorang suami adalah kebahagiaan bagi seorang istri.


Bu Inah dan Ziena saling membagi tugas namun Bu Inah tidak membebankan banyak tugas untuk majikannya ini karena bila Dylan tahu pasti Bu Inah akan kena marah begitu juga dengan Ziena, ia tidak terlalu banyak membantu Bu Inah dalam memasak. Ia hanya membantu memotong dan mengaduk sayur saja selebihnya dikerjakan oleh Bu Inah. "nona semuanya sudah matang sekarang tugas saya untuk menyajikan di meja makan" ucap Bu Inah


Ziena mengangguk kemudian ia pergi menuju kamar bermaksud membangunkan Dylan untuk mengajaknya sarapan bersama. "mas Dylan bangun kita sarapan bareng yuk" ucap Ziena

__ADS_1


Dylan yang merasa seseorang memanggilnya kemudian membuka matanya sambil menetralkan pandangannya. "kita sarapan yuk mas"


Dylan mengangguk dan hendak berjalan ke kamar mandi. "aku siapkan pakaian kamu ya mas" ucap Ziena


"tidak perlu, kamu tunggu saja di bawah" jawab Dylan sambil berlalu masuk ke kamar mandi


Sakit saat mendengar suaminya berkata seperti itu namun Ziena tetap mengangguk tanda mengerti. Ia kemudian pergi menunggu di bawah namun saat membuka pintu ia berpapasan dengan Bu Inah yang hendak mengetuk pintu. "Bu Inah"


"maaf nona apa tuan sudah bangun?" tanya Bu Inah


"sudah"


Ziena terdiam sesaat sebelum akhirnya ia mempersilakan Bu Inah untuk masuk. "masuk saja Bu" ucap Ziena sambil berlalu pergi


Kemudian Bu Inah masuk. Ia langsung menyiapkan segala keperluan tuannya meski sejujurnya ia merasa tidak enak dengan Ziena selaku istri sah tuannya. Ia tahu betul bahwa perasaan Ziena sekarang adalah kecewa. Kecewa karena suaminya memilih segala sesuatu keperluannya disiapkan oleh pekerja ketimbang istrinya sendiri.


Ingin sekali Bu Inah menolak perintah tuannya namun lagi-lagi ia tak berdaya karena di sini dia hanya seorang pekerja yang di bayar oleh Dylan. Setelah selesai menyiapkan baju untuk tuannya Bu Inah langsung pergi.


Satu pertanyaan yang terlintas di benak Bu Inah dan masih belum mendapatkan jawabannya. Ia bertanya-tanya mengapa tuan Dylan memperlakukan istrinya seperti itu? yang ia tahu Ziena adalah istri yang baik dan penurut tapi mengapa Dylan dengan tega memperlakukan Ziena seperti orang lain.


Yang Bu Inah tahu pernikahan mereka terjadi karena perjodohan tapi Bu Inah tidak tahu bagaimana detail jelasnya karena itu bukan urusannya. Tapi Bu Inah memiliki argumen sendiri, ia memiliki pendapat bahwa sikap tuannya seperti itu kepada istrinya karena didasari oleh perjodohan yang mungkin tidak Dylan inginkan, makanya ia memperlakukan Ziena begitu dingin dan kasar.

__ADS_1


Saat turun Bu Inah melihat Ziena sedang duduk mengunggu suaminya. Melihat ekspresi Ziena yang tidak memperlihatkan kesedihan membuat Bu Inah makin tambah bersalah. Ia sangat tahu jika Ziena sedang menyembunyikan kekecewaannya. "maafkan saya nona saya merasa bersalah sekali" batin Bu Inah sambil berjalan mendekati Ziena


Ziena yang mendengar ada suara langkah kaki mendekat lantas menoleh. Ia pikir itu suaminya. "Bu Inah saya pikir tadi mas Dylan"


Bu Inah tersenyum. "tuan mungkin sedang bersiap-siap nona" balas Bu Inah


Selang beberapa menit setelah Bu Inah membalas ucapan Ziena, Dylan tampak turun dari tangga. Ia langsung duduk di tempatnya dan Bu Inah sudah siap untuk menyajikan makanan untuk Dylan sesuai yang di perintahkan.


Ziena tampak diam tak memperdulikan itu karena Dylan sudah mengatakan itu sejak tiga Minggu yang lalu sebelum ia diam-diam berangkat ke Moskow tanpa memberi tahu Ziena.


Setelah Bu Inah selesai membantu menyiapkan makanan untuk Dylan, kemudian Bu Inah pergi meninggalkan mereka berdua untuk menikmati sarapannya. Mereka berdua makan dalam keadaan diam tak ada yang menyapa ataupun membuka suara sampai setelah selesai sarapan.


Dylan yang sudah selesai makan lantas pergi meninggalkan Ziena sendirian tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ziena langsung menyusul Dylan ke kamar. "mas Dylan pulang kok gak kasih kabar ke aku?" tanya Ziena


"memangnya untuk apa memberi kabar ke kamu?" tanya Dylan balik


Ziena terdiam sejenak merasakan sakit di dadanya saat Dylan mengatakan itu. Ziena tau sekali posisinya di sini, tidak akan mungkin ia ada di hati Dylan tapi untuk memberi kabar apakan juga tidak boleh. Saat ini yang semua orang tahu dia adalah istrinya Dylan dan yang Ziena harapkan meski ia tidak bisa dicintai oleh suaminya setidaknya perlakukanlah dirinya sebaik sebagai seorang istri.


Dengan tersenyum Ziena membalas ucapan pedas Dylan dengan lembut. "tidak untuk apa-apa mas, hanya saja aku di sini juga menunggu kamu dan kabar dari kamu sangat berarti untukku" jawab Ziena


Mendengar jawaban Ziena membuat Dylan merasa bersalah tapi ini ia lakukan agar Ziena tidak semakin dalam berharap kepadanya. "maaf na tapi semua itu tidak penting untukku karena di hatiku hanya ada satu wanita dan itu bukan kamu" bantinnya sambil berlalu meninggalkan Ziena di kamar sendirian

__ADS_1


__ADS_2