
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya Dylan dan Ziena sudah sampai di negeri kincir angin dan sudah sampai di hotel yang kedua orang tuanya Dylan siapkan. "kau mau langsung tidur na?" tanya Dylan yang melihat istrinya sudah menggunakan piyama tidurnya
"tentu saja mas, perjalanan ini sungguh melelahkan jadi aku ingin langsung tidur lagipula sekarang sudah jam sembilan malam" jawab Ziena yang sudah naik di atas ranjang
Dylan benar-benar tak percaya dengan tingkah istrinya. Padahal mereka baru saja masuk ke dalam kamar hotel tapi istrinya ini sudah berganti menggunakan baju tidur bahkan koper miliknya pun ia biarkan di dekat sofa. "ya sudah tidurlah" titah Dylan
Dylan berjalan masuk ke dalam kamar mandi membawa piyama yang akan ia kenakan. Ia segera menyusul Ziena untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah. Sebelum tidur, Dylan memandang wajah istrinya dan mencium keningnya. "selamat malam na" ucap Dylan
Pagi ini Dylan bangun lebih awal karena mendengar dering teleponnya. Tak lama kemudian Ziena ikut membuka matanya karena merasakan pergerakan di atas ranjang. "mas Dylan tumben sudah bangun" ucap Ziena yang baru membuka matanya
"kita kan mau jalan-jalan jadi aku bangun lebih awal" jawab Dylan asal, ia tidak mungkin mengatakan jika ia bangun karena mendapat telepon dari Mela
__ADS_1
Ziena tak menghiraukan jawaban suaminya. Ia memilih segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi berjalan-jalan. "aku sudah selesai mandi mas, sekarang giliran mu" ucap Ziena yang baru keluar dari kamar mandi
Sambil menunggu suaminya selesai mandi, Ziena berjalan menuju balkon dengan membawa ponselnya yang dari kemarin ia matikan. "banyak sekali pesan yang masuk" batin Ziena setelah ponsel ia nyalakan
Ada satu pesan yang membuat Ziena menarik sudut bibirnya. Iya, pesan itu dari Ricko. Ia mengirimkan banyak pesan yang berisi ancaman kepada Ziena. Ziena tidak menjawab pesan yang Ricko kirim melainkan menelepon balik Ricko di seberang sana. "hey kau kenapa tidak memberi tahu ku na bila kau akan pergi ke Belanda" teriak Ricko di ujung sana
"ini begitu mendadak kak, kau bisa meminta penjelasan pada om Irfan ataupun bi Ani" jawab Ziena santai
"kau sungguh keterlaluan na, om Irfan dan bi Ani saja kau beri tahu lalu kenapa aku tidak, apa kau tidak menganggap ku sebagai keluargamu lagi" balas Ricko
Ricko benar-benar kecewa dengan sikap Ziena sekarang. Ingin marah tapi ia tidak bisa. Ia sangat menyayangi Ziena, sayang yang berlebihan. "kau itu keluargaku kak. kau itu kakak tercintaku, kakak yang paling ku sayangi di dunia ini jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak" jawab Ziena
__ADS_1
Ziena sengaja menekan kata kakak, ia benar-benar tidak ingin kakaknya terus menaruh rasa kepadanya. "sudah kak kau jangan membuatku merasa bersalah di sini nanti saja saat aku sudah pulang kau bebas membuatku sedih" lanjut Ziena dengan tawa di akhir kalimatnya
"jangan bercanda kau na, mana tega aku membuat mu menangis" jawab Ricko yang ikut tertawa
"oh iya kak kau jadi liburan di mana?" tanya Ziena
"nanti saja aku pikirkan setelah kau pulang, ku tutup dulu na teleponnya Kakak mau kerja dulu" ucap Ricko sebelum mengakhiri panggilannya
"ok kak" balas Ziena
Setelah mengakhiri teleponnya, Ziena kemudian berjalan masuk ke dalam dan kembali menunggu suaminya selesai mandi.
__ADS_1