
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
"Belajar yang bener, jangan buat ulah lagi!" pesan Dave apda Silvi.
"Kalau mereka tidak mengganggu, aku juga tidak akan mengganggu mereka kak! Aku masuk dulu!" jawab Silvi.
Silvi meloncat turun dari mobil. Ia menunduk sebentar untuk merapihkan rambut dan seragam, lalu berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah. Tapi belum jauh ia pergi, langkahnya terhenti.
"Jangan lupa jemput ya Kak Frans!" seru Silvi melambaikan tangannya kepada Frans.
"Tenang saja nona!" Frans mengacungkan jempolnya dan mengedipkan sebelah matanya.
Silvi tampak tersipu malu, Aryn menatapnya dengan penasaran.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka berdua tiba-tiba bersikap manis seperti itu dan Silvi justru mengacuhkan Reza, sungguh aneh!" gumam Aryn.
Tiba-tiba seorang teman Silvi yang sama-sama akan masuk ke dalam sekolah dengan sengaja membuat Silvi tersandung dengan kakinya. Aryn memekik terkejut. Para pengawal Silvi bersiap turun dari mobil. Tapi Dave mengangkat tangannya ke atas, mengisyaratkan mereka untuk tetap di dalam mobil dulu.
"Kenapa kamu biarkan, Dave! Dia mengganggu Silvi," seru Aryn panik.
"Tenanglah sayang, Silvi bukan gadis yang mudah ditindas. Silvi belum lama sekolah di sini mungkin temannya itu belum tahu benar siapa Silvi Winata sebenarnya," jawab Dave.
Benar saja, mereka dapat melihat dan mendengar jelas dari mobil apa yang Silvi lakukan. Nampak Silvi langsung bangkit, ia menampilkan senyum sinis.
"Kaki itu dipakai untuk berjalan, jangan memakainya untuk hal yang merugikan orang lain!" seru Silvi, ia membersihkan seragamnya.
"Mau mengadu? Gua tahu lo dari keluarga Winata, adik dari Dave Winata! Jangan sok berkuasa di sekolah ini dan jauhi Mike!" seru gadis itu.
"Mike? Siapa dia?"
"Kekasihku, ketua tim basket di sekolah ini! Jangan berlagak polos didepan gua!" tukas gadis itu.
"Ohh, ketua tim basket! Aku tidak pernah mendekati siapapun di sekolah ini. Mereka semua yang selalu menggangguku. Lagipula tujuanku hanya untuk belajar bukan pacaran!" sahut Silvi.
Gadis itu menjambak rambut Silvi dari belakang. Silvi memekik kesakitan. Dengan sigap Silvi menarik tangan gadis itu, kini posisi mereka berbalik. Silvi memelintir tangan gadis itu kebelakang. Giliran gadis itu yang memekik kesakitan.
"Jangan berani-berani menggangguku kalau kamu masih sayang tangan cantikmu ini!" ancam Silvi.
Dengan kasar Silvi mendorong tubuh gadis itu. Wajah gadis itu terlihat pucat pasi. Silvi membenahi rambutnya lalu melenggang masuk meninggalkan gadis itu.
Di dalam mobil,
Aryn kesusahan menelan salivanya. Adik Dave ini bukan kaleng-kaleng. Dave terkekeh melihat ekspresi Aryn yang terkejut melihat kebrutalan Silvi. Bagaimana reaksi Aryn jika tahu Silvi sering pindah sekolah karena hal itu?
Di belakang kemudi, Frans tidak kalah terkejut. Dibalik sifat kekanak-kanakan Silvi, ada keberanian dan kebrutalan dalam dirinya. Beruntung sekali Tuan Reza dicintai Silvi, batin Frans.
Setelah pengawal Silvi turun dan menyebar sesuai tugas masing-masing, mobil Aryn melaju meninggalkan sekolah Silvi menuju kampus Aryn. Jarak sekolah Silvi dengan kampus Aryn tidak begitu jauh. Dalam sepuluh menit mereka telah tiba di parkirkan kampus. Dave turun dari mobil dengan memakai kacamata hitamnya. Ia membukakan pintu untuk Aryn. Lalu mereka berjalan bersama menuju fakultas Aryn dengan Frans mengekor di belakang mereka. Semua mahasiswi tampak berbisik-bisik saat melihat Dave.
*Baru kali ini gua melihat Dave Winata secara langsung, keren abis!!!
Ganteng sih tapi sudah beristri,
Gua rela jadi selingkuhannya ...
Itu istrinya*?
Aryn merasa tidak nyaman dengan ocehan mereka. Tapi tangan Dave yang memeluk pinggangnya erat membuatnya merasa lebih tenang.
"Masuklah, belajarlah dengan rajin! Jangan lupa makan buah dan minum susu yang sudah aku siapkan tadi, jangan terlalu capek juga! Oh iya kalau kamu butuh sesuatu telpon saja aku, aku akan berada di depan bersama Frans!" Ucap Dave.
"Dave aku bukan anak TK yang harus ditunggu, lagipula Frans dan pengawal akan menjagaku di sini bukan? Kamu bisa mengecek sebentar ke kantor," jawab Aryn.
"Aku takut mereka akan jahil padamu," bisik Dave, ia menunjuk barisan mahasiswi yang mengikuti mereka sampai di depan fakultas Aryn.
__ADS_1
"Tidak akan, aku bisa jaga diri Dave!" rengek Aryn.
Dave tidak menjawab, ia hanya tersenyum lalu mengecup kening Aryn sekilas dan mengelus pucuk kepalanya.
"Baiklah, aku pergi dulu!" pamit Dave.
"Tunggu Dave! Kamu tidak lupa kan?" tanya Aryn.
"Tidak sayang, rambut peri yang kamu inginkan akan kamu dapatkan saat kamu selesai kuliah nanti!" Ucap Dave.
"Terima kasih sayang! Hati-hati, ya!" balas Aryn, ia melambaikan tangannya.
Tanpa menghiraukan tatapan iri dari mahasiswi lain Aryn berjalan masuk menuju kelasnya. Sesuai jadwal yang dikirim Ken, akan ada kelas sepuluh menit lagi. Ia tidak ingin telat masuk dalam kelas pertamanya. Sementara Dave, ia tidak meninggalkan kampus Aryn. Ia duduk di dalam mobil dan sibuk mengotak-atik iPad yang ia bawa tadi.
"Urusan rambut peri sudah beres?" tanya Dave.
"Sudah tuan! Saat Nona Aryn pulang nanti semuanya sudah siap!" jawab Frans.
"Bagus, sebagai imbalannya mobil ini untukmu! Aku akan membeli mobil baru untuk Aryn, daripada mobil ini rusak di luar garasi jadi untukmu saja! Kau tahu bukan garasiku yang luas itu sudah penuh sesak!" ucap Dave.
Frans mengelus dadanya. Bosnya ini ingin memberinya hadiah atau hanya ingin pamer kalau mobilnya banyak? Orang kaya mah bebas, batinnya.
"Baik, bos! Terima kasih banyak!" jawab Frans.
"Kunci dan surat-suratnya akan aku berikan saat Aryn puas dengan kejutannya nanti, anggap saja sebagai jaminan!" lanjut Dave.
"Baik, bos!" jawab Frans.
Jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 12 siang, artinya kelas Aryn sudah selesai. Sejak Aryn masuk ke dalam kelasnya tadi, Dave mengecek berkas yang dikirim Ken melalui iPadnya di dalam mobil. Setiap 30 menit sekali Dave mengirimkan pesan singkat untuk menanyakan kabar Aryn. Dan baru saja ia mengirimkan pesan lagi.
To: Istriku
Bagaimana kabarmu sayang? Kelasmu sudah selesai bukan? Aku menunggu di parkiran,
Alangkah terkejutnya Dave saat kelas Aryn sudah kosong, tidak ada siapapun di dalam kelas itu. Dave tentu semakin panik sekaligus marah.
"Dimana kamu sayang," gumam Dave kesal.
Dave mengecek lagi ponselnya, pesan yang ia kirimkan untuk Aryn masih belum dibaca. Lalu Dave mencoba menelpon Aryn. Telponnya juga tidak dijawab. Dave mengelap wajahnya dengan kasar. Frans tidak tinggal diam, ia menghubungi semua pengawal yang sudah bertugas di tempat masing-masing. Ternyata mereka juga tidak melihat Aryn sama sekali.
"Bagaimana bisa ini terjadi? Pengawal sudah menyebar ke semua tempat, kenapa bisa kecolongan!" seru Dave penuh amarah.
Frans menunduk, ia merasa tidak becus bekerja. Padahal ia tadi selalu berkeliling untuk mengawasi keadaan sekitar. Bosnya kaya raya dan berkuasa, musuh bisa saja memanfaatkan masuknya Nona Aryn ke kampus ini untuk balas dendam kepada bosnya. Dave mondar-mandir di depan mobilnya. Ia selalu mencoba menelpon nomor istrinya. Tapi masih saja tidak diangkat.
"Bos," lirih Frans.
"Apa?" sahut Dave ketus.
Mendengar jawaban Dave membuat Frans menjadi ragu untuk menyampaikan apa yang ia pikirkan. Akhirnya ia memilih untuk diam. Selang beberapa menit kemudian, Frans mencoba memberanikan diri untuk memanggil bosnya.
"Bos,," panggilnya.
"Apa? Jangan membuatku semakin marah!" sahut Dave.
Frans menelan salivanya dengan susah payah.
"Maaf bos, tidak jadi!" jawab Frans.
Dave menatapnya tajam. Dalam keadaan gelisah seperti ini, Frans malah semakin mempermainkan emosinya. Ia pikir Frans akan memberinya ide untuk menemukan Aryn. Dari kejauhan terlihat gerombolan mahasiswi berjalan ke arahnya. Dave segera menghadang mereka.
"Apakah kalian melihat Aryn dari fakultas ekonomi?" tanya Dave pada mereka.
"Ini Dave Winata pengusaha muda yang terkenal itu kan? Oh My God! Ganteng parah!" seru salah satu dari mereka.
"Boleh minta foto nggak?" sahut mereka.
__ADS_1
Dave menggelengkan cepat, "Jangan membuang waktuku! Katakan saja kalian melihat Aryn Winata atau tidak!" seru Dave dengan nada mengintimidasi.
"Wow, galak! Tapi semakin keren," sahut salah satu dari mereka.
"Kami tidak melihat wanita yang kamu tanyakan tadi, mengenalnya saja tidak!" imbuh mahasiswi yang lain.
"Sepertinya kalian ini tidak pernah menonton televisi sampai tidak tahu istriku!" sahut Dave ketus.
Dave berbalik, ia akan meninggalkan para mahasiswi genit itu tidak ada gunanya bertanya pada mereka. Tiba-tiba saja mereka mengeluarkan ponsel masing-masing, lalu menarik Dave untuk siajak berfoto. Baju yang Dave gunakan ditarik ke kanan dan kekiri. Sampai dua kancingnya terlepas.
"Pait pait pait pait..." ucap Frans komat-kamit, kedua tangannya ia rentangkan untuk melindungi bosnya dari serangan mereka.
"Untung kau datang," lirih Dave.
Dave bernapas lega, ia bisa terlepas dari serangan mereka. Frans seperti seorang pahlawan yang datang menyelamatkannnya. Frans lantas menarik Dave dan membawanya berlari ke dalam mobil. Napas mereka terengah-engah.
"Kamu dimana sayang," gumam Dave. Begitu sampai di mobil ia mencoba menelpon Aryn lagi. Tapi ternyata tidak diangkat juga.
"Kunci semua area kampus sekarang!" perintah Dave.
Frans melongo, apakah bosnya tidak salah memberikan instruksi. Mengunci seluruh area kampus? Apa gunanya? 20 menit sudah berlalu, bagaimana kalau Aryn sudah dibawa pergi jauh? Tidak tidak! Bisa jadi perkiraannya benar.
"Maaf bos, sepertinya tidak ada gunanya mengunci area kampus. Apakah ada pengawal yang stand by di kantin? Nona Aryn sedang hamil, bisa jadi dia lapar lalu pergi ke kantin, sebaiknya kita cek ke sana dulu!" ucap Frans takut-takut.
"Kau benar juga, kenapa baru terpikirkan sekarang, dasar bodoh!" balas Dave.
Frans mengelus dadanya. Salah lagi, batin Frans.
Dave langsung berlari menuju kantin. Frans mengekor di belakangnya. Saat tiba di kantin, kedua mata Dave menyapu seluruh sudut kantin. Kedua matanya menangkap sosok perempuan yang sedang lahap memakan fried chicken. Ada seorang perempuan bermata sipit di sebelahnya, sepertinya teman barunya. Entah sudah berapa porsi yang dihabiskan, ada banyak wadah steroform di meja perempuan itu. Dalam hatinya Dave memaki dirinya sendiri, kenapa dia tidak kepikiran kalau Aryn berada di kantin? Besok ia akan memperluas daerah penjagaan Aryn sampai kantin.
Dave menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia berjalan mendekati perempuan itu. Dave tidak banyak bicara, ia langsung duduk begitu saja di hadapan istrinya itu.
"Dave?" ucap Aryn, mulutnya penuh dengan makanannya.
Perempuan yang Dave maksud tadi adalah istrinya.
"Aku panik mencarimu, dan kamu malah asyik makan di sini? Apakah kamu juga sudah membuang ponselmu?" ucap Dave dengan nada datar.
Aryn terdiam, ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Ada ratusan pesan dan panggilan tidak terjawab dari suaminya. Tamat riwayatku, batin Aryn.
"Kenapa diam saja? Aku sampai harus berhadapan dengan segerombolan orang gila! Lalu kenapa kamu makan fried chicken sebanyak ini? Dengan saos juga lagi!" Dave mengomel.
"Dave, ponselku dalam mode silent. Sebenarnya aku tadi berniat langsung menemuimu tapi saat Mei menceritakan lezatnya fried chicken di kantin ini aku langsung ingin mencobanya. Jadi aku pergi ke sini bersama Mei. Kalau mau marah, marah saja sama Mei," jawab Aryn lirih.
"Kamu tadi yang mengajakku kemari, Aryn! Kenapa kamu malah menjadikanku kambing hitam," keluh Mei. Baru beberapa jam bersama wanita bermata sipit itu, mereka berdua sudah kelihatan akrab dengannya.
Mei adalah teman satu angkatan dengan Aryn yang berasal dari negeri tirai bambu. Aryn baru berkenalan dengannya saat masuk kelas tadi.
"Ayo kita pulang!" ucap Dave.
Aryn menatap Dave dengan takut. Wajah Dave terlihat datar tanpa ekspresi. Aryn yakin suaminya sedang marah sekarang. Jadi lebih baik ia mengikuti perintahnya.
"Aku pulang dulu ya, Mei!" pamit Aryn.
Mei mengangguk, ia meneruskan menyantap makannannya. Sementara Aryn sudah dibawa pergi oleh Dave. Kemudian Mei membelalakan kedua bola matanya saat melihat mejanya. Ia teringat jika Aryn belum membayar makanannya.
"Habis sudah uang jajanku," keluhnya. Ia ingin menyusul Aryn untuk memberikan bonnya. Tapi Aryn sudah pergi sejak tadi.
...........
Huft, untung tidak diculik ya...
Stay tuned!
__ADS_1