
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Aryn tengah duduk di bangkunya. Berkali-kali ia melirik jam diponselnya, kelas mereka akan dimulai sebentar lagi. Tapi Mei belum sampai juga. Bangku di sebelahnya masih kosong. Aryn memainkan ponselnya, ia baru saja mengunduh berbagai game di ponselnya. Agar saat ia merasa bosan seperti sekarang, ia bisa memainkannya.
"Selamat pagi!" seru seseorang yang menepuk bahunya.
"Ah kamu ngagetin aja, Mei!" Aryn mengelus dadanya.
"Hehehe maaf mahmud, abisnya kamu serius banget sama ponselmu!" jawab Mei cengar-cengir.
"Secepat itu kamu melupakan namaku? Mahmud siapa itu Mahmud?" seru Aryn.
"Kamu tidak tahu? Kata itu aku ambil saat aku melihat komentar netizen dari negaramu, singkatan dari mamah muda!" seru Mei.
"Aku tidak pernah melihatnya hehehe," Aryn menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mei menghela napasnya pelan. Ia mengeluarkan buku-buku pelajaran hari ini.
"Aryn," panggil Mei.
"Ada apa?" tanya Aryn.
"Kamu sudah menikah berapa lama?" tanya Mei.
"Lima bulan," jawab Aryn singkat.
"Bagaimana rasanya setelah menikah?" tanya Mei.
"Seperti pasangan suami istri biasanya," jawab Aryn dengan masih fokus pada gamenya.
"Kalian sudah melakukannya?" Mei berkata dengan lirih.
"Apa? Melakukan apa?" Aryn ikut berbisik.
"Hubungan badan suami istri," lirih Mei.
"Kamu ini aneh sekali, tentu aku sudah melakukannya! Lihatlah, ini hasilnya!" jawab Aryn sambil menunjuk perutnya membuat Mei cengar-cengir.
"Bagaimana rasanya?" Mei kembali membuat Aryn merasa bingung.
Dari penampilannya Mei terlihat seperti gadis polos yang tidak memikirkan tentang hal itu. Tapi pertanyaannya sungguh memalukan. Satu bulan meraka menjadi sahabat yang baik. Hari ini pertama kalinya melihat sisi yang berbeda dari Mei sahabatnya.
"Kamu ini..." ucapan Aryn terpotong.
"Jangan marah dulu, aku benar-benar sedang penasaran! Dari artikel yang aku baca rasanya akan sakit saat melakukannya pertama kali, apakah itu benar?" tanya Mei.
"Benar, sakit sekali rasanya! Aku sampai menangis!" jawab Aryn.
"Sungguh? Kalau kulihat dari gagahnya suamimu, pasti kamu sering melakukannya kan?" Mei melanjutkan sesi introgasinya.
Pletak,
Aryn menyentil dahi sahabatnya itu.
"Auuwww!" pekik Mei membuat semua orang di kelas membuat Aryn langsung menyenggol siku Mei.
"Kuliah dulu yang benar, belum waktunya kamu mengetahui hal-hal semacam ini!" jawab Aryn.
"Memangnya kenapa?" sahut Mei.
"Aku takut nanti kamu jadi pengen," Aryn terkekeh.
"Justru kalau kamu tidak menjawab rasa penasaranku, aku akan semakin pengen!" sahut Mei kesal.
"Selamat pagi semua!" seru dosen mereka yang baru masuk ke kelas.
"Selamat pagi,"
Semua orang menjawab sapa dosen baru itu. Kecuali Mei, dia melongo, susah payah dia menelan ludahnya. Dosen yang masuk ke kelas mereka hari ini sangat tampan dan masih muda, sepertinya dosen baru di kampus ini. Tubuhnya tegap dan berotot, sedikit rambut halus di pipinya menambah ketampanan dosen baru mereka. Pakaian yang digunakan pun sangat styles.
"Perkenalkan saya Zain, dosen baru di mata kuliah ini, mohon kerjasamanya. Baiklah sekarang saya akan menampilkan power point yang berisi topik-topik yang akan kita pelajari!" seru Zain dengan suara yang maskulin.
Mei menatap Zain tanpa berkedip. Bahkan ia sedang membayangkan dosen tampan itu datang menghampirinya dan menggandeng tangannya. Aryn terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu. Ia mencoba memanggil Mei tapi Mei tidak mendengarkannya. Tidak tahan melihat Mei yang senyum-senyum sendiri, Aryn menepuk bahu Mei dengan lumayan keras. Diluar ekspektasinya, Mei justru menahan tangannya di bahu Mei.
"Kamu romantis banget sih!" ucap Mei.
Semua orang menatap Mei dan Aryn termasuk Zain.
"Mei sadar! Malu tau, semua orang menatap kita!" seru Aryn.
"Untuk apa kamu malu, Zain! Mereka hanya iri saja dengan kemesraan kita!" sahut Mei.
Bhuahahahahaha....
__ADS_1
Semua orang tertawa terpingkal setelah mendengar ucapan Mei. Lantas Aryn melepas tangannya dengan paksa. Aryn menggunakan buku untuk menutupi wajahnya. Aryn merasa sangat malu. Tapi Mei justru terlihat biasa-biasa saja. Mei terlihat cengar-cengir tanpa rasa malu.
Sementara Zain, ia hanya menggelengkan kepalanya. Ia sudah biasa digilai banyak wanita terutama mahasiswi yang ia ajar.
Kelas mereka selesai di jam makan siang. Aryn tidak bisa fokus pada pelajaran karena setelah kejadian tadi Aryn dan Mei menjadi bahan pembicaraan mahasiswi lain. Begitu dosen mereka keluar, Aryn langsung menarik tangan Mei keluar kelas.
"Kita mau kemana, Aryn? Aku mau mengikuti Pak Zain dulu!" seru Mei.
"Aku malu, mereka membicarakan kita!" sahut Aryn.
"Aku yang melakukannya, kenapa kamu malu padahal aku sama sekali tidak malu! Semua orang berhak berimajinasi, aku hanya kurang beruntung karena imajinasiku terbawa ke dunia nyata!" jawab Mei.
"Okay okay! Sekarang ayo cepat!" seru Aryn yang masih menarik tangan Mei.
"Sudah kubilang, aku saja tidak malu kenapa kamu harus malu sampai buru-buru mengajakku pergi! Lagipula jemputanmu juga belum datang!" seru Mei.
"Selain malu aku juga lapar!" sahut Aryn.
"Dasar bumil!" Mei terkekeh.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju kantin. Seperti dugaan Aryn, di area kantin ada dua orang pria berbadan besar. Walaupun mereka tidak memakai seragamnya tapi Aryn tahu mereka adalah pengawalnya. Terbukti saat Aryn memasuki kantin mereka tersenyum dan menunduk kepada Aryn.
Seperti biasa mereka memesan fried chicken. Sebenarnya ada menu lain, tapi Aryn masih ingin memakan fried chicken itu. Mei hanya menurut sesuai pilihan Aryn. Karena semenjak ia membayar pesanan Aryn, Aryn sering mentraktirnya.
"Ayo lanjutankan ceritanya!" seru Mei.
"Cerita apa?" tanya Aryn.
"Rasanya melakukan itu, sekalian ceritakan malam pertamamu!" jawab Mei tanpa rasa mau.
"Dasar mesum!" seru Aryn protes.
"Rasanya memang sakit saat pertama kali melakukannya, tapi lama-kelamaan menjadi nikmat," Aryn memasang wajah nakalnya.
"Sungguh?" tanya Mei.
"Iya, tentu!" sahut Aryn.
"Kalau Dave punya teman, kenalkan aku ya?Carikan calon suami untukku!" sahut Mei.
"Dasar!" seru Aryn mencubit pipi Mei dengan gemas.
"Tapi kebanyakan pria disini suka wanita yang berisi," lanjut Aryn, kedua matanya menatap tubuh Mei yang datar.
Mereka asyik bercanda sampai tidak memperhatikan sekitarnya. Kedua penjaga yang tadi sedang berjaga, sudah tidak ada di tempatnya. Seorang wanita memakai topi berjalan mendekati meja Aryn dan Mei.
"Bolehkah aku bergabung?" ucapnya membuat Aryn dan Mei menoleh serempak.
"Silahkan," jawab Mei dengan ramah.
Perempuan itu duduk di sebelah Mei, berhadapan dengan Aryn. Aryn terdiam seribu bahasa. Wajahnya menjadi pucat seketika, sendok yang ia pegang sampai terjatuh di lantai. Menimbulkan suara yang cukup keras untuk menyita perhatian pengunjung kantin. Perempuan itu dengan sukarela menunduk untuk mengambilkan sendok Aryn. Ia mengelap sendok itu dengan tisu basah dari dalam tasnya.
Aryn menerima sendok itu tanoa berucap apapun. Ia melirik ke arah pengawalnya tadi berdiri. Ia semakin gelisah karena pengawalnya tidak ada di sana.
"Kamu mahasiswi baru ya?" tanya Mei memecah keheningan di meja mereka.
"Iya, baru masuk hari ini!" jawabnya.
"Aku Mei, siapa namamu?" seru Mei.
"Namaku Ara," jawab perempuan itu.
"Kenapa temanmu ini hanya diam saja?" lanjut Ara.
Mei tersenyum tipis, kakinya menyenggol kaki Aryn. Kedua matanya memberikan kode.
"Maaf aku harus segera pulang," sahut Aryn.
Mei menatap Aryn dengan penuh kebingungan. Apa yang terjadi dengan Aryn? Aryn yang ceria tiba-tiba berubah menjadi pendiam dan berwajah pucat, seperti baru melihat hantu.
"Emangnya sudah datang jemputanmu?" tanya Mei.
"Sudah, kok!" jawab Aryn dengan senyum yang dipaksakan.
Aryn berbohong, sejak tadi Frans belum mengirim pesan. Ia sengaja ingin segera pergi dari kantin. Kehadiran Ara membuatnya merasa gelisah. Pesan yang dikirmkan waktu itu ternyata bukan isapan jempol belaka. Buktinya perempuan itu datang menemuinya lagi. Parahnya Ara bersikap seolah tidak terjadi apapun di masa lalu. Dan Ara adalah mahasiswi baru di kampusnya. Apa yang sebenarnya dia rencanakan? Aryn berulang kali mengelus perutnya, ia merasa cemas. Dave tidak bisa datang menjemputnya. Pagi tadi Dave sudah mengatakannya tadi, karena Dave akan mengecek kantor dan hotelnya. Ia meninggalkan kantin, kedua matanya waspada melihat keadaan sekitar. Kecemasan Aryn semakin menjadi saat pengawal yang biasanya berjaga tidak ada.
"Ada apa ini? Kemana perginya pengawalku?" batin Aryn.
Mobil Frans belum terlihat di depan gerbang. Aryn sampai mengecek di seluruh area parkir tapi tetap ia tidak menemukan mobil Frans, artinya Frans belum datang. Aryn mengirimkan pesan singkat untuk Dave. Ia juga mencoba menelpon Dave dan Frans. Ponsel Dave tidak aktif, mungkin sedang bertemu dengan klien. Sementara Frans, terdengar nada sambung saat Aryn menelponnya. Tapi tidak diangkat.
"Tenang Aryn, semuanya akan baik-baik saja!" Aryn mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Aryn memutuskan untuk menelpon Mei. Beruntung Mei langsung datang menghampirinya. Dan sesuai doanya, Ara sudah pergi. Mei mengajaknya untuk duduk di area parkir.
"Aku antar pulang saja ya?" ucap Mei.
__ADS_1
"Kita tunggu dulu, aku takut nanti mereka malah mencariku," jawab Aryn.
"Kamu sudah menelponnya?" tanya Mei.
"Suamiku sepertinya sedang rapat, kalau sopirku sudah aku hubungi tapi tidak diangkat. Biasanya ia selalu stand by di depan. Hari ini aneh, pengawalku juga mendadak hilang semua." jawab Aryn.
"Pengawal? Ada orang suruhan suamimu yang berjaga di sini?" tanya Mei.
"Iya, tapi tiba-tiba mereka menghilang. Aku takut ada yang berniat jahat," jawab Aryn yang mengelus perutnya.
"Aku antar pulang saja," sahut Mei.
Baru saja Aryn akan menjawab tawaran Mei. Tapi seorang pria bertubuh sebesar gorila menghampiri mereka. Pria itu memakai seragam layaknya pengawal yang bertugas menjaganya. Tapi Aryn merasa tidak pernah melihatnya.
"Maaf nona, sudah membuat nona menunggu. Frans sedang menjemput Tuan Dave jadi saya yang bertugas mengantar nona pulang!" ucapnya.
"Saya menunggu saja, lagipula saya sudah menelpon Frans. Dia pasti sebentar lagi datang." jawab Aryn.
"Tapi Tuan Dave sendiri yang memerintahkan agar nona diantar pulang oleh saya, apa yang akan saya katakan nanti? Mari nona pulang dengan saya," sahut pria itu.
"Kenapa kamu jadi memaksa? Kapan Dave memerintahmu? Apakah ada buktinya?" seru Aryn.
"Tadi pagi nona, setelah tuan mengantar anda!" jawab pria itu.
"Baiklah, tapi tunggu sampai Dave membalas pesanku!" sahut Aryn.
Pria itu tampak kesal. Ia langsung menggapai tangan Aryn dan sedikit menyeretnya. Mei celingukan ingin meminta bantuan. Tapi area parkir ini sangat sepi. Jarak area parkir dengan gedung juga cukup jauh. Ia tidak mau mengambil risiko dengan berlari ke gedung fakultas untuk mencari bantuan. Mei menatap pria itu dengan amarah lalu ia tersenyum licik.
Bug,
"Ayo Aryn, mobilku ada di sana!" seru Mei yang langsung membawa Aryn menuju mobilnya.
Pria itu mengerang kesakitan dan berguling-guling di tanah. Ada beberapa pria berbaju serba hitam yang muncul dari persembunyiannya. Lumayan banyak, ada empat orang. Mei langsung menancap gas meninggalkan area parkir menuju mansion.
"Siapa mereka?" seru Mei.
"Aku tidak tahu, yang pasti mereka mempunyai niat jahat! Musuh suamiku ada di mana-mana, mungkin mereka salah satunya!" jawab Aryn dengan napas ngos-ngosan.
"Karena itulah suamimu membayar begitu banyak orang untuk menjagamu, tapi kemana mereka? Sepertinya musuh suamimu ini bukan sembarang musuh! Pasti mereka sudah merencanakan semuanya!" sahut Mei.
Mei merasa gelisah. Sebagai sahabat ia mempunyai tanggungjawab untuk melindungi dan membantu sahabatnya saat sedang dalam kesulitan. Mei menyalakan GPS di mobilnya. Ia sempat merampas ponsel Aryn dan mengirimkan lokasi mereka terkini pada suami Aryn dan sopirnya. Ia juga mengaktifkan GPS ponsel Aryn. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan mereka akan segera ditemukan.
Dari kaca spion Mei dapat melihat sebuah mobil putih mengikuti mobilnya.
"Pegangan yang erat! Dan tutup matamu!" seru Mei. Aryn menuruti perintahnya.
Mei menambah kecepatan mobilnya. Ia semakin cemas karena jalanan sedang sepi sekarang. Dan jalanan yang mereka lalui semakin masuk ke daerah yang sepi.
"Orang kaya kok rumahnya di pelosok gini sih," batin Mei.
Ciiittttt,
Sebisa mungkin Mei menginjak pedal remnya. Ada sebuah mobil yang tiba-tiba menghadang jalan.
"Maaf," lirih Mei yang memeriksa kondisi Aryn setelah ia mengerem mendadak lagi.
Para pria berbadan besar keluar dari mobil yang menghadang mobil mereka. Dari mobil yang di belakang mereka juga keluar banyak pria berbadan tinggi besar. Jumlah mereka Ada 6 orang. Aryn memeluk Mei dengan erat. Mei memastikan pintu semua mobilnya terkunci.
"Tenang, Aryn!" lirihnya saat memeluk Aryn.
"Keluar kalian!" seru salah satu pria itu.
Mei mengambil ponsel Aryn dari tasnya. Ada panggilan tak terjawab dari Frans sopir Aryn. Mei langsung mengirimkan pesan kepada Frans.
"Keluar atau akan aku pecahan kaca ini!" seru salah satu pria yang menunjukkan palu khusus untuk memecah kaca yang ia bawa.
"Bagaimana ini?" ucap Aryn.
"Kita harus menunggu, bantuan akan segera datang!" jawab Mei.
Bruk,
Pria itu memukulkan palunya pada kaca mobil Mei. Walaupun dia tidak memukulnya dengan keras tapi kaca mobil bagian samping Mei sudah retak parah. Dan sekarang pria itu bersiap memukul kaca itu lagi.
Pyar,
Kaca berserakan dan sedikit menggores lengan Mei. Aryn menjerit ketakutan saat melihat darah mengalir di lengan Mei. Mei dengan cekatan mengambil sapu tangan dari dalam tas dan membalut lukanya. Pria itu berhasil membuka pintu mobil dan menyeret mereka berdua dari dalam mobil.
"Lepaskan!" Mei memberontak.
Dari dalam mobil yang menghadang mobil Mei tadi, keluar seorang perempuan dengan penutup kepala dan masker. Perempuan itu berjalan mendekat.
..................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian! Love you all!
__ADS_1