Pesta Di Masa Depan

Pesta Di Masa Depan
BAB 89


__ADS_3

Sudah hampir dua Minggu Dylan pergi ke Moskow tanpa memberi kabar secara langsung kepada Ziena, entah itu menelepon ataupun sekedar mengirim pesan untuk memberi kabar. Ia hanya menyuruh Alex untuk sesekali memberi kabar bahwa dirinya baik-baik saja. "Lan tadi pagi nona mengirim pesan ke gue" ucap Alex memberitahukan


Dylan menoleh. "apa?"


"dia tanya lagi kapan Lo pulang" jawab Alex


"jawab aja kalau urusan di sini sudah selesai" balas Dylan


Alex menghela nafas. Berkali-kali Alex menyampaikan pesan sama yang Ziena kirim kepadanya tentang perihal kapan Dylan pulang dan mengapa ia tidak menghubunginya secara langsung, Tapi berkali-kali juga Dylan hanya menjawab seadanya seperti tidak ada rasa peduli sedikitpun tentang istrinya yang sedang menunggu kapan ia pulang, bahkan pesan dan panggilan masuk dari Ziena tidak pernah Dylan angkat. "Lan kita sudah hampir dua Minggu berada di Moskow dan gue sama sekali gak pernah lihat Lo kasih kabar sendiri ke nona bahkan waktu berangkat ke Moskow Lo juga gak kasih tahu dia"


"apa Lo lagi ada masalah sama nona?"


Dylan diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya. Ia ingin menjawab namun bingung harus memulai dari mana, karena sejujurnya masalah yang sedang ia alami hanya tentang perasaan dilema. "gak ada kok" jawab Dylan


"terus Lo kenapa gak balas setiap pesan yang nona kirim?" tanya Alex


"gue lagi sibuk jadi gak sempat balasnya, lagian itu juga salah satu tugas Lo sebagai sekretaris pribadi gue"


"gue ngerti tugas gue sebagai sekretaris Lo itu apa tapi masa iya urusan istri sendiri Lo gak bisa dan nyuruh gue" jawab Alex


Dylan beranjak dari duduknya. "udah Lex jangan bahas yang lain sekarang kita fokus dulu selesaikan urusan kita di sini" ucap Dylan sambil berjalan meninggalkan Alex di meja kafe sendirian


...******...


Dua Minggu sudah Ziena menjalani aktivitas barunya menjadi mahasiswa baru. Ia banyak melakukan aktivitas akhir-akhir ini seperti berangkat pagi untuk kuliah dan menghabiskan waktunya sepulang kuliah untuk bekerja. Bukan karena terlalu giat hanya saja ia tidak mau pikirannya hanya terpusat pada sesuatu yang tidak pasti, misalnya menunggu suaminya memberi kabar secara pribadi karena itu mustahil bahkan sampai detik inipun Dylan belum membalas pesan ataupun telepon yang Ziena kirim. Ia hanya menyuruh Alex sebagai perantara pengantar pesan.


"zie ke kantin yuk?" ajak Dea


Dea dan Ziena menjadi teman sekelas karena mereka kebetulan mengambil jurusan yang sama sedangkan Mila dan Rista mereka mengambil jurusan yang berbeda-beda. "bentar aku beresin buku aku dulu" jawab Ziena sambil memasukkan bukunya ke dalam tas


Mereka berjalan menuju kantin sambil sesekali membicarakan hal-hal baru. Setelah memesan makanan mereka mencari tempat duduk. "Mila sama Rista gak ke sini?" tanya Dea


"mereka masih ada jam mata kuliah" jawab Ziena


Setelah makanan mereka sampai mereka menikmatinya dan sesekali berbicara membahas kakak tingkat mereka yang sedang lewat. "zie kamu kapan pulang ke rumah kamu?"


"maksud aku ke kediaman kami sendiri" jelas Dea

__ADS_1


"entahlah, mungkin Sabtu besok"


"kalau gitu aku mampir ke sana ya"


Ziena mengangguk. "nanti aku kabari lagi"


Setelah selesai makan Ziena izin pamit terlebih dahulu karena ia harus segera berangkat ke kantor. "aku pergi dulu ya de lagi ada urusan" ucap Ziena sebelum pamit meninggalkan Dea


Di depan kampus sudah ada mobil yang menjemput Ziena. "langsung ke kantor pak" ucap Ziena setelah masuk ke dalam mobil


"baik nona"


Di perjalanan Ziena sempat termenung memikirkan Dylan yang tiba-tiba kembali berubah dingin terhadapnya. "nona kita sudah sampai" ucap sopir pribadinya


Ziena segera keluar dari mobil dan berjalan masuk. Setelah sampai di ruangannya ia langsung berhambur duduk dan mulai mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk di meja kerjanya.


Saking fokusnya ia membaca berkas sampai tidak menyadari bahwa langit sudah semakin gelap. "na" panggil Ricko


"kak Ricko"


"memangnya sudah jam pulang kantor?" tanya Ziena balik


Ricko mengangguk. "sudah lewat dua jam"


"astaga sudah jam enam sore" ucap Ziena saat melirik jarum jam di mejanya


Ia kemudian buru-buru menelepon sopir pribadinya namun tak kunjung ada balasan. "kamu kenapa na?" tanya Ricko


"lagi telpon sopir aku tapi gak diangkat-angkat"


"ya udah kak Ricko anter aja" tawar Ricko


"gak usah kak, aku tunggu aja di lobi bawah paling habis ini juga datang" jawab Ziena meski ia pun juga tidak tahu sopirnya datang atau tidak


"ya udah kakak temenin"


Mereka akhirnya menunggu di lobi bawah. Suasana kantor sudah sepi hanya tersisa beberapa pekerja yang sedang lembur kerja dan cleaning servis serta security yang berjaga di pos depan. "ya sudah gak apa-apa pak, saya pulang sama Kakak saya saja" jawab Ziena dengan seseorang ditelepon

__ADS_1


"gimana?"


"aku nebeng sama kamu ya kak, mobil yang di bawa sopir aku ban belakanganya bocor waktu jalan ke sini"


"ya udah ayo kita pulang" jawab Ricko


Ziena akhirnya ikut masuk ke dalam mobil Ricko. Selama di jalan Ziena banyak melamun dan terdiam. Sesekali Ricko memperhatikannya. Beberapa hari ini Ricko sering melihat Ziena melamun dan terdiam. Menurutnya tingkah laku Ziena ini sedikit aneh bahkan hampir mirip seperti waktu Ziena baru kehilangan kedua orang tuanya dulu. "kamu lagi ada masalah?" tanya Ricko dengan tatapan fokus ke depan


Ziena menoleh karena terkejut. "bagaimana kak Ricko bisa tahu kalau aku sedang ada masalah?" batinnya


"tidak ada"


Ricko tersenyum menanggapi jawab Ziena. Ia jelas tahu betul bagaimana Ziena bahkan diantara semua orang terdekat Ziena hanya Ricko lah yang paling mengerti Ziena. "kamu kenapa tersenyum kak?"


Ricko hanya diam dan terus melajukan mobilnya. Kemudian ia menepikan mobilnya di sebuah kafe. "ayo turun"


Ziena hanya menurut tanpa memprotes sedikitpun perintah Ricko. Mereka berjalan naik ke lantai dua kafe itu. "sekarang kamu cerita sama kakak, kakak tahu kamu lagi ada masalah" ucap Ricko dengan penuh kebijaksanaan


Ziena menghela nafas. Baginya percuma juga berbohong dengan Ricko karena orang ini serba tahu tentang dirinya. Ziena kemudian menceritakan semua masalahnya tapi ia tidak menceritakan tentang Mela kekasih suaminya.


Ricko mendengarkan curhatan Ziena bahkan sesekali ia memberi saran dan nasihat. "na sebenarnya kak Ricko sudah tahu semuanya bahkan masalah suamimu yang masih memiliki kekasih itu kak Ricko juga sudah tahu" ucap Ricko


"bagaimana kak Ricko bisa tahu?" tanya Ziena


"tidak penting aku tahu dari mana"


Ziena menunduk. "kamu gak salah jika mencintai suamimu na toh dia memang suamimu, tapi saran kakak kamu jangan terlalu berharap lebih kepadanya kita gak tahu seperti apa isi hatinya"


"jika dia memang mencintai kamu seharusnya dia melepaskan kekasihnya tapi kalau dia memilih kekasihnya seharusnya dia tidak menerima perjodohan ini"


"tidak ada manusia yang mau dipermainkan perasaanya entah itu wanita ataupun pria" jelas Ricko panjang lebar


"aku harus bagaimana kak?" tanya Ziena


"tetap jalani kehidupanmu, tetap cintai dia sebagai suamimu, tapi jangan paksa cintanya" jawab Ricko


Sejujurnya Ricko sendiri merasa marah kepada Dylan karena telah menyakiti wanita yang ia cintai. Ia dengan ikhlas melepaskan cintanya agar wanita yang ia cintai bisa bahagia bersama dengan pilihannya tapi ternyata seperti ini kehidupan yang Ziena jalan selama hampir tujuh bulan pernikahan.

__ADS_1


__ADS_2