
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Aryn mengerucutkan bibirnya saat mengeringkan rambut. Ia sudah mandi sebelum Dave pulang dari kantor tadi. Tapi Dave justru mengajaknya mandi lagi sore ini. Kalau sudah mengajak mandi bersama, pastilah Dave mempunyai maksud tersembunyi. Kaki Aryn sampai pegal karena harus menuruti suaminya.
"Kamu sengaja ya?" tanya Dave yang berdiri di pintu kamar mandi.
"Apanya?" jawab Aryn jutek.
"Kamu sengaja menggodaku lagi dengan mengerucutkan bibirmu seperti itu," sahut Dave lagi.
"Aku sedang kesal!" sahut Aryn.
Dave terkekeh, tingkah laku Aryn selalu membuatnya gemas. Ia berjalan mendekati Aryn. Ia langsung menggendong Aryn.
"Dave turunkan aku!" protes Aryn.
"Salah sendiri kamu menggodaku," jawab Dave.
"Kamu..."
Sebelum Aryn mengomel, Dave sudah membungkam bibirnya lebih dahulu dengan ciumannya. Tanpa melepaskan bibir Aryn, Dave membawa Aryn menuju ranjang dan merebahkannya di sana dengan perlahan. Awalnya Aryn menolak, tapi lama kelamaan ia terhanyut ke dalam permainan Dave. Tangan Dave sudah tidak tinggal diam. Tangan nakalnya mulai menyentuh tubuh Aryn dari balik dress yang digunakan Aryn. Terlihat Aryn memejamkan kedua matanya, merasakan sentuhan penuh cinta dari suaminya.
Tangan Dave membuka dress Aryn dengan cepat. Sekarang terpampang jelas tubuh istrinya. Ia menatap perut Aryn yang masih terlihat rata itu.
"Kenapa perutmu masih kecil sayang? Kapan besarnya?" tanyanya dengan napas ngos-ngosan karena sedang menahan sesuatu.
"Usianya kan baru 7 minggu sayang," Aryn tersenyum menatap kedua mata Dave yang terlihat sayu.
Dave mengangguk, lalu ia kecup perut istrinya dengan lembut. Baru kemudian ia kembali mengecup bibir ranum Aryn. Aryn mengalungkan tangannya di leher Dave. Mereka saling mencurahkan rasa cinta mereka. Kedua mata Dave manatap Aryn dengan tatapan sayu. Tatapannya seolah meminta izin pada istrinya untuk melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Aryn tersenyum, mau menolakpun Dave akan tetap melakukannya.
Tok tok tok,
"Ada orang di luar," lirih Aryn.
"Biarkan saja, lagipula kamar ini kedap suara!" jawab Dave.
Dave melanjutkan kegiatannya tanpa mempedulikan suara ketukan pintu tadi.
Tok tok tok,
"Shit!" umpat Dave.
Dave mengambil kaosnya, lalu memakainya dengan wajah kesal. Baru saja ia akan menikmati hidangan utamanya, tapi pintu kamar mereka diketuk terus dari luar. Ia membuka pintu kamarnya dengan kesal.
Klek,
Sonya menelan salivanya, wajah tuan besar mansion ini terlihat sangat mengerikan. Tatapan matanya sangat tajam.
"Permisi tuan, saya mau mengantarkan cemilan Nona Aryn," lirih Sonya. Ia berusaha tenang, tapi tangannya malah bergetar saat menyerahkan nampan yang berisi buah.
"Kali ini kamu menyelamatkan Sonya, terima kasih," gumam Aryn dari balik selimutnya.
"Apakah Ily tidak mengajarimu untuk tidak coba mengganggu kami saat sedang di kamar!" seru Dave, kedua matanya menatap tajam Sonya.
"Ma...maaf tuan," jawab Sonya ketakutan.
Dave masuk ke dalam kamar dan meletakkan nampannya di atas nakas. Ia menatap Aryn dengan tatapan penuh arti. Dengan sekali hentakan selimut Aryn melayang ke udara dan terhempas ke lantai marmer yang dingin. Aryn menutupi dada dan bagian bawah dengan kedua tangannya.
"Apa yang kamu lakukan, Dave?" seru Aryn.
"Tentu saja melanjutkan yang tadi sayang," jawab Dave yang sudah merangkak ke atas ranjang.
"Stop!" teriak Aryn menghalangi bibir Dave yang sudah monyong minta cium.
"Ada apa lagi?" sahut Dave.
"Kamu belum menutup pintunya, Dave! Sonya melihat kita!" seru Aryn.
"Apa?" seru Dave.
Dave menoleh ke arah pintu. Benar saja, Sonya masih diam di tempatnya dengan kepala yang terus menunduk. Dave mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kenapa masih di sini?" seru Dave penuh amarah.
"Ma...maaf tuan! Tuan belum menyuruh saya pergi," jawab Sonya lirih. Kedua pipinya merah, ia baru saja menyaksikan pasangan yang akan perang di ranjang.
"Bodoh! Kau pikir aku hanya mengurusimu? Sana pergi!" teriak Dave.
Sonya mengangguk, ia berlarian menuju lift dengan kedua pipi yang masih merah. Dave menutup pintu dengan kasar. Ada saja gangguan yang menghalanginya untuk menjenguk babynya. Ia duduk dengan bersandar di kepala ranjang dengan lemas. Aryn ikut bersandar, ia memperlihatkan raut wajah Dave yang terlihat sangat kesal.
__ADS_1
"Semua pelayan di mansion ini gesrek semua!" seru Dave.
"Gesrek?" tanya Aryn terkekeh. Dari mana suaminya mendapat kata itu.
"Iya, gesrek!" jawab Dave.
"Siapa yang mengajarimu?" Aryn terkekeh.
"Dari Frans! Kamu tahu kan aku sering mengobrol dengannya saat menjemputmu," jawab Dave.
"Semenjak Frans bekerja di sini, kosakatamu semakin bertambah! Terutama yang aneh-aneh," ucap Aryn.
"Jangan lupa sayang, aku juga mempelajarinya darimu," sahut Dave mentoel hidung Aryn.
"Aaaa sayang!" protes Aryn.
"Sudah tidurlah," sahut Dave.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Aryn. Setiap kali memulai sesuatu Dave pasti akan menyelesaikannya. Tapi kali ini Dave menyerah karena gangguan dari Sonya tadi.
"Tidak apa, kamu istirahatlah! Aku akan mengecek email. Aku akan menjenguk baby kita lain kali saja!" jawab Dave lirih.
"Siap, sayang!" jawab Aryn bersemangat.
Akhirnya ia bisa beristirahat sekarang. Dave tidak jadi menjenguk baby mereka lagi. Aryn sangat senang, karena di kamar mandi tadi ia sudah digempur Dave. Sonya benar-benar menyelamatkannya.
"Terima kasih, Sonya!" gumam Aryn sebelum menutup matanya untuk tidur.
"Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Dave.
"Ah itu sayang, aku tadi mengatakan matikan lampunya," jawab Aryn.
"Baiklah," jawab Dave.
Dave mematikan lampu yang berada tepat di atas dan di samping Aryn. Sementara kamou yang di bagiannya dibiarkan menyala.
"Selamat tidur sayang, I love you" Dave mengecup bibir Aryn sekilas.
"Love you too," jawab Aryn.
Dave mengerinyitkan dahinya saat membuka emailnya satu persatu. Isinya cukup membuatnya gelisah. Ia membawa iPadnya pindah ke sofa. Ia tidak ingin mengganggu istirahat Aryn.
-------------------------
Sonya tidak menjawab. Dia terus menunduk dengan kedua pipinya merah.
Saat Reza menyiapkan game yang akan ia mainkan dengan Sonya di ruang tengah. Ia mendengar suara dentingan pintu lift. Tapi tidak ada orang yang keluar dari dalam lift. Karena penasaran Reza pergi mengeceknya.
"Sonya?" panggil Reza lagi.
Sonya masih diam, sekarang dia malah senyum-senyum sendiri.
"Woy!" seru Reza.
Sonya terlonjak kaget. Ia baru sadar jika pintu lift sudah terbuka dan sekarang Reza berdiri tepat di depannya.
"Eh tuan," sahut Sonya.
"Nama kamu siapa?"" tanya Reza.
"Hah? Saya Sonya, tuan! Memangnya ada pelayan lain yang berwajah secantik diriku?" jawab Sonya.
"Siapa tahu kepalamu terbentur sesuatu," jawab Reza.
"Kata siapa tuan? Saya hanya tidak habis pikir, mereka tidak menutup pintunya padahal saya masih di sana! Sungguh mengerikan!" sahut Sonya.
"Oh My God! Jangan katakan kamu baru saja melihat adegan plus dari Dave dan Aryn? Pasangan itu benar-benar suka lupa dengan keadaan sekitar!" seru Reza.
"Saya tidak melihatnya, saya langsung mendunduk!" jawab Sonya.
"Baru pertama melihat ya? Pipimu merah semua hahaha!" seru Reza mengejek. Ia melangkah pergi menuju ruang tengah.
Sonya meraba kedua pipinya yang terasa semakin panas karena diledek Reza.
"Ayo aku sudah menyiapkan game, satu lagi! Jangan panggil aku tuan, aku bukan bosmu! Bersikaplah biasa saja!" seru Reza.
Sesekali Reza meraba dadanya, ia merasa berbeda. Apakah ini pertanda?
"Di sini sudah tidak sakit lagi padahal aku baru saja mendengar tentang kebersamaan Aryn dan Dave! Jangan-jangan.... Ah lupakan! Sekarang saatnya balas dendam pada Silvi!" gumamnya.
Sonya mengekor di belakang Reza. Sebenarnya ia malas bermain game dengan Reza, karena pasti ia akan mendapat masalah dari Silvi. Tapi sudah lama ia tidak bermain game, hidup butuh refreshing bukan?
__ADS_1
"Cepat sini!" seru Reza yang menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
Sonya mengangguk, ia duduk tepat di sebelah Reza. Awalnya ia sedikit canggung. Tapi setelah mereka memainkan satu ronde game mereka, Sonya sudah tidak canggung lagi. Ia bahkan sesekali menepuk bahu Reza karena Reza usil mengganggu dirinya.
Dari balik vas bunga yang besar, Silvi mengintip keseruan mereka. Ya, Silvi akhirnya turun dari kamarnya karena penasaran dengan apa yang dilakukan Reza dan Sonya. Ia sengaja menggunakan tangga agar tidak menarik perhatian Reza. Dadanya terasa sesak saat melihat Sonya memukul bahu Reza dan Reza menangkap tangan Sonya. Mereka terlihat sangat akrab.
"Tahan Silvi, kamu harus tahan! Jangan sampai kamu terlihat lemah di hadapan wanita penggoda itu," gumam Silvi.
Dari jarak yang lumayan dekat, Silvi terus mengamati gerak-gerik Reza dan Sonya.
"Bagaimana kalau kita taruhan?" seru Reza.
"Boleh," jawab Sonya.
"Kalau aku menang, kamu harus menuruti pemermintaanku!" seru Reza.
"Permintaannya apa dulu?" tanya Sonya.
"Akan kuberitahu saat kita tahu pemenangnya nanti!" jawab Reza.
"Tidak bisa, harus sekarang! Jangan sampai kau memanfaatkanku!" seru Sonya.
"Tidak aneh-aneh kok, jika kamu yang menang kamu juga bisa meminta sesuatu dariku!" jawab Reza.
"Deal?" Reza mengulurkan tangannya.
Sonya terdiam sejenak, "Deal!" ia menerima uluran tangan Reza, tanda mereka sudah sepakat.
Silvi sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, tepat di saat Reza dan Sonya berjabatan tangan, Silvi keluar dari persembunyiannya.
"Stop!" Silvi memisahkan jabatan tangan mereka dengan paksa.
"Kamu ngapain sih?" seru Reza kesal.
"Taruhan ini tidak sah, seharusnya cewek lawannya juga cewek! Jadi aku yang akan bertaruh dengan Sonya!" seru Silvi.
"Tidak bisa! Aku ingin bermain game lagi dengannya!" protes Reza.
"Pokoknya Kak Reza tidak boleh melawan! Kak Reza jurinya!" seru Silvi.
Reza terdiam, ia tahu kalau Silvi sudah melotot kepadanya itu tandanya ia sedang marah. Dan Reza tidak bisa membantahnya kalau dia masih ingin hidup dengan aman. Ia justru merasa senang sekarang, Silvi terlihat sangat tidak suka jika ia bermain game dengan Sonya.
Silvi duduk di antara Reza dan Sonya. Ia sedikit mendorong Sonya agar memberinya ruang. Sonya hanya memutar bola matanya malas.
"Benar kan dugaanku, aku terlibat lagi diantara pasangan aneh ini!" gumam Sonya.
"Juri harusnya duduk di tengah, Silvi!" protes Reza.
"Siapa yang bilang?" sahut Silvi.
"Aku," jawab Reza.
"Itu kan Kak Reza yang mengatakannya! Ini rumah siapa? Jadi semuanya terserah aku!" sahut Silvi.
Reza tersenyum penuh arti. Silvi benar-benar sedang marah sekarang. Secinta itukah adik kecil itu kepadanya?
"Jika aku yang menang, Sonya harus menuruti semua permintaanku, apapun itu termasuk untuk tidak kecentilan dengan Kak Reza! Kalau aku kalah, aku kan menuruti permintaannya juga!" seru Silvi.
"Deal?" tanya Silvi.
"Deal!" Silvi menjawab pertanyaannya sendiri.
"Loh kok kamu yang jawab?" seru Reza.
"Kelamaan, udah ayo mulai!" seru Silvi.
Pertarungan Silvi dan Sonya berlangsung dengan sengit. Sesekali Silvi terlihat sengaja menyenggol lengan Sonya, hingga membuat stik game Sonya terjatuh ke lantai. Reza hanya diam. Walaupun ia ditunjuk sebagai juri, tapi ia tidak bisa menegakkan sportifitas pertarungan.
"Untung adiknya bos, kalau bukan sudah aku smack down nih bocah!" gumam Sonya, kedua matanya menatap kesal Silvi.
Sepertinya Silvi bisa merasakan sedang ditatap oleh Sonya, ia langsung menatap tajam Sonya. Karena terkejut, stik game Sonya terjatuh di lantai. Refleks Reza mengambilkan stik itu untuk Sonya.
"Terima kasih," ucap Sonya.
"Sengaja banget pengen dapat perhatian dari Kak Reza," seloroh Silvi.
Sonya mengacuhkannya, ia kembali fokus pada permainan. Ia sudah ketinggalan banyak poin dari Silvi. Reza tidak berhenti menampilkan senyum di wajahnya.
"Rasanya ada banyak kupu-kupu yang berterbangan di perutku," gumam Reza.
.....................
__ADS_1
Maaf ya author sudah lama tidak up episode baru. Lagi-lagi karena ada urusan di dunia nyata yang harus author selesaikan hehehe,
Penggemar Reza dan Silvi mana suaranya? Absen di kolom komentar yak! Penggemar Dave dan Aryn juga jangan lupa berikan like yang banyakkk!