
"om mobilnya sudah siap?" tanya Ricko
Irfan mengangguk. "sudah Rick tinggal tunggu nona saja"
Demi mengantarkan Ziena berziarah ke makam kedua orang tuanya Ricko dan Irfan sampai telat masuk ke kantor dan bahkan mengundur beberapa jadwal meeting yang sudah dijadwalkan. "kak Ricko om Irfan ayo kita berangkat sekarang" ucap Ziena saat tiba di depan mereka
Ziena langsung masuk ke dalam mobil diikuti Irfan dan Ricko. "bi Ani kami berangkat dulu" ucap Ricko sebelum masuk ke dalam mobil
Bi Ani mengangguk. "iya hati-hati den" ucap bi Ani sambil menatap kepergian mobil mereka.
Irfan duduk di depan dekat sopir pribadi mereka dan Ricko duduk di kursi penumpang dengan Ziena. "huft" ziena sesekali menghela napasnya
Ricko beberapa kali melihat Ziena menghela napas dan terus menatap keluar kaca jendela. "kamu baik-baik saja na" ucap Ricko
Irfan menoleh ke belakang menatap Ricko dan Ziena secera bergantian setelah mendengarkan ucapan Ricko. "entahlah aku merasa sedikit takut dan jantungku terasa sedikit sesak" jawab Ziena dengan jujur
__ADS_1
"kita kembali saja bagaimana? kakak tidak mau kamu kenapa-kenapa" ucap Ricko
Ziena menggeleng. "jangan kak, kita lanjutkan saja aku baik-baik saja kok"
Irfan menyuruh sopir di sampingnya untuk menepikan mobilnya dan memberikan sebotol air minum kepada Ziena. "minumlah dulu nona" ucap Irfan sambil memberikan sebotol air mineral kepada Ziena
Ziena menerimanya dan meneguk airnya. "jika belum siap jangan dipaksakan dulu nona" ujar Irfan
"iya na jika kamu belum siap tidak apa jangan dipaksakan, kita bisa ke sana saat kamu sudah siap" sahut Ricko
Setelah perdebatan itu akhirnya mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat pemakaman kedua orang tuanya Ziena.
Sebenarnya jarak tempuh untuk sampai ke tempat pemakaman kedua orang tua Ziena hanya membutuhkan waktu lima belas menit tapi karena tadi mereka sempat menepikan mobil dan berdebat sebentar akhirnya mereka baru sampai sekitar tiga puluh menit kemudian. "na ayo turun kita sudah sampai" ajak Ricko
Ziena mengangguk kemudian turun. Ia menarik napasnya sekali lagi sebelum masuk ke area pemakaman. Dengan langkah kaki berat ia sampai di pusara kedua orang tuanya. Air matanya tiba-tiba turun tanpa permisi.
__ADS_1
Ia kembali mengingat terakhir kali ia ke sini saat kedua orang tuanya dikebumikan. Dengan tangan bergetar ia memegang nisan yang bertuliskan nama papa dan mamanya. "assalamualaikum pa ma" batin Ziena
Meski kedua orang tuanya sudah meninggal empat tahun yang lalu tapi masih terdengar jelas suara mereka di telinga Ziena. Bahkan pelukan hangat mereka masih terasa sampai saat ini. "maafkan Nana yang durhaka ini pa ma karena sudah lama tidak pernah kemari" batinnya
Kemudian mereka bertiga berdoa masing-masing untuk mendoakan kedua orang tua Ziena. Setelah itu Irfan dan Ricko izin kembali ke mobil lebih dulu. Mereka berniat memberikan ruang untuk Ziena melepaskan rasa yang selama ini ia tahan di hatinya. "nona kami izin kembali ke mobil lebih dulu" ucap Irfan dan Ziena mengangguk setuju
Meski Irfan dan Ricko meninggalkan Ziena sendirian tapi mereka tetap mengawasi Ziena dari parkiran karena jarak parkiran tidak terlalu jauh.
Setelah Ziena sendirian, ia baru menumpahkan semua air mata yang ia tahan sedari tadi. "pa ma terkadang Nana tidak pernah percaya telah kalian tinggalkan untuk selama-lamanya..., Nana selalu merasa kalau kalian masih ada sampai saat ini "
"meskipun banyak kesedihan setelah kalian pergi untuk selama-lamanya tapi Nana bersyukur karena masih ada kak Ricko dan juga yang lainnya yang masih menyayangi Nana dan selalu memberikan kehangatan untukku"
"yah meskipun mereka ada untukku, aku tetap merasa kangen dengan kalian pa ma, bagiku sosok kalian tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun" ucap Ziena
Setelah itu ia mengusap air matanya. "pa ma Nana pamit dulu, lain waktu Nana akan sering mengunjungi kalian" ucap Ziena sebelum akhirnya kembali menyusul Irfan dan Ricko di parkiran
__ADS_1
Ziena langsung masuk ke dalam mobil dan mengatakan jika hari ini ia izin tidak masuk kuliah sekaligus tidak masuk ke kantor. Irfan dan Ricko mengiyakan ucapan Ziena. Mereka mengantarkan Ziena kembali pulang setelah itu mereka baru berangkat ke kantor dengan membawa mobil masing-masing.