Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
KEMARAHAN DAVE


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


"Wow, tidak kusangka kamu berhasil mengalahkan Silvi!" Reza memuji kemenangan Sonya.


Walaupun skor mereka tidak beda jauh, tapi Reza merasa Sonya memang pandai dalam memainkan game ini. Apalagi musuhnya Silvi.


"Dia hanya beruntung saja, aku sedang tidak fokus tadi!" seru Silvi.


Sonya memutar kedua bola matanya dengan malas. Kesabarannya benar-benar diuji saat berhadapan dengan Silvi.


"Katakan apa permintaanmu!" seru Silvi cuek.


"Tidak usah nona," jawab Sonya.


"Aku selalu melakukan apa yang aku katakan, aku bukan orang yang suka ingkar janji! Katakan saja!" sahut Silvi.


"Benar itu, Sonya! Katakan saja, sebelum Silvi berubah pikiran!" sahut Reza.


Sonya terdiam sejenak, ada senyum smrik di wajahnya. Ia mengangguk.


"Baiklah jika nona memaksa," seru Sonya.


"Tidak usah basa-basi, cepat katakan!" seloroh Silvi.


"Baiklah, saya ingin Nona Silvi membuatkan popcorn untuk camilan saya saat nonton film romantis dengan Reza," ucap Sonya dengan senyum smirk di bibirnya.


"APA!!" seru Silvi dengan kedua bola matanya membelalak.


"Ingat Silvi, kamu sudah berjanji!" seru Reza terkekeh.


Reza melihat Sonya yang mengedipkan sebelah matanya. Sepertinya Sonya sengaja mengerjai Silvi. Ia ikuti saja alur permainannya. Tiba-tiba Silvi menarik tangan Reza.


"Permintaanmu aku tolak! Ayo kak kita nonton film di lantai atas!" seru Silvi.


Sonya tidak tinggal diam, ia menarik tangan Reza yang satunya.


"Apa yang kalian lakukan?" seru Dave.


Dave dan Aryn turun dari kamar mereka untuk makan malam. Tapi baru saja keluar dari lift mereka berdua dikejutkan oleh apa yang dilakukan oleh Silvi, Sonya, dan Reza di ruang tengah.


Silvi, Sonya, dan Reza refleks menoleh ke arah Dave. Dave datang tepat di saat Sonya dan Silvi tengah menarik-narik tangan Reza seperti anak kecil yang sedang berebut mainan.


"Lo datang di saat yang tepat, man! Pusing gua ditarik ke kanan dan kiri!" seru Reza.


"Kalian berdua kenapa sih sampai berebutan seperti itu? Seperti tidak ada pria lain saja!" seru Aryn.


"Asisten kakak ini nih yang mulai, masak dia minta menonton film romantis bersama Kak Reza! Terus aku harus membuatkan popcorn untuknya!" seru Silvi.


"Kesepakatannya jika saya yang menang kan saya bisa meminta apapun dari nona!" sahut Sonya.


"Siapa bilang kau boleh minta apapun?" protes Silvi.


"Nona Silvi yang bilang," jawab Sonya.


"Benarkah?" sahut Silvi.


Silvi menepuk jidatnya sendiri. Kenapa ia lupa mengatakan jika Sonya boleh meminta apapun kecuali untuk bersama Kak Reza. Ia hanya mengatakan permintaannya untuk Sonya jika ia menang. Ia tidak memikirkan kemungkinan jika Sonya yang menang.


"Arrgghh, pokoknya tidak boleh! Kak Reza itu milikku! Hanya milikku!" seru Silvi.


Semua orang menatap tajam Silvi sekarang, termasuk Dave. Silvi langsung membungkam mulutnya sendiri. Ada seulas senyum di bibir Reza dan Sonya. Reza merasa sangat senang karena mendengar ucapan Silvi. Sementara Sonya, ia merasa senang karena rencananya berhasil. Ia sudah tidak tahan terjebak di antara hubungan mereka. Walaupun berhasil Sonya tidak menyangka jika akan separah ini hasilnya. Tapi cepat atau lambat pasangan ini akan menyadari perasaannya, bahkan orang lain juga akan tahu. Jadi tidak ada salahnya ia membongkar perasaan keduanya dihadapan Dave dan Aryn sekarang. Sudah terlanjur juga.

__ADS_1


"Tamatlah riwayatmu, Silvi! Mulut ini kenapa tidak bisa direm sih!" gumamnya.


"Maksud kamu apa?" seru Dave menggelegar membuat bulu kuduk Silvi meremang.


"Ah tidak kak! Maksudku Kak Reza itu sudah aku anggap seperti kakakku," sahut Silvi takut-takut.


"Kamu pikir kakakmu ini bodoh? Bahkan orang bodohpun juga tahu apa maksud perkataanmu!" teriak Dave.


"Emm..Silvi..." lirih Silvi, kedua tangannya memilin ujung bajunya sendiri.


"Apakah kamu sadar apa yang kamu ucapkan tadi ha? Kamu tahu siapa dia?" Dave menunjuk Reza.


"Silvi sadar kak, aku juga sudah lama sadar tentang perasaan ini! Cepat atau lambat perasaan yang aku sembunyikan ini akan terungkap juga, dan sepertinya hari inilah waktunya!" jawab Silvi lirih.


Aryn menutup mulutnya, ia sangat terkejut. Ia berpikir bahwa selama ini Silvi dekat dengan Reza hanya karena Reza sudah seperti kakak baginya. Tapi hari ini Silvi yang mengatakannya sendiri tentang perasaannya.


"Kamu ingat ucapanku ini, kamu itu masih kecil tidak pantas membicarakan cinta! kalaupun kamu sudah dewasa, aku juga tetap tidak sudi! Kamu hanya tahu sebagian kecil dari pria ini, kamu belum tahu sisi terburuknya!" seru Dave penuh dengan amarah.


Aryn memeluk suaminya, hanya dengan itu ia mencoba untuk menenangkannya.


"Tenang, sayang! Bicarakan dengan kepala dingin," Aryn mengelus dada Dave dengan lembut.


"Adikku ini sudah keterlaluan," jawab Dave lirih.


"Aku tahu sayang, tapi masalah tidak akan selesai jika semuanya emosi!" lirih Aryn.


Dave mengecup pucuk kepala Aryn, lalu ia menyuruh Sonya untuk membawa Aryn ke kamar. Aryn hanya pasrah mengikuti keinginan Dave. Kini hanya ada Dave, Reza, dan Silvi di ruang tengah. Bahkan semua pengawal dan pelayan yang ada di sana untuk menyingkir. Beruntung Uti masih sibuk di kamarnya merajut sweeter untuk calon cucunya.


Hening,


Dave duduk di sofa dengan kaki yang disilangkan. Di hadapannya Reza dan Silvi berdiri dengan kepala yang terus menunduk.


"Kau yang mengatakan atau aku yang mengatakannya pada Silvi?" seru Dave pada Reza.


"Baiklah, aku rasa kamu tidak punya kata-kata yang pas untuk mengatakannya pada Silvi! Biar aku saja," sahut Dave.


Dave berdiri dari sofanya, ia berjalan mendekati adiknya. Sekarang ia berdiri tepat di hadapan adiknya sekarang.


"Apakah kamu tahu pria yang ada di sampingmu ini tidak akan pernah membalas perasaanmu?" lirih Dave.


"Itu hanya masa lalu Dave!" sahut Reza.


"Diam kau!" bentak Dave membuat kedua tangan Reza mengepal.


"Iya, Silvi tahu kak! Kak Reza tidak akan pernah membalas cintaku karena dia mencintai Kak Aryn!" seru Silvi. Suaranya terdengar bergetar karena menahan tangis.


"Nah itu kamu tahu! Kamu juga baru melihat sebagian kebenaran dari pria brengsek ini! Kamu hanya melihat sisi baiknya saat sedang bersamamu. Aku lebih mengenalnya. Pria ini penjahat wanita, tanyakan padanya berapa banyak hati wanita yang sudah ia patahkan! Pria ini juga yang diam-diam menyukai istri kakak dan beberapa kali berusaha merebutbya dariku! Aku tidak mungkin membiarkanmu terjebak juga. Aku tidak sudi adikku mencintai pria brengsek macam dia! Lagipula usiamu masih muda, perjalananmu masih panjang! Masih banyak pria baik di luar sana yang akan memperebutkan cintamu!" seru Dave.


Reza mengepalkan kedua tangannya, ia merasa sangat marah. Dave berkata seolah dirinya dulu juga tidak sebrengsek dia.


"Aku tahu itu semua kak, aku tahu..." Silvi menangis.


"Kamu tahu apa? Pikirkan dulu sekolahmu! Tahu apa kamu tentang cinta?" teriak Dave.


Dave kini berjalan mendekati Reza meninggalkan Silvi yang menangis sesenggukan.


"Apa yang kau rencanakan?" lirih Dave.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?" sahut Reza.


"Shit! Jangan pura-pura tidak mengerti! Apa semua ini belum cukup? Awalnya kau berusaha merebut Aryn dariku, kau diam-diam masih menyimpan perasaan untuknya bukan? Lalu sekarang? Kau akan mempermainkan adikku? Kau ingin menghancurkan keluargaku? Hah? Jangan bermain-main dengan keluargaku! Walaupun kau ini sahabatku, aku tidak akan segan-segan mengambil jantungmu!" seru Dave.


"Aku..." belum selesai Reza menjawab ucapan Dave. Dave menjetikkan jarinya, sesaat kemudian datang empat orang pengawal yang berbadan gorila.

__ADS_1


Dua orang pengawal itu memegangi kedua tangan Reza. Reza memang pandai bertarung, tapi tubuhnya kalah besar dengan kedua pengawal itu. Ia tidak bisa bergerak.


"Apa yang kakak lakukan? Kak Reza tidak bersalah, akulah yang mencintainya! Ini bukan kesalahannya!" teriak Silvi histeris melihat Reza dicekal oleh pengawal Dave.


Dave menampar pipi kanan Reza dengan sangat keras. Reza melenguh kesakitan diikuti suara teriakan Silvi. Silvi langsung berlari, ia berdiri tepat di depan Reza, kedua tangannya ia rentangkan lebar-lebar.


"Kamu mau menjadi tamengnya sama seperti dulu? Pria ini bahkan tidak mempedulikanmu Silvi!" teriak Dave.


"Minggilah Silvi, dia sedang marah! Dia bisa melakukan apapun saat sedang marah. Aku tidak ingin kamu terluka lagi karena melindungiku!" ucap Reza.


"Begitu juga denganku, kak! Aku tidak ingin melihatmu terluka!" sahut Silvi. Ucapan Silvi masuk begitu dalam di hati Reza.


"Minggir, Silvi!" seru Dave. Silvi hanya menggeleng.


Dave memerintahkan pengawalnya yang lain untuk membawa Silvi menyingkir. Silvi bersusah payah untuk memberontak. Tapi itu hanya sia-sia dan membuang tenaga.


"Sekarang juga aku memecatmu dari perusahaanku, dan pergilah sejauh mungkin dari kehidupan Silvi! Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi!" ucap Dave.


"Baiklah!" jawab Reza.


"Kau tidak keberatan?" tanya Dave.


"Tidak," jawab Reza singkat.


Dave hanya tersenyum kecut. Lalu ia memandangi adiknya. Silvi tidak mengatakan apapun. Harusnya ia siap jika hari ini tiba. Harusnya ia siap jika mendengar kenyataan ini. Tapi kenyataannya ia merasa sakit hati, Reza sama sekali tidak keberatan untuk pergi jauh darinya. Apakah di dalam hati Reza sama sekali tidak ada perasaan untuknya? Lalu kenapa Reza sangat marah saat ia bersama Frans?


Dave menjentikkan jarinya lagi, datanglah dua orang pengawal lagi.


"Hajar dia setelah itu lempar dia ke luar mansion! Mulai sekarang jika kalian melihat dia mencoba masuk kemari, usir dia!" seru Dave.


Tanpa menunggu lama, pengawal itu langsung menghajar Reza tanpa ampun. Membuat Silvi menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sangat menyesal dengan bibirnya yang selalu keceplosan. Karena kecerobohannya, Reza yang harus menanggungnya. Tidak masalah jika ia harus melupakan perasaannya untuk Reza, tapi ia tidak bisa melihat Reza menderita dan persahabatan mereka hancur.


"Apakah yang aku lakukan ini benar? Sekarang mereka justru akan terpisahkan! Arrgghh...Bodoh.... seharusnya aku tidak melakukannya!" gumam Sonya dari balik dinding pembatas ruang tengah dan ruang makan. Saat mengantar Aryn ke kamar tadi, Aryn menyuruhnya untuk mengintip pembicaraan Dave dengan Reza dan Silvi. Jadi ia sengaja turun dari kamar Aryn menggunakan tangga belakang. Tangga ini hanya digunakan saat keadaan tertentu saja, jadi tidak ada yang tahu jika ia diam-diam turun menggunakannya.


Reza tergeletak lemas di lantai dengan tubuh yang lebam. Pengawal Dave langsung mengangkat tubuh Reza dan membawanya keluar dari mansion.


"Kamu harus tahu, semua yang aku lakukan hanya untuk kebaikanmu," ucap Dave sebelum ia menyusul pengawalnya yang mengangkat Reza.


Kedua pengawal yang menahan tangannya kini melepaskannya. Silvi terduduk di lantai. Kakaknya tidak sepenuhnya salah. Saat pengawal itu pergi, Sonya berlarian menghampiri Silvi. Ia langsung memeluk Silvi dengan erat.


"Maafkan saya! Saya hanya berniat untuk membuat nona menyatakan perasaan nona kepada Reza, saya tidak mengira jika menjadi seperti ini! Nona boleh menghukum saya!" ucap Sonya.


Silvi melepaskan pelukan Sonya. "Kau pikir ini masalah sepele? Karena kau Kak Reza kan pergi jauh dariku, bukan hanya itu persahabatan Kak Dave dan Kak Reza hancur! Kau dengar itu?" seru Silvi. Sonya menunduk, ini semua salahnya.


Silvi berlarian masuk ke dalam lift. Hari ini adalah hari yang terburuk dalam hidupnya.


Di luar mansion,


Zack dan Ken datang tepat saat Reza di lempar keluar.


"Are you crazy, Dave?" pekik Zack.


Zack bergegas membantu sahabatnya yang sudah terkapar di halaman. Ken juga langsung mendekat.


"Bukan gua yang gila, dia yang gila!" seru Dave.


"Segila apa dia sampai lo tega mukulin sahabat sendiri?" seru Zack.


"Sudahlah, nanti gua jelasin! Cepat bawa gua pergi dari sini!" seru Reza menahan tangan Zack yang akan menghampiri Dave.


Zack dan Ken membantu Reza berdiri dan membawanya masuk ke dalam mobil. Sorot mata Zack dan Ken nampak sangat kesal pada Dave. Dave hanya hanya menghela napas panjang dan masuk ke dalam mansion.


.............

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan berikan komentar ya!


__ADS_2