
Setelah selesai bertemu dengan sahabatnya Ziena kembali melanjutkan agendanya hari ini. Ia pergi menuju kantornya karena ada beberapa hal penting yang harus dibicarakan langsung dengan Om Irfan.
Sebelum masuk ke dalam kantornya tak lupa Ziena memakai kacamata hitamnya yang sudah menjadi ciri khasnya. Di depan kantor sudah ada Ricko yang menunggu kedatangannya. "hallo na" sapa Ricko setelah melihat Ziena
Ziena hanya berdehem menanggapi saapan Ricko. Bukan sombong atau cuek hanya saja kepribadiannya ini sedikit berubah setelah kejadian tiga tahun yang lalu. "ayo kita naik Om Irfan sudah menunggu dirimu di ruangmu dari tadi" ajak Ricko, Ziena hanya mengangguk dan berjalan mendahului Ricko
Mereka naik menggunakan lift khusus. Sebelum masuk ke dalam lift banyak karyawan wanita yang menatap Ziena dengan tatapan membunuh. Mereka iri karena melihat kedekatan antara Ziena dan Ricko dan mereka juga beranggapan bahwa Ziena adalah kekasih Ricko karena melihat dari penampilan Ziena yang begitu modis. "sepertinya kamu menjadi idola di kantorku kak" ucap Ziena setelah pintu lift tertutup
"maksudmu?" tanya Ricko
"kamu lihat sendirikan kak tatapan para karyawan wanita tadi kepadaku" jelas Ziena
"oh itu biarkan sajalah na aku suka pusing menghadapi tingkah mereka" balas Ricko
"maksudnya?" tanya Ziena dengan ekspresi bingung
"kamu lihat sajalah nanti di meja kerjaku" balas Ricko sembari keluar dari lift
__ADS_1
Sebelum Ziena ke ruangannya ia melewati ruangan Ricko terlebih dahulu. Ruangan Ricko menggunakan pintu yang terbuat dari kaca jadi dapat terlihat dari luar. "kenapa di meja kerjamu banyak bingkisan kado kak?" tanya Ziena penasaran
"ya itulah yang tadi aku maksud" jawab Ricko
"mereka sering sekali memberiku hadiah kadang juga memberiku surat cinta juga dan yang lebih parahnya lagi mereka sering menghampiriku di jam kerja hanya untuk menanyakan hal yang tidak penting" jelas Ricko sembari tertawa saat mengingat-ingatnya
"bagus dong kak" balas Ziena dengan tertawa
"bukan bagus yang ada na malah bikin pusing" jawab Ricko
"dasar kamu na" balas Ricko sembari mengacak-acak rambut Ziena
"jangan acak-acak rambutku kak" ucap Ziena dengan kesal
"sudah ke ruanganmu sana, Om Irfan sudah menunggumu dari tadi" ucap Ricko, Ziena mengangguk dan berjalan meninggalkan Ricko
Ziena membuka pintu ruangannya di dalam sudah ada Om Irfan yang duduk menunggu Ziena. "selamat pagi nona" sapa Om Irfan
__ADS_1
"pagi pak Irfan" balas Ziena sambil duduk di kursi kebesarannya
Om Irfan berjalan mendekati Ziena. "ini jadwal nona selama seminggu ke depan dan ini data yang nona minta" ucap Irfan sambil memberikan map-map dengan warna berbeda di atas meja Ziena
Ziena mengambil map yang bertuliskan jadwalnya selama seminggu ke depan dan membacanya. "wakilkan pertemuanku dengan Cakra corporation" ucap Ziena setelah membaca jadwalnya
"baik nona" jawab Irfan
Ziena beralih mengambil map berwana coklat yang di dalamnya berisi data penting dari seseorang yang ia minta. Di dalam map itu berisi data penting dari Dylan dan beberapa orang yang ada di dekat Dylan. Ia membaca data tentang Dylan terlebih dahulu kemudian beralih membaca data tentang Mela setelah itu data tentang Alex dan beberapa orang-orang yang ada di dekat Dylan. "terima kasih pak Irfan atas data-datanya ini sangat membantu sekali" ucap Ziena
"sama-sama nona ini sudah menjadi tugas saya" balas Irfan
"pak Irfan boleh kembali lanjutkan pekerjaan anda, saya juga mau melanjutkan pekerjaan saya"
"baik nona saya permisi dulu" balas Irfan sembari berjalan keluar
Ziena memutar kursinya menghadap aquarium besar di belakangnya sambil memandangi foto Mela. "jadi kamu kekasihnya" batin Ziena
__ADS_1