Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
MARAH-MARAH


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


..........................


Ketika mereka kembali ke vila setelah pertemuan mereka yang tidak disengaja dengan Rio di restoran, Dave menjadi uring-uringan. Ia sangat mudah marah hanya karena hal yang sepele. Seperti sekarang misalnya, sejak tadi ia mencoba untuk menghubungkan ponselnya dengan kabel charger.


"Seharusnya kemarin aku membawa wireless charger, jadi tidak ribet seperti ini!" keluh Dave pada dirinya sendiri.


Berkali-kali ia mencoba mencolokkan kabel pada ponselnya, tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan daya masuk.


"Arrgghh... kenapa tidak bisa juga?" keluh Dave.


Dave melemparkan ponselnya ke ranjang dengan keras. Ia benar-benar sudah menyerah untuk melakukannya.


"Sayang kemarilah!" seru Dave dengan keras.


Aryn yang sejak tadi duduk santai di balkon pun masuk ke dalam kamar setelah mendengar Dave memanggilnya.


"Ada apa, sayang? Kamu jadi, mau membawaku berjalan-jalan?" seru Aryn antusias.


Aryn berpikir bahwa Dave akan memenuhi ucapannya, membawa Aryn jalan-jalan. Karena ketika mereka sarapan di restoran tadi di hadapan Rio, Dave sempat berkata jika akan mengajaknya berjalan-jalan.


"Kita bicarakan itu nanti saja, sekarang ini aku butuh wireless charger!" jawab Dave ketus.


"Itu kan ada," sahut Aryn menunjuk kabel charger di nakas.


"Kabel charger itu rusak, sayang! Sudah berkali-kali aku mencobanya!" jawab Dave kesal.


"Dicoba lagi," seru Aryn.


"Tidak bisa, sudah berkali-kali aku mencobanya! Kenapa kamu masih saja menyuruhku untuk mencobanya? Kamu coba saja sendiri!" jawab Dave ketus.


Aryn menatap Dave dengan heran, tidak biasanya Dave uring-uringan seperti itu. Tingkahnya kini justru mirip dengan wanita yang sedang datang bulan. Dave tengkurap di kasur, ia menutupi kepalanya dengan bantal.


"Sampai tahun depan pun nggak akan bisa kalau kayak gini, lihat nih!" ucap Aryn berusaha menahan rasa kesalnya.


Pantas saja ponsel Dave tidak juga terisi dayanya, ternyata belum dicolokin steaker kabel chargernya.


"Aku kira kabel itu sudah siap digunakan," jawab Dave lirih.


"Sekarang masalah kabel chargernya sudah selesai. Ayo kita jalan-jalan, Dave!" ajak Aryn dengan tatapan puppy eyesnya.


"Iya, sayang!" jawab Dave dengan ekspresi yang masih datar.

__ADS_1


"Ke pusat perbelanjaan yang diceritakan Rio tadi ya, sayang? Aku ingin sekali pergi di sana, apalagi Rio bilang tempatnya itu aesthetic!" seru Aryn.


Ekspresi wajah Dave berubah menjadi lebih masam seketika setelah mendengar kata 'Rio' lagi. Setelah mereka bertemu dengan Rio di restoran tadi, Aryn jadi banyak menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan Rio. Mulai dari kebiasaannya dulu dengan Rio saat masih sering bertemu. Aryn juga menceritakan permainan-permainan yang sering dia dan Rio lakukan. Dan sekarang Aryn mengajaknya untuk mengunjungi pusat perbelanjaan yang diceritakan Rio, Dave merasa seharusnya ia kemarin pergi ke negara lain agar tidak bertemu Rio.


"Ada banyak tempat yang aesthetic di negara ini, kenapa harus ke sana?" tanya Dave kesal.


"Aku penasaran, Dave! Rio bilang barang-barang yang dijual di sana juga bagus-bagus dan murah! Tadi Rio juga memperlihatkan fotonya di pusat perbelanjaan itu, aesthetic banget sayang!" jawab Aryn merengek


"Stop, jangan menyebut nama orang itu lagi! Telingaku lelah mendengarnya! Aku bahkan masih kuat untuk membelikanmu barang yang lebih bagus dan lebih mahal, kita pergi ke tempat lain!" jawab Dave dengan tegas.


"Please," Aryn menunjukkan ekspresi terimutnya.


"No, sayang! Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu yang satu ini. Jika kamu masih tetap ingin pergi ke tempat yang diceritakan Rio itu, lebih baik kita tidak usah pergi kemana-mana saja!" jawab Dave dengan tegas.


Dave berjalan cepat menuju kamar mandi meninggalkan Aryn yang terlihat kesal dan pasrah. Ia menutup pintu kamar mandi dengan keras. Sejak pagi ia merasa sangat cemburu dengan kedekatan Aryn dan Rio di masa lalu. Walaupun hanya hal itu terjadi di masa lalu, tapi jika setelah mereka bertemu lagi bisa jadi pria itu memanfaatkan kenangan mereka di masa lalu untuk merebut Aryn darinya. Ia membasahi tubuhnya dengan guyuran air dingin dari shower. Selama di kamar mandi Dave selalu memikirkan kedekatan Rio dan Aryn.


"Dave, please!" ucap Aryn saat Dave baru saja membuka pintu kamar mandi.


"Berhentilah memohon, Aryn! Kita tidak akan kemanapun," sahut Dave kesal.


"Sebentar saja, lewat depan gedungnya saja tidak apa-apa!" Aryn masih bersikeras untuk pergi.


Lagi-lagi Dave menggelengkan kepalanya. Ia tetap tidak setuju. Aryn melangkahkan kakinya menuju ranjang, ia mengambil ponselnya. Ia melihat-lihat foto yang ia ambil sejak kemarin. Ia sudah kehabisan cara untuk merayu Dave.


"Dimana kaos kakiku?" tanya Dave yang mencari keberadaan kaos kakinya sampai di kolong ranjang.


"Iya, sayang! Aku tahu itu, tapi setelah mandi kau sudah mengambilnya. Bahkan aku sudah memakainya sebelah, tapi sebelahnya lagi mana?" tanya Dave kebingungan.


"Mana aku tahu, aku tidak melihatnya!" jawab Aryn ketus, ia sama sekali tidak mengalihkan wajahnya dari ponsel.


"Jika aku sedang berbicara denganmu, tatap mataku!" seru Dave kesal.


Aryn meletakkan ponselnya, lalu ia memandangi Dave.


"Mana kaos kakiku yang sebelah lagi?" tanya Dave lagi.


"Aku tidak tahu, Dave! Kamu sudah memakai sebelah, seharusnya sebelahnya lagi ada di kamu!" jawab Aryn.


"Tapi tidak ada!" seru Dave.


Dave menyusuri semua sudut kamarnya, mulai dari kolong meja sampai di kamar mandi. Tapi nihil, ia masih belum menemukan kaos kakinya. Aryn juga ikut mencarinya. Ia bahkan sampai mengamati laut yang hanya dibatasi kaca dengan kamarnya.


"Mereka tidak mungkin mencuri kaos kakiku Aryn! So, stop mencurigai mereka!" seru Dave membuat Aryn kesal, padahal ia hanya ingin menyapa ikan-ikan itu.


"Benar, lagipula untuk apa mereka mencuri kaos kaki berbau trasi!" seru Aryn terkekeh.

__ADS_1


"Trasi? Apa itu trasi?" tanya Dave.


"Mau tau banget atau mau tau aja?" tanya Aryn.


"Mau tau banget lah!" jawab Dave.


"Okay, jadi trasi itu benda yang kamu pakai di bawah krah kemejamu saat berangkat ke kantor!" jawab Aryn.


"Dasi?" tanya Dave.


"Benar!!!" jawab Aryn terkekeh.


"Kamu bohong, kan? Itu bukan arti dari trasi, bukan?" ucap Dave dengan kesal.


"Iya, maaf! Jadi trasi itu artinya berbau harum!" jawab Aryn.


Aryn tertawa terpingkal sambil menunjukkan kedua jempolnya. Ia memang sedang merasa kesal kepada suaminya. Tapi ketika ia sedang bersama suaminya, rasanya semua hal menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Seperti saat ini, Dave sama sekali tidak tahu jika ia sedang mengerjainya.


"Kaos kakiku memang selalu berbau harum! Sekarang cepat bantu aku menemukan kaos kakiku yang sebelah!" seru Dave yang mulai fokus lagi mencari kaos kakinya.


"Tunggu, Dave!" seru Aryn saat Dave berdiri membelakanginya.


"Kamu bener tidak ingat sama sekali dimana kamu terakhir kali menaruhnya?"tanya Aryn menahan tawanya.


"Tidak, aku tidak ingat!" jawab Dave.


"Berdirilah di depan cemin itu, dengan cara membelakangi cerminnya!" ucap Aryn.


"Jangan membuatku semakin kesal, Aryn!" seru Dave


"Lakukan saja dulu!" ucap Aryn dengan singkat.


Dave lalu melakukan instruksi yang diberikan Aryn, ia berdiri membelakangi cermin.


"Lihat ke belakang!" perintah Aryn.


"Oh My God! Ternyata dia ada bersamaku sejak tadi!" seru Dave tidak percaya.


Bagaimana tidak, ternyata kaos kakinya ada di saku belakang celana yang ia gunakan.


"Aku tahu kamu sangat menyayangi kaos kaki itu karena baunya sangat harum seperti trasi, tapi apakah kamu harus membawanya bersamamu setiap saat?" Aryn terkekeh.


.........


Dave marah-marah terus ih!!

__ADS_1


Nantikan episode selanjutnya!


__ADS_2