
"pak ini informasi dari laki-laki yang sedang bersama nona Ziena tadi" ucap Alex sembari menaruh selembar kertas di atas meja Dylan
Memang dunia kalangan orang atas semua serba cepat. Hanya butuh beberapa jam untuk Alex mengetahui informasi seseorang secara terperinci tidak memerlukan waktu yang lama. "hanya selembar ini?" tanya Dylan tak percaya
"iya pak" jawab Alex
"apakah informasi ini sudah lengkap? kenapa isinya hanya sekedar nama dan asal usul saja" ucap Dylan masih tak percaya jika informasi tentang laki-laki itu begitu sedikit dan bisa dibilang mirip informasi biodata ketimbang informasi yang Dylan minta
"saya sudah mencari-cari tapi hanya informasi itu yang saya dapatkan pak" jelas Alex
Sebenarnya semua informasi yang berkaitan dengan Ziena dan orang-orang disekitarnya tidak mudah didapat karena berhubungan dengan Aldar, maka dari itu informasi hanya dikemas sedemikian wajarnya seperti biodata diri. "lalu apa kamu sudah menyuruh seseorang mengikuti istriku?" tanya Dylan
"sudah pak" jawab Alex
"ya sudah kembali ke ruangan mu" perintah Dylan dan diangguki Alex
Sepeninggal Alex, Dylan kembali membaca informasi tentang Ricko begitu teliti. "jadi namanya Ricko" lirih Dylan
"beraninya si Ricko ini memegang-megang istriku" kesal Dylan
.............•••••.............
__ADS_1
Di sisi lain Ricko sedang tersedak makanan secara tiba-tiba. "uhuk uhuk uhuk"
"minum dulu kak" ucap Ziena dengan memberikan minuman
"makanya makan itu pelan-pelan Rick" omel om Irfan
"udah pelan-pelan om" jawab Ricko
"udah gimana Rick buktinya aja sampai tersedak begitu" balas om Irfan
"gak tau om tiba-tiba aja tersedak, apa jangan-jangan ada yang lagi ngomongin aku ya" tebak Ricko
"sudahlah aku mau keluar saja kalian suka memojokkan aku" ucap Ricko sambil melangkah keluar
Ia sengaja keluar supaya memberi ruang bagi Ziena dan om Irfan berbicara empat mata. Setelah Ricko keluar Ziena berjalan menuju kursi kebesarannya yang sudah jarang tidak ia duduki. "om jadi apa yang mau dibahas?" tanya Ziena yang sudah merubah ekspresi wajahnya menjadi mode serius
"nona dua hari ke depan saya harap nona bisa hadir ke acara rapat penting yang membahas tentang proyek baru perusahaan" ucap om Irfan
"tentu saja om, oh iya om mulai besok aku akan sering datang ke kantor seperti waktu aku belum menikah dulu, seminggu tiga kali aku akan berkunjung ke perusahaan" jelas Ziena
"apa nona yakin? kalau suami nona curiga bagaimana?" tanya om Irfan
__ADS_1
"entahlah om" ucap Ziena dengan ekspresi sedikit sendu
"lebih baik nona membicarakannya jangan ada yang ditutup-tutupi" saran om Irfan
"aku ingin jujur om tapi mengingat bagaimana pernikahan ini terjadi membuatku ragu untuk mengatakan yang sebenarnya ditambah lagi ia pernah mengajukan surat perjanjian pernikahan denganku, aku benar-benar bingung om apakah pernikahan seperti permainan saja baginya" ucap Ziena
"jalani saja seperti air mengalir nona" balas om Irfan
"om apakah bisa suatu hubungan berjalan tanpa ada rasa cinta di dalamnya?" tanya Ziena
"om Irfan tau sendiri kan bahwa suamiku saja masih menjalin hubungan dengan kekasihnya sampai saat ini, aku tak yakin apa ia memiliki rasa untukku"
"jangankan memiliki rasa tertarik denganku saja aku tak yakin" lanjutnya memperbaiki ucapannya yang tadi
"ada banyak alasan untuk tertarik dengan seseorang nona, pria bisa tertarik dengan wanita yang cengeng bisa juga dengan wanita yang suka mengomel dan bisa juga tertarik dengan wanita yang tiba-tiba menamparnya tanpa alasan, semua orang bisa juga menemukan alasan untuk tertarik dengan orang lain" jawab om Irfan
"semua rasa cinta pasti di awali dengan rasa tertarik yang kuat dan membuat seseorang itu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi akan target mereka nona" lanjutnya dengan senyum di akhir kalimatnya
"sampai kapan hal itu terus terjadi om?" tanya Ziena sambil tertawa
"biar waktu yang menjawabnya nona" jawab om Irfan
__ADS_1