
Setelah pembicaraan itu Dylan menjadi sedikit menjauhi Ziena. Ia kembali mengingat setiap perasaannya pada Mela sebelum Ziena hadir. Baginya tidak ada wanita yang ia cintai selain Mela dan perasaannya untuk ziena hanya sekedar perasaan sesaat karena nyaman dan suatu saat nanti akan hilang seiring berjalannya waktu, maksudnya sampai ia menceraikan Ziena.
Sekarang tepat di hari sabtu dan biasanya Dylan akan mengajak Ziena pergi berkunjung ke rumah orang tuanya tapi kali ini berbeda. Setelah pulang dari kantor Dylan malah pergi keluar entah ke mana. Ziena yang merasa sedikit curiga akhirnya mencoba mengikuti suaminya sembari mencari tahu penyebab kelakuan aneh Dylan yang tiba-tiba sedang berusaha menjaga jarak dengannya.
Secara diam-diam Ziena mengikuti mobil Dylan dari belakang hingga mobil suaminya berhenti disebuah restoran. Ziena ikut masuk ke dalam dan memilih meja yang agak jauh dari mereka. Meski tidak terlalu jelas apa yang mereka bicarakan tapi samar-samar Ziena mendengar ucapan manis yang berkali-kali Dylan ucapkan untuk Mela.
Ziena juga melihat setiap perlakuan manis Dylan untuk Mela. Jujur dadanya terasa sesak melihat itu, jauh dilubuk hatinya ia merasa iri dengan Mela. Istri mana yang tidak sakit hati melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain meskipun wanita itu adalah kekasih suaminya sebelum menikah dengannya.
__ADS_1
Ada satu adegan yang membuatnya memilih pergi meninggalkan restoran. Iya, itu adegan di mana Dylan bisa tersenyum lepas di depan Mela bahkan mereka sempat berpelukan sebelum Ziena pergi. "mungkin memang benar bahwa di hatimu hanya ada dia tapi tak bisakah kamu selipkan namaku mas, tak bisakah kamu melihatku yang selalu ada ini... aku sangat sangat teramat mencintaimu" batin Ziena sambil menitihkan air matanya
Setelah meninggalkan restoran Ziena memilih menenangkan hatinya dengan cara berkeliling kota hingga ia memberhentikan mobilnya di depan kantor miliknya. Meski jam kantor sudah habis tapi masih ada para pekerja yang lembur. Ia masuk ke dalam ruangnya dan menguncinya dari dalam.
Sambil memandangi langit yang mulai menggelap ia meneteskan air matanya. Dari dulu yang Ziena lakukan saat sedih hanya diam dan menatap sekitarnya. "dia tidak pernah mengucapkan kata-kata manis kepadaku dan tak pernah menunjukkan gelak tawa bahagianya di depanku! apa aku seburuk itu dimatanya?... apa aku tidak pantas jadi istrinya?"
Ziena larut dalam kesedihannya hingga salah satu pesan masuk yang membuatnya menjadi tambah sedih. "bahkan kau enggan menghubungiku sampai menyuruh asistenmu untuk memberi kabar kepadaku mas, aku menjadi semakin yakin jika aku memang tidak pantas menjadi istrimu" ucapnya setelah membaca pesan dari Alex
__ADS_1
Ia kembali membaca pesan kedua yang Alex kirim. "mau kau pulang atau tidak malam ini aku sudah tidak peduli lagi mas"
Ziena bangkit dari kursinya, ia menelepon seseorang setelah itu ia termenung kembali menatap langit yang sudah gelap lampu-lampu yang mulai menyala dan keramaian di bawah sana.
Melihat pemandangan itu membuat hatinya sedikit tenang, tangisnya sudah tak terdengar. Ia segera mencuci mukanya dan pergi meninggalkan kantor, kali ini Ziena memilih kembali berdamai dengan perasaannya. Ia tidak akan menyerah begitu saja.
Sambil menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar dia mengucapkan. "OK Delmira Hanziena Hanson... ayo semangat!" ucapnya menyemangati dirinya sendiri
__ADS_1