
Sudah tiga bulan sejak hari dimana Mela meninggalkannya, tapi selama itu pula hubungan antara Dylan dan Nana masih sama saja. "nanti sore kita pergi ke rumah mama, sudah lama kita tak berkunjung ke sana" kata Dylan
Ziena menaruh gelas airnya kemudian mengangguk. Mereka baru saja selesai sarapan. "menginap?"
Dylan menggeleng. "hanya sebentar, setelah makan malam kita pulang" jawabnya
Setelan mengucapkan itu Dylan pamit untuk berangkat kerja. Dylan sempat berdiam sebentar menatap Ziena. Istrinya masih duduk dan tak beranjak melakukan kegiatannya seperti dulu. Menemaninya ke depan dan menyalami tangannya. Memang ini salahnya membuat Ziena berubah.
Ada rindu atas setiap perlakuan Ziena. Ingin ia meminta maaf, tapi bagaimana caranya? ia terlalu malu untuk mengucapkan kata maaf. Dengan berat hati ia melanjutkan langkahnya keluar.
Ziena sempat melirik Dylan yang berhenti melangkah tadi. Ia sempat bertanya dalam hatinya, apa ada yang tertinggal sampai Dylan berhenti sejenak dan menatapnya? tapi ia memilih acuh saja.
Karena hari ini akhir pekan dan kebetulan ia tak ada jadwal kuliah, Ziena langsung bersiap-siap menuju kantornya. Seperti biasa di depan rumah sudah ada sopir yang menjemputnya, sebelum berangkat ia sempat berpamitan kepada Bu Inah. "saya berangkat dulu ya Bu" ucap Ziena sebelum masuk ke mobil
Selama diperjalanan Ziena lebih memilih untuk menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi penumpang. Akhir-akhir ini ia menemukan kebiasaan barunya. Mungkin memejamkan mata sejenak memang perlu hanya untuk menghilangkan penat sesaat. Meskipun itu tak mungkin menghilangkan masalah di hidupnya. "nona kita sudah sampai" ucap sopirnya dengan sopan
Ziena membuka matanya dan segera masuk ke dalam.
...............
Sudah pukul sebelas lewat lima belas menit, itu tandanya sudah lima belas menit yang lalu Ziena melewatkan jam makan siangnya. Entah karena sedang diet atau malas atau bahkan lupa jika ia hampir melewatkan jam makan siangnya. "na"
Ziena menoleh ke arah pintu. "makan siang" ucap Ricko memberi tahu
"iya duluan aja kak" jawabnya
"aku bawain makan aja ya" tawar Ricko
Ia sudah hafal dengan kelakuan Ziena yang sering melewatkan jam makan. "iya boleh kak"
__ADS_1
Ricko mengangguk tanda paham. Ia langsung melesat pergi. Ricko berencana membelikan Ziena donat, salah satu kesukaan ziena.
Diperjalanan ia tersenyum mengingat betapa sukanya Ziena dengan kue yang identik berlubang di tengahnya. Masih tercetak jelas diingatannya bagaimana Ziena selalu merengek menagih janji setiap kali Ricko mengatakan akan membelikannya kue donat dengan toping meses warna-warni.
Ia pernah bertanya kepada Ziena tentang alasan kenapa ia begitu menyukai donat padahal banyak kue-kue enak lainnya, dan dengan percaya dirinya Ziena mengatakan jika donat adalah kue lucu yang pernah ia makan. Katanya ia bisa mengekspresikan perasaannya dengan donat, jika ia sedang sedih ia akan memakan donat dengan toping berwarna gelap dan begitu juga sebaliknya ia akan memakan donat dengan toping warna-warni jika sedang bahagia.
Terlepas dari alasan itu sebenarnya Ricko sedikit mengetahui fakta jika sebenarnya itu adalah kue pertama yang pernah papa Ziena berikan untuk Ziena. Ia mengetahui itu dari cerita bi Ani. Bi Ani pernah bilang sedari kecil Ziena jarang mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya, sekali mendapatkan tak lama kemudian ditinggal pergi untuk selamanya bahkan tepat di hari ia berulang tahun.
Itu menjadi pukulan terberat bagi Ziena. Hidup tanpa perhatian dan seorang anak tunggal bukanlah hal yang mudah apalagi ia seorang perempuan, makhluk yang selalu dianggap rapuh, tapi memang benar, ia adalah makhluk rapuh yang berpura-pura kuat. Menunjukkan pada dunia bahwa ia pohon beringin kokoh yang sebenarnya sudah lapuk dalamnya.
"Donat Hokky" Tulisan itu terpampang jelas di atas toko yang akan Ricko masuki. Iya, toko donat sesuai namanya toko kue ini hanya menjual satu macam kue yaitu donat. Toko ini menjual bermacam-macam donat dengan toping yang beragam bahkan kita bisa merequestnya jika mau.
Belum masuk ke dalam saja sudah tercium khas aroma kue yang manis. Bahkan menghirup aromanya saja sudah membuat siapa saja tergoda untuk membeli. Berada di tengah kota membuat toko ini begitu ramai apa lagi disediakan mini cafe untuk orang-orang yang ingin memakannya di tempat bersama orang-orang terdekat mereka.
Mungkin jika Ziena yang ada di sini pasti akan bahagia Sebab toko donat adalah surganya Ziena tapi berbeda halnya dengan Ricko yang dari tadi tak kunjung memilih satu diantara sekian banyak donat yang berjejer rapi di dalam rak kaca. Ia bingung harus memilih yang mana sebab banyak sekali pilihan topingnya.
Salah satu pelayan toko sampai menawarkan diri untuk membantu Ricko memilih salah satu toping donat yang menjadi best seller di toko mereka karena saking lamanya Ricko memilih. Karena sudah kelewat malu Ricko memilih asal salah satu donat di depannya, yang jelas ia tak akan memilihkan toping dengan warna gelap.
Banyak sekali pesan yang masuk dari nomor yang tidak ia kenal. Perlu diingat Ricko begitu populer di kantor setelah Om Irfan, tak jarang juga ia mendapatkan kado di atas mejanya bahkan kadang tengah malam ia sering mendapatkan telepon dari para penggemarnya, yang tak punya malunya terkadang mengajak ia berkencan atau bahkan mengajak untuk menjalin hubungan serius. Tapi ia hanya acuh dan membiarkan ayam-ayamnya berekspresi. Begitu ia menamai para penggemarnya ayam-ayam.
"kak Ricko"
Ricko mengernyitkan alis menatap seorang gadis yang kira-kira seumuran dan Ziena.
"Dea temennya Ziena" jelas dea yang terus ditatap oleh Ricko
Ricko hanya mengangguk. Sebenarnya ia sendiri juga tak mengenal Dea, hanya saja mendengar nama Ziena disebut ia langsung mengiyakan saja toh mereka juga tidak akan bertemu lagi setelah ini.
Dea langsung duduk di depan Ricko. Kebetulan ia juga mampir untuk membeli donat di sini dan kebetulan juga bertemu dengan Ricko. "kak Ricko sendirian?" tanya Dea sambil melihat sekelilingnya
__ADS_1
"iya"
"beli donat buat Ziena kak?"
"iya dia suka banget sama donat" jawab Ricko sambil tersenyum ramah begitu juga dengan Dea
"iya kak, dulu setiap jam istirahat pasti Ziena cari donat dikantin dan diborong semuanya" kata Dea sambil tertawa mengingat kenangan itu
Meski banyak masalah di hidupnya, Ziena tak pernah sekalipun memperlihatkan kelemahannya di hadapan banyak orang. Ia juga menjalani kehidupan anak remaja sewajarnya.
"dia makan habis semuanya?" tanya Ricko seolah tak percaya
Dea menggeleng. "dia bagi-bagikan ke temen sekelas"
Ricko tersenyum mendengar cerita tentang Ziena. Setidaknya ia tahu satu hal lagi tentang Ziena, ia selalu bahagia bila berkumpul dengan teman sebayanya. "donat memang surganya Ziena" kata Dea
"ngomong-ngomong kamu temennya Nana dari SMA?" tanya Ricko, sedari tadi ia belum paham jika Dea teman dekatnya Ziena
"iya kak"
"oh aku pikir kamu temen kuliahnya"
" aku temen SMA-nya dan kebetulan satu kampus sekaligus satu jurusan sama Ziena" jelas Dea
Obrolan mereka berlanjut sampai akhirnya pesanan Ricko selesai dibungkus. "pesanan saya udah selesai dibungkus, saya pamit pergi dulu ya" pamit Ricko
Dea tersenyum sambil mengangguk. "iya kak hati-hati di jalan"
"lain kali kalau bertemu kita lanjut lagi obrolan kita" kata Ricko dengan ramah
__ADS_1
Ricko sebenarnya seorang yang ramah dengan semua orang kecuali jika ia diperlakukan seperti seorang mangsa oleh wanita maka ia akan menjadi dingin kepada wanita itu.
Pipi Dea merona setelah kepergian Ricko. Jujur kalimat terakhir yang Ricko ucapkan masih membekas dihatinya. Secara tidak langsung Ricko berharap mereka akan bertemu lagi. Apalagi panggilan aku kamu dan kita yang begitu manis di telinga Dea.