Pesta Di Masa Depan

Pesta Di Masa Depan
BAB 58


__ADS_3

Setelah mengantar suaminya berangkat kerja Ziena segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor karena mobil yang menjemput Ziena sudah sampai dari tadi. "Pagi nona" sapa om Irfan


"pagi" balas Ziena


"ini jadwal nona hari ini" ucap om Irfan sambil memberikan tablet kepada Ziena


Om Irfan segera melajukan mobilnya menuju kantor. "lalu berkas untuk bahan pembahasan proyek baru kali ini di mana om?" tanya Ziena tanpa mengalihkan pandangannya


"dislide berikutnya nona" jawab om Irfan


Kali ini perjalanan menuju kantor menjadi sedikit lama karena jarak antara rumah yang Ziena tempati sedikit jauh dari kantornya. Sebelum keluar dari mobil Ziena tidak pernah lupa memakai kacamata untuk sedikit menutupi identitasnya, tapi kali ini ia menggunakan kacamata dengan warna lensa sedikit berbeda yaitu abu-abu tua.


Seperti biasa Ziena selalu menjadi pusat perhatian kala ia sedang menggunakan style pakaian kantornya karena saat ia menggunakan pakaian kantor yang formal seperti ini maka akan menunjukkan identitas siapa dirinya maka dari itu ia selalu meminimalisir dengan menggunakan kacamata.


Rapat kali ini berjalan sangat efisien tidak memakan waktu terlalu lama sesuai dengan prediksi Ziena. Ia sendiri memang tipikal pribadi yang tidak suka membuang-buang waktu percuma untuk rapat yang tidak menghasilkan keputusan final, maka dari itu sebelum rapat dimulai Ziena selalu membaca bahan pembahasan rapat terlebih dahulu. "terima kasih kerja samanya, kalau begitu rapat kali ini saya tutup" ucap Ziena sebelum meninggal ruang rapat


"om bagaimana kabar kak Ricko, apa ia sudah sampai?"tanya Ziena

__ADS_1


"sudah nona tadi subuh Ricko memberi kabar kepada saya kalau dia sudah sampai dan keadaannya juga baik-baik saja" jawab om Irfan


"syukurlah kalau begitu, ia tidak protes lagi kan om?" tanya Ziena sedikit memberi jeda


"sedikit nona" balas om Irfan


"sudah aku duga"


"nona nanti siang ingin makan apa? biar nanti saya siapkan" tawar om Irfan


"aku ingin makan nasi goreng buatan bi Ani om" jawab Ziena


.............•••••.............


Dilain tempat Dylan sedang dibuat kesal dengan kelakuan Mela yang selalu meminta ini itu dan hanya datang kalau ada butuhnya saja, tapi mau bagaimana lagi Dylan telah dibutakan oleh cintanya pada Mela sosok perempuan yang mampu membuat ia menentang apapun termasuk kedua orang tuanya. "Lex selidiki apa saja yang Mela beli menggunakan kartu kredit yang aku berikan" perintah Dylan


"baik pak" jawab Alex

__ADS_1


"sudah kembali ke ruangan mu" usir Dylan


Alex menganggukkan kepalanya dan berjalan pergi menyisakan Dylan seorang diri di ruangannya. "bicara soal kartu kredit selama menikah ini aku belum pernah kasih Nana uang belanja, lalu selama ini ia pakai uang siapa?" batin Dylan, ia mulai menyadari kesalahannya


"bodoh banget sih kamu Lan, Mela aja kamu kasih kartu kredit buat belanja, lalu bisa-bisanya istri sendiri kamu lupa, bener-bener suami bodoh kamu Lan, ok lah nanti pulang aku kasih Nana kartu kredit" umpat Dylan untuk dirinya sendiri


Selesai membatin dan mengumpati dirinya sendiri akan kesalahan yang tidak ia sadari sekarang Dylan beralih mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi satpam di rumahnya guna memastikan keberadaan Ziena. "istri saya di rumah pak?" tanya Dylan


"nona keluar tuan" jawab pak satpam di ujung sana


"keluar ke mana pak?" tanya Dylan


"saya kurang tahu tuan, tapi pakaian nona tadi rapi dan formal sekali tuan" jelas pak satpam sambil mengingat kembali penampilan majikannya yang sangat menawan


"keluar naik apa tadi?" tanya Dylan


"saya tidak tahu tuan soalnya nona tadi langsung keluar dengan tergesa-gesa" jawab pak satpam jujur

__ADS_1


"ya sudah pak" ucap Dylan sebelum memutus panggilan sepihak


__ADS_2