Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
PENCARIAN


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Rombongan Dave memarkirkan mobil sekitar 1 km dari lokasi target operasi mereka. Sama halnya dengan mansion dan markasnya, Dave yakin villa ini dilengkapi CCTV dan penjaga yang siap menyerang. Mereka berpencar sesuai tugas masing-masing. Zack memimpin rombongan A berjalan memutar untuk sampai di sisi barat villa. Setiap rombongan ada 10 orang. Samuel memimpin rombongan B untuk mendekat ke sisi timur villa. Dave dengan Frans dan sedikit orang menuju belakang villa. Ada beberapa orang yang sigap di atas pohon dan semak-semak. Mereka sudah memperhitungkan matang-matang penyerangan ini.


Tapi saat semua rombongan sudah siap di posisi masing-masing. Dave menyadari ada yang janggal di villa ini. Sejak masuk ke area ini sebenarnya Dave sudah tidak yakin. Orangnya hanya menemukan beberapa CCTV. Menurut laporan masing-masing rombongan juga tidak bertemu dengan satu pun musuh. Hanya saat bergerak mendekat dari belakang villa tadi Dave dan Frans menghajar tiga orang penjaga. Frans menghajar seorang penjaga dengan berkelahi secara normal. Tapi Dave menghabisi dua orang sekaligus dengan tongkat kasti kesayangannya yang sudah dihiasi dengan paku yang besar-besar. Anak buah Dave tentu sudah biasa melihat Dave yang seperti itu. Tapi Frans ia malah pingsan.


"Tinggalkan saja dia di sini!" perintah Dave, semua anak buahnya mengangguk.


"Kalian harus berhati-hati, bisa saja ini jebakan! Tetap waspada walaupun keadaannya terlihat sepi!" perintah Dave melalui sebuah earphone kecil ynag terhubung dengan Zack dan Samuel.


Dave beserta rombongan pun masuk melalui pintu belakang. Lagi-lagi tidak ada penjagaan. CCTVnya pun mati, sungguh aneh. Zack melapor jika dia hanya bertemu dengan seorang penjaga. Mereka menyusuri satu per satu ruangan. Semua ruangan yang ada di villa itu kosong. Bahkan tidak ada tanda-tanda aktivitas di villa ini. Dave, Zack, dan Samuel bertemu di ruang tengah.


"Cek titik keberadaan ponsel Aryn!" perintah Dave.


Samuel mengambil ponselnya, ia memperhatikan baik-baik titik merah yang berkedip. Titik itu benar berada di villa ini.


"Titiknya ada di sini, Dave!" seru Samuel.


Dave menyusuri sekitar ruang tengah. Ia menemukan ponsel Aryn tergeletak di salah satu laci almari. Dave menyimpan ponsel Aryn ke dalam sakunya.


"Badebah!" teriak Dave, ia menendang sebuah almari kecil hingga terjatuh dan berantakan.


"Kita dikerjai!" seru Zack mengelap wajahnya dengan kasar.


Tiba-tiba Dave terdiam, ia juga mengisyaratkan semua anak buahnya untuk diam. Di laci yang Dave buka tadi, ia menemukan sebuah kotak aneh. Kotak itu berwarna hitam. Yang menjadikan kotak itu aneh bukan warnanya, melainkan Dave bisa merasakan suara detikan saat ia memegang kotak itu. Tanpa menunggu lama Dave membuka kotak itu, dugaannya benar. Kotak itu berisi peledak.


"Cepat keluar dari villa ini! Waktu kita hanya 1,5 menit!" teriak Dave.


Mereka semua lari tunggang langgang keluar dari villa. Salah satu anak buah Dave menyeret Frans yang pingsan untuk menjauh dari villa. Tepat di saat mereka berada di halaman villa itu.


"Tiarap!" seru Zack.


Duar,


Villa itu meledak, kobaran api membumbung tinggi. Ledakannya tidak terlalu besar tapi cukup untuk membuat mereka semua mati terpanggang jika belum keluar dari villa itu.


"Hampir saja istriku menjadi janda," ucap Samuel.


"Dave coba lihat ini!" seru Samuel.


Dave mendekat, ia melihat sebuah titik merah lainnya yang berkedip. Tapi berada di lokasi lain.


"Aryn pasti memakai jam itu, ayo cepat ikuti titik ini!" seru Dave.


Frans yang baru saja tersadar langsung terduduk karena ia ditinggal rombongan. Mereka semua berjalan menuju mobil. Frans berdiri, ia menengok ke belakang.


"Astaga! Apa yang mereka lakukan? Villa semewah ini dibakar? Berapa lama aku pingsan ? Apakah sudah selesai perangnya?" gumam Frans.


"Frans! Dalam hitungan ketiga kalau lo nggak masuk mobil, gua tinggal!" seru Samuel.


Frans berlarian menuju mobil Samuel. Mobil Dave, Zack, dan rombongan sudah pergi meninggalkan tempat itu. Beruntung Samuel berbaik hati menunggu Frans.


Di dalam mobil Dave tidak henti-hentinya memaki dirinya sendiri. Kalau saja tadi siang ia menunggu Aryn seperti biasa sampai kelasnya selesai pasti penculikan ini tidak terjadi.


"Aku tidak akan mengampuni orang yang menculik istriku, beraninya dia bermain denganku! Kalau sampai dia berani menyakiti istriku akan aku hancurkan jantungnya dengan tongkatku!" ucap Dave penuh dengan amarah.

__ADS_1


Dave menggenggam ponsel Aryn dengan erat, ia sempat membaca riwayat panggilan telepon kepadanya dan pesan-pesan yang dikirimkan Aryn untuknya. Ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa melindungi istri dan babynya. Dave sudah bersemangat saat melakukan penyergapan villa tadi. Tapi Aryn tidak ada di sana.


Flashback on


Mei langsung terbangun saat mendengar keributan dari luar. Ada suara perempuan yang sedang memarahi orang di luar. Sepertinya itu perempuan yang menarik lengannya kemarin. Mei memanfaatkan kesempatan ini untuk menguping pembicaraan mereka, ia menempelkan telinganya di pintu. Pasti semua orang sedang sibuk dan tidak memperhatikan CCTV.


Mei hampir menendang pintu saat mendengar perempuan itu menyuruh anak buahnya untuk membawanya dan Aryn pergi. Ia bergegas membangunkan Aryn.


"Aryn...bangun..." ucapnya.


"Ada apa?" sahut Aryn.


"Gawat! Kita akan dibawa pergi dari sini!" seru Mei.


"Sungguh? Kemana? Lalu bagaimana Dave bisa menemukan kita?" seru Aryn.


"Apakah jam ini ada GPS nya?" tanya Mei saat melihat sebuah jam dipergelangan tangan Aryn.


Aryn melihat jamnya, ia tidak tahu bagaimana fitur dalam jamnya. Karena ia hanya asal mengambilnya di walk-in closet pagi tadi. Aryn baru pertama kali memakai jam ini hari ini.


"Kamu cek sendiri," ucapnya.


Mei ikut berbaring di sebelah Aryn, ia mengecek jam Aryn di bawah selimut.


"Astaga, kenapa kamu tidak bilang dari tadi! Jam ini mempunyai fitur GPS! Beruntung kamu memakai kaos lengan panjang ini, mereka tidak melihatnya. Kamu harus tetap menyembunyikannya. GPSnya sudah hidup sejak tadi, itu artinya keberadaan kita bisa diketahui oleh suamimu!" lirih Mei.


"Itu artinya Dave akan bisa menemukanku, dimanapun itu kan?" ucap Aryn dengan semangat.


"Iya," jawab Mei.


Klek,


"Aku bosan melihat kepala kalian yang berkilau, apakah tidak ada orang lain?" seloroh Mei.


Aryn memutar bola matanya dengan malas, sahabatnya ini masih saja sempat menghina para penjahat itu.


Kedua pria itu tidak menggubris hinaan Mei kali ini. Mereka bergegas mengikat kedua tangan Mei dan Aryn. Dan juga memasang lakban serta penutup mata. Mereka menyeret Aryn dan Mei keluar dari villa. Mei dan Aryn banya bisa menurut masuk ke dalam mobil karena kepala mereka ditekan oleh sebuah benda yang tumpul. Entah kayu atau besi. Mobil itu melesat membawa pergi Aryn dan Mei meninggalkan villa tadi.


"Carilah istrimu di villa itu, agar aku bisa membunuhmu dengan mudah!" gumam perempuan yang memakai topi dan masker.


Flashback off


Tiba-tiba mobil yang dinaiki Dave berhenti di tengah jalan. Diikuti oleh mobil yang lainnya.


"Ada apa?" tanya Dave.


"Titiknya berada di sekitar sini bos!" jawab anak buah Dave yang menyetir mobilnya.


Dave memperhatikan sekelilingnya, mobilnya kini berhenti di jalanan yang gelap. Tidak ada bangunan di sekitar jalan ini. Yang ada hanya pepohonan tinggi yang tumbuh di sepanjang jalan.


"Ada apa Dave?" tanya Samuel, ia menghampiri mobil Dave.


"Titiknya ada di daerah ini," jawab Dave lirih.


"Tidak ada salahnya kita coba telusuri daerah ini, Dave! Jangan lewatkan petunjuk, titik ini satu-satunya petunjuk yang kita punya!" ucap Samuel.


Dave akhirnya memerintahkan semua orang untuk berhenti di lokasi itu. Mereka memarkirkan mobil mereka agak masuk ke sela-sela pepohonan. Semua orang bergerak memencar dengan berbekal lampu senter di kepala dan senjata lengkap.

__ADS_1


"Berhati-hatilah, mungkin akan ada jebakan seperti di villa tadi!" seru Dave mengomando teman-temannya.


Mereka bergerak perlahan di gelapnya malam. Lokasi yang mereka telusuri ini tanah kosong yang ditumbuhi banyak semak belukar tinggi dan berdiri. Juga banyak pepohonan tinggi. Kaki mereka melangkah sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara yang mencolok.


Di tengah upaya penelusuran, Samuel melihat cahaya merah yang berkedip di sebuah pohon. Ia mendekati pohon itu. Tanpa banyak berpikir dia memanjatnya. Benar dugaannya, ada kamera pengintai di pohon itu. Samuel pun merusak CCTV itu. CCTV itu sepertinya disusun secara parallel. Jika ia merusak salah satu sistem CCTV maka yang lainnya akan rusak. Dengan ditemukannya kamera pengintai itu, Dave mendapat semangat baru. Ia mulai yakin akan menemukan Aryn sebentar lagi.


Langit yang gelap kini berubah menjadi lebih terang dengan semburat cahaya orange. Pagi akan datang. Zack mengomando teman-temannya kembali ke mobil untuk beristirahat sebentar. Tidak terasa hampir semalam suntuk mereka bergerak. Dave sempat menolak untuk menghentikan sejenak pencarian. Tapi di saat ia melihat wajah lelah semua teman-temannya, tubuh mereka tentu butuh energi dan istirahat yang cukup. Mereka berjalan beriringan menuju mobil. Mobil-mobil itu melaju meninggalkan lokasi itu. Mereka tidak bisa bertindak secara gegabah, jika misih mengetahui keberadaan mereka, bisa saja musuh itu akan membawa Aryn pergi lagi.


Di saat Dave dan teman-temannya pergi dari tempat itu, seorang pria terlihat menghubungi seseorang. Pria itu lalu memacu motornya memasuki lokasi tadi.


Di sebuah rumah sederhana pinggir danau,


"Kau dengar itu, suamimu tidak bisa menemukanmu!" seru perempuan itu dengan tawanya yang khas.


"Dave pasti akan datang," protes Aryn.


"Tidak akan ada seorang pun yang bisa menemukan tempat ini dengan mudah, suamimu hanya beruntung bisa lolos dari peledak yang aku siapkan semalam! Tapi akan kupastikan dia mati di perangkapku selanjutnya!" perempuan itu tertawa dengan keras.


"Jangan terlalu percaya diri, Dave bisa lolos dari peledak bukan? Itu artinya dia memang lebih hebat darimu, lihatlah dirimu! Kau tidak lebih dari seorang pengecut! Beraninya main belakang!" seru Aryn meledek.


Plak,


Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Aryn. Aryn meringis kesakitan, Mei bergegas memeluk sahabatnya itu.


"Dasar perempuan gila!" seru Mei.


"Diam kau!" bentak perempuan itu.


Seorang pria bertubuh tinggi, menyaksikan kejadian itu dari pintu. Pria itu memberikan tepuk tangan layaknya penonton yang puas dengan pertunjukkan yang disajikan.


"Ini istri Dave? Lumayan juga," ucap pria itu.


Pria itu mendekat, tangannya mengangkat wajah Aryn dengan mengapit dagu Aryn.


"Siapa kau? Beraninya menyentuhku!" seru Aryn, tangannya menggibaskan tangan pria itu.


"Aku? Aku adalah putra dari seorang pria yang dihabisi oleh suamimu!" jawab pria itu. Suaranya terdengar menyeramkan.


Mei menahan sahabatnya yang sedang marah itu. Mei tidak tahu apa yang dibicarakan pria itu. Ia hanya ingin menenangkan Aryn.


"Tutup mulutmu! Beraninya kau berkata buruk tentang suamiku!" teriak Aryn.


"Ssttt!" pria itu membungkam mulut Aryn.


"Jangan sentuh sahabatku!" teriak Mei melepaskan bungkaman pria itu dari mulut Aryn.


"Kalian ini cantik-cantik tapi galak, eeerrr membuatku gemas!" seru pria itu.


"Jaga mereka berdua! Tapi usahakan jangan melukai istri Dave!" perintah pria itu pada perempuan yang tadi membawa Aryn dan Mei.


Perempuan itu hanya diam. Saat pria tadi sudah keluar dari ruangan itu, baru ia berbicara.


"Bagaimana mungkin aku bisa menahan diri untuk tidak melukaimu, Aryn!" seru perempuan itu sambil membuka topi dan maskernya.


"Kamu!" pekik Aryn.


Mei terlihat bingung, "Kalian sudah saling mengenal?" tanyanya dan langsung mendapat tatapan tajam dari perempuan itu

__ADS_1


.................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar ya!


__ADS_2