
Ziena terbangun dari tidurnya karena mendengar bunyi alarm dari handphone miliknya. "sudah subuh ternyata" batin Ziena hendak turun dari tempat tidur
ia beralih menatap Dylan suaminya yang sedang tertidur pulas, tanpa pikir panjang Ziena membangunkan Dylan untuk mengajaknya sholat berjamaah. "mas Dylan bangun, ayo kita sholat subuh berjamaah" ucap Ziena sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dylan pelan
Dylan sedikit membuka matanya perlahan karena terganggu dengan suara Ziena dan berbalik menghadap Ziena. "kamu sholat dulu aja nanti aku susul" jawab Dylan dengan suara serak khas orang bangun tidur
Ziena beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi tanpa menjawab perkataan Dylan. "kenapa langsung pergi? apa perkataan ku salah ya? tanya Dylan pada dirinya sendiri
"tapi tadi dia manggil aku dengan sebutan mas, lucu juga" batin Dylan dengan senyum-senyum sendiri
Ziena keluar dari kamar mandi lengkap menggunakan mukena yang tadi ia bawa sebelum masuk ke kamar mandi. "kenapa rasanya adem banget ya lihat dia pakek mukena gini" ucap Dylan lirih sembari terus menatap Ziena
Sedangkan yang di tatap sedang sibuk menggelar sajadahnya, dengan cepat Dylan beranjak berjalan menghampiri Ziena. "kamu mau Sholat sendiri?" tanya Dylan
"iya" jawab Ziena dengan singkat
"aku mau wudhu dulu, kamu tunggu sebentar, kita sholat berjamaah" ucap Dylan dan berjalan ke kamar mandi
Dylan yang sudah selesai berwudhu berjalan menghampiri Ziena. "kita sholat sekarang ya" ajak Dylan sembari merapikan pecinya dan Ziena hanya mengangguk saja
Setelah selesai sholat berjamaah mereka sama-sama diam karena merasa canggung, Dylan yang setelah sholat biasanya akan melanjutkan tidurnya sekarang merasa canggung karena ada Ziena, begitu pula dengan Ziena yang biasanya selesai sholat akan membaca buku sekarang hanya terdiam dan bingung harus berbuat apa.
Untuk mengusir kecanggungannya Dylan menyalakan laptop miliknya dan membaca email-email yang masuk dan tak lupa mengecek pesan yang ia kirim ke Mela kemarin malam. "mas Dylan mau ku buatkan kopi" tawar Ziena dengan lembut
"memang kamu bisa membuat kopi?" tanya Dylan yang merasa ragu bila Ziena bisa membuat kopi
"bisa" jawab Ziena
"ya sudah buatkan aku kopi" ucap Dylan
__ADS_1
Ziena berjalan keluar menuju dapur dengan menggunakan piyama tidurnya. Sampai di dapur Ziena melihat beberapa pelayan sudah mulai bekerja. "selamat pagi nona muda" sapa para pelayan
"pagi" jawab Ziena dengan tersenyum
"ada yang bisa kami bantu nona?" tanya salah satu pelayan
"tidak ada, aku hanya ingin membuat kopi saja" jawab Ziena
"bubuk kopi dan gula ada di mana?" tanya Ziena
"di sebelah sini nona" jawab si pelayan sembari menunjuk lemari gantung di atasnya
"terima kasih ya" ucap Ziena
Ziena membawa kopi yang sudah ia buat dan menaruhnya di atas meja dekat Dylan. "ini kopinya" ucap Ziena
ia mengecek beberapa email yang masuk dari om Irfan dan Ricko, tak lupa membaca beberapa pesan yang masuk dari ketiga sahabatnya. "ada-ada aja Rista ini" ucap Ziena sambil tersenyum saat membaca pesan dari Rista
drrrt drrrt drrrt
suara telepon masuk dari ponsel Ziena. "selamat pagi nona" sapa om Irfan setelah Ziena mengangkat panggilan telfonnya
"pagi om, apa ada om Irfan pagi-pagi begini menelfon ku?" tanya Ziena
"apa om Irfan mengganggu mu nona?" tanya om Irfan dengan tertawa
"tentu saja om, om Irfan menelfon ku di pagi hari begini" jawab Ziena tertawa
Dylan yang dari dalam melihat Ziena tertawa saat bertelepon dengan seseorang tanpa sadar membuat hatinya merasa panas dan tidak suka.
__ADS_1
Karena merasa tidak suka Dylan berjalan menuju kamar mandi untuk mendinginkan hatinya dan supaya tidak melihat pemandangan yang membuat hatinya merasa panas. "bisa-bisanya dia tertawa sama seseorang di telfon, memangnya siapa sih yang menelfonnya sampai dia tertawa begitu, mana telfon pagi-pagi begini lagi" umpat Dylan
"mana pintu balkon di tutup lagi, apa dia sengaja biar aku gak bisa denger dia ngomong apa" ucap Dylan dengan kesal
Ziena masuk ke dalam setelah selesai berbincang dengan om Irfan di telfon. "ke mana mas Dylan?" tanyanya pada dirinya sendiri
"sepertinya mas Dylan sedang mandi" ucap Ziena setelah mendengar suara air dari dalam kamar mandi
Ziena lalu menyiapkan baju santai untuk Dylan dan menaruhnya di atas kasur, tak beberapa lama Dylan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang dan memperlihatkan otot-otot perutnya.
Ziena yang sedang duduk-duduk di sofa menunggu Dylan sontak terkejut melihat pemandangan di depannya. "aaaaaaa" teriak Ziena sambil menutup matanya
"kenapa teriak-teriak?" tanya Dylan langsung membungkam mulut Ziena
"kenapa gak pakai baju" ucap Ziena setelah Dylan melepaskan tangannya dari mulut Ziena
"aku masuk ke kamar mandi tadi kan gak bawa baju" jawab Dylan
"terus kenapa kamu nutup mata?" tanya Dylan dengan suara sedikit menggoda
"ya karena mas Dylan gak pakai baju" jawab Ziena yang masih menutup matanya
"ya terus kenapa kalo gak pakai baju orang kamu ngelihat juga sah-sah aja gak dosa kok" jelas Dylan
"ya karena aku malu" jawab Ziena dengan polosnya dan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi
Dylan terus tertawa melihat tingkah Ziena yang menurutnya sangat menggemaskan. "kamu mandinya jangan lama-lama, aku tungguin, kita turun ke bawah sama-sama biar gak di tanyain mama" ucap Dylan
"iya" jawab Ziena dari dalam kamar mandi
__ADS_1