
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Sore harinya, Aryn sudah diizinkan untuk pulang dari rumah sakit. Dave sendiri yang mengemasi barang-barang Aryn. Ia baru memanggil Ken dan Frans saat barang-barang Aryn siap dibawa ke mobil.
"Dave, apa yang kamu lakukan? Ini tempat umum!" seru Aryn yang tiba-tiba digendong Dave.
"Kata Paman Kevin, kamu tidak boleh kelelahan dan harus beristirahat total untuk beberapa hari ini. Rumah sakitku ini kan sangat luas dan besar, jadi aku gendong saja!" jawab Dave.
"Masih sempatnya sombong," gumam Aryn.
"Kamu mengataiku ya?" Dave menatap Aryn.
"Ti...tidak kok!" jawab Aryn.
"Sejak kapan dia bisa membaca pikiranku?" gumam Aryn.
"Sejak kamu menjadi istriku," jawab Dave spontan.
Aryn memilih untuk diam. Saat melewati poli umum dan lobby, Aryn menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Rasanya ia sangat malu karena Dave yang saat ini menggendong Aryn menjadi pusat perhatian para pasien.
Dave mendudukkan Aryn di mobil dengan sangat berhati-hati. Ia segera masuk dan duduk di sebelah istrinya. Saat bosnya sudah duduk di kursinya, dan Ken sudah siap di kursi sebelahnya. Frans tancap gas menuju mansion. Awalnya Frans mengendarai mobil dengan kecepatan rendah karena ia sedang membawa bosnya yang sedang hamil muda. Tapi di tengah-tengah jalan,
"Kau ini bisa bawa mobil tidak? Kurangi kecepatannya! Guncangan di dalam mobil tidak baik untuk babyku!" teriak Dave.
"Maaf, tuan! Tapi mobil ini sudah pelan," sahut Frans.
"Bosnya siapa?" tanya Dave.
"Anda, tuan!" sahut Frans.
"Nah itu kau tahu! Cepat pelankan mobilnya, aku bosmu! Kau harus mematuhi semua perintahku!" seru Dave.
Frans mengangguk, ia mengurangi kecepatan mobil itu. Kini mobil Dave melaju dengan pelan. Kadang beberapa pengendara lain membunyikan klakson mereka. Aryn tertawa kecil melihat Dave memarahi Frans. Ia juga merasa gemas dengan sikap overprotective Dave. Jika mobil mereka sepelan ini entah kapan mereka akan tiba di mansion. Mei pasti sudah menunggunya. Karena tadi ia sudah menyuruh Mei untuk datang dan memberikan alamat mansionnya kepada Mei.
Dua puluh menit kemudian, mobil mereka baru tiba di mansion. Gerbang langsung tertutup saat mobil mereka masuk halaman. Seharusnya perjalanan mereka hanya memakan waktu 10 menit, tapi karena mobilnya hanya melaju pelan perjalanan memakan waktu dua kali lipat dari waktu biasanya. Terlihat mobil Mei sudah terparkir di sana.
"Aku ingin jalan sendiri Dave, kakiku masih sehat!" protes Aryn saat Dave akan menggendongnya.
"Baiklah," Dave mengalah. Dave mengekor di belakang Aryn.
"Akhirnya kamu pulang, sayang! Bagaimana keadaanmu?" Uti datang memeluk Aryn.
"Aryn baik-baik saja, Uti!" Aryn tersenyum.
Silvi menghambur dan ikut memeluk Aryn. Katy dan Erick ternyata juga ada di mansion Dave. Keduanya menyambut Aryn dengan gembira.
"Dimana Mei, Silvi?" tanya Aryn. Ia melihat mobil Mei di halaman tapi tidak melihat pemiliknya.
"Lagi keliling," jawab Silvi singkat.
"Keliling? Maksudnya?" tanya Aryn.
"Keliling mansion lah kak, sahabat kakak itu tidak ada malunya! Pemilik rumahnya belum sampai dia home tour duluan!" sahut Silvi.
Dave memijit pelipisnya, sahabat Aryn selalu saja membuatnya pusing. Kalau dia bukan sahabat Aryn pasti sudah ia kirim ke negara asalnya. Dave membawa Aryn ke kamar mereka. Aryn masih harus beristirahat.
Baru saja Dave mengeluh karena Mei datang ke mansionnya. Kini sahabat Aryn itu tengah berjalan santai di lantai dua. Dave dan Aryn dapat melihat dia dengan jelas saat keluar dari lift.
"Arynn!" Mei langsung menghambur ke Aryn.
"Sudah lama?" tanya Aryn.
"Iya, aku datang kemari setengah jam yang lalu! Rumahmu ini besar sekali, jadi sambil menunggu mu aku berkeliling!" sahut Mei.
"Ohh.." sahut Aryn.
"Aku bingung rumah sebesar ini kamu sebut gubuk kemarin! Rumah ini bahkan seperti istana!" seru Mei.
"Karena aku tidak ingin sombong," jawab Aryn.
"Tidak sia-sia ya, kamu menikahi pria tua yang angkuh dan sombong ini," lirih Mei membuat Aryn tertawa kecil.
"Siapa yang memberimu izin untuk berkeliling mansion ini?" tanya Dave.
"Sahabatku!" sahut Mei.
"Minggir! Kami mau ke kamar!" seru Dave.
__ADS_1
"Oh iya aku penasaran kamarmu, Aryn!" sahut Mei.
"Kamu boleh ikut," seru Aryn.
"Tidak boleh!" sahut Dave.
"Aryn saja mengizinkanku! Wleekk!" Mei menjulurkan lidahnya.
"Kalau kau bukan sahabat istriku, sudah aku potong lidahmu itu lalu kuberikan Sindy!" gumam Dave.
Dave membuka pintu kamarnya dengan malas. Ia mendudukan Aryn di ranjang dan langsung masuk ke kamar mandi.
"Wah... Kamarmu saja besarnya sama seperti apartemenku!" Mei kagum melihat kamar Aryn.
"Jangan berlebihan gitu," sahut Aryn.
"Memang kenyataannya seperti itu, aku tadi hampir tersesat di rumah ini! Beruntung ada banyak pelayan dan penjaga jadi aku bisa bertanya pada mereka! Seharusnya kamu memberi denah untuk tamu yang datang!" ucap Mei.
Aryn manggut-manggut mendengar ucapan Mei, "Bagaimana penembakannya? Berhasil?" tanyanya.
"Gagal, ryn! Dia menolakku, tapi dia menyuruhku untuk mencari cara lain agar bisa menarik perhatiannya!" sahut Mei.
"Tidak apa-apa, berarti kamu masih punya kesempatan!" Aryn tersenyum.
"Tapi bagaimana caranya, dia itu sangat galak dan judes!" keluh Mei.
"Nanti akan aku berikan tips-tips meluluhkan hati pria yang dingin dan kejam!" Aryn terkekeh.
"Aku lupa, kamu sangat berpengalaman menaklukan pria kejam," Mei menggoda Aryn.
"Begitulah...Aku pastikan nanti Zack klepek-klepek kepadamu!" Sahut Aryn.
Aryn dan Mei asik berbagi cerita sampai Dave keluar dari kamar mandi. Dave memijat pelipisnya, Mei belum pulang ternyata.
"Aku rasa ibumu sedang mencarimu, cepat pulang sana!" seru Dave.
"Aryn....Suamimu jahat! Ibuku kan ada di negara kelahiranku, aku jadi merindukan ibuku kan huhuhu! Mana dari kemarin aku belum ditransfer uang jajan!" Mei mengadu pada Aryn.
"Eh...Malah menangis! Suara tangisanmu membuat polusi udara di kamar ini! Tangisanmu itu fals!" Dave meledek Mei.
Aryn tertawa kecil melihat perdebatan Mei dan suaminya. Entah mengapa ia sangat senang jika mereka bertengkar seperti ini.
"Arynnnn.... Suamimu jahat! Akan aku adukan pada Zack!" seru Mei.
"Emang kau punya nomor ponselnya?" ledek Dave.
"Emmm...Aku akan menemuinya di apartemen!" sahut Mei.
"Zack mau menemuimu? Aku rasa tidak! Selera Zack itu wanita yang tubuhnya seperti gitar spanyol, bukan jalan tol spanyol!" ledek Dave.
Mei menunduk melihat bentuk tubuhnya. Ia ingin protes, tapi ucapan Dave benar adanya. Tubuhnya datar seperti jalan tol, tidak berlekuk sama sekali.
"Dia pasti mau menemuiku! Aku tadi pagi ke kantornya dan dia menerima kedatanganku! Malah dia mengobati luka di punggungku!" seru Mei.
"Benarkah! Setelah ini dia pasti tidak akan menemuimu! Dia itu casanova, dia hafal semua ukuran walau hanya melihat pembungkusnya dari belakang!" Dave tersenyum sinis.
"Arynnn!! Kenapa kamu tidak membelaku, suamimu ini menghinaku habis-habisan!" protes Mei.
"Aku senang melihat kalian berdebat, lucu!" seru Aryn.
"Kalian ini benar-benar sangat cocok! Sama-sama menyebalkan!" protes Mei.
"Kau dengar Tuan Dave, aku akan buktikan sebentar lagi Zack akan bertekuk lutut di hadapanku!" Mei berkacak pinggang.
"Bertekuk lutut untuk memintamu pergi dari hidupnya, kan?" sahut Dave.
"Aku pulang dulu ya, Aryn! Sehat-sehat ya keponakanku, saat kamu besar nanti kamu akan aunty jodohkan dengan baby aunty dan Uncle Zack!" ucap Mei pada Aryn dan perut Aryn.
"Siap, aunty!" jawab Aryn dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.
"Kau berkata seakan Zack mau menerimamu saja," Dave terkekeh.
Mei langsung berjalan keluar kamar Aryn. Ia tidak berpamitan pada Dave maupun menanggapi ucapan Dave.
Blam,
Pintu kamar itu ditutup dari luar oleh Mei. Menyisakan Dave yang tertawa puas karena sudah membuat Mei keluar dari kamarnya dengan kesal.
__ADS_1
Silvi pergi ke halaman belakang setelah ponselnya berdering. Tertera nama Doni di layar ponselnya. Ia sengaja menghindar dari Uti dan orangtuanya untuk menerima telepon dari Doni. Doni pasti membawa informasi tentang Reza. Sedikit orang yang tahu tentang usahanya maka itu akan lebih baik untuknya dan Reza.
"Halo kak?"
"Nona, saya akan mengirimkan semua hasilnya!"
"Good job, kak!"
Tut,
Silvi langsung mematikan sambungan teleponnya agar Doni segera mengirimkan apa saja yang dia peroleh selama membuntuti Reza.
Ting,
Ting,
Ting,
Banyak pesan masuk di ponsel Silvi. Silvi menarik napasnya dalam-dalam bersiap untuk membuka pesan itu satu persatu.
Silvi tersenyum senang, isi pesan pertama adalah alamat kantor, apartemen, dan nomor ponsel Reza. Tapi kemudian Silvi muram. Nomor ponsel yang tertulis di pesan itu berbeda dengan nomor lama Reza yang tersimpan di ponselnya. Itu artinya Reza mengganti nomor ponselnya.
"Kenapa Kak Reza mengganti nomor ponselnya?" gumam Silvi.
Silvi melanjutkan membuka pesan yang berisi foto-foto. Silvi semakin antusias karena Doni menjelaskan foto yang ia kirimkan adalah aktivitas Reza seharian ini di Paris.
Deg,
Semua foto itu berisi kebersamaan Reza dengan seorang wanita. Lokasinya berbeda-beda. Di sebuah restoran, pusat perbelanjaan, dan taman. Kedua mata Silvi memerah. Di bawah foto-foto itu, di sebuah pesan Doni mengatakan jika selama dia mengenal Reza ia tidak pernah melihat Reza dekat dengan wanita itu sebelumnya. Mungkin saja rekan bisnis atau karyawannya.
"Jadi ini alasanmu tidak mengabariku, kak?" gumam Silvi.
Silvi berlarian menuju kamarnya. Ia mencegak foto-foto itu dengan printernya. Lalu ia tempelkan foto-foto itu di lingkaran yang menjadi sasaran panahnya. Tempat dimana Silvi memainkan panah berukuran mini miliknya. Panah itu ia gunakan jika sedang ingin berkatih memanah tapi malas untuk ke halaman belakang.
Jleb,
Silvi mengarahkan anak panahnya tepat pada wanita yang ada di foto itu. Lalu ia tersenyum sinis. Ia mengambil ponselnya untuk mencoba menelpon Reza. Terdengar nada sambung dari seberang telepon.
"Halo?"
"Halo,"
"Siapa ini?"
"Aku? Baru beberapa hari pergi sudah lupa ya kak?"
"Silvi? Kamu Silvi?"
"Atas dasar apa Kak Reza memberi janji kepadaku waktu itu?"
"........"
"Sejak hari itu tidak ada satupun panggilan masuk ke ponselku... Oh iya aku baru ingat Kak Reza sudah ganti nomor dan tentu nomorku hilang,"
"Silvi..Kakak bisa menjelaskannya!"
"Sudahlah kak, Silvi titip salam untuk wanita itu!"
Tut,
Silvi mengakhiri panggilan itu. Ia merasa sangat kecewa dan marah. Berkali-kali ponselnya berbunyi karena Reza berusaha menelponnya. Tapi Silvi mengacuhkan panggilan itu. Silvi terus mengarahkan panahnya pada foto itu untuk meluapkan semua amarahnya.
Anak panah Keenam melesat tepat mengenai foto itu lagi. Kini foto itu sudah tidak karuan bentuknya. Anak panah terakhir Silvi arahkan tepat di tangan Reza yang menggenggam tangan wanita itu.
"Arrgghh!" teriak Silvi.
Dilemparnya busur panah itu ke sembarang arah. Kedua matanya merah menahan air mata yang memaksa untuk keluar. Air matanya meleleh keluar saat membaca pesan yang masuk.
From: Kak Reza
Silvi, kakak bisa menjelaskannya. Dengarkan dulu! Kamu sudah salah paham!
"Salah paham apanya, sudah jelas-jelas wanita itu bersamanya setiap waktu!" teriak Silvi.
Silvi melempar ponselnya ke ranjang. Ia masuk ke kamar mandi, menyalakan shower. Silvi terduduk di lantai, ia membiarkan air itu membasahi tubuhnya.
.................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar ya! Love you all!
__ADS_1