
WARNING:
SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.
HAPPY READING 😘
...............................
Samuel sangat yakin jika Angel tidak mungkin melaporkan kebejatannya kepada ayahnya. Karena Samuel mengancam akan menyebarkan video ranjang mereka jika Angel berani membuka mulut.
"Gua tadi juga hampir celaka!" ucap Reza.
"What happened, bro?" tanya Zack.
"Mobil Gua disabotase orang, apa mungkin penyerangan Samuel dan kejadian yang gua alami dalangnya sama?" seru Reza.
Samuel dan Zack mengangkat bahu mereka bersamaan.
"Siapapun orangnya, yang pasti dia bukan orang sembarangan! Orang itu sudah merencanakan penyerangan ini matang-matang! Bukan hanya satu orang yang diserang! Gua yakin setelah ini akan ada penyerangan lagi, so kita harus lebih berhati-hati!" seru Zack.
Selang beberapa menit, Ken sampai di apartemen. Wajahnya terlihat sangat kelelahan, karena begitu ia sampai di bandara, ia langsung meluncur ke apartemen Zack.
"Bro!" sapa Reza.
Ken mengangguk pelan, ia melemparkan senyum simpul pada Samuel dan Zack. Lalu ia berbaring di sebelah Samuel.
"Dave mana?" seru Samuel.
"Bareng Aryn, gua disuruh pulang duluan!" jawab Ken.
"Wih! tanda-tanda nih!" seru Samuel.
"Nggak sia-sia dia berguru sama gua!" seru Zack dengan bangga.
Berbeda dengan teman-temannya yang tampak gembira dengan kemajuan hubungan Dave dan Aryn, Reza terlihat tertunduk lesu. Ada sebuah batu raksasa yang menghantam dadanya, terasa sesak.
"Bagaimana keadaan Silvi?" tanya Ken pada Reza.
"Ba... baik-baik saja, besok dia sudah boleh pulang!" jawab Reza sedikit terkejut.
"Syukurlah!" seru Ken.
Drrtt... drrttt
"Panjang umur nih, baru saja diomongin udah nelpon aja!" seru Reza.
Ia bergegas menjauh dari teman-temannya untuk mengangkat telepon dari Silvi.
"Halo, ada apa Silvi?"
"Kak cepatlah datang kemari!"
"Apa yang terjadi?"
"Mama dan papa ada di sini, aku malas sekali jika harus mengobrol dengan mereka! Mereka membawa beberapa anak buah, dari tadi mereka memaksaku untuk ikut bersama mereka, kak! Saat ini saja aku menelpon kakak diam-diam di kamar mandi !"
"Kamu tenang, kakak akan segera sampai!"
__ADS_1
Reza buru-buru mengambil jasnya yang tergeletak di sofa. Ia merapikan rambut dan pakaiannya dengan cepat.
"Silvi kenapa?" tanya Samuel.
"Mama papanya sepertinya akan memaksanya pulang ke mansion mereka!" jawab Reza.
"Kalau Dave tahu bisa gawat ini!" seru Zack.
"Jika nanti Dave dan Aryn sudah sampai dan nanyain gua bilang aja gua nemuin mami dulu!" seru Reza.
Ketiga pria tampan itu mengangguk paham.
Mereka tahu betul bagaimana sifat Dave. Mereka tidak akan membiarkan hubungan Dave dengan kedua orang tuanya semakin hancur.
Reza mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia tidak mempedulikan umpatan yang dilontarkan pengemudi lain. Yang ada dipikirannya sekarang adalah sampai di rumah sakit secepat mungkin.
"Parkirkan mobilku dengan benar!" seru Reza pada security yang berjaga di depan.
Ia langsung berlarian menuju lift. Langkahnya terhenti saat ia hampir sampai di ruang perawatan Silvi. Ada banyak orang berbadan besar yang berjaga di depan pintu. Ia tidak akan sanggup jika melawan mereka semua. Tidak berapa lama kemudian seorang dokter dan perawat melintas di depannya. Ia tersenyum smirk, sebuah ide licik melintas di otaknya.
"Permisi," ucap dokter kepada para pria berbadan besar itu.
Mereka memberikan jalan untuk dokter dan perawat.
Ceklek,
"Permisi tuan dan nyonya, kami akan memeriksa keadaan Nona Silvi," sahut dokter.
"Dia sedang berada di kamar mandi," jawab Erick.
"Sebentar saya panggilkan!" sahut Katy.
"Tuan, sepertinya kami harus melakukan rountgen untuk memeriksa lebih lanjut!" seru dokter.
"Harus dirountgen, ya?" tanya Erick.
"Iya, tuan. Dengan dilakukannya rountgen Kita dapat mengetahui keadaan lengan Nona Silvi. Karena kemarin peluru itu menggores tulang lengan Nona Silvi!" ucap dokter.
"Baiklah!" sahut Erick.
Seorang perawat laki-laki yang tadi ditelpon dokter untuk membawakan kursi roda sudah tiba. Kini dua perawat itu membantu Silvi untuk duduk di kursi rodanya.
"Kok mirip Kak Reza, ya?" batin Silvi.
Silvi memandangi kedua mata perawat laki-laki yang membantunya. Hanya kedua matanya saja yang terlihat, karena ia menggunakan masker. Silvi terkejut saat perawat itu mengedipkan sebelah matanya. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya. Silvi dibawa pergi meninggalkan kamar rawatnya. Tapi yang membuat Silvi semakin heran adalah mereka tidak membawa Silvi ke ruang rountgen. Bahkan ruangan itu sudah jauh terlewati. Mereka membawa Silvi masuk ke dalam ruangan dokter yang memeriksanya tadi.
"Bukankah aku harus di rountgen? Kenapa kalian justru membawaku kemari?" seru Silvi.
"Kamu tidak akan dirountgen, aku akan membawamu pulang!" jawab perawat laki-laki tadi.
"Apa maksudmu? Jangan macam-macam! Aku akan melaporkan kalian pada Kak Dave!" ucap Silvi yang terdengar seperti ancaman.
"Aku tidak takut!" seru perawat laki-laki.
Huffff
Reza melepaskan maskernya, akhirnya ia bernapas dengan lega.
"Kak Reza!" seru Silvi.
__ADS_1
"Sudah diamlah dulu! Aku akan berganti pakaian lalu kita pulang ke mansion Dave!" sahut Reza.
Reza bergegas melepaskan baju perawat yang ia pakai, hingga menyisakan kemeja dan celana panjang yang ia pakai. Ia mendorong kursi roda Silvi menuju mobilnya. Tapi sebelumnya ia memakai topi, dan memakaikan jasnya pada Silvi.
"Ide jenius, kak!" puji Silvi saat mereka berada di dalam mobil.
"Yeah! Aku melakukannya karena anak buah papamu itu berbadan besar semua! Jika aku masuk ke ruanganmu sebagai Reza, sudah pasti papamu akan menyerahkanku kepada gorila-girila berjaket itu!" jawab Reza.
"Iya, tapi bagaimana bisa dokter tadi mau ikut ambil bagian dalam drama kakak?" tanya Silvi.
"Gampang! Rumah sakit ini kan milik Dave, jadi aku gunakan nama Dave untuk mengancamnya!" jawab Reza.
"Iiiihh nepotisme!"
"Kamu ini masih kecil, belum cukup umur untuk mengatakan kata itu! Btw, aku cocok kan jadi perawat?" seru Reza.
"Cocok kak! Jadi perawat di panti jompo!" Silvi terkekeh.
"Kamu ini!" Reza mengacak rambut Silvi dengan gemas.
Deg,
"Aku payah banget sih! Baru gitu aja langsung deg-degan!" batin Silvi.
Silvi terdiam, ia berusaha mengontrol jantungnya yang berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya. Pipinya sedikit merona menahan malu. Berbeda dengan Silvi, Reza terlihat biasa saja. Bahkan ia tidak memperhatikan Silvi sama sekali. Pandangannya hanya fokus pada jalanan.
"Silvi," lirih Reza.
"Ada apa kak?"
"Jangan beritahu Dave tentang pizza beracun itu!" seru Reza.
"Bukankah Kak Dave harus tahu kak?" tanya Silvi.
"Biarkan aku yang memberitahunya setelah aku berhasil menemukan pengantar pizza itu!" jawab Reza.
"Baiklah, kak!" sahut Silvi.
Reza mengurangi kecepatan mobilnya, karena kini mereka sudah tiba di perkebunan buah Silvi. Pintu gerbang terbuka secara otomatis memberikan jalan untuk mobil Reza. Terlihat Ily sang kepala pelayan menyambut mereka di depan pintu.
"Selamat datang, Nona!" sapa Ily.
Silvi membalas sapaan Ily dengan senyum manisnya. Reza mengantarkan Silvi ke kamarnya. Sementara Ily mengekor di belakang mereka.
"Siapkan makan siang untuknya!" perintah Reza.
"Baik, tuan!" Ily balik badan meninggalkan kamar Silvi.
"Jangan terlalu banyak bergerak dulu!" ucap Reza, lalu ia melangkahkan kakinya.
"Kak Reza mau kemana?" tanya Silvi.
"Kakak harus kembali ke apartemen Zack, sebelum Kak Davemu itu datang!" seru Reza.
Silvi tersenyum manis menatap punggung Reza yang menghilang dibalik pintu. Ia sangat bahagia hari ini, Reza begitu perhatian kepadanya.
.......................
Jangan lupa like, vote dan rate bintang lima ya! Stay tune!
__ADS_1