Pesta Di Masa Depan

Pesta Di Masa Depan
BAB 109


__ADS_3

Wajah Huda sangat berbinar kala menatap Mela. Kemarin Mela mengatakan ingin memulai hidup barunya dan yang membuat Huda terkejut campur bahagia kala Mela mengiyakan ajakannya tempo hari. "kamu masih mikirin laki-laki tadi?" tanya Huda dengan tatapan fokus ke jalan


Setengah jam yang lalu Mela menemui Dylan tepat pada jam makan siang. Ia mengutarakan maksudnya menemui Dylan. Tentu saja mendapat penolakan dari Dylan. Tapi pada saat ia mengatakan jika dirinya sedang hamil, Dylan langsung terdiam, dari raut wajahnya terlihat jika laki-laki itu sangat kecewa. Pada saat itu juga bertepatan dengan Huda yang tiba-tiba muncul menghampiri Mela.


Awalnya Huda menunggu di dalam mobil, namun karena Mela tak kunjung keluar dari restoran itu akhirnya ia berinisiatif untuk menyusul takut terjadi apa-apa dengan Mela. Pada saat itu pula Dylan menduga jika Huda-lah yang telah menghamili Mela. Tapi ia teringat akan kata-kata Mela tadi, jika ia akan menikah dan memulai hidup barunya dengan pemuda yang sangat ia cintai.


Mela juga meminta maaf karena telah menjadikan Dylan sebagai pelampiasannya. Sebenarnya Dylan sudah tahu tentang pemuda di masa lalu Mela karena wanita itu dulu pernah bercerita tentang masa lalunya. Tapi Dylan tak pernah menyangka jika ia dijadikan pelampiasan saja melihat hubungan mereka yang terjalin cukup lama. Dylan pikir Mela sudah melupakan pemuda itu dan mulai mencintainya sama seperti dia mencintai Mela tapi nyatanya tebakannya salah, ia hanya dijadikan pelampiasan oleh Mela, dan itu terjalin cukup lama. Gila bukan?


Mela menatap Huda sekilas. "aku hanya memikirkan nanti setelah aku sampai di kampung apa yang harus aku lakukan? jujur aku takut untuk bertemu dengan ibu dan bapak kamu da" jawab Mela dengan jujur


Huda menggenggam tangan Mela. "kamu gak perlu takut, ada aku di sini, sekarang kita hadapi bersama-sama" ucap Huda


Hati Mela menghangatkan, laki-laki ini masih sama seperti dulu. Penuh perhatian. "sekarang ayo kita turun, aku sudah memberi kabar Nana jika kita akan mampir sebentar" ajak Huda


Mela mengangguk. Mereka berjalan masuk sambil bergandengan tangan. Tiba di dalam lobi banyak pasang mata menatapnya. Mereka tahu siapa Mela, wanita yang dua Minggu yang lalu membuat keributan di lobi ini. Huda yang merasakan tangan Mela bergetar langsung menggenggamnya dengan sangat erat seolah-olah memberikan semangat untuk jangan takut. "jangan takut ada aku di sini" bisik Huda

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai paling atas. Di lantai dua puluh ini ada dua ruangan, satu ruangan milik Om Irfan dan Satunya lagi milik Ziena. Mela mengetuk pintu yang bertuliskan CEO. Mereka masuk ke dalam dan ternyata di dalam juga ada Om Irfan dan Ricko. "hai na" sapa Mela sedikit canggung pasalnya ia terus ditatap oleh dua laki-laki di samping Ziena


Ziena menghampiri kedua tamunya dan mempersilahkan mereka duduk. "jadi apa yang membawa kalian kemari?" tanya Ziena


"kami ingin berpamitan, sore ini kami memutuskan untuk segera pulang ke kampung" jelas Huda


Ziena mengangguk. "kenapa buru-buru sekali?"


"aku sudah meninggalkan kedua anakku cukup lama di kampung, aku ingin segera memberi tahu mereka jika ayahnya pulang membawa ibu baru untuk mereka" jawab Huda diiringi tawa diakhiri kalimatnya


"sama-sama, aku juga senang membantunya" balas Ziena


"na aku tadi sudah bertemu dengan Dylan" ucap Mela tiba-tiba


Seketika ruangan itu menjadi hening kembali. Pembicara itu sangat sensitif bagi Ziena. Mendengar nama suaminya disebut membuat Ziena harus ekstra menambah rasa sabarnya. "lalu bagaimana?" tanya Ziena, sebenarnya ini hanya untuk basa-basi saja

__ADS_1


Ia tidak terlalu tertarik membahas pembicaraan ini.


Mela menggelengkan kepalanya. "aku sudah melepaskan Dylan dan ku doakan semoga rumah tangga kalian langgeng" ucap Mela dengan tulus


"kalau begitu kami pamit pergi" lanjutnya sambil beranjak dari tempat duduknya


Ziena memilih diam tak merespon ucapan Mela, baginya ia hanya perlu hidup sesuai air mengalir. Jangan terlalu bergantung, jangan terlalu berharap dan jangan terlalu percaya, kata papa Ziena dulu.


Mengingat papanya membuat ia kembali rindu akan sosok bijaksana dan ketegasan serta kehangatan dari papanya.


...........


JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN KOMEN...


See you next part ✨

__ADS_1


HAICO ❣️


__ADS_2