
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Gonggongan merdu Mira membuat suasana pagi hari di Mansion Dave semakin ramai. Pagi ini Dave sibuk membuatkan susu untuk Aryn di dapur. Dave menyuruh semua pelayan yang berada di dapur untuk minggir.
"Minggir kalian!" perintahnya kepada para pelayan yang sibuk menyiapkan menu sarapan.
Para pelayan pun berjalan menjauh, memberikan ruang untuk Dave di dapur.
"Bagaimana cara membuatnya," gumam Dave yang memandangi susu wanita hamil di hadapannya.
"Maaf tuan, apakah saya boleh membantu?" lirih Ily sang kepala pelayan.
"Tidak usah, babyku harus minum susu buatan daddynya! Katakan saja bagaimana cara membuatnya!" seru Dave menghentikan Ily yang berniat membantu Dave.
"Baik tuan! Untuk membuat susu itu tuan hanya perlu memasukkan tiga sendok makan bubuk susu ke dalam 150 ml air hangat," ucap Ily.
Dave tidak menjawab, ia langsung mempraktikkannya. Tidak butuh waktu lama susu vanilla untuk istri dan calon babynya sudah siap. Ia pun bergegas membawanya ke kamar.
"Wah, tumben sekali Kak Dave perhatian dengan Silvi sampai membawakan susuku ke sini!" seru Silvi yang baru keluar dari kamarnya. Ia sudah memakai seragam sekolahnya. Wajahnya terlihat semringah melihat Dave keluar dari lift membawa nampan yang berisi susu.
"Ini susu untuk wanita hamil," jawab Dave singkat.
Gelas yang Silvi ambil dari nampan Dave ia letakkan kembali ke nampan. Hampir saja ia meminumnya.
"Kenapa baru bilang kak? Hampir saja aku minum susu hamil, Silvi kan tidak hamil, belum siap jadi hot mama!" keluh Silvi.
"Siapa suruh tangannya culametan!" seru Dave yang langsung meninggalkan Silvi.
"Culametan itu apa kak?" seru Silvi.
"Tanya sama Frans sana! Kakak mendengar kata-kata itu saat Aryn mengobrol dengan Frans," jawab Dave.
Blam,
Pintu kamar Dave tertutup rapat meninggalkan Silvi yang senyum-senyum sendiri di tempatnya.
"Ide bagus! Silvi jadi ingat kalau Kak Frans akan mengantar Kak Aryn ke kampus mulai besok, jadi hari ini bolehlah aku memintanya untuk mengantarku hehehe!" gumam Silvi. Ia bergegas turun.
Di dalam Kamar Dave,
Dave meletakkan nampan di atas nakas. Ia menyilangkan tangannya di dada. Menatap istrinya yang sudah seperti kepompong di ranjang. Hanya rambutnya saja yang terlihat.
"Good morning, sayang!" ucap Dave mengecup pucuk kepala Aryn yang terlihat.
Aryn menggeliat pelan. Lalu tangannya mendorong Dave untuk menjauh. Huft, Dave lupa jika Aryn pasti mual jika mencium bau tubuhnya. Aryn tidak mual hanya jika ia sedang tidur atau Dave tidak mandi. Sementara Dave tidak bisa dan tidak nyaman jika tidak mandi. Tentu sebelum membuat susu tadi ia sudah mandi. Tapi Dave kali ini tidak menjauh, ia membuka laci nakas dan mengambil masker untuk Aryn.
"Pakai ini dulu sayang, aku ingin memelukmu sebentar," ucap Dave saat memakaikan masker pada Aryn yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang.
Setelah masker terpasang sempurna di hidung dan mulut Aryn, Dave langsung memeluk istrinya itu. Sesekali ia juga memberikan kecupan penuh cinta di pucuk kepalanya. Tidak lupa Dave juga memberikan kecupan kasih sayang untuk calon babynya yang masih berada di dalam perut istrinya.
"Tadi aku sudah membuatkan susu rasa vanilla plus cinta," ucap Dave, ia turun dari ranjang dan mengambil susu yang tadi ia buat.
"Terima kasih, sayang" jawab Aryn.
Aryn hendak mengambil gelas dari tangan Dave, tapi Dave menahannya. Akhirnya Aryn mengalah dan membiarkan Dave membantunya untuk meneguk susunya. Walaupun ia harus menahan nafas agar tidak mual.
"Bagaimana rasanya sayang?" tanya Dave.
"Tidak enak, aku bosan dengan rasa vanilla ini," jawab Aryn, ia langsung memakai kembali maskernya.
Dave mengerinyitkan dahinya, "Kamu baru minum susu vanilla ini dua kali, semalam dan sekarang. Bagaimana bisa kamu bosan?" tnaya Dave heran.
"Tidak tahu," jawab Aryn.
"Baiklah aku akan membelikan semua rasa untukmu tapi setelah kamu menghabiskan susu ini," ucap Dave.
"Tidak perlu semua rasa, aku mau rasa cokelat dan stroberi saja," sahut Aryn.
__ADS_1
"Habiskan dulu susunya," ucap Dave.
"Tidak mau Dave," jawab Aryn yang terus menggelengkan kepalanya.
"Lalu mau diapakan susu ini? Kamu bilang tidak boleh membuang-buang makanan ataupun minuman, mubadzir kan?" tanya Dave.
"Tidak dibuang, kamu minum saja! Aku ingin melihatmu menghabiskan susunya!" seru Aryn yang tersenyum menampilkan deretan giginya.
"Ini susu hamil sayang," protes Dave.
"Rasanya sama seperti susu biasa," rayu Aryn.
Kini Aryn mengambil alih gelas susu itu, dan menyodorkannya pada Dave.
"Aku berikan pada Angel saja ya," ucap Dave memohon.
"Dave suamiku si ondel-ondel yang oaling tampan, Samuel dan Angel kan sudah pindah dari mansion ini jadi jangan menjadikannya alasan! Aku mau melihat kamu yang meminumnya, sepertinya baby kita yang menginginkannya" rayu Aryn.
"Okay okay!" jawab Dave yang langsung mengambil alih gelas dari tangan Aryn.
Aryn menatap Dave dengan antusias. Seperti biasa jurus rayuan ondel-ondelnya membuat Dave klepek-klepek. Terlihat Dave memejamkan matanya dan meneguk sedikit susu itu.
"Hmm, rasanya tidak buruk" lirih Dave.
Kemudian Dave langsung meneguk habis susu itu tanpa sisa membuat Aryn terkekeh melihatnya. Pemimpin mafia yang terkenal kejam sekarang sedang menikmati susu hamil.
"Enak, kan?" tanya Aryn.
"Lumayan," jawab Dave membuat mereka tertawa bersama.
................
Di ruang makan,
Silvi tampak menyantap sarapannya dengan lahap. Ia ingin segera menemui Frans di depan. Karena kakak iparnya masih besok masuk kuliahnya, jadi Silvi bisa meminta Frans untuk mengantarnya ke sekolah hari ini. Kebetulan kakaknya pasti sedang berduaan dengan Aryn di kamar jadi tidak bisa melarangnya. Ken pun sedang sibuk dengan iPadnya di ruang tengah. Silvi bisa mengatasinya dengan mudah.
"Ini, nona" ucap seseorang yang meletakkan kotak makan siangnya di atas meja makan.
Silvi menatap kotak makan itu heran, biasanya Ily langsung memasukkannya ke dalam tasnya. Ia langsung menoleh ke sampingnya.
"Selamat pagi, nona" sapa Sonya dengan ramah.
"Pagi," jawab Silvi judes.
Sonya hanya tersenyum, ia paham jika ia sekarang menjadi sasaran dari kecemburuan Silvi. Sepertinya akan menyenangkan jika ia membantu pasangan ini bersatu.
Silvi beranjak dari kursinya. Moodnya memburuk hanya karena melihat Sonya pagi ini. Ia tidak tahu kenapa ia tidak menyukai Sonya. Apalagi setelah insiden di kebun tempo hari. Baginya Sonya itu hanyalah wanita yang ingin mencuri perhatian Kak Reza darinya.
"Mau kemana, Silvi?" tanya Ken saat Silvi lewat di hadapannya.
"Mau jualan kak!" jawab Silvi judes.
"Jualan apa?" tanya Ken, ia meletakkan iPadnya di meja.
"Kak Ken yang tampan, Silvi sudah berseragam rapih seperti ini masa masih ditanya mau pergi kemana?" keluh Silvi.
"Aku cuma basa-basi," tukas Ken kesal.
"Lagipula kalau mau pergi ke sekolah harusnya senang, tapi wajahmu malah kusut ," lanjut Ken.
"Bagaimana wajahku tidak kusut kalau pagi-pagi sudah bertemu si tukang cari perhatian!" jawab Silvi sengaja dengan suara yang keras agar Sonya yang sedang membereskan piringnya di meja makan mendengarnya.
"Siapa?" tanya Ken.
"Sonya, wanita yang suka menggoda Kak Reza itu!" jawab Silvi.
"Terus kenapa? Reza juga jomblo, jadi tidak Ada salahnya! Kenapa kamu tidak menyukainya? Jangan-jangan kamu cemburu?" seru Ken.
"Ah tidak tidak!" Silvi mengelak tuduhan Ken, tapi kedua pipinya memerah sekarang.
__ADS_1
"Sudahlah kak! Aku mau pergi ke sekolah dulu! Kak Frans sudah menungguku di depan," seru Silvi yang langsung berlari keluar karena malu.
Ken hanya tersenyum sekilas lalu fokus kembali pada iPad yang ia pegang. Ia sedang meneliti ulang jadwal Dave yang sangat padat minggu ini. Sesekali ia melirik jam di lengannya lalu menatap pintu lift yang tertutup. Dave seharusnya datang pagi ke kantor hari ini karena ada banyak berkas yang menunggu persetujuan dan tanda tangannya. Tapi sudah lima belas menit ia menunggu Dave belum turun juga. Ken hanya bisa bersabar menunggu sampai bosnya turun dan siap berangkat. Di saat ia sedang menyunting beberapa file, terdengar keributan dari luar mansion. Ken memilih untuk mengacuhkannya, mungkin hanya ulah Silvi saja.
Ternyata benar, Silvi yang terlibat dalam keributan itu. Tadi saat ia berlari menghindari ejekan Ken, Silvi tidak memperhatikan jalan. Sehingga ia menabrak Reza yang akan masuk ke dalam mansion. Mereka berdua jatuh ke lantai dan sampai berguling beberapa kali di lantai. Tapi Reza yang berada di bawah Silvi.
Deg,
Silvi terdiam membisu menatap kedua bola mata indah milik Reza. Kedua tangannya bertumpu di lantai sehingga tubuhnya sedikit tertahan dan tidak menimpa Reza. Tapi jarak antara mereka berdua sangat dekat sekali.
"Mimpi apa aku semalam, awalnya aku mendapatkan kesempatan untuk diantar ke sekolah oleh Kak Frans. Sekarang aku bisa jatuh bersama dan berguling-guling di lantai bersama Kak Reza! Kak Reza bisa mendengar detak jantungku tidak ya?" gumam Silvi.
Berbeda dengan Silvi yang bahagia karena jatuh berguling-guling bersamanya, Reza terlihat meringis kesakitan. Karena saat jatuh tadi ia memeluk Silvi erat dan menjadikan badannya tumpuan agar Silvi tidak sakit. Tapi rupanya sakit yang ia rasakan sekarang tidak sebanding dengan sakit hati yang ia pendam sejak lama. Ditambah kabar kehamilan Aryn kemarin, membuat Silvi tampak seperti Aryn di mata Reza. Ia bahkan sampai memejamkan matanya berkali-kali untuk memastikan.
"Kenapa aku melihat Aryn di mana-mana? Tadi waktu mandi, aku melihat Aryn di kaca dan wastafel. Saat sarapan pun aku melihatnya di piringku, sampai aku tidak tega memakan sandwichku! Sekarang aku melihatnya di wajah Silvi, huft... kalau sampai dia muncul di closet, mana tega aku menyiramnya, " gumam Reza.
Reza mendengus pelan, lalu ia menyentil pelan dahi Silvi.
"Sudah terpesonanya? Cepat minggir dadaku sesak, kamu berat!" ucap Reza.
"Eh.." sahut Silvi yang sudah tersadar dari lamunannya. Ia segera berdiri dan membenahi seragamnya.
"Kenapa kamu berlarian seperti tadi?" tanya Reza, ia meringis menahan ngilu di tubuhnya.
"Kak Ken meledekku tadi," jawab Silvi malu-malu. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
"Baiklah. Kamu mau berangkat ke sekolah bukan? Tunggu aku sebentar, aku hanya ingin mengambil salinan berkas untuk meeting siang ini dari Ken. Setelah itu aku akan mengantarmu," ucap Reza.
"Tapi kak," seru Silvi yang tertahan. Reza sudha berlari masuk ke dalam mansion.
Akhirnya Silvi memutuskan untuk menunggu sampai Reza menyelesaikan urusannya dengan Ken. Tidak lama, sekitar lima menit Reza sudah berlarian menghampirinya.
"Belum telat kan? Ayo," seru Reza yang langsung menarik tangan Silvi.
Silvi terdiam dan terus melihat tangan Reza yang menggandeng tangannya. Saat Reza membawanya berjalan melewati Frans ynag berdiri di samping mobil miliknya Silvi langsung tersadar. Ia sudah meminta Frans untuk mengantarnya dan dia sudah siap di samping mobil milik Silvi sekarang.
"Kak Reza tunggu," seru Silvi.
"Ada apa? Kita harus cepat atau kamu bisa terlambat" jawab Reza.
"Kak Frans yang akan mengantarku pagi ini," ucap Silvi.
"Kenapa? Kan ada aku!" sahut Reza.
"Aku tidak tahu kalau Kak Reza akan datang, tadi pagi-pagi sekali aku sudah meminta Kak Frans untuk mengantarku," jawab Silvi.
"Sekarang aku ada di sini jadi aku yang akan mengantarkanmu!" seru Reza.
"Masa aku tidak jadi diantar Kak Frans?" keluh Silvi.
"Biar cepat, kamu pilih saja! Pilih aku atau dia!" sahut Reza.
Frans menghela napas panjang, lagi-lagi ia terlibat diantara pasangan ini.
Reza tersenyum smrik, sudah pasti Silvi akan memilihnya. Dia sangat dekat dengan gadis yang ia anggap sebagai adiknya itu. Sementara Silvi, ia juga tampak memeperhatikan senyum smriknya. Ada ide cemerlang yang baru saja terpikir olehnya. Silvi akan melihat bagaimana ekspresi Reza saat ia tidak memilihnya dan justru memilih Frans.
"Aku akan diantar Kak Frans hari ini! Ayo kak!" seru Silvi yang berjalan menghampiri Frans.
Lalu ia masuk ke dalam mobil dengan senyum semringah karena baru saja Reza terlihat murung saat ia masuk ke dalam mobil bersama Frans. Silvi sengaja duduk di samping Frans yang mengemudi. Sementara pengawalnya duduk memenuhi jok belakang.
Reza menatap tajam mobil Silvi sampai mobil itu menghilang di balik gerbang. Perasaan kini semakin menjadi tidak karuan. Di satu sisi kabar kehamilan Aryn, di sisi lain Silvi yang lebih memilih Frans.
"Shit!" umpat Reza yang langsung masuk ke dalam mobilnya.
............
stay tuned ya!
Jangan lupa tinggalkan jejak! Berikan like, vote, dan komentar sesuka kalian! Love you all!
__ADS_1