Pesta Di Masa Depan

Pesta Di Masa Depan
BAB 110


__ADS_3

SELAMAT PAGI, SIANG, SORE, DAN MALAM


MAAF LAMA GAK UPDATE PDMD,


BARU BISA UPDATENYA SEKARANG


YUK CUSS BACA!


...HAPPY READING ✨...


Dua jam sudah Dylan terdiam sambil menatap kosong secangkir kopi hitam di depannya. Kopi yang awalnya panas kini sudah berubah menjadi dingin. Satu alasan yang membuatnya gila hari ini, keputusan Mela siang tadi yang menjadikan beban pikiran bagi dirinya. Tak habis pikir ia pada wanita yang pernah ia tolong dulu. Semudah itukah ia memutuskan hubungan yang sudah terjalin cukup lama ini? bagaimana dengan perjuangannya selama ini? apa tak ada harganya di mata wanita itu?.


Hingga dering ponsel membuyarkan lamunannya. "Alex" satu nama terpampang jelas di layar ponselnya


Dylan menarik ikon hijau itu dengan malas. "Lo dimana?" tanya Alex dengan nada cukup keras


"di apart" jawab Dylan dengan malas


"gila Lo" dua kata ketus keluar dari mulut Alex


Alex sudah kehilangan kesabarannya, dua jam ia menunggu Dylan di ruang meeting. Tadi sebelum keluar kantor Dylan berpesan akan makan di luar karena Mela yang mengajaknya. Alex sempat mencegah sebab setelah jam makan siang mereka akan ada meeting. "balik ke kantor Lo sekarang!" titah Alex, ia sudah tidak peduli dengan ucapannya sendiri, baginya persetanan dengan aturan bos dan pegawai, sekarang yang terpenting adalah membuat Dylan segera kembali ke kantor


"Lo undur aja jadwal meeting-nya, gue gak bisa hari ini" jawab Dylan setelah itu ia mematikan panggilannya


Mendengar ucapan Dylan membuat Alex naik pitam. Dylan selalu seenaknya sendiri, tak pernahkah ia memikirkan pegawainya? apakah ia tak sadar jika kelakuannya itu membuat pekerjaan Alex menjadi bertambah. Jadwal yang sudah Alex susun dengan rapi kembali berantakan.


Dengan berat hati Alex menyampaikan pesan bahwa Dylan mendadak tidak bisa menghadiri rapat kali ini karena ada urusan mendadak, tidak mungkin Alex mengatakan yang sejujurnya kemana bos mereka sekarang.


Beberapa orang menampilkan wajah sedikit kecewa dan mungkin bercampur kesal. Jika saja Dylan bukan bos mereka sudah dipastikan Dylan mendapat caci maki dari banyak orang karena tidak profesional dalam urusan pekerjaan. Bukan sekali atau dua kali bos mereka tiba-tiba membatalkan meeting penting seperti ini.


Alex menyampaikan maaf sekali lagi dan ia akan jadwalkan ulang meeting ini. Setelah menyampaikan itu Alex kembali ke ruangannya. Meskipun ia masih emosi dengan bosnya Alex tetap melanjutkan pekerjaannya. Ia tak mau gara-gara Dylan perusahaan yang sudah di bangun om Juna gulung tikar.


Satu jam setengah kemudian Alex segera bergegas untuk pulang. Sebelum pulang ia menyempatkan mampir ke apart milik Dylan. Sekalian ingin mencaci maki pria itu.


Setelah dua kali memencet tombol apart milik Dylan, barulah sosok yang ingin ia pukul dari tadi muncul. "ngapain Lo ke sini?" tanya Dylan

__ADS_1


"bunuh Lo" jawab Alex dengan sinis


Ia langsung menerobos masuk ke dalam dan di ikuti Dylan. "lagi ada masalah Lo?" tanya Alex seperti sudah hafal dengan permasalahan Dylan


"pasti masalah cewek lagi" tebak Alex


"Mela pergi sama cinta pertamanya" ucap Dylan dengan nada lemah


"terus"


"gue gak terima aja sama keputusan dia"


"terus"


"maksud Lo apa teras terus begitu" jawab Dylan dengan ketus, ia sedikit tersulut emosi dengan nada sahabatnya ini


Tak tahukah jika dirinya sekarang sedang patah hati. Mungkin terkesan berlebihan di usianya yang bukan remaja lagi, tapi perlu diketahui Mela adalah cinta pertamanya.


"ya terus bagus dong kalau si Mela pergi, itu artinya sang pencipta nyuruh Lo buat setia sama istri Lo bro" jawab Alex seadanya


Mengingat selama setahun hubungan mereka yang tak baik-baik saja membuat Dylan dilema. Apa iya, ia harus mulai memperbaiki kembali benang yang hampir terputus ini? terlebih puncaknya di lima bulan terakhir ini. "lebih baik diperbaiki yang jelas-jelas ada bro" sahut Alex


"atau Lo mau tetap stuck di masa lalu Lo juga gak masalah, sebab itu pilihan hidup Lo sendiri, gue gak bakal ngerasain apa yang Lo rasain, gue sebagai sahabat Lo cuman bisa bantu kasih sedikit masukan, itupun kalau Lo terima masukan dari gue" lanjutnya


"tapi gue gak ada rasa sama dia, perlu Lo tau itu" tegas Dylan


"gak ada sama sekali?" tanya Alex sambil menaikkan sebelah alisnya, seolah sedang mengejek Dylan yang sedang berbohong


Dylan mengangguk dengan ragu. "sedikit aja Lo gak ada rasa sama istri Lo?" tanya Alex sekali lagi sambil memainkan jarinya seolah menunjukkan takaran paling sedikit


Dylan menghela nafasnya. Ia kalah telak dengan Alex. "sedikit" jawab Dylan dengan pasrah, tak mungkin ia berbohong pada manusia satu ini


"sedikit-sedikit lama-lama juga banyak bro" jawab Alex sedikit mengejek


"ibarat Lo sekolah dari SD ke SMP habis itu SMA lanjut kuliah, pasti disetiap jenjang pendidikan itu materi pelajarannya semakin bertambah. Nah, sama halnya kayak jatuh cinta step by step, perlahan-lahan, sedikit demi sedikit bro"

__ADS_1


"dari yang awalnya Lo lihat seyumannya udah bikin Lo terpesona tambah lagi lihat cara berpikirnya, tambah lagi di cara bicaranya dan terus bertambah bro" jelas Alex


Entah kenapa Alex sangat jengkel dengan kelakuan sahabatnya ini. Tak habis pikir dengan jalan hatinya Dylan. Sesuatu yang harusnya mudah dibuat sulit oleh Dylan.


Dylan menyandarkan kepalanya disandaran sofa. Berat sekali beban pikirannya beberapa waktu ini. Jika boleh jujur jauh di dalam hatinya ia merasakan sedikit lega sebab Mela sendiri yang sudah mengakhiri hubungan mereka, jadi tak perlu ia menghadapi kedua orang tuanya.


Tapi meskipun begitu, ia masih merasakan berat melepas wanita yang sudah mengisi hari-harinya selama beberapa tahun ini. "lan coba deh Lo buka mata dan hati Lo lebar-lebar"


"coba Lo lihat istri Lo baik-baik, Lo tanya sama diri Lo apa yang kurang sama dia?"


Dylan menatap Alex sesaat kemudian menggelengkan kepalanya pelan. "gak ada yang kurang dari dia Lex" jawab Dylan dengan jujur


Selama membangun rumah tangga dengan Ziena. Memang tak pernah ada kurangnya gadis itu, bahkan menurutnya Ziena adalah sosok istri yang sempurna. Hanya dia saja yang keterlaluan bajinganya. Selalu menutup mata dan hatinya, menganggap Ziena adalah pengganggu di kehidupannya.


Alex tertawa. "kalau gak ada yang kurang terus yang jadi permasalahan buat Lo apa sih Lan?"


Dylan terdiam. Ia sendiri bingung harus menjawab apa. "gue tau apa yang menjadi permasalahan Lo" ucap Alex


Dylan kembali menatap Alex seakan penasaran dengan apa yang akan Alex katakan. "Lo itu masih kejebak sama Janji-janji Lo ke Mela"


"ayolah bro Lo jangan terus-terusan stuck di situ aja, cewek yang Lo janjiin aja udah pergi ninggalin Lo bahkan dengan mudah banget dia ngomong begitu sama Lo masa iya Lo masih kejebak di masa lalu Lo"


Yang dikatakan Alex memang benar. Ia harus kembali menata hidupnya, bangkit dan memulai hidup yang baru. Setidaknya tidak ada rasa penyesalan sebab Mela sendirilah yang memutuskan untuk pergi, anggap saja janji-janji yang pernah ia ucapkan dulu sudah kadaluarsa sejak lima jam yang lalu.


...............


HALLO GIMANA PART INI?


MASIH INGAT JALAN CERITANYA?


MAU KAPAL NANA BERLAYAR SAMA SIAPA NIH?


TUNGGU PART SELANJUTNYA OK 🤭


**JANGAN LUPA LIKE, VOTE, DAN KOMEN

__ADS_1


HAICO**


__ADS_2