
Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅
..........................
Semua orang sudah bersiap di kursi masing-masing untuk makan malam, hanya Reza dan Silvi yang belum turun. Tidak ada percakapan diantara mereka. Ken mengotak-atik iPad yang dengan serius, Zack sibuk dengan ponselnya. Samuel sibuk mengelus perut buncit Angel, dan Angel bergelayutan di lengan Samuel. Ia benar-benar tidak bisa jauh dari Samuel. Mungkin saja calon anak mereka berusaha mendekatkan mama dan papanya.
"Wah, kedua calon mempelai ini terlihat bahagia sekali!" seru Reza yang baru bergabung ke meja makan.
"Diam lo! Cepat duduk, kalian ini kalau mau berduaan ingat waktu! Kami disini menahan lapar karena menunggu kalian!" balas Samuel.
Kedua pipi Silvi merah seperti kepiting rebus sekarang. Biasanya Babang Samuel tidak pernah meledeknya seperti ini, tapi malam ini diledek hadapan semua orang. Sikap Reza juga sedikit berubah, atau mungkin mereka sengaja melakukannya.
Bug,
"Aduh!" pekik Silvi.
Karena sibuk dengan pikirannya, ia menabrak Reza yang berhenti dihadapannya. Ia berpikir Reza berhenti di tengah jalan.
"Berjalanlah dengan benar, kak! Kalau berhenti jangan ditengah jalan, aku mau lewat dan duduk dikursiku!" seru Silvi.
Reza membalikkan badannya, ia menatap Silvi heran. Semua orang juga menatapnya, mereka menatap Silvi dengan tatapan terkejut dan bingung. Zack bahkan sudah tidak bisa menahan tawanya.
"Aku berhenti dibelakang kursiku, aku sama sekali tidak menghalangi jalanmu, Silvi!" ucap Reza sambil memiringkan kepalanya.
"Hah?" jawab Silvi, ia mengamati sekeliling Reza. Ternyata benar Reza berhenti tepat di dekat kursinya.
"Ternyata benar apa kata orang, cinta itu buta! Sampai nabrak begitu," seru Zack terkekeh.
"Benarkah itu Silvi?" tanya Reza dengan mengedipkan matanya.
Bug,
"Aduh!" pekik Silvi.
Lagi-lagi Silvi menabrak. Kali ini kursinya sendiri yang ia tabrak.
Duh...kamu payah Silvi! Cuma digituin aja sampai nabrak-nabrak segala! Sakitnya nggak seberapa tapi malunya yang tahan lama nih!
"Cinta itu buta, valid no debat!" seru Samuel tertawa terpingkal.
"Silvi tidak buta, Babang Samuel! Aku hanya sedang memikirkan sesuatu jadi tidak fokus," seru Silvi mengelak.
"Babang kan bilangnya cinta itu buta, bukan Silvi yang buta! Oh, atau jangan-jangan kamu memang menyukai Reza? Dan yang mengganggu pikiranmu sampai menabrak itu adalah ledekan kedipan dari mata buaya milik Reza? Astaga..." ucap Samuel sambari menatap Reza dan Silvi bergantian.
Silvi menoyor kepalanya sendiri. Bukannya bebas dari ledekan, dia justru membuka kebenarannya.
Oh My God! Kenapa aku malah membuka kebenarannya! Sekarang Kak Reza pasti tahu kalau aku suka dan mencintai dia! Huhuhu... rasanya aku pengen salto!
__ADS_1
"Mata buaya? Rese lo, Sam! Kalau gua buaya lo apa? Komodo?" sahut Reza yang protes kepada Samuel.
"Komodo itu hewan apa?" tanya Samuel.
"Komodo adalah spesies reptil purba endemik yang hidup sekitar 40-25 juta tahun lalu. Hanya ada di Pulau Komodo, Indonesia!" sahut Ken.
"Brengs*k lo Za! Pria tampan seperti ini lo samakan hewan tua gitu!" seru Samuel, ia melemparkan tisu yang ia remas tadi ke arah Reza.
Karena mereka sedang berdebat, Silvi memanfaatkan kesempatan emas itu untuk segera duduk dikursinya sebelum mereka mulai meledeknya lagi.
"Walaupun tua, jangan dianggap remeh! Komodo bisa mengendus mangsanya dari jarak 9 kilometer!" sahut Ken.
"Persis kayak lo! Cuma bedanya itu kalau lo bukan memgendus mangsa, tapi mengendus aroma wanita!" celetuk Zack membuat semua orang tertawa.
"Shit!" umpat Samuel.
"By the way, kok lo bisa kenal komodo sedalam itu?" tanya Reza spontan.
"Bisa lah, Ken pakai international dating app ! Terus janjian ketemuan deh!" celetuk Samuel yang langsung dibalas lemparan tisu oleh Ken.
"Gua pernah ke sana! Makanya kalau pergi jangan ke hotel atau club terus, sekali-kali traveling sambil kerja dan belajar kayak gua!" seru Ken.
"Masalahnya lo itu pergi jauh-jauh sendiri kan? Karena lo jomblo jadi kenalan pun hanya dengan komodo! Beda sama gua, gua pergi ke hotel karena cewek gua nunggu disana!" jawab Samuel.
"Gua nggak tuh? Walaupun wanita gua banyak, tapi gua sering traveling! Travelingnya sendirian!" sahut Zack.
Keempat sahabat itu selalu saja saling meledek. Dimanapun mereka berada, pasti selalu membuat kehebohan dengan candaan dan ledekan mereka. Sementara Angel dan Silvi memilih untuk diam dan menikmati makan malam mereka dengan tenang.
"Banyak cabang!" imbuh Samuel membuat Zack hampir tersedak.
"Wait, gua punya berita yang dijamin bakal buat kalian tidak bisa tidur!" seru Ken.
"Apa?" seru Samuel dan Reza bersamaan.
"Zack pernah memacari seorang wanita polos, dan selama mereka pacaran wanita itu tidak pernah membiarkan Zack berbuat layaknya pasangan kekasih! Wanitanya lebih macho dari lo, Za!" ucap Ken sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Seriously? Sejak kapan lo jadi kentang gini Zack?" seru Reza terkejut.
Setahunya Zack adalah seorang casanova, hanya menjadikan wanita sebagai mainannya di ranjang saja. Tapi, bagaimana bisa seorang Zack memasukkan seorang wanita polos dalam daftar koleksinya?
"Lebih parahnya wanita itu mengumpulkan semua wanita Zack dan mengajak mereka untuk berdemo di depan apartemen Zack, mereka menuntut untuk putus! So, dia jomblo sekarang!" seru Ken terkekeh.
"Jomblo? Gua jadi penasaran siapa wanita yang berani membuat raja playboy ini jomblo hahaha!" seru Samuel yang tidak bisa menahan tawanya.
"Naina, namanya Naina bukan? Karyawan di kantor gua! Lumayan juga tuh cewek," sahut Angel spontan.
"Lumayan apanya? Gara-gara dia, gua pernah dipermalukan di dalam toilet wanita sampai diserbu dengan gayung juga! Dua kali gua ketemu dia, hidup gua selalu dalam masalah!" seru Ken.
"Cewek bar-bar begini yang menantang untuk didekati!" seru Samuel.
__ADS_1
"Bener, Sam! Selain itu, cewek ini pekerja keras dan mandiri! Berbeda dengan kebanyakan wanita yang manja, ke salon aja minta ditemenein! Kalau Naina, ganti ban mobil pun bisa sendiri!" sahut Zack membuat Ken meliriknya tajam.
Ken merasa risih mendengar Zack memuji-muji Naina di hadapan semua orang. Padahal Zack sudah tega mempermainkan Naina.
"Idaman," lirih Samuel.
Plak,
Angel mendaratkan sebuah tamparan di pipi kanan Samuel dengan cukup keras.
"Babang Samuel sadar diri dong! Sudah beranak satu masih aja ganjen! Ditampar mama muda kan jadinya," celetuk Silvi.
Disaat semua orang masih bercanda ria dan saling mengejek. Reza diam-diam mengawasi pelayan baru yang berdiri agak jauh dari barisan pelayan di dekat dapur. Pelayan baru itu terlihat menyendiri dan jauh dengan pelayan lain. Sampai sekarang Reza masih menyimpan sendiri rahasia yang ia ketahui dua hari lalu. Ia melihat wanita itu masuk ke dalam ruang keamanan saat Joe sedang patroli. Selain itu, Reza melihat sebuah benda hitam kecil mirip dengan penyadap suara di saku pelayan itu masukkan ke dalam saku seragamnya. Setelah Reza mengikutinya secara diam-diam, pelayan itu menyelinap masuk ke dalam ruang kerja, kamar Dave, dan kamarnya. Setelah ia menggeledah kamarnya, ia menemukan sebuah alat penyadap dipasang di samping tempat tidurnya. Namun ia tidak bisa masuk ke dalam kamar Dave dan ruang kerjanya, karena Dave sudah mengganti kode keamanannya. Dan Reza juga mengecek monitor ruang keamanan. Ia mengecek semua rekaman CCTV, pelayan wanita itu sepertinya ahli mengoperasikan komputer. Dia telah meretas semua CCTV dan sistem keamanan untuk melancarkan aksinya.
Dan sekarang, Reza melihat pelayan itu menjauh dari pelayan lain dan mengotak-atik ponselnya.
"Dugaanku sepertinya benar, ada yang tidak beres dengan pelayan baru itu! Aku harus segera mengambil tindakan!" gumam Reza saat melihat pelayan itu kini sednag menerima telepon secara diam-diam di balik tembok pembatas.
"Reza..." seru Samuel memanggil Reza.
Samuel tersenyum smirk saat mengetahui Reza sedang menatap pelayan baru. Ia memanfaatkan situasi ini untuk memojokkan Silvi dan Reza.
"Woy, Reza!" seru Samuel memanggil Reza lagi.
Silvi melirik Reza dengan tajam, betapa terkejutnya dia saat tahu ternyata Reza sedang melamun sambil menatap pelayan baru.
"Ehem," Silvi mengetukkan sendoknya pada piring.
"Eh..iya?" jawab Reza yang terkejut.
"Kakak sedang melihat apa? Babang Samuel manggil Kakak dari tadi!" seru Silvi.
"Siapa yang memanggil? Babang tidak memanggilnya, Silvi! Jangan membawa nama babang untuk menjadi alasanmu membuyarkan pandangan Reza pada pelayan baru itu!" seru Samuel.
"Kak Zack tadi juga dengar kan, Babang Samuel manggilin Kak Reza?" tanya Silvi pada Zack.
"Enggak, kok!" jawab Zack singkat.
"Sudahlah, Silvi! Akui saja, tidak usah malu-malu!" seru Samuel.
"Memangnya kamu akan mengakui apa Silvi? Kamu benar-benar cemburu karena aku sedang menatap pelayan itu ya? Kenapa cemburu?" tanya Reza.
Reza tersenyum manis sambil menatap wajah Silvi yang sudah sempurna merah semua. Ia semakin penasaran apakah Silvi benar-benar menyukainya seperti perkataan sahabatnya atau tidak. Tapi di lain sisi, Reza juga takut. Ia takut jika Silvi benar-benar menyukainya dan ia masih menyukai Aryn.
.......,....
Siapa sih pelayan itu? Kayaknya bukan orang sembarangan nih!
Stay tuned ya!
__ADS_1