Pesta Di Masa Depan

Pesta Di Masa Depan
BAB 32


__ADS_3

Perlahan sinar matahari mulai terbenam dan berganti dengan sinar rembulan di langit yang gelap. Ziena terbangun dari tidurnya dan segera menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Dylan.


Saat Ziena sedang sibuk memasak Dylan terbangun dari tidurnya karena mencium aroma masakan Ziena. Ia pun menyusul Ziena ke dapur. "kamu sedang apa?" Dylan bertanya sambil membuka kulkas mencari air putih


"masak" balas Ziena tanpa menoleh


Setelah meneguk air Dylan kembali melihat Ziena yang sedang sibuk memasak. "kamu bisa masak?" pertanyaan yang spontan keluar dari mulut Dylan


Dylan selalu berpikir bahwa gadis seperti Ziena ini hanya bisa berleha-leha seperti gadis-gadis manja di luar sana. Yang bisanya hanya menyuruh-nyuruh saja tapi Dylan salah besar jika menilai istrinya seperti itu karena meski penampilan Ziena seperti gadis-gadis manja tapi ia sebenarnya gadis yang mandiri. Dylan terlalu mudah menilai seseorang dari sudut pandangnya saja dan sering menyamakan kepribadian seseorang melalui penampilan luarnya.


Ziena melirik suaminya sebentar dan kembali fokus memasak. Setelah mematikan kompor ia memindahkan masakannya ke dalam mangkuk besar dan menaruhnya di meja makan. "mas Dylan mau tau aku bisa masak atau tidakkan? jadi silahkan mas coba sendiri masakan buatanku" Ziena menjawab pertanyaan suaminya tadi


Dylan mulai mencicipi sup buatan Ziena. Meski awalnya ia sedikit ragu namun saat mencoba sendokan pertama Dylan mulai ketagihan untuk menghabiskan sup yang Ziena buat. "bagaimana rasanya?" tanya Ziena

__ADS_1


"lumayan" jawab Dylan singkat dengan ekspresi datarnya


"apa tidak bisa lebih spesifik? lumayan dengan ekspresi wajah datar tidak bisa menjawab soal rasa masakanku mas" balas Ziena tanpa takut


Mendengar jawaban istrinya membuat Dylan menghentikan makannya dan beralih menatap Ziena cukup lama sebelum menjawab perkataan Ziena. "rasa masakanmu sudah sangat pas dan enak" jawab Dylan dengan ekspresi datarnya


"terima kasih mas" balas Ziena dengan senyum manisnya


Dylan meninggalkan Ziena yang sedang melanjutkan makan malamnya. Ia pergi ke ruang kerjanya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang sudah menumpuk.


Setelah menyelesaikan makan malamnya Ziena pergi menuju kamar tidur. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur sambil mengecek beberapa pesan yang masuk.


Banyak pesan yang masuk ke handphonenya hari ini salah satunya dari ketiga sahabatnya yang mengajaknya bertemu besok pagi di salah satu cafe tempat mereka sering bertemu. Setelah menjawab pesan dari ketiga sahabatnya Ziena beralih mengecek email-email yang masuk dari om Irfan dan Ricko.

__ADS_1


Ziena terus mengecek email yang masuk dengan teliti hingga ia lupa waktu. Karena sudah hampir tengah malam ia menaruh handphone miliknya di atas nakas dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. "sudah hampir tengah malam kenapa mas Dylan belum kembali?" batin Ziena, saat tidak melihat keberadaan suaminya di dalam kamar


Ziena menyalakan televisi di kamarnya sambil menunggu Dylan. Saking lamanya menunggu ia sampai tertidur di depan televisi.


Pukul satu dini hari Dylan baru kembali ke kamarnya. Pemandangan yang pertama Dylan lihat saat masuk kamar adalah istrinya yang sedang tertidur pulas di atas sofa. "apakah dia menungguku?" batin Dylan sambil tangannya merapikan rambut yang menutupi wajah Ziena


Ia langsung memindahkan Ziena ke tempat tidur dan menyelimutinya kemudian Dylan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Setelah keluar dari kamar mandi Dylan menyusul Ziena di atas tempat tidur. Ia memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan Ziena dan mendekatkan wajahnya ke kening istrinya. Entah insting dari mana yang jelas tanpa sadar Dylan mencium kening Ziena untuk yang kedua kalinya. "kenapa aku menciumnya?" batin Dylan yang bingung dengan dirinya


Setelah menikah dengan Ziena ia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Untuk pertama kalinya Dylan merasakan jantungnya berdegup dengan kencang saat menatap seorang perempuan dan perempuan itu adalah Ziena istrinya. Bahkan saat dengan Mela jantungnya tak pernah berdegup kencang seperti ini tapi ia selalu menepis jika ia mulai menyukai Ziena. "gak mungkin kalo aku suka sama dia yang aku cinta itu cuman Mela" batin Dylan menyakinkan dirinya


"lebih baik aku segera tidur" lanjutnya sambil berbalik posisi memunggungi Ziena

__ADS_1


__ADS_2