
"mas bangun, kita beli oleh-oleh dulu yuk" ucap Ziena membangunkan Dylan yang masih tertidur
Dylan tetap enggan membuka matanya meski Ziena sudah membangunkannya berulang kali. Rasanya ia enggan bangun dan ingin mengumpulkan banyak tenaga yang terkuras habis karena kemarin malam. "mas ayo dong bangun, kita beli oleh-oleh sebentar mumpung masih ada waktu" ucap Ziena kembali
"gak usah beli oleh-oleh, mama sama papa udah sering ke sini" jawab Dylan dengan mata tertutupnya
"siapa bilang aku cuman mau beliin mama sama papa. Om Irfan, Bi Ani, kak Ricko, Rista, Mila dan Dea kan juga mau aku bawain oleh-oleh" batin Ziena
"ya udah kalau gitu aku berangkat beli sendiri aja mas, kamu siap-siap mandi ya sebentar lagi kita akan ke bandara" balas Ziena
Mendengar penuturan istrinya membuat Dylan bangun dengan tiba-tiba. "kamu tunggu aku selesai mandi dulu, kita beli sama-sama aku gak mau kamu tiba-tiba hilang kesasar" ucap Dylan berjalan ke kamar mandi sambil melilitkan handuk di pinggangnya
"ayo" ajak Dylan yang baru selesai mandi
Ia sudah menggunakan pakaian rapi yang Ziena siapkan. "tampan sekali suamiku ini" batin Ziena tersenyum melihat suaminya keluar dengan rambut yang masih sedikit basah
"kenapa senyum-senyum?" tanya Dylan
"gak ada apa-apa" jawab Ziena
"kalau gak ada apa-apa kenapa senyum-senyum sendiri" balas Dylan
"memang aku gak boleh senyum ya mas" jawab Ziena
"udah ayo berangkat beli oleh-olehnya" ucap Dylan mengakhiri pembicaraan mereka
__ADS_1
Dylan keluar sambil menggandeng tangan Ziena. Sejak insiden malam Minggu dulu Ziena tidak pernah mau menggandeng tangan Dylan tapi jangan salah dulu bila Ziena lupa ia akan menggandeng tangan Dylan duluan. "mas mau ke mana?" tanya Ziena
"ke toko pusat oleh-oleh lah, katamu tadi mau beli oleh-oleh kan" jawab Dylan
"ngapain jauh-jauh mas di sini aja yang Dekat-dekat, kalau jauh-jauh capek kita nanti" jawab Ziena
"ya udah ayo masuk" ajak Dylan
Di dalam Ziena tak terlalu banyak memilih oleh-oleh yang akan ia bawa. Ia hanya membawa satu kantong plastik yang berisi beberapa jenis makanan khas negeri kincir angin ini. "buat siapa gantungan kunci yang kamu beli?" tanya Dylan
"buat ketiga sahabat aku" jawab Ziena
"sahabat kamu cuman tiga terus kenapa kamu beli lima, yang dua buat siapa?" tanya Dylan lagi
"yang satu buat aku dan yang satunya lagi buat kak Ricko" jelas Ziena
"kamu tadi bilang gak mau mas, katanya kayak anak SD aja beli gantungan begini" ucap Ziena
"kapan aku bilang begitu" elak Dylan
"tadi waktu di toko sovenir" jawab Ziena
"kamu paling yang salah denger" elak Dylan lagi
"udah mas capek aku ngomong sama kamu, salah gak mau ngaku salah"
__ADS_1
"sekarang kita cari makan aja dulu sebelum naik pesawat" ucap Ziena memilih mengakhiri perdebatan ini
Setelah selesai makan mereka melanjutkan perjalanan ke hotel dan menata kembali barang-barang mereka sebelum berangkat ke bandara. "mas" panggil Ziena
"hmm" jawab Dylan tanpa menoleh ke arah Ziena
"mas masih marah ya soal gantungan tadi?" tanya Ziena
Dylan hanya diam sambil berpura-pura tidur. "mas" panggil Ziena lagi
"apa" jawab Dylan dengan jutek
"nih mas" ucap Ziena sambil memberikan sebuah gantungan kunci kepada Dylan
Dylan menerima gantungan yang Ziena beri. "lihat mas punya kita couple, aku tadi tetap beli gantungan yang couple soalnya aku yakin pasti kamu mau" jelas Ziena sembari memperlihatkan gantungannya yang sama dengan milik Dylan
"punya kita warnanya gak sama kayak milik sahabat-sahabat kamu kan?" tanya Dylan memastikan
Ziena menggelengkan kepalanya. " gak lah mas, bahkan punya mereka warnanya hijau kalau punya kita warnanya merah terus kalau punya mereka hanya sepatu bagian kirinya kalau milik kita sepasang kanan dan kiri" jelas Ziena
"kamu tahu mas kenapa sepasang?" tanya Ziena
"karena kamu belinya couple" jawab Dylan
"bukan itu mas tapi maknanya" balas Ziena dan Dylan hanya menggeleng tanda tak tahu
__ADS_1
Bukannya tak tahu hanya saja Dylan malas untuk memikirkan hal seperti itu. "karena kita sepasang suami-istri dan kita akan selalu berjalan beriringan" jelas Ziena sambil tersenyum manis