Pesta Di Masa Depan

Pesta Di Masa Depan
BAB 102


__ADS_3

Ziena mengerjapkan matanya. Tubuhnya terasa pegal terutama dibagian pinggangnya. "rasanya tubuhku sakit semua" batinnya sambil menetralkan pandangannya


Ia kembali mengingat kejadian semalam yang membuat tubuhnya terasa remuk semua. "kemarin aku dan mas Dylan..." batinya sambil memandang ke sampingnya dan melihat pakaian mereka yang berserakan di lantai


Ziena buru-buru berlari ke kamar mandi sebelum suaminya keburu bangun. Setelah mengunci pintu kamar mandi ia langsung membersihkan tubuhnya di bawah guyuran air.


Ada perasaan bahagia saat mengingat kejadian semalam. Ia berpikir setelah kejadian kemarin hubungan mereka akan membaik. Setelah selesai mandi ia segera merapikan kamar yang sedikit berantakan tanpa membangunkan suaminya.


Setelah itu ia turun ke bawah untuk sarapan karena perutnya sudah keroncong sedari tadi. Saat di bawah ia tidak menemukan keberadaan Bu Inah dan di meja makan masih belum ada masakan apapun. Karena ia sudah sangat lapar akhirnya Ziena membuat oatmeal pisang cokelat.


Sarapan manis ini membuat suasana hatinya membaik. Tak lama kemudian Bu Inah datang dengan menenteng dua kantong plastik belanjaannya. "selamat pagi nona" sapa Bu Inah


Ziena hanya mengangguk sambil terus memakan oatmeal buatannya. "nona maaf ibu baru pulang dari pasar jadi belum masak apa-apa" ujar Bu Inah saat melihat Ziena memakan oatmealnya


Ziena meneguk segelas susu di sampingnya. "gak apa-apa Bu"


"oh iya Bu lain kali kalau ke pasar saya ikut ya"


Bu Inah mengangguk. "nona mau ibu masakan apa?" tanya Bu Inah


Ziena menggelengkan kepalanya. "gak usah Bu saya sudah kenyang, lebih baik ibu buatkan saja sarapan untuk suami saya"


Bu Inah mengangguk kemudian melanjutkan pekerjaannya sedangkan Ziena memilih untuk duduk beristirahat di ruang keluarga sambil menonton televisi. Ia sudah lama tidak bersantai-santai di Minggu pagi seperti ini.


Dylan terbangun setelah mencium aroma masakan Bu Inah yang membuat perutnya keroncongan. Ia kemudian terbangun sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing karena efek minuman yang kemarin ia minum. "kepalaku rasanya pusing sekali" batinnya


Kemudian ia melihat tubuhnya tanpa menggunakan pakaian apapun dan ingatan semalam tiba-tiba terlintas dipikirannya. "astaga... apa yang sudah gue lakukan semalam" ucap Dylan sambil merutuki hal bodoh yang ia lakukan semalam

__ADS_1


Ia kemudian buru-buru ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan tubuhnya Dylan langsung ke bawah sambil mencari keberadaan Ziena. "selamat pagi tuan" sapa Bu Inah


Dylan hanya mengangguk kemudian duduk di kursinya. Bu Inah menyiapkan makanan untuk Dylan. "istri saya di mana Bu?" tanya Dylan


"nona di ruang keluarga tuan sedang menonton televisi"


"dia gak sarapan?"


"nona sudah sarapan duluan tuan"


Dylan mengangguk lalu melanjutkan sarapannya. Setelah selesai ia kembali ke kamarnya. "Bu Inah tolong panggilkan istri saya dan suruh dia ke atas" ujar Dylan sebelum pergi meninggalkan meja makan


Bu Inah mengangguk kemudian segera menemui Ziena untuk memberitahukan pesan Dylan. "nona" panggil Bu Inah


Ziena yang sedang fokus menonton televisi kemudian beralih melihat Bu Inah. "iya"


"tuan memanggil nona untuk ke atas" ujar Bu Inah


"ibu juga kurang tahu nona"


Ziena berpikir sejenak sebelum akhirnya ia berjalan ke atas. "ada apa lagi ini? apa aku berbuat kesalahan sampai mas Dylan memanggilku?" batinnya


Ziena mendorong pintu kamar dengan hati-hati. Ia melihat suaminya sedang berdiri di depan pintu balkon sambil memegang handphone. "ada apa mas Dylan mencariku?" tanya Ziena dengan nada lembut


Dylan memasukkan handphone miliknya ke dalam saku celananya kemudian beralih menatap Ziena. "saya mau minta maaf atas kejadian semalam" ujar Dylan


"kenapa minta maaf mas?"

__ADS_1


"kemarin saya tidak bisa mengontrol diri saya karena pengaruh alkohol yang saya minum"


"mas..." ucap Ziena terpotong


"anggap saja semalam itu tidak pernah terjadi" ucap Dylan sebelum pergi meninggalkan Ziena


Ziena meneteskan air matanya sambil menatap kepergian suaminya. "kamu anggap aku wanita seperti apa mas?" batin Ziena


Dari jendela Ziena melihat mobil Dylan keluar dari pekarangan rumah. "baiklah kalau itu yang kamu mau mas" lanjutnya sambil mengambil kunci mobil


Sebelum keluar Ziena mengusap air matanya. Bagaimanapun ia tidak mau memperlihatkan kesedihan di hadapan orang-orang. "nona mau pergi ke mana?" tanya Bu Inah saat melihat Ziena keluar menggunakan jaket dan membawa kunci mobil


"saya mau keluar ada urusan mendadak Bu"


"kalau begitu hati-hati di jalan nona" jawab Bu Inah


Ziena mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya. Sampai di garasi ia segera menaiki mobil pribadinya dan melajukannya meninggalkan pekarangan rumah.


Ia menepikan mobilnya di sebuah apotik. Setelah itu membeli barang yang ia butuhkan. Kemudian ia kembali mengendarai mobilnya menuju kantornya. Keadaan kantor yang sepi memudahkan Ziena untuk masuk ke dalam tanpa menutupi identitasnya.


Ia menekan lantai lift ke ruangannya. Di dalam lift Ziena teringat akan kata-kata Dylan tadi. "tadinya aku bahagia mas berpikir bahwa hubungan kita akan membaik setelah ini ternyata semua itu hanya bayanganku saja"


"lalu apakah aku harus mempercayai ucapanmu semalam? apakah aku masih harus mempercayai ucapan orang yang berada di bawah pengaruh alkohol?" batin Ziena sambil menahan air matanya


Setelah pintu lift terbuka, Ziena segera keluar dan berjalan menuju rooftop kantornya. Ia mengeluarkan barang yang ia beli di apotik tadi dan meminumnya sesuai anjuran yang tertulis setelah itu memasukkannya kembali ke dalam tas.


"AAA...!" teriak Ziena

__ADS_1


Ia berteriak dan menangis melampiaskan rasa sesak dan sakit yang membelenggu hatinya. "kenapa... kenapa berat sekali menjalani hidupku ini"


Ziena kemudian merentangkan kedua tangannya dan menutup matanya merasakan hembusan angin kencang yang menerpa wajahnya. Hembusan angin itu membawa hatinya yang kacau sedikit tenang.


__ADS_2