
Pagi ini Dylan disibukkan dengan berbagai macam meeting dengan klien dan juga jadwal-jadwal lainnya. "Lex apa jadwal saya setelah ini?" tanya Dylan tanpa menoleh
"satu jam lagi jadwalnya anda bertemu dengan klien di restoran 22 pak" jawab Alex
"satu jam lagi? berarti bertepatan dengan jam makan siang?" tanya Dylan
"benar pak" jawab Alex
"kalau begitu kita berangkat sekarang, jarak restoran 22 lumayan jauh dari kantor apalagi dijam-jam segini jalanan pasti macet" ucap Dylan sembari melangkah keluar
"baik pak" jawab Alex
Benar apa yang dikatakan Dylan bila dijam-jam mendekati makan siang jalanan kembali macet. Macet karena bertepatan dengan jam pulang sekolah dan juga para karyawan yang mencari makanan.
Jarak restoran yang lumayan jauh ditambah dengan kemacetan membuat perjalanan Dylan sedikit terhambat dan ujung-ujungnya ia datang tidak sesuai dengan jadwal yang ditentukan. "Lex kamu temui dulu kliennya, saya mau pergi ke toilet sebentar" ucap Dylan sebelum masuk ke dalam restoran dan diangguki Alex
Dylan pergi menuju toilet sedangkan Alex pergi menemui klien mereka. Tak lama kemudian Dylan ikut bergabung menemui klien penting mereka. Saat sedang asyik-asyiknya bernegosiasi membahas tentang kerja samanya tiba-tiba Dylan menangkap sosok seseorang yang begitu ia kenal. "Nana" ucapnya lirih namun bisa didengar orang di dekatnya
__ADS_1
"ada apa Lan?" tanya Alex lirih sambil berbisik
"gak ada apa-apa Lex" jawab Dylan tapi masih dengan sorot mata menatap tajam Ziena
Alex lebih mengikuti arah pandang Dylan daripada mendengar jawaban dari mulut sahabatnya. Alex begitu terkejut saat melihat Ziena sedang berjalan masuk ke dalam restoran bersama laki-laki lain. "pantes aja langsung kaget orang istrinya lagi jalan sama laki-laki lain" batin Alex
"pak Dylan pak Alex saya permisi dulu, terima kasih atas kerja samanya" ucap klien mereka sebelum pergi
Setelah klien mereka pergi Dylan memilih tetap tinggal di restoran sambil mengawasi istrinya dari jauh. Entah Ziena sadar atau tidak jika ia sedang diawasi seseorang yang jelas ia hanya terlihat biasa saja.
"kamu yakin gak makan di sini na?" tanya Ricko sekali lagi memastikan
Tak lama kemudian pesanan mereka datang dan Ricko segera membayarnya. "kak Ricko kok cuman beli dua kenapa gak tiga aja sekalian sama om Irfan" protes Ziena setelah melihat isi kantong plastiknya
"tadi om Irfan sudah kakak tanyain mau nitip makanan apa gak terus om Irfan bilang kalau gak usah katanya om sudah makan di kantor, ya udah kakak cuman beli dua" jelas Ricko
"Halah alasan saja" jawab Ziena
__ADS_1
"terus ini kok gak ada es coklat pesanan aku" protes Ziena sambil memperlihatkan wajah kesalnya
"kak Ricko lupa na" jawab Ricko cengar-cengir tanpa bersalah
"maaf ya" lanjutnya sambil mengacak-acak rambut Ziena dan langsung berlari setelahnya
"YAH!" teriak Ziena setelah Ricko tanpa dosa mengacak-acak rambutnya
Inilah kebiasaan Ricko yang belum bisa berubah sampai saat ini, suka menggoda Ziena dengan cara mengacak-acak rambut berponi milik Ziena secara tiba-tiba. Melihat Segala adegan di depannya membuat suhu tubuh Dylan mendadak panas. "Lan gak mau nyamperin" ucap Alex yang masih setia duduk di samping Dylan sambil terus melihat adegan istri sahabatnya dengan seorang laki-laki
"kita pergi sekarang Lex" ucap Dylan dengan tegas
"yakin gak mau mengikuti mereka Lan?" tanya Alex Sebelum menyalakan mesin mobilnya
"cari tau siapa laki-laki tadi dan mulai sekarang suruh seseorang untuk mengikuti dan mengawasi semua kegiatan Ziena" ucap Dylan dengan suara seperti menahan marah
"ok Lan siap" jawab Alex tegas sambil mengangguk
__ADS_1
"bisa-bisanya Ziena dekat dengan laki-laki lain, apa dia gak sadar kalau sudah bersuami" ucap Dylan lirih namun bisa didengar Alex
"haduh Lan Dylan kalau Lo gak mau istrimu dekat dengan laki-laki lain ya makanya Lo jangan dekat dengan wanita lain dong" batin Alex