
Seharian ini Dylan habiskan waktunya dengan Mela. Tadi pagi ia sudah membaca pesan yang Ziena kirimkan untuknya tapi ia tidak membalas pesan itu, entah apa yang sedang Dylan pikirkan hingga ia kembali menjadi dingin seperti ini. "sayang kamu jadi pulang jam berapa?" tanya Mela yang duduk di meja depan Dylan
"sore ini"
"oh ya tiga Minggu ke depan aku mau pergi ke bali sayang karena ada kerjaan di sana" ucap Mela memberitahu
"kapan kamu berangkat?" tanya Dylan
"besok pagi, kamu jangan kangen aku ya"
Dylan tersenyum menanggapi ucapan Mela. "aku pasti kangen kamu" jawab Dylan yang ikut menanggapi ucapan Mela
"bagus kalau kamu kangen sama aku jadi kamu gak ada waktu buat memikirkan istrimu"
Dylan hanya diam tak menanggapi ucapan Mela, ia memilih melanjutkan makannya dan sesekali mengalihkan pembicaraan sampai akhirnya Alex menghubunginya untuk mengajak bertemu. "Mel aku pergi dulu ya"
"mau ke mana, bukannya nanti sore kamu mau pulangnya"
"aku mau ketemu sama Alex dan Dina"
Dylan beranjak mengambil jaket dan kunci mobilnya dan pergi meninggalkan apartemen Mela. Setelah kepergian Dylan, Mela segera mempersiapkan keperluannya untuk ke Bali besok dan tak lupa menghubungi kekasihnya yang sedang menunggu di sana. "kamu terlalu percaya dengan aku Dylan sampai-sampai kamu tidak menyadari bahwa aku sudah menipu kamu dengan alasan cinta, tapi tidak masalah dengan begitu aku bisa memanfaatkan uang dan fasilitas dari kamu" batin Mela sambil tersenyum licik
Mela memang tidak benar-benar mencintai Dylan, semua itu ia lakukan karena uang bahkan ia tidak menyangka jika Dylan tidak meminta imbalan apapun atas semua yang ia berikan kepadanya dengan kata lain Dylan memberikan itu secara gratis berbeda dengan laki-laki di luar sana yang meminta imbalan. "kamu memang baik dan juga terlalu polos Dylan, aku berterima kasih karena kamu menyelamatkan aku dari tempat terkutuk itu bahkan sampai saat ini kamu masih membiayai hidupku dan memberikan cintamu untukku, tapi maaf aku adalah mantan wanita di tempat seperti itu jadi bukan hanya cinta saja yang aku butuhkan tapi juga kebutuhan biologis dan kamu tidak pernah memberikan aku itu jadi jangan salahkan aku bila aku bermain di belakang kamu Dylan"
Jarak antara kafe milik dina dan apartemen Mela cukup dekat jadi tidak memakan waktu terlalu lama hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menitan. Setelah memakirkan mobilnya Dylan segera masuk ke dalam. Ia berjalan menuju lantai dua kafe milik dina, dari tangga bisa Dylan lihat kedua sahabatnya dan suami Dina sedang mengobrol. "gue gak telat kan" ucap Dylan yang baru ikut bergabung
__ADS_1
"telat banget Lan kita udah hampir pulang ini" jawab Dina asal namun dibalas tawa oleh sahabatnya
Setelah matahari mulai tenggelam Dylan memutuskan untuk segera pulang karena besok pagi ia harus berangkat ke Moskow bersama Alex. "Lan gue udah pesan tiket pesawat pagi sesuai perintah Lo" ucap Alex setelah selesai memesan tiket pesawat dari handphonenya
"besok sebelum subuh Lo jemput gue Lex" ucap Dylan memerintah
"ok siap"
Saat hari mulai petang Dylan baru sampai di kediamannya. Pak satpam langsung membuka gerbang begitu tahu tuannya datang. "tuan baru pulang, apa lagi berantem ya sama nona" batin pak satpam menebak-nebak
Ziena baru saja selesai mandi dan hendak turun ke bawah untuk menyiapkan makan malam dan kebetulan juga Dylan sedang di dapur mengambil air minum. "mas Dylan"
Dylan hanya menoleh sekilas menatap Ziena. "kamu dari mana saja mas semalam?" tanya Ziena
"kenapa gak kasih tahu aku mas, kemarin mama juga tanya kenapa kita gak mampir ke sana"
"Alex sudah memberi tahu kamu kan kemarin"
Ziena hanya mengangguk dan tak bertanya lagi. Ia memilih tidak mempertanyakan di mana suaminya kemarin bermalam dari pada ia sendiri yang sakit saat tahu langsung meski sejujurnya ia sudah tahu. "kalau begitu aku siapkan dulu air hangat untuk kamu mandi mas" ucap Ziena
"gak usah aku bisa sendiri, lebih baik kamu masak buat makan malam kita" jawab Dylan sambil berlalu pergi
Ziena benar-benar tidak menyangka akan perubahan suaminya. Padahal baru beberapa hari kemarin mereka terlihat begitu bahagia seakan saling mencintai satu sama lain tapi sekarang semua itu lenyap. "kamu kenapa sih mas kelihatan aneh, apa kekasihmu itu berbicara sesuatu kepadamu mas sampai-sampai kamu jadi dingin lagi denganku" batin Ziena sambil menatap punggung suaminya yang menjauh
Sedangkan Dylan di dalam kamar mandi tampak termenung menatap pantulan wajahnya dicermin. Hatinya sangat kacau seakan bingung dengan perasaannya sendiri. "gue bingung harus gimana sekarang, gue mencintai Mela bahkan lebih besar tapi sekarang gue juga mencintai Nana meski itu hanya sedikit tapi kenapa rasa sedikit itu jauh lebih mendominasi ke diri gue sampai-sampai bikin gue pusing begini" ucap Dylan
__ADS_1
"ayolah Dylan Lo gak boleh kalut cuman gara-gara cinta, di mana rasa cinta Lo yang lebih besar maka orang itu yang Lo cintai, Lo gak boleh terlalu pusing hanya karena perasaan" lanjutnya sebelum keluar dari kamar mandi
Setelah itu Dylan segera turun ke bawah untuk makan malam bersama Ziena sambil membicarakan sesuatu kepada Ziena. "mas mau lauk apa?" tanya Ziena yang hendak menyiapkan makanan untuk suaminya
"kamu gak usah siapin makananku, aku bisa ambil sendiri" jawab Dylan dengan dinginnya
"tapi mas"
"aku bisa sendiri na"
Ziena menaruh kembali piring milik Dylan dan mereka menikmati makan malam dalam keheningan. "na mulai sekarang kamu tidak usah menyiapkan keperluan saya" ucap Dylan setelah selesai makan
"kenapa begitu mas? menyiapkan kebutuhan kamu adalah tugas aku mas, kalau aku tidak boleh menyiapkan lalu siapa yang akan menyiapkannya?" tanya Ziena
"saya sudah memperkerjakan asisten rumah tangga, namanya Bu Inah beliau dulu pernah kerja di sini saat saya masih tinggal di rumah ini tapi saat saya kembali ke kediaman orang tua Bu Inah sudah tidak saya pekerjaan karena saya kembali tinggal di sini saya berpikir untuk kembali memperkerjakan Bu Inah" jelas Dylan
"biarkan Bu Inah melakukan pekerjaan rumah tangga mas biar aku yang menyiapkan kebutuhan kamu"
"Bu Inah sudah biasa menyiapkan kebutuhan saya sebelum saya menikah dengan kamu dan saya juga merasa lebih nyaman jika Bu Inah yang menyiapkan kebutuhan saya"
"ya sudah jika itu yang mas Dylan rasa lebih baik aku ikut saja" jawab Ziena pasrah
"Bu Inah akan datang besok pagi jadi kamu gak perlu beres-beres rumah lagi" ucap Dylan sebelum pergi meninggalkan Ziena
Setelah suaminya pergi Ziena segera membereskan meja makan dan setelah itu pergi menuju kamar. Ia tidak mau memikirkan kejadian hari ini terlalu dalam atau akan membuatnya tambah sedih. Kejadian kemarin saja sudah menghabiskan banyak ruang dipikirannya sampai-sampai ia kesulitan tidur apa lagi kejadian hari ini. Otaknya benar-benar sudah penuh akan kejadian-kejadian kemarin yang membuatnya sedih tak karuan dan tak memiliki ruang untuk yang lainnya.
__ADS_1