
Dari tadi siang setelah pulang dari restoran Dylan benar-benar memperhatikan setiap gerak gerik istrinya. Ia yakin jika ada yang Ziena sembunyikan darinya. "kenapa lihatin aku kayak gitu sih mas?" tanya Ziena
Sejujurnya ia merasa risih sedari tadi apa yang ia lakukan selalu diawasi oleh suaminya ini. "bagaimana kamu bisa mengenal dekat pak jaya?" tanya Dylan menginterogasi
"aku tadi udah jawabkan mas karena siklus pertemanan" jawab Ziena
"aku gak bisa percaya sama jawaban kamu na, aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu dari aku" balas Dylan
"kenapa gak bisa percaya mas? yang aku katakan memang benar adanya" balas Ziena
"aku gak bisa percaya karena aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu" jawab Dylan mengulangi kalimatnya
__ADS_1
"kamu bisa kenal dengan pak jaya, lalu kamu begitu dekat dengan sekertaris pribadi perusahaan Aldar dan aku juga melihat kamu memiliki kartu limit yang sama seperti yang aku berikan, apa aku dapat mempercayai ini semua?" lanjutnya
"kedua sekertaris perusahaan Aldar itu adalah keluargaku lagipula masalah ini juga sudah pernah aku jelaskan bukan?" jelas Ziena
Dylan menutup matanya sambil mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut istrinya. Kepalanya benar-benar pening mengingat semua kejadian-kejadian yang ia lihat. Setelah selesai mendengarkan ucapannya istinya, ia lalu membuka matanya. "apa kamu selingkuh di belakangku?" tanya Dylan dengan sorot mata mengintimidasi
Ziena terpaku mencerna ucapan suaminya. Sorot matanya menunjukkan kemarahan. Ia sangat tak percaya jika suaminya menuduh dirinya selingkuh. "selingkuh? kamu menuduhku selingkuh mas? tanya Ziena mencoba meredam panas di dadanya
"TIDAK MAS!" jawab Ziena tegas dan ikut menaikkan nada suaranya
"kenapa tidak? kamu jangan membohongiku na, jelas-jelas kamu mengenal dekat dengan pak jaya dan kamu juga memiliki kartu limit sendiri, bagaimana seorang gadis delapan belas tahun sepertimu memberikan penjelasan yang valid kepadaku" ucap Dylan
__ADS_1
Ziena masih diam tak mengucapkan sepatah katapun. Dalam pikirannya sekarang hanya rasa kesal dan marah. Ia kesal karena dituduh selingkuh oleh suaminya sendiri dan ia juga marah karena suaminya tak mau instrospeksi diri sebelum menuduh dirinya. "ku tanya sekali lagi apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Dylan setelah melihat respon diam istrinya
Ziena menarik lapas dalam-dalam sebelum menjawab semua tuduhan suaminya. "sebelum kamu menuduhku selingkuh seharusnya kamu melihat dirimu dulu mas, aku tidak pernah sekalipun punya niatan untuk bermain api di belakangmu" ucap Ziena
"apa kamu tahu mas hatiku sangat sakit melihat kamu dengan kekasihmu itu, sesakit apapun aku tetap menerima tapi kenapa sekarang kamu menuduhku berselingkuh mas, seharusnya kamu tanya pada dirimu sendiri siapa yang berselingkuh" lanjutnya dengan derai air mata membasahi pipinya
Kali ini Ziena benar-benar menunjukkan tangisannya dihadapan seseorang. Iya, laki-laki itu adalah suaminya sendiri. Semua rasa sesak di dada Ziena keluarkan dengan tangisannya. Rasa kehilangan kedua orang tuanya, rasa mencintai yang tak dibalas, rasa sakit dituduh selingkuh semua rasa sesak itu benar-benar Ziena keluarkan dengan tangisannya.
Melihat istrinya menangis dan mendengar ucapan istrinya membuat emosi Dylan mereda. Ia berjalan meraih tubuh istrinya yang bergetar karena menangis dan membawanya ke dalam pelukannya. "maafkan aku, aku salah tak seharusnya menuduhmu" ucap Dylan
Setelah dirasa tubuh Ziena sudah tak bergetar lagi, ia melonggarkan pelukannya dan mensejajarkan posisi wajahnya. Entah insting dari mana tiba-tiba Dylan mendaratkan bibirnya ke bibir Ziena. Ini kedua kalinya ia mencium bibir Ziena dan Ziena pun hanya diam menerima ciuman itu.
__ADS_1