Pesta Di Masa Depan

Pesta Di Masa Depan
BAB 103


__ADS_3

"pak Irfan hari ini saya mau pulang ke mansion, tolong beritahu bi Ani" ujar Ziena


"baik nona" jawab Irfan sebelum pergi meninggalkan ruangan Ziena


Seminggu ini Dylan pergi ke luar kota dan entah kapan pulangnya. Seperti biasa ia tidak memberitahukan kepergiannya kepada Ziena. Terkadang Ziena sempat berpikir untuk mengakhiri pernikahannya tapi ia sudah berjanji kepada kedua orang tua suaminya akan berusaha memperjuangkan pernikahan mereka.


tok tok tok


"masuk"


Irfan masuk dengan wajah sedikit tegang. "ada apa lagi pak Irfan?" tanya Ziena


Irfan menghembuskan napasnya pelan sebelum mengatakan sesuatu ke Ziena. "nona di luar ada seseorang yang memaksa masuk ingin bertemu dengan anda" ujar Irfan


"hari ini saya tidak ingin bertemu dengan siapapun" jawab Ziena tanpa mengalihkan perhatiannya kepada tumpukan dokumen di depannya


"T-tapi nona..."


"pak Irfan"


"nona seseorang ini adalah kekasih pak Dylan"


Ziena menghentikan aktivitasnya lalu menatap Irfan. Mendengar kata kekasih suaminya membuat darah Ziena mendidih. "untuk apa dia ke sini dan bagaimana dia bisa tahu jika aku bekerja di sini?" batin Ziena


"katakan jika saya sedang sibuk dan tidak bisa diganggu"


Irfan sudah menebak jika Ziena tidak akan mau menemui seseorang ini, tapi yang jadi masalah adalah kekasih Dylan tengah berteriak-teriak seperti orang gila di kantor Ziena. "tapi nona masalahnya kekasih pak Dylan berteriak-teriak memanggil nama anda di lobi bawah yang menyebabkan kekacauan" ucap Irfan dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Ziena pasalnya Mela berteriak memanggil nama Ziena dengan sebutan orang ketiga


Ziena mengembuskan napasnya dengan kasar. Ia akhirnya menyuruh Irfan untuk membawa Mela menemuinya di ruangannya meski sejujurnya ia tidak mau bertemu dengan kekasih suaminya itu. "Antarkan dia ke ruanganku" ucap Ziena

__ADS_1


Irfan mengangguk kemudian pergi meninggalkan ruangan Ziena. Setelah Irfan pergi Ziena memijat pelipisnya. Ia merasa lelah harus terus menjalani kehidupan seperti ini. Menjalani pernikahan yang tidak jelas akan perasaan masing-masing dan bagaimana kelanjutan hubungan mereka ke depannya. Ia tidak mau membuang-buang waktu dan perasaannya untuk sesuatu yang belum pasti kejelasannya. Jika dipikir-pikir lebih banyak sedihnya ketimbang bahagianya menjalani pernikahan ini.


Terkadang Ziena merasa lucu akan nasibnya. Ia yang notabenenya berstatus istri sah malah kalah status dengan seorang selingkuhan. Oke, ia tahu jika kehadirannya ini di waktu yang salah, tapi jika semuanya jujur terbuka dari awal mungkin pernikahan ini tidak akan terjadi dan Ziena juga tidak perlu merasa disudutkan oleh semua pihak terutama suaminya saat mereka sedang bertengkar.


Di sini bukan hanya Dylan yang menjadi korban tapi Ziena juga. Ia telah dibohongi oleh semua keluarga Cakra. Tapi percuma juga membuat pembelaan karena suaminya akan terus menyudutkan posisinya sebagai orang ketiga di hubungannya dengan Mela.


Tapi itu hanya sudut pandang dari hubungan Dylan dan Mela saja, coba jika melihat dari sudut pandang hubungan Dylan dan Ziena yang sudah sah secara hukum dan agama, apakah Ziena masih dianggap sebagai orang ketiga? apa Ziena patut untuk terus disalahkan? tidak, di sini tidak ada yang dibenarkan dan juga tidak ada yang disalahkan, semua hanya kurang keterbukaan, kejujuran, keikhlasan dan ketegasan.


Tapi jika Dylan sudah memilih untuk menikahi Ziena seharusnya ia melepaskan Mela dan Mela pun harus merelakan Dylan bersama pasangannya.


tok tok tok


Irfan masuk bersama Mela di belakangnya. Setelah itu ia kembali ke ruangannya. Mela berjalan mendekati sofa di ruangan Ziena. "hallo nyonya Dylan" sapa Mela dengan nada mengejek


Ziena berjalan mendekat. "angin apa yang membawa anda kemari?" tanya Ziena


Mela masih diam sambil menatap sekeliling ruangan Ziena. "ruanganmu saat besar dan mewah bahkan ruangan Dylan masih kalah jauh dibandingkan dengan ruangmu ini makanya waktu itu kamu tidak mau menandatangani surat perjanjian pernikahan meski sudah diberi banyak keuntungan"


Ziena hanya diam mendengarkan ucapan Mela. "jika kedatangan anda hanya membicarakan hal yang tidak penting lebih baik anda pergi sekarang karena saya sedang sibuk dan satu lagi tolong jangan pernah datang lagi ke kantor saya hanya untuk membuat kekacauan" ucap Ziena sambil mempersilakan Mela pergi


"tenang nyonya Dylan, tidak usah terburu-buru kita bisa berbincang-bincang dulu sambil membangun chemistry diantara kita sebelum saya menjadi istri keduanya Dylan" ujar Mela


Ziena tertawa mengejek mendengar ucapan Mela. "istri kedua...apa yang perlu dibanggakan dari istri kedua?"


"tentu saja sebuah cinta, yah walaupun menjadi yang kedua tetapi saya tidak masalah karena Dylan menikahi saya karena cinta bukan karena sebuah bisnis"


Ziena sudah tahu dari awal jika pernikahannya ini hanya sebuah pernikahan bisnis karena sehari sebelum pernikahannya papa Juna mendatangi Ziena secara pribadi untuk membantu menutupi kekurangan dana di perusahaannya.


Awalnya ia sempat menolak tapi kemudian setelah berpikir-pikir akhirnya Ziena menyetujui untuk membantu mertuannya itu dan membeli separuh saham di perusahaan tersebut. "lagi pula yang kedua akan menjadi yang tersayang, anggap saja jika yang pertama itu membosankan dan yang kedua membahagiakan"

__ADS_1


Mela mendekatkan dirinya ke Ziena. "maksudku seperti memberikan sebuah kepuasan" ucap Mela dengan jelas di telinga kanan Ziena


Ziena merasa jijik mendengar kalimat terakhir Mela. Ia bukan gadis bodoh lagi, ia bisa mengerti maksud dari kalimat terakhir Mela. "jadi maksud anda apakah seperti pergi ke hotel bersama om-om kaya dan menginap bersama beberapa hari begitukah?" tanya Ziena


Mela terkejut mendengar ucapan Ziena. "bagaimana dia bisa tahu tentang itu?" batin Mela


"kenapa terkejut? apa saya salah bicara atau yang saya bicarakan memang benar?"


"apa maksudmu bicara seperti itu?" tanya Mela dengan wajah marahnya


"kenapa balik bertanya kepada saya? seharusnya anda tahu apa yang saya maksud bukan" jawab Ziena


Mela terdiam ia tidak tahu harus menjawab bagaimana karena rahasia besarnya telah diketahui Ziena. Ia berdiri dari duduknya dan mengambil tasnya dengan kasar. "lain kali aku akan menemui lagi nyonya Dylan" ucapnya sambil menggertakkan giginya


Setelah kepergian Mela, Irfan dan Ricko masuk ke dalam menemui Ziena. Mereka berdua sangat khawatir takut terjadi apa-apa dengan Ziena. "na kamu gak apa-apakan? kamu diapa-apakan gak sama dia?" tanya Ricko dengan beruntun


Ziena menggelengkan kepalanya sambil bingung harus merespon bagaimana dengan pertanyaan Ricko. "tidak terjadi apa-apa kak"


"terus kenapa lama sekali tadi? kalian membicarakan apa di dalam tadi?"


Ziena diam bingung mau mengatakan apa karena Ricko memberikan banyak pertanyaan kepada secara beruntun "Rick" ucap Irfan sambil menatap tajam Ricko


"biarkan nona menjelaskannya dengan pelan-pelan"


Ricko kemudian terdiam mendapat teguran dari Irfan. "tidak ada yang terjadi di dalam tadi, kami hanya membicarakan hal-hal yang tidak penting" ujar Ziena


"apa kamu yakin tidak terjadi apa-apa di dalam tadi na?"


Ziena hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia masih pusing jika harus mengatakan yang sejujurnya. "aku mau kembali melanjutkan pekerjaanku lebih baik kalian kembali ke ruangan kalian masing-masing" ucap Ziena sambil kembali duduk di kursinya

__ADS_1


Irfan dan Ricko akhirnya kembali ke ruangan mereka masing-masing. Mereka tidak mau memaksakan Ziena untuk berkata jujur tentang apa yang terjadi karena Ziena juga memiliki privasi yang tidak semua orang boleh tahu.


__ADS_2