
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Dave dengan sigap memeluk Aryn, menjadikan tubuhnya perisai untuk Aryn. Aryn menutup matanya dan semakin mengeratkan pelukannya.
Dor dor dor,
"Tidak!!!" seru Katy.
"Aku mencintaimu, Aryn! Kemarin, sekarang, dan selamanya!" lirih Dave.
"Aku juga mencintaimu!" sahut Aryn.
Dave mengeratkan pelukannya. Apakah ia akan pergi meninggalkan Aryn selama-lamanya? Air matanya menetes dengan deras. Semua orang tidak berani melihat kejadian ini.
Satu detik,
Dua detik,
Dave tidak merasakan apa-apa," Apakah aku sudah mati," lirih Dave.
"Belum," sahut Mei.
Aryn dan Dave menatap Mei serempak, Mei mengisyaratkan mereka untuk menoleh ke belakang dengan sorot matanya.
Bug,
Terdengar suara sebuah benda yang keras jatuh. Sontak saja Dave dan semua orang melihat asal suara itu. Dion membelalakan matanya merasakan sakit di lengan kanannya yang menjadi sasaran tiga buah peluru sekaligus. Pistolnya terhempas ke lantai. Melihat bosnya yang terduduk di lantai menahan rasa sakit kedua pria yang menodongkan senjata pada Erick dan Katy saling menatap.
Dor dor,
Dua buah peluru melesat tepat mengenai perut kedua pria itu. Mereka tumbang dengan darah yang mengalir dari perutnya. Semua orang masih shock dengan kejadian itu. Mereka saling menatap.
"Keren!" ucap Mei spontan.
"Davee!!" Katy menangis kencang dan langsung memeluk putranya. Erick memeluk keduanya dengan kedua matanya yang juga basah.
Aryn mundur beberapa langkah, memberikan ruang untuk kedua mertuanya memeluk putra mereka. Ia terduduk di sebuah kursi, tubuhnya terasa lemas.
"Aku baik-baik saja, ma!" ucap Dave.
Dave melepaskan pelukan kedua orangtuanya, ia menghampiri Aryn. Tangannya menangkup wajah Aryn. Ia terlihat sangat cemas. Aryn memeluk suaminya dengan erat. Ribuan kata syukur ia ucapkan atas pertolongan sang pencipta.
"Silvi," lirih Aryn yang mendongak menatap bagian atas jendela. Aryn mendengar suara seseorang yang berasal dari atas jendela. Setelah ia melihatnya ternyata orang itu adalah Silvi.
Mendengar kata Silvi, semua orang menatap wajah seorang gadis dari atas sana. Ya, gadis itu adalah Silvi. Ia memanfaatkan lubang ventilasi yang lumayan lebar untuk menyerang tepat pada waktunya. Kemarin saat Dave menyuruh Ken untuk datang menjaganya di mansion, Silvi diam-diam mencari tahu alasannya. Setelah tahu kakak iparnya diculik, ia memutuskan untuk pergi mencari kakak iparnya dengan memanfaatkan GPS ponsel kakaknya yang menyala. Sampailah ia di tempat ini. Beruntungnya Silvi, ia datang setelah Dave berhasil membobol pertahanan musuh. Jadi ia hanya tinggal mengikuti bekas jalan mereka dengan bantuan Mira.
"Good job, girl!" Dave mengacungkan jempolnya.
"The real wonder woman," ucap Mei saat mengetahui yang menembak orang-orang botak itu adalah seorang gadis yang masih muda.
Silvi membalasnya dengan senyuman bahagia. Ia sangat senang karena bisa datang tepat pada waktunya.
"Tapi siapa yang menembak kedua pria botak itu? Aku kan hanya menembak musuh Kak Dave yang bernama Dion!" gumam Silvi.
"Awas, kak!" pekik Silvi.
Dion memanfaatkan situasi untuk mengambil lagi pistolnya. Dave langsung menginjak tangan Dion yang berusaha meraih pistolnya.
Arrgghhh....
Krek krek,
Terdengar gemerutuk tulang telapak tangan kanan Dion saat Dave menginjaknya dengan sangat keras berkali-kali.
Silvi menghela napas lega, kakaknya sungguh gesit. Sekarang ia harus mencari tahu siapa yang membantunya menembak dua pria botak itu.
"Suamimu sungguh sadis, Aryn?" lirih Mei namun tidak dijawab oleh Aryn.
Mei celingukan mencari Aryn. Ia hampir terlonjak kaget saat melihat Aryn justru duduk di belakang Dave dan kedua orangtuanya. Mei menghampiri sahabatnya.
"Kukira hantu penunggu rumah ini," lirih Mei membuat Aryn langsung menatapnya tajam.
Bukan tanpa alasan, Mei mengatakannya karena Aryn duduk dengan lemas di kursi itu. Penampilannya yang acak-acakan, wajahnya yang lebam, di tambah kursi itu terletak di sudut kamar yang minim pencahayaan.
"Apakah kau baik-baik saja?" Mei menghampiri Aryn yang terlihat pucat dan lemas. Aryn hanya menjawabnya dengan anggukan.
Arrgghhh...
Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari Dion. Aryn dan Mei menoleh serempak. Mei melongo menyaksikan kengerian di hadapannya itu.
Dave menginjak telapak tangan kiri Dion berulang-ulang sampai terdengar gemerutuk tulang yang patah. Dion memekik panjang menahan rasa sakit. Kedua tangannya tidak berbentuk sekarang.
Hanya tersisa Aryn, Mei, Dave, Dion, dan mayat anak buah Dion serta Susi di kamar itu. Erick dan Katy mengikuti Zack untuk menuju mobil. Dilihat dari kondisinya sepertinya mereka berdua telah disekap lebih lama dari Aryn dan diperlakukan dengan kejam oleh Dion.
"Cepat minta maaf pada Aryn dan sahabatnya!" teriak Dave.
"Cuih, aku tidak sudi!" Dion meludah ke arah celana Mei, dan sedikit mengenai sepatu Aryn.
"Eww... ganteng-ganteng tapi jorok! Kau tidak gosok gigi ya?" seru Mei mengamati celananya yang terkena ludah Dion, tercium bau tidak sedap dari sana.
__ADS_1
"Damn! Dasar j****g kecil!" umpat Dion
Bug,
Dave menendang kepala Dion sampai tubuhnya terpelanting ke samping.
"Akan aku pastikan kau mengemis kepadaku agar aku segera membunuhmu!" seru Dave.
"Aku tidak takut," sahut Dion.
"Kita lihat saja nanti! Seberapa tahan dirimu menghadapi Kesy" seru Dave.
"Siapa Kesy? Jangan bilang kau menduakan sahabatku!" celetuk Mei.
Dave mengelap wajahnya dengan kasar, Mei benar-benar merusak suasana, "Kesy itu nama untuk tongkat kasti kesayanganku setelah aku sedikit memodifikasinya," jawab Dave dengan seringai licik di wajahnya.
"Kau akan sama seperti ayahmu, memohon-mohon agar aku segera menghabisimu! Tapi kau tidak akan mati semudah itu, akan aku buat kau merasakan sakit selama mungkin!"
Arrgghh...
Dave menginjak lagi tangan Dion. Ruangan yang sepi itu menjadi saksi bisu kesakitan Dion. Aryn menutup matanya karena pemandangan di hadapannya ini sangat mengerikan.
"Dave cukup!" seru Aryn saat Dave bersiap untuk menginjak lagi.
"Aku tidak berhenti sebelum dia mati, berani sekali dia menculikmu!" seru Dave penuh amarah.
Aryn hendak menghampiri suaminya untuk menenangkannya, tapi pandangannya kabur. Kepalanya pusing, semua terasa berputar.
"Aryn!" seru Dave dan Mei bersamaan.
Mei yang berada di samping Aryn menahan tubuh Aryn agar tidak terjatuh ke lantai. Dave segera menghampiri istrinya.Ia menggendong Aryn dan berlarian keluar dari kamar itu.
"Frans, bawa mobilku kemari!" ucap Dave melalui intercom.
"Kalian bawa Dion ke markas, dan bersihkan tempat ini!" perintah Dave pada anak buahnya.
Dave sangat cemas akan kondisi Aryn dan babynya, hampir saja menabrak Silvi yang hendak masuk ke dalam rumah itu.
"Kak Aryn kenapa?" seru Silvi cemas.
"Dia pingsan," jawab Dave singkat.
"Apa yang dilakukan penculik itu sampai wajah Kak Aryn lebam, kak?" pekik Silvi saat menyibak rambut Aryn.
"Aku tidak akan mengampuni mereka," lirih Dave.
Tidak berapa lama kemudian, mobil Dave nampak dari kejauhan. Mobil mewah itu dipaksa melewati jalanan yang sedikit berkumpur dengan rumput yang tinggi. Yang terpenting Dave segera membawa Aryn ke rumah sakit.
"Lo mau apa?" seru Dave saat Samuel ikut menopang tubuh Aryn.
"Membantulah," jawab Samuel dengan enteng.
"Lo siap jadi makan siang Sindy? Jangan sentuh Arynku!" pekik Dave.
Samuel melengos, siapa juga yang siap dimakan hidup-hidup oleh harimau. Dave bersusah payah membawa Aryn masuk ke dalam mobil. Karena mobil yang ia gunakan hari ini memiliki body yang sedikit ceper. Tubuhnya yang tinggi tentu kesulitan jika harus masuk ke dalam mobil dengan membawa Aryn ke dalam juga. Kepala bagian belakangnyanya terbentur pintu mobil yang tiba-tiba menutup.
"Apa memegang pintu saja lo nggak bisa, Sam?" teriak Dave.
"Tadi tidak mau dibantu, sekarang malah memaki saat aku diam saja!" keluh Samuel.
"Lama-lama lo itu cerewet ya! Cepat pegang pintunya!" seru Dave.
Samuel bersusah payah menelan salivanya. Ia mundur beberapa langkah sambil memegangi pintu mobil untuk memberikan ruang. Dave sendiri yang membawa Aryn masuk ke dalam mobil. Silvi terkekeh melihat tingkah kakaknya yang masih sempat posesif di saat darurat seperti ini.
"Sam, lo yang pergi bersama Aryn dan gua! Dan kau Frans antar Silvi dan teman Aryn pulang! Jangan lupa pastikan anak buahku melakukan tugasnya dengan benar!" perintah Dave.
"Baik, tuan!" jawab Frans.
Mobil Dave terlihat melintasi jalanan sempit itu dengan cepat. Frans sedikit meringis melihat rerumputan itu menggores body mulus mobil itu.
"Nona Silvi, dimana teman Nona Aryn?" tanya Frans.
Silvi fokus menatap seseorang yang melintasi samping rumah itu. Dari postur tubuh dan cara berjalannya orang itu perempuan.
"Apakah penduduk sekitar sini? Kenapa tidak curiga dengan keramaian rumah ini? Atau jangan-jangan dia yang menembak pria botak tadi?" gumam Silvi.
"Nona?" seru Frans.
"Eh...Sepertinya masih di dalam," jawab Silvi ketus. Silvi berjalan dengan cepat masuk ke dalam meninggalkan Frans. Ia sempat menoleh untuk mengecek perempuan tadi, tapi dia sudah menghilang.
"Kenapa aku tidak rela jika Nona Silvi mengakhiri sandiwaranya dan bersikap dingin kepadaku?" gumam Frans.
Frans menepuk kepalanya sendiri. Ia tidak seharusnya memikirkan itu, semua yang terjadi tempo hari hanya sandiwara. Frans berlarian menyusul Silvi yang sudah tidak terlihat.
Baru dua langkah Frans masuk ke dalam rumah itu ia berpapasan dengan anak buah Dave yang membawa Dion. Keadaan Dion cukup membuatnya merinding, lengannya penuh darah dengan telapak tangan tidak berbentuk, sepertinya tulangnya patah semua. Frans mencoba mengatur napasnya. Lalu anak buah Dave muncul dengan membawa tiga mayat dalam kantong besar. Frans menghela napasnya, ia tidak perlu takut keadaan mayat itu tidak terlihat.
Tapi saat Frans memasuki ruang tengah rumah itu, kakinya terasa berat untuk melangkah. Wajahnya sangat pucat. Kakinya menginjak cairan berwarna merah yang mulai mengering.
"Astaga apa ini?" lirih Frans.
"Kak Frans kenapa? Ayo pergi dari sini!" seru Silvi dengan Mei yang mengekor di belakangnya.
__ADS_1
"Ini apa, nona?" suara Frans terdengar bergetar.
"Itu darah," jawab Mei.
"Darah? Sebanyak ini?" seru Frans.
"Kalau kau melihat kondisi kedua mayat di belakang sofa itu pasti kau tahu mengapa ada banyak darah sebanyak ini!" sahut Mei.
"Memangnya bagaimana kondisinya, nona?" tanya Frans.
"Sangat buruk! Kau tahu, salah satu dari mayat itu lengannya mengelupas sampai dagingnya terlihat, dagunya hancur! Dan mayat yang satunya perutnya terkoyak, pelipisnya menganga lebar hiyy!" Mei bergidik ngeri saat mengingat kondisi mayat yang ia lihat tadi.
Bruk,
Frans jatuh pingsan di hadapan Silvi dan Mei.
"Kenapa kau menceritakannya, kak? Sekarang kita jadi repot nih!" keluh Silvi.
"Dia yang bertanya, bukankah aku harus menjawabnya?" sahut Mei.
Silvi menepuk jidatnya sendiri. Ia berusaha membuat Frans sadar. Tapi usahanya sia-sia, Frans masih belum sadar. Akhirnya Silvi memanggil beberapa anak buah untuk mengangkat Frans.
"Dasar penakut," lirih Silvi.
Silvi dan Mei berjalan di belakang anak buah yang mengangkat Frans. Mei mengamati pemandangan di sekelilingnya dengan takjub.
Rumah tempat ia disekap berada di dekat danau yang indah dan asri, seperti belum terjamah oleh manusia.
"Ternyata mereka menyekapku di tempat yang seindah ini," Mei bermonolog sendiri.
"Lalu?" tanya Silvi.
"Tidak kenapa-kenapa," jawab Mei.
"Kamu tadi hebat sekali, bidikanmu tepat sasaran!" Mei menatap Silvi dengan penuh kekaguman.
"Itu karena aku sering diajari menembak oleh Kak Reza," jawab Silvi. Lalu ia terdiam, ia jadi teringat Reza. Sejak berpisah di bandara Reza belum juga memberikan kabar.
"Aku juga ingin belajar menembak, terutama menembak pria! Semua pria dalam pasukan yang datang bersama suami Aryn tampan-tampan!" ucap Mei spontan.
Silvi mempercepat langkahnya, ia malas berlama-lama dengan Mei. Entah bagaimana bisa kakak iparnya memiliki teman yang aneh. Mobil mereka sudah diparkirkan sedikit masuk dalam hutan, untuk berjaga di situasi darurat.
"Dia kenapa?" Zack menghadang anak buah Dave yang mengangkat Frans.
"Pingsan," jawab Silvi singkat.
"Merepotkan saja!" keluh Zack.
Mei tidak berkedip saat menatap Zack. Bahkan mulutnya sampai terbuka.
"Lap tuh ilernya!" celetuk Zack.
Mei mengelap bibirnya. Tapi tidak apapun di sana. Tidak ada air liurnya yang keluar seperti yang dikatakan pria tampan itu. Mei hanya dikerjai saja.
"Kemana Dave?" seru Katy dari dalam mobil, pintu mobilnya dibiarkan terbuka.
"Kak Dave membawa kakak ipar ke rumah sakit," jawab Silvi.
"Apa yang terjadi padanya?" Katy turun dari mobil.
Silvi cukup terkejut dengan mamanya yang mendadak menanyakan tentang Aryn. Biasanya mendengar namanya saja tidak ingin.
"Kak Aryn pingsan," tidak ada salahnya Silvi menjawab pertanyaan mamanya.
"Sayang, ayo!" seru Erick.
"Hah?" Katy tidak beranjak dari tempatnya.
"Apakah kamu tidak ingin melihat kondisi Aryn dan calon cucu kita? Ayo kita susul mereka!" sahut Erick.
Katy mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil. Erick menanyakan rumah sakit mana yang dituju Dave pada Zack. Lalu Erick memerintahkan sopir untuk mengantar mereka ke rumah sakit itu. Zack dan Silvi saling menatap saat mobil itu melesat pergi meninggalkan tempat itu.
"Dibalik musibah pasti ada pelajaran yang bisa diambil," ucap Zack.
"Kak Zack bijak sekali!" Silvi tertawa kecil.
"Ah sudahlah, jangan memujiku! Ayo aku antar kalian!" seru Zack.
"Kak Frans yang ditugaskan mengantarku, sepertinya aku akan menunggunya! Jika Kak Zack akan pulang, pulanglah lebih dulu kak. Aku juga ingin melihat kondisi Kak Aryn sekaligus apa yang dilakukan mama di sana!" jawab Silvi.
"Dia belum sadar, biarlah nanti dia bergabung dalam mobil yang membawa Dion dan mayat-mayat itu! Aku akan mengantarkanmu, aku juga ingin menjenguk Aryn! Sebelum Dave mengizinkanku pulang, aku mana boleh pulang!" Zack terkekeh.
"Kalian serius akan meninggalkannya?" celetuk Mei.
"Iya, kau mau ikut tidak kak?" seru Silvi.
"Tentu saja aku ikut! Aku hanya membayangkan berapa kali pria penakut itu akan pingsan nanti!" ucap Mei, mereka bertiga tertawa bersama.
Mobil Zack melesat meninggalkan Frans yang bersandar di akar pohon. Salah satu anak buah Zack berusaha membuatnya sadar.
.................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!