Pesta Di Masa Depan

Pesta Di Masa Depan
BAB 104


__ADS_3

"Selamat datang non Nana" sapa bi Ani


"non Nana mau bi Ani buatkan makan malam apa?"


Ziena tersenyum cerah. "gak usah bi aku tadi sudah makan sebelum ke sini sekarang aku mau langsung istirahat saja" jawab Ziena sambil berjalan masuk ke dalam


Bi Ani mengangguk paham. Ia tahu bagaimana kehidupan nonanya sekarang karena Ricko sering bercerita kepadanya. Mungkin sekarang Ziena sedang ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya jadi bi Ani tidak mau mengganggu Ziena. "bi Ani aku juga mau langsung ke kamar saja" ujar Ricko


Sekarang hanya tersisa bi Ani dan Irfan. "pak Irfan mau saya buatkan makanan" tawar bi Ani


Irfan menggelengkan kepalanya. "tidak terima kasih, saya mau langsung ke kamar saya dulu bi karena masih ada pekerjaan yang harus saya kerjakan" ucap Irfan sambil berlalu pergi


Setelah Irfan pergi, bi Ani dan beberapa pelayan menutup pintu dan jendela mansion karena sudah malam. "kalian tolong bantu saya menutup pintu dan jendela" perintah bi Ani kepada beberapa pelayan di sampingnya


Ziena menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk yang sudah setahun ini tidak ia tiduri. Ada rasa bahagia saat kembali ke mansionnya ini. Rasanya ia kembali menjadi dirinya sendiri saat di rumah miliknya. Tidak ada kecewa, tidak ada sedih, ia benar-benar kembali menjadi Ziena sebelum menikah.


Kamar luas bercatkan warna kuning yang selalu ia rindukan sekarang benar-benar ada di depan matanya. Ia menutup matanya sambil mengingat-ingat kembali memori lamanya dulu. "tak terasa sudah setahun lebih aku menikah dengan kamu mas" batinnya


Drrrt Drrrt Drrrt


Ada panggilan masuk ke handphone miliknya. Ziena membuka matanya sambil menghela napasnya. "siapa yang telepon jam segini ganggu aja?"


Ia meraih handphonenya di atas nakas lalu menarik ikon hijau ke atas tanpa melihat nama yang tertera di layar handphone miliknya. "hallo" ucap Ziena


"hallo na"


"kak Ricko... ngapain kak Ricko telepon aku malam-malam, ganggu aja"

__ADS_1


"gak ada maksud apa-apa sih kakak telepon kamu, kakak cuman mau memastikan kamu sudah tidur apa belum soalnya lampu kamar kamu masih nyala" jelas Ricko


"justru tadi aku sudah mau tidur tapi tiba-tiba ada telepon masuk dan aku pikir itu penting, eh gak taunya itu dari kak Ricko yang gak jelas ini" gerutu Ziena


Ricko tertawa di seberang sana. "kenapa ketawa kak? emang ada yang lucu"


"iya ada na, kamu yang lucu"


"KAK RICKO!"


Tiba-tiba Ricko terdiam cukup lama. "kak Ricko kok diam"


Ricko masih diam tak menjawab ucapan Ziena. "kak Ricko kamu kenapa kok diam saja?"


"na coba deh kamu keluar ke balkon sebentar" ucap Ricko tiba-tiba


"ada apa memangnya?" tanya Ziena


Ziena mengikuti perintah Ricko. Ia membuka pintu balkonnya. "aku sudah di luar kak"


"sekarang coba kamu tengok ke kanan" perintah Ricko


Ziena menuruti perintah Ricko. Ia menoleh ke sisi kanannya. Saat Ziena menoleh ke arah kanan matanya terpaku pada sosok Ricko di depannya. Meski jarak mereka agak jauh tapi bisa Ziena lihat jelas bahwa Ricko sedang menatapnya. "na kakak tahu kamu akan tidak suka dengan apa yang akan kakak katakan setelah ini, tapi cobalah untuk menerimanya"


"selamat ulang tahun Nanaku, adik perempuan yang akan selalu kakak cintai selamanya" ucap Ricko penuh makna


Ziena terpaku mendengar ucapan Ricko. Ia masih menatap Ricko dengan jarak yang agak jauh karena jarak kamar mereka. Ia melihat Ricko mengambil sebuah kue tart kecil di meja depannya lengkap dengan satu lilin kecil di tengah-tengah kuenya.

__ADS_1


Ziena meneteskan air matanya. Ia menangis sesenggukan. Ricko masih bisa mendengar suara Ziena menangis dengan jelas karena Ziena masih menempelkan handphone miliknya di telinganya.


Ricko tak berani berkata-kata lagi. Ia hanya bisa diam sambil mendengarkan suara tangisan Ziena dari handphone miliknya. Ada rasa sedih mendengar tangisan Ziena. "kak Ricko" ucap Ziena dengan suara bergetar


"na kakak minta maaf, Kakak tidak bermaksud membuatmu bersedih..."


"terima kasih kak telah mau mengucapkan dan mengingatkan hari ulang tahunku"


"sudah lama sekali aku tidak pernah mendengar seseorang memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadaku"


"na lihat kakak" perintah Ricko dari telepon


Ziena mengangkat wajahnya menatap Ricko. "hapus air matamu na jangan bersedih lagi di hari bahagiamu"


Ziena mengangguk kemudian menghapus air matanya meski setelah itu air matanya masih tetap mengalir. "Sekarang buatlah permohonan"


Ziena mengangguk lalu menutup matanya. Setelah itu ia membuka matanya. "sudah kak" ujar Ziena


Ricko lalu meniup lilinnya menggantikan Ziena. "sekarang tersenyumlah na, dan berjanjilah jangan mudah bersedih lagi"


Ziena mengangguk dan tersenyum. "di atas meja di dalam kamarmu ada kue tart kecil yang sama seperti yang kakak bawa ini, itu untuk kamu makan na" ucap Ricko


Ziena menoleh ke dalam memastikan apakah benar yang diucapkan Ricko dan saat melihat ke dalam memang benar ada kue tart kecil seperti yang Ricko bilang. "kak Ricko terima kasih telah menyiapkan semua ini, aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi" ucap Ziena


"na kalau kamu sudah siap besok kita ziarah ke makam papa mama kamu ya"


"kakak hanya ingin kamu benar-benar mengikhlaskan mereka dan tidak terus-menerus terbayang-bayang ke masa lalu, tapi jika kamu belum siap juga tidak apa-apa kita bisa mendoakan mereka dari rumah" ujar Ricko

__ADS_1


Ziena terdiam sejenak sambil berpikir. Sambil menghela napas ia mengiyakan ajakan Ricko. "baik kak aku mau ziarah ke makam papa dan mama" jawab Ziena


Ricko tersenyum menanggapi jawaban Ziena karena kali ini rencananya berhasil. Ia ingin membantu Ziena untuk benar-benar terlepas dari masa lalunya. Dan tanpa mereka sadari Irfan mendengar semua percakapan mereka di telepon tadi karena kamarnya tepat berada di bawah kamar Ziena. "selamat ulang tahun nonaku" ucap Irfan dari dalam hatinya


__ADS_2