Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
DISEKAP


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


"Arrgghh!" pekik Mei.


Lengannya yang terluka dipegang oleh perempuan itu dengan keras. Mei sampai meringis kesakitan.


"Kau ini gila ya? Sakit tauu..." Mei sengaja berteriak di dekat telinga perempuan itu.


Perempuan itu mendorong Mei pada anak buahnya. Ia mengelus telinganya yang terasa berdenging setelah mendengar suara cempreng khas kaleng rombeng milik Mei.


"Rasakan itu!" seru Mei sinis.


Mei menatap Aryn, ia berusaha menenangkan Aryn melalui tatapan matanya. Aryn hanya mengangguk pelan. Ia sangat ketakutan, bahkan dahinya dipenuhi keringat dingin.


"Bawa mereka!" seru perempuan misterius itu.


Semua anak buahnya mengangguk. Begitu perempuan itu masuk ke dalam mobilnya, anak buahnya menarik Aryn dan Mei ke dalam mobil mereka. Aryn hanya bisa menangis dalam hati ia memohon agar suaminya segera menolongnya. Sementara Mei, ia memberontak sekuat tenaga untuk melepaskan diri.


"Heh kepala botak, lepasin! Kalau nggak aku akan tuang satu botol penuh obat penumbuh rambut agar kau punya rambut panjang dan gimbal seperti Tarzan! Cepat lepaskan!" seru Mei tidak karuan.


"Diam kau!" bentar pria itu menghempaskan Mei ke jok belakang dengan keras.


Aryn dan Mei duduk bersebelahan di jok belakang. Kedua tangan Aryn diikat kebelakang, begitu juga dengan kedua tangan Mei.


"Kenapa pakai diikat sih? Aku sumpahin rambutmu gondrong!" seru Mei pada pria yang botak.


Pria botak itu langsung membungkam mulut Mei dengan lakban hitam besar begitu juga dengan Aryn. Mei terdiam, kalau ia berteriak akan sia-sia. Ia menatap Aryn. Aryn sedang hamil sekarang, pastilah kejadian ini membuatnya tertekan dan takut. Tidak hanya dilakban dan diikat, kedua mata Aryn dan Mei ditutup menggunakan kain yang panjang. Sepanjang perjalanan Mei berusaha mendengarkan keadaan di sekitarnya. Mobil putih itu berhenti di sebuah vila mewah.


Walaupun kedua matanya ditutup Mei dapat merasakan suhu yang lebih dingin, berarti mereka berada di tempat yang tinggi. Ia tidak mendengar suara bising kendaraan, yang ia dengar hanya suara hewan malam seperti jangkrik. Mei dapat mengumpulkan mereka berdua dibawa ke dalam hutan atau mungkin lereng pegunungan. Mereka berdua dipaksa masuk ke dalam bangunan itu.


Kedua pria yang menyeret Aryn dan Mei langsung mengunci pintu dari luar setelah menjatuhkan mereka berdua di atas ranjang. Sebelumnya ikatan kedua tangan mereka sudah dilepaskan. Mei bergegas membuka penutup mata dan lakbannya. Baru ia membantu Aryn.


"Untung mereka melempar kita ke ranjang yang empuk ini, jadi pinggangku tidak sakit!" seloroh Mei.


"Bagaimana ini Mei?" ucap Aryn gelisah.


"Bagaimana apanya?" tanya Mei.


"Kita sedang diculik, Mei! Aku bertanya bagaimana caranya pulang!" sahut Aryn kesal.


"Iya, Aryn! Aku tahu kita sedang diculik. Tapi susah untuk keluar, lihatlah sekelilingmu!" jawab Mei.


"Kamar ini mempunyai CCTV di setiap sudut, semua jendela juga dipengkapi pagar besi, benar-benar tidak ada celah!" lirih Aryn.


"Kita tunggu saja suamimu datang," ucap Mei.


"Tas kita sudah dirampas, tidak ada yang tersisa bagaimana Dave bisa menemukanku?" ucap Aryn.


"Jangan takut, Aryn! Aku menyembunyikan ponselmu, aku yakin tidak ada CCTV di dalam kamar mandi! Bersikaplah biasa saja!" Mei memeluk Aryn dan berbisik di telinga Aryn. Bisa saja CCTV di kamar ini dilengkapi perekam suaranya.


"Aku sangat beruntung memiliki sahabat yang cerdas sepertimu, walau kadang mesum dan membuat malu tapi aku tetap bangga!" ucap Aryn.


"Kamu meledekku ya," seru Mei protes. Mereka berdua tertawa bersama dengan keras.


Klek,


Pintu terbuka, menampakkan dua pria botak yang mengikat mereka tadi.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa yang kita sekap ini, aneh sekali! Bukannya menangis mereka malah tertawa bahagia," lirih pria botak itu kepada temannya.


"Diamlah!" sahut temannya.


"Eh om botak, mau mengantar makanan ya?" seru Mei membuat kedua pria itu saling menatap.


"Ini," seru pria itu.


"Bos kalian kenapa menyekap kami? Padahal rugi loh, kami makannya banyak! Apalagi temanku ini!" seru Mei.


"Benar itu, tambah dua piring lagi ya!" perintah Aryn.


Kedua pria itu saling menatap lalu mengangguk serempak. Aryn dan Mei tertawa bersama setelah kedua pria itu benar-benar datang membawakan dua piring makanan untuk mereka. Saat pria itu akan mengunci pintu dari luar, Aryn sempat melihat beberapa pria duduk di sofa tepat depan kamar dimana mereka disekap.


"Mereka berjaga di depan," lirih Aryn. Mei hanya mengangguk.


--------------


Frans tersungkur di lantai marmer yang dingin. Pipinya terasa sangat panas setelah mendapatkan tamparan keras dari Dave. Ia bergegas menyusul Dave di kantor setelah mendapati anak buahnya tergeletak di tempat sampah, ia juga mendapat pesan singkat dari Aryn yang mengatakan jika Aryn dihadang oleh orang yang tidak dikenal.


"Apa yang kau lakukan sejak pagi? Kau seharusnya stand by di kampus Aryn!" seru Dave dengan penuh amarah.


"Maaf tuan, tapi bukankah Tuan Dave sendiri yang menyuruh saya untuk membeli buah-buahan ke supermarket dan mengantarnya ke mansion? Lalu tuan juga meminta saya untuk mengantarkan barang ke markas," lirih Frans.


"Aku tidak pernah mengatakan semua itu? Siapa sebenarnya yang mengatakan itu semua?" seru Dave.


"Seorang pria, ia mengatakan jika dia adalah pengawal tuan! Dan dia menyampaikan perintah Tuan Dave kepada saya," jawab Frans.


"Dasar bodoh!" teriak Dave.


Prang,


Dave melempar vas bunga yang ada di meja kerjanya ke dinding dengan keras. Sampai sedikit pecahannya mengenai pelipis kiri Frans. Frans hanya memejamkan matanya saat setitik darah mengalir di pelipisnya.


"Maaf tuan," lirih Frans.


"Apakah kau sudah cek CCTV? Atau menanyakannya kepada anak buahku yang berjaga?" tanya Dave.


"Semua CCTV rusak tuan, dan tidak ada pengawal yang selamat!" lirih Frans.


"Sial!" umpat Dave. Kedua tangannya menggebrak meja berulang kali dengan keras.


"Beritahu Ken untuk mengurus semua mayat anak buahku, berikan santunan kepada keluarganya mereka pasti sudah berusaha sekuat mungkin untuk melindungi istri dan babyku! Dan kunci mansion rapat-rapat, pastikan Silvi dan Uti aman!" seru Dave.


Silvi dan Uti berada di mansion, Dave tidak ingin kecolongan lagi. Jika hanya Joe saja yang berjaga di mansion Dave khawatir musuh akan memanfaatkan situasi. Ia harus memastikan mereka berdua aman. Dengan menyuruh Ken untuk berjaga, maka keamanan Silvi dan Uti terjamin.


"Baik, tuan!" jawab Frans. Frans langsung mengirimkan pesan kepada Ken untuk menyampaikan perintah Dave.


"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Aryn dan babyku, aku akan menggantung semua kepala di atas pohon mangga Silvi!" teriak Dave.


Frans menelan ludahnya dengan bersusah payah. Bulu kuduknya meremang saat Dave mengatakan akan menggantung kepala di pohon mangga. Sedikit demi sedikit Frans mengetahui siapa Dave sebenarnya.


Dave duduk di kursinya dengan gelisah. Ia membuka laptopnya, ini satu-satunya cara untuk menemukan Aryn.


"Tuan, Nona Aryn masih mengaktifkan GPS di ponselnya. Kita bisa menggunakannya untuk mencari keberadaan mereka," seru Frans membuat Dave langsung menoleh.


"Tanpa kau beritahu aku sudah mulai melakukannya sejak tadi! Tapi tunggu, apa maksudmu tidak hanya Aryn yang diculik?" jawab Dave.


"Sahabat nona juga menjadi korban tuan!" sahut Frans.

__ADS_1


Dave mengangguk, ia meraih ponselnya. Ia menghubungi sahabatnya. Pencarian Aryn memerlukan strategi yang matang.


Kurang dari lima belas menit, ruang kerja Dave berubah menjadi markas Red Blood sementara. Zack dan Samuel datang dengan membawa anggota lain. Sebenarnya personil mereka kurang lengkap, entah mengapa Dave teringat Reza. Dalam hal menyusun strategi Reza selalu bisa diandalkan.


"GPS ponsel Aryn masih aktif?" tanya Zack.


"Iya, lihatlah!" seru Dave menunjukkan layar laptopnya.


"Jauh sekali mereka membawa Aryn," seru Samuel.


"Ini kawasan Villa Andrew bukan?" tanya Zack.


"That's right, baby!" seru Samuel.


"Lama tidak muncul, sekali muncul langsung menculik!" seru Zack.


"Kita bergerak kapan Dave?" tanya Samuel.


"Malam ini!" jawab Dave dengan tegas.


Semua orang mengangguk. Cukup lama mereka mendiskusikan rencana mereka. Mereka baru mengakhirinya saat ada seorang office boy yang masuk untuk mengantarkan minuman. Tidak ada yang mengatakan apapun saat office boy itu masih di dalam ruangan Dave. Dalam situasi seperti ini semakin sedikit orang yang mendengar makan akan semakin aman. Bisa saja musuh sudah menempatkan mata-mata.


Zack dan beberapa anggota lain ikut keluar dari ruangan Dave saat office boy itu keluar. Office boy itu terlihat gelisah, apalagi mereka berada di dalam lift yang sama. Zack hanya tersenyum sinis, mereka tidak akan membunuh office boy itu. Karena tanpa diancam office boy itu langsung mengaku saat Zack mengeluarkan pisau lipat dari sakunya.


"Saya hanya disuruh tuan, tapi saya bersumpah saya tidak mendengar apapun di ruangan Tuan Dave tadi," ucap office boy itu dengan memohon.


"Bagus, gua nggak perlu mengotori pisau ini! Apa lo mempunyai informasi tentang bos lo itu?" tanya Zack.


"Tidak tuan, saya hanya disuruh untuk memata-matai saja! Mereka memberikanku begitu banyak uang semalam," jawabnya.


"Gua akan bayar dua kali lipat, mulai sekarang carilah informasi sebanyak mungkin darinya," perintah Zack.


"Baik, tuan!"


Zack memasukkan kembali pisaunya ke dalam saku celananya. Ia bergegas membawa anak buahnya menuju markas. Mereka membutuhkan senjata untuk nanti malam.


-------------


Mei mondar-mandir di dalam kamar mandi. Ia mengirimkan pesan kepada Dave dengan menggunakan ponsel Aryn. Beruntung Dave langsung membaca pesannya. Mei tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia memberitakan jika Aryn dan dirinya disekap di sebuah Villa yang besar. Mei menceritakan semua apa yang dia dengar saat perjalanan kesini tadi. Tapi ternyata Dave sudah mengetahui keberadaan mereka.


"Bodoh! Sejak tadi kan aku menghidupkan GPS nya! Jelas suami Aryn sudah tahu!" keluh Mei.


Di saat yang tegang seperti ini, Mei dibuat heran oleh tingkah suami sahabatnya itu. Bagaimana tidak, Dave meminta untuk melakukan panggilan video, katanya is ingin melihat Aryn. Mei langsung memberitahukan jika ia harus sembunyi di toilet agar bisa mengirim pesan.


"Dikira istrinya sedang liburan apa ya, minta panggilan video! Padahal sedang disekap begini," celoteh Mei.


Mei bergegas keluar dari kamar mandi, alangkah terkejutnya dia saat kedua pria botak sedang berdiri di depan pintu kamar mandi sekarang. Pria itu langsung merampas ponsel dari tangan Mei. Mei berusaha merebut kembali tapi gagal. Postur Mei yang pendek tentu susah merebut ponsel dari mereka yang tinggi.


Ketika Mei akan menendang pria itu, pria botak yang satunya mendorong Mei ke belakang sampai Mei terjengkang di ranjang.


"Dasar Botak!" seru Mei dengan keras saat kedua pria botak itu mengunci pintu dari luar.


"Sekarang bagaimana Mei?" Aryn terlihat panik.


"Akan aku pikirkan, kamu istirahat dulu! Jangan takut Aryn, suamimu pasti datang!" ucap Mei.


Aryn membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia memaksa kedua matanya untuk terpejam.


"Daddy pasti akan segera datang sayang, kamu jangan takut ya," gumam Aryn.

__ADS_1


.................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian! Love you all!


__ADS_2