Pesta Di Masa Depan

Pesta Di Masa Depan
BAB 40


__ADS_3

Hari menjelang malam dan Dylan masih tetap setia duduk di kursinya dengan bertumpuk-tumpuk berkas di mejanya. Ia sengaja mengulur waktu pulangnya agar lebih lama di kantor. "Lan" panggil Alex yang tanpa Dylan sadari sudah duduk di kursi di depannya


"sejak kapan Lo di sini Lex?" tanya Dylan


"sejak jam pulang kantor Lan"


"Lo kenapa masih di sini Lan? Lo gak siap-siap pulang?" tanya Alex


"masih banyak kerjaan" balas Dylan


"ini udah mau Maghrib Lan, kantor juga udah sepi" jelas Alex


"iya gue tau Lex, tapi kerjaan gue masih numpuk" jawab Dylan


"kerjain aja di rumah Lan, kasihan istrimu pasti lagi nungguin Lo pulang" jawab Alex


"maksud Lo?" tanya Dylan penasaran


"kemarin pas Lo gak pulang Istrimu chat gue tanya Lo di mana terus gue jawab kalo Lo nginep di rumah gue" jelas Alex


"oh jadi kemarin dia kirim pesan ke Alex menanyakan keberadaanku" batin Dylan sedikit senang


"kenapa Lo bilang jujur sih Lex" balas Dylan


"kalo bohong dosa Lan" canda Alex


"oh iya Lan pagi tadi gue juga kirim pesan ke Istrimu kalo nanti malam Lo bakal pulang Jadi Lo harus pulang Lan" lanjut Alex


"terus dia jawab apa?" tanya Dylan tanpa menghiraukan penjelasan Alex

__ADS_1


"kalo Lo penasaran mending Lo pulang sekarang kasihan dia masih polos lugu begitu Lo tinggalin Mulu, nanti kalau ada apa-apa sama nona gimana coba" balas Alex


"rese Lo Lex" balas Dylan


"udah gue mau balik dulu Lan, masih banyak urusan gue" pamit Alex dan Dylan mengangguk


Melihat Alex keluar dari ruangannya Dylan kemudian membereskan meja kerjanya dan segera pergi meninggalkan kantor. Selama perjalanan pulang perasaan Dylan sedikit lebih bahagia pasalnya ia sudah mengetahui siapa yang Ziena kirimin pesan kemarin malam tapi ia masih kesal kepada Ziena karena tidak mau menandatangani surat perjanjian pernikahan yang ia ajukan.


Mobil yang Dylan kendaraan sudah berada di depan gerbang rumahnya. Satpam yang bertugas segera membukakan pintu. "selamat malam tuan Dylan" sapa pak satpam dan Dylan hanya menganggukkan kepalanya


Dylan memakirkan mobilnya dan berjalan masuk ke dalam. Sebelum masuk ke dalam Ia bisa mencium aroma masakan dari dalam rumah dan bisa Dylan pastikan bahwa itu masakan buatan istrinya.


Mendengar suara langkah kaki dari belakangnya, Ziena yang sedang sibuk memasak segera menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap ke belakang. Tatapan mereka bertemu saat Ziena menoleh ke belakang mencari sumber suara. Ziena langsung menghampiri Dylan dan mencium tangan Dylan. "mas Dylan kenapa kemarin gak pulang?" tanya Ziena


"K-kemarin...ada proyek di dekat rumah Alex dan kami pulang larut malam jadi aku menginap di rumahnya karena sudah sangat lelah" jawab Dylan sedikit berpikir dan berbohong


Dylan terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Ziena yang memang menjadi alasannya tidak pulang kemarin malam. "kenapa kamu tidak mau menandatangani surat itu?" tanya Dylan


"sekarang lebih baik mas Dylan segera mandi lalu kita makan malam bersama dan setelah aku akan menjawab pertanyaan mas Dylan" jawab Ziena


Kemudian Dylan berjalan naik ke atas menuju kamarnya sedangkan Ziena kembali menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Dylan.


Tak butuh waktu lama untuk Ziena menunggu Dylan selesai mandi. Ia melihat Dylan berjalan menghampirinya dengan rambut sedikit basah. "ayo kita makan" ucap Dylan yang baru sampai di meja makan


Mereka makan dalam keheningan, tidak ada suara selain dentuman sendok yang menyentuh permukaan piring. Bahkan selesai makan pun mereka saling terdiam tidak ada yang memulai percakapan terlebih dahulu. "jadi apa alasan kamu tidak mau menandatangani surat itu?" tanya Dylan yang memulai pembicaraan


"apakan perlu alasan untuk seorang istri mencintai suaminya sendiri?" tanya Ziena balik


deg...deg...deg...deg...deg...deg

__ADS_1


Jantung Dylan mendadak berdebar sangat kencang setelah mendengar pertanyaan dari Ziena. "maksudmu apa na?" tanya Dylan bingung


"apakah perlu alasan untuk seorang istri menolak menandatangani surat perjanjian pernikahan itu saat ia sudah mulai mencintai suaminya?" tanya Ziena


"aku tidak mengerti dengan maksud pertanyaanmu" ucap Dylan


"satu, dua, tiga. Hanya dalam hitungan tiga detik aku jatuh cinta. Hanya butuh detik untuk membuatku jatuh cinta pada seseorang di hadapanku ini" jawab Ziena sambil memperlihatkan jari tangan yang ia gunakan untuk menghitung


"apa kamu sedang..." ucap Dylan terpotong


"iya aku sedang menyatakan perasaanku kepada suamiku sendiri" jawab Ziena dengan tegas


"aku sudah memiliki kekasih tidak mungkin aku bisa mencintaimu na" balas Dylan


"aku istrimu mas, akan aku buat kamu jatuh cinta padaku" jawab Ziena


"itu gak mungkin na. Kamu masih terlalu muda, kurasa kamu hanya merasakan cinta sesaat atau hanya cinta monyet kepadaku" balas Dylan


"kupastikan yang kurasakan ini bukan cinta monyet atau cinta sesaat mas. Aku tidak memaksa, aku akan membuat mas Dylan juga mencintaiku" balas Ziena


"baiklah itu terserah kamu aku tidak akan memaksa yang jelas aku memiliki kekasih sebelum menikah denganmu" ucap Dylan seolah menjelaskan posisi Ziena di dalam hidupnya


Ziena mendekati Dylan dan membisikkan sesuatu di telinga Dylan. "aku sudah tau mas, aku akan tetap mencintaimu dan membuatmu mencintaiku kembali" bisik Ziena


Dylan memundurkan tubuhnya sedikit menjauh dari Ziena. "baiklah terserah padamu" ucap Dylan dan langsung pergi meninggalkan Ziena


"baru saja seorang gadis polos menyatakan perasaannya kepadaku" batin Dylan sambil berjalan ke ruangannya


Dylan sengaja menghindar dari Ziena karena pembicaraan mereka sudah terlalu dalam. Ia tidak ingin Ziena mengetahui jika jantungnya berdebar kencang saat berada di dekatnya. Dylan masih belum mau mengakui perasaannya sendiri bahwa ia sudah mulai mencintai Ziena dan merasa nyaman bila berada di samping Ziena. Dan untuk masalah surat perjanjian pernikahan mungkin Dylan akan mengajukan lain kali saat Ziena sudah bisa diajak bicara dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2