
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Klek,
Erick membuka pintu ruangan bersalin itu dengan cepat. Semua orang menatap Erick dan Katy. Tapi Erick dan Katy berlalu begitu saja, mereka langsung menghampiri menantu mereka yang sedang menahan sakit. Keduanya tampak sangat cemas. Tidak berani berkata apapun sampai kontraksi Aryn hilang dengan sendirinya.
"Sayang, yang kuat ya, semangat!" Katy mengusap kepala Aryn lalu mengecupnya.
"Iya, ma!" jawab Aryn.
"Kamu makan dulu ya? Biar punya tenaga kalau kontraksinya datang lagi," ucap Katy.
Aryn menjawabnya dengan anggukan. Apa yang dikatakan Katy memang benar. Saat sedang tidak merasakan nyeri sebaiknya ia makan agar punya tenaga. Dave mengambil alih makanan Aryn dari tangan mamanya. Ia sendiri yang akan menyuapi Aryn.
"Aku saja yang menyuapinya," ucap Dave.
"Pelit," protes Katy.
Katy menghampiri Erick. Ia mencolek lengan Erick, mengadukan kelakuan putranya.
"Biarkan saja! Papa juga begitu," ucap Erick.
"Are you okay, my son?" tanya Erick pada Dave.
"I'm okay," jawab Dave.
"Kondisimu lebih buruk dari yang papa alami dulu," ledek Erick.
Dave tidak menjawab ledekan papanya. Yang terpenting baginya sekarang adalah membantu Aryn untuk makan. Sejak awal kontraksi tadi Aryn pasti menghabiskan banyak tenaga. Keringatnya saja bercucuran.
"Om sama tante kenapa sampai berkeringat banyak seperti itu?" seru Mei.
"Papa sama mama kesini naik mobil kan, bukan berlari?" imbuh Silvi.
Erick dan Katy saling menatap. Mereka lalu menatap tubuh mereka masing-masing. Basah oleh keringat, itu pasti karena pertempuran tadi. Tapi bagaimana mengatakannya, tidak mungkin mereka menjawab keringat itu karena mereka tadi bercinta. Mau ditaruh mana muka mereka sebagai orang tua.
"Tadi AC di mobil mati," jawab Erick.
Dave dan Zack saling menatap. Lalu tertawa bersama. Para perempuan mungkin bisa dibohongi, tapi Dave dan Zack tidak bisa. Mereka bisa melihat wajah Erick yang masih kemerahan, seperti menahan sesuatu. Petunjuk itu sudah jelas.
"Loh itu kancing baju tante ada yang lepas," seru Mei.
Katy terdiam, ia baru ingat betapa ganasnya Erick tadi. Kenapa ia bisa ceroboh memakai baju itu lagi?
"Tadi Erick tidak sengaja menarik bajuku saat mau masuk, jadi lepas deh," Katy mencoba membuat alasan.
"Kenapa om menarik baju tante?" Mei bertanya lagi.
Sementara itu Dave dan Zack tidak bisa menahan tawanya.
"Mereka habis bertempur," seloroh Dave.
Wajah Erick dan Katy menjadi memerah, mereka menahan malu. Sudah hasratnya belum tersalurkan secara benar, masih juga diledek.
"Astaga! Bertempur, bertengkar? Jadi om Erick melakukan kekerasan dalam rumah tangga, yang disingkat jadi KDRT itu?" seru Mei.
Dave dan Zack semakin tertawa keras. Sementara Silvi, Uti, dan Aryn memelototi Mei. Mereka tahu apa yang dimaksud Dave.
"Antenamu kurang tinggi, kak!" ledek Silvi.
"Tau apa kamu, anak kecil?" sahut Mei.
Silvi tidak menanggapi Mei, ia hanya menjulurkan lidahnya. Mei menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal. Apa yang dimaksud Dave dengan bertempur?
"Oh astaga, Mei! Maksud Dave pastilah mereka habis ehem ehem!" gumam Mei.
Suasana kamar hening sejenak, Aryn berusaha memejamkan matanya setelah kontraksi barusan. Kontraksinya semakin sering dan sakit. Dokter Dessy mengatakan sudah pembukaan 5. Suster yang tadi berjaga diluar, kini diperintahkan untuk berjaga di dalam. Proses pembukaan selanjutnya mungkin akan lebih cepat.
Tidak ada yang bersuara, karena semua orang juga sudah lelah dan mengantuk. Uti dan Silvi diajak Erick dan Katy ke lantai paling atas rumah sakit. Di sana ada ruangan Erick yang biasa digunakan untuk ia beristirahat. Di dalam ruangan bersalin Aryn tersisa seorang suster, Dave, Mei, dan Zack yang menjaga Aryn. Zack bermain ponsel sambil rebahan di sofa. Mei juga melakukan hal yang sama. Kepala mereka bertemu di tengah-tengah sofa.
"Aaaaa...." teriak Dave.
Aryn mengalami kontraksi lagi, kontraksinya lebih panjang sekarang. Dave menjerit tentu karena rambutnya dijambak.
"Aaaaa....." teriak Dave lagi.
"Astaga, suaramu itu cempreng sekali Dave!" protes Zack.
"Tambahkan sedikit nada gitu, biar enak didengar!" celetuk Mei.
"Awas saja kalian!" sahut Dave.
__ADS_1
Jambakan Aryn perlahan mengendur. Dave merasa lega, tapi ia melihat beberapa helai rambutnya di tangan Aryn. Bisa-bisa ia botak saat anaknya lahir nanti!
"Wah, Nona Aryn hebat! Sudah buka 6, nona." ucap suster.
Aryn tersenyum tipis. Ia lalu menatap suaminya. Dave mengelus kepala Aryn. Kencangnya jambakan Aryn membuat Dave merasa tidak tidak, pastilah rasa sakit yang dirasakan Aryn itu sakit sekali. Betapa beratnya perjuangan seorang wanita untuk melahirkan anaknya ke dunia. Kalau saja rasa sakitnya bisa dibagi, Dave ingin mengambil rasa sakit Aryn. Agar Aryn tidak terlalu menderita.
Kontraksi berikutnya berlangsung lebih cepat, Dokter Dessy mengatakan besok siang mungkin babynya baru akan lahir. Mengingat ini adalah kali pertamanya untuk Aryn. Tapi pukul 7 pagi, pembukaan sudah lengkap. Dokter Dessy dan beberapa suster mempersiapkan segalanya. Aryn diposisikan berbaring dengan Posisi Lithotomi. Dave berdiri di samping kepala Aryn. Dokter Dessy dengan sabar mengarahkan Aryn untuk mengejan.
"Atur nafas, nona! Okay, bagus! Sekarang tarik nafas yang panjang, dan.... Dorong!" ucap Dokter Dessy.
"Aaaaaaa....." teriak Aryn dan Dave bersamaan.
Para suster yang membantu, menahan tawanya saat Dave dijambak Aryn. Dan lagi, Dave ikut mengejan saat Dokter Dessy mengarahkan Aryn untuk mengejan. Di luar ruangan, semua orang juga menahan tawa, mendengar teriakan Dave dan Aryn.
Dokter Dessy dengan sabar mengarahkan Aryn untuk mengejan lagi. Dan,
"Bagus sekali, nona! Kepala babynya sudah kelihatan!" seru Dokter Dessy.
Dave mencoba untuk melihat. Tapi kemudian ia menjauh dan menutup mulutnya. Ia menahan tangis. Para suster dibuat terkejut dengan Dave yang menangis. Seorang tuan muda yang terkenal kejam dan tidak punya hati menangis melihat istrinya sedang berjuang melahirkan babynya.
"Tuan, jangan menangis! Ayo beri semangat untuk Nona Aryn!" ucap Dokter Dessy.
"Ayo lebih kuat lagi, sayang! Kamu bisa! Aku bantu mengejan!" seru Dave membuat semua suster dan Dokter Dessy menahan tawa.
"Membantu mengejan? Ada-ada saja!" gumam Dokter Dessy.
"Aaaaaaa......" teriakan panjang Aryn dan Dave bersamaan.
"Owee....oweee..."
Terdengar suara tangisan nyaring dari babynya. Dave melihat seorang bayi kecil berwarna merah menangis di dada Aryn. Dave terdiam, lalu ia menangis. Tubuhnya bersandar di dinding, ia menangis melihat Aryn sedang menciumi baby mereka.
"Babynya laki-laki, tuan!" ucap Dokter Dessy.
Dave berjalan mendekat. Ia menghujani Aryn dengan kecupan cinta.
"Terima kasih, sayang! Terima kasih banyak atas perjuanganmu melahirkan buah hati kita! Aku akan berusaha sekuat tenaga membahagiakan keluarga kecil kita yang sudah lengkap ini," ucap Dave sendu.
"Sudah jangan menangis, aku yang melahirkan saja tidak menangis sekencang dirimu!" Aryn terkekeh.
"Kamu ini..." Dave merangkul Aryn dan putranya.
Aryn menangis haru, rasa sakitnya hilang begitu saja saat mendengar tangisan jagoan kecil mereka. Dave mengecup pucuk kepala babynya. Tangannya mengelus lembut jemari kecil itu. Dave mengeluarkan ponselnya, ia mengambil foto kedua keluarga kecil mereka. Foto yang pertama, saat Aryn USG dulu. Lalu Dave berlarian keluar memberitahu semua anggota keluarga.
"Babyku laki-laki!" serunya dengan gembira.
"Selamat, my son!" Erick memeluk putranya itu.
"Anak mama sekarang sudah jadi daddy," Katy ikut memeluk Dave. Silvi pun bergabung.
"Tapi, Dave! Babymu akan takut kalau melihatmu dalam keadaan seperti ini!" seru Zack.
"Benar itu, mandi dulu sana!" Uti terkekeh.
"Seperti habis tawuran," lirih Mei.
"Apa kau bilang?" seru Dave yang menatap tajam Mei.
"Eh tidak, itu loh rambutmu berantakan!" jawab Mei.
"Sudahlah, mandi dulu!" Erick mendorong Dave agar mandi.
Kini Dave yang menggendong babynya. Dave mengecup babynya berkali-kali sampai menangis. Aryn sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Semua orang berkumpul di ruangan itu.
"Sayang... Dia baru saja lahir sudah kamu jahili saja," protes Aryn.
"Aku gemas," ucap Dave.
"Sini sama oma, sayang!" Katy mengambil alih baby Aryn dan Dave dari tangan Dave.
"Lucunya cucu opa! Tidak sia-sia opa membeli mobil mainan itu," ucap Erick.
"Sia-sia sudah aku membeli baju warna pink itu," keluh Zack membuat semua orang tertawa.
"Aku juga mau menggendong cicitku," seru Uti.
Katy memberikan baby Dave pada Uti. Wanita paruh baya itu masih kuat untuk menggendong cicitnya.
"Tampannya," ucap Uti.
"Jelas tampan lah, Uti! Bibitnya kan bibit unggul," seru Dave menyombongkan diri.
"Bibitmu itu turunan dari papa, jangan sombong!" seru Erick membuat semua orang tertawa.
__ADS_1
"Siapa nama putramu yang tampan ini, jangan bilang kau belum menyiapkannya kak?" tanya Silvi yang sedang mengelus kepala baby Dave.
"Davin Jarrel Winata!" ucap Dave penuh dengan kesungguhan.
Aryn tersenyum lebar. Mereka memang sudah menyiapkan nama untuk baby mereka. Mereka sebelumnya juga membuat nama perempuan. Karena Aryn dan Dave tidak ingin mengetahui jenis kelamin baby mereka sebelumnya jadi mereka menyiapkan dua nama.
"Kamu dengar itu jagoan kecil, mulai sekarang kami akan memanggilmu Davin!" ucap Uti.
"Davin, Dave Aryn?" celetuk Mei.
"Tumben benar?" sahut Dave.
Mei memalingkan wajahnya, mendekati Baby Davin yang sedang digendong Uti. Mei melongo saat melihat wajah Davin dari dekat.
"Aryn," panggil Mei.
"Kenapa?" sahut Aryn.
"Kenapa wajahmu sama sekali tidak menurun pada Davin? Semuanya mirip Dave!" seru Mei.
"Namanya juga anaknya Kak Dave! Kalau mirip tetangga ya berarti anak tetangga!" sahut Silvi sewot.
"Sudah sudah! Kalian mau coba gendong?" tanya Uti.
"Aku mau!" seru Mei.
"Aku saja, Uti!" seru Silvi tidak mau kalah.
"Aku dulu yang bilang tadi!" Mei berkacak pinggang.
"Aku auntynya!" sahut Silvi.
"Masih kecil saja sudah jadi bahan rebutan ya, sayang?" ucap Dave pada Aryn.
"Tidak apa, asal tidak memainkan wanita sama sepertimu saja!" Aryn terkekeh.
"Sayang...." protes Dave.
Akhirnya setelah perdebatan yang panjang, dan pertandingan batu kertas gunting, Davin digendong oleh Silvi.
"Jangan lama-lama!" ucap Mei.
"Terserah aku dong, kak!" sahut Silvi.
Silvi memotret Davin beberapa kali. Tidak ada yang tahu jika ia mengirimkan foto itu pada Reza, dengan sebuah pesan singkat yang mungkin akan membuat Reza tersedak jika membacanya saat sedang makan.
Pesan singkat itu berisi:
Kak lihatlah, Baby Kak Dave dan Kak Aryn! Namanya Davin Jarrel Winata, lucu bukan? Hidungnya, mulutnya, bibirnya, semuanya mirip dengan Kak Dave. Saat ini aku sedang menggendongnya! Kak cepat lamar aku ya? Aku juga ingin punya satu yang seperti ini, tapi yang mirip Kak Reza! See youuu!
"Idih... Senyum-senyum sendiri!" ledek Mei mengejutkan Silvi.
"Bebas dong!" sahut Silvi.
"Sini, giliranku!" seru Mei.
"Davin sayang, jangan nangis ya! Davin mau digendong sama nenek lampir!" ucap Silvi saat memberikan Davin di gendongan Mei.
Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa melihat kelakuan Silvi dan Mei. Sama-sama aktif, cerewet, kepo, dan tidak mau mengalah. Hanya saja Mei sedikit lebih lemot daripada Silvi.
"Aura keibuan Mei terlihat saat menggendong Davin seperti itu. Terlihat sangat cantik juga... Arrgghh! Lagi-lagi aku memikirkan dia! Sial!" gumam Zack.
"Tampannya... Kalau aku bisa awet muda, pasti saat kamu besar nanti akan aku jadikan jodohku!" seloroh Mei.
"Amit-amit!" seru Dave.
"Nyebut, kak!" seru Silvi.
"Kalau begitu, Davin akan menjadi jodoh anakku nanti!" ucap Mei.
Tiba-tiba Mei merasakan ada rasa hangat yang mengalir di lengan. Karena ia sedang duduk di sofa sekarang, cairan hangat itu mengalir cepat ke pahanya. Semua orang tertawa melihatnya. Mei mengangkat sedikit Davin untuk melihat apa yang terjadi pada celananya.
"Astaga, Davin! Kenapa kamu mengompol di celana calon mertuamu!" rengek Mei.
"Dapat hadiah kan dari Davin," Aryn terkekeh.
"Davin itu tahu bedanya auntynya dan nenek lampir!" Silvi meledek.
Dave mengambil alih Davin. Ia mengganti popok Davin, sesuai dengan apa yang diajarkan di kelas merawat bayi. Tapi kali ini Dave memakaikan pampers untuk Davin. Jagoan kecilnya itu diam saja saat daddynya membersihkannya.
"Aku sudah wangi lagi, mommy!" ucap Dave.
"Kamu suami dan daddy terbaik, Dave! Aku beruntung bisa dipertemukan dan menjadi istrimu!" ucap Aryn.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, dan Davin!" sahut Dave.
.....................