
WARNING:
SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.
HAPPY READING 😘
..............................
"Informasi apa yang akan kau sampaikan?" tanya Dave.
Tangan Doni bergetar, ia bergidik ngeri menatap darah yang memenuhi lantai ruangan itu. Kepalanya terasa sangat pusing saat melihat kepala yang terpisah dari badannya.
"Ya tuhan! Apa yang terjadi di tempat ini? Siapakah sebenarnya bosku ini?" batin Doni.
Salivanya terasa sangat susah untuk ditelan.
"Katakan!" seru Dave dengan suara meninggi.
"Jangan khawatir, bro! Lo aman!" lirih Reza di dekat telinga Doni.
Setidaknya Doni bisa bernapas lega sekarang.
"Dion, suami Nona Elsa meninggalkan Nona Elsa karena dia memiliki hubungan gelap dengan wanita lain, tuan!" seru Doni.
"Shit! Sudah kuduga! Lanjutkan!" Dave memukul tembok di sampingnya.
"Nona Elsa mungkin sudah mengetahui perselingkuhan suaminya itu, hingga ia nekat bunuh diri! Suaminya tinggal di Singapura bersama selingkuhannya, kumpul kebo di apartemen milik wanita itu. Tapi dua bulan terakhir, Dion pergi dari apartemen kekasihnya. Dia pulang ke rumahnya yang berada di negara ini, tuan. Saya mempunyai alamat rumah ayah Dion. Ayahnya meninggal kira-kira satu bulan yang lalu, mayatnya ditemukan di gerbang rumah dalam keadaan mengenaskan!" lanjut Doni.
"Berikan map itu!" perintah Dave.
Dave terkejut ketika melihat alamat rumah ayah dari suami Elsa itu. Ia langsung menunjukkan map itu pada Ken dan Reza. Mereka saling menatap.
"Astaga! Alamat ini persis dimana kita mengirim mayat si Andrew tua bangka itu, Dave!" seru Reza spontan.
"Mayat? Oh God," batin Doni.
"Hemm, apakah kau punya foto terbaru si Dion?" tanya Dave pada Doni.
"A...ada, tuan!" jawab Doni dengan sedikit gugup.
"Buat apa Dave?" tanya Reza.
"Gua curiga, Za! Kalau emang alamat ayah Dion sama dengan rumah Andrew, berarti Dion itu putranya Andrew!" seru Dave.
"Tapi bukannya Andrew nggak punya anak?" tanya Reza penasaran.
"Sama halnya dengan anda, Tuan Dave! Identitas Dion memang dirahasiakan, karena sepertinya ayahnya itu pengusaha besar. Anak buah saya bahkan tidak bisa mengakses data dari orang tua maupun keluarganya. Yang mereka dapatkan hanya profil singkat dari Dion!" sahut Doni yang membuat Dave dan Reza mengangguk paham.
__ADS_1
"Kita tunggu sampai tawanan kita sadar! Gua curiga semua serangan yang Kita dapatkan ada hubungannya dengan kematian Andrew!" ucap Dave yang duduk di sudut ruangan, kursi yang tadi ditempati Samuel dan Zack.
Melihat Dave yang mulai menyadari Samuel dan Zack sudah tidak ada di tempat itu, Reza bergegas menghampiri Dave.
"Samuel sama Zack ngacir waktu kepala tikus itu copot!" Reza menepuk bahu Dave, Dave hanya mengangguk. Ia juga paham bagaimana watak kedua sahabatnya yang takut dengan darah itu.
Keempat pria tampan itu duduk bersama di sudut ruangan. Mereka menikmati wine dan membicarakan rencana selanjutnya. Hanya Reza yang biasanya sama sekali tidak menyentuh minuman itu, kali ini ia sudah menghabiskan lima gelas wine. Malam ini ia akan menginap di mansion Dave, jadi mami Reza tidak akan mengintrogasinya.
Beberapa saat kemudian si gajah membuka matanya. Seketika ia merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Mulut, lidah, dan juga tangannya terasa sangat sakit. Mendengar teriakan parau si gajah, Dave dan Reza berjalan mendekat. Sementara Ken dan Doni berdiri tidak jauh dari kursi yang mereka duduki tadi. Doni terlihat menahan mual saat melihat kondisi si gajah, ia sampai membalikkan tubuhnya dan menghadap dinding.
"Wah wah wah... sudah sadar rupanya?" seru Dave dengan suara beratnya.
"Bagaimana pingsannya? Nyenyak? Enak?" tanya Reza dengan senyum seringainya.
"Gua pingsan bukan tidur, pake ditanya nyenyak apa enggak!" batin si gajah.
Tubuh si gajah gemetaran, ia bahkan merasa mual Karena melihat pemandangan menjijikan di depannya. Mayat si tikus belum di bereskan. Darah di lantai bahkan mulai sedikit mengering. Bau anyir menyeruak di seluruh ruangan. Si gajah mengalihkan pandangannya agar tidak melihat mayat temannya lagi.
"Sekarang jawab pertanyaanku ini, siapa yang menyuruh kalian?" tanya Dave.
Si gajah terdiam, ia menatap Dave dengan tatapan memelas meminta kebebasan.
"Jawab!" seru Dave dengan suara yang meninggi.
Reza menepuk jidatnya sendiri, apakah karena minum banyak wine Dave menjadi pelupa? Ataukah otak temannya ini ikut kemasukan wine? Sampai pagi pun si gajah tidak akan menjawab pertanyaannya, lidah saja sudah tidak punya.
"Dave! Lihat!" seru Reza sambil menunjuk kantung plastik di atas meja.
"Berikan foto Dion kepadaku!" seru Dave.
"Ini, tuan!" ucap Doni saat memberikan ponselnya. Ia memberikan ponsel itu tanpa melihat tangan Dave karena tangan Dave kotor, penuh dengan darah.
Tap
Tap
Dave melangkahkan kakinya perlahan mendekati si gajah. Terlihat jelas ketakutan di wajah si gajah.
"Lihat foto ini baik-baik! Apakah kau mengenalnya?" tanya Dave.
Si gajah terlihat langsung mati kutu saat melihat foto di layar ponsel itu. Dia memang mengenal orang itu.
"Jawab! Tinggal mengangguk atau menggeleng!" seru Reza yang berdiri di belakang si gajah.
Si gajah masih terdiam,
"Arrgghh!" teriak si gajah.
Reza menggerakan sebuah pisau kecil di tangan kirinya hingga menghasilkan luka goresan yang panjang dan dalam. Lagi-lagi darah mengucur deras keluar dari tubuh si gajah.
__ADS_1
"Jawab!" seru Reza.
Si gajah langsung mengangguk cepat, ia terlihat lemas dan tidak berdaya karena banyaknya darah yang keluar sejak tadi.
"Apakah orang ini yang menyuruhmu untuk melukai istriku?" tanya Dave lagi.
Keringat dingin mengalir deras di dahi si gajah, ia harus segera menjawabnya sebelum disiksa lagi. Akhirnya si gajah menganggukkan kepalanya.
"Shit! Jadi badeb*h ini yang melakukan serangan selama ini!" seru Dave yang membanting ponsel Dave hingga hancur berkeping-keping.
"Ponselku... Aku membelinya dengan gajiku selama satu bulan! Sekarang sudah hancur!" batin Doni.
"Bos akan menggantinya" ucap Ken yang mengerti apa yang dipikirkan Doni.
"Doni! Aku mengandalkanmu untuk mencari keberadaan Dion secepatnya! Sekarang juga kirim beberapa anak buahmu untuk memantau rumah Andrew!" seru Dave.
"Ba..baik, tuan!" jawab Doni.
Doni bergegas meninggalkan ruangan itu, saat sudah sampai di pintu ia menyempatkan untuk menoleh menatap ponselnya untuk terakhir kalinya.
"Bereskan mayat dan ruangan ini!" perintah Dave pada Ken.
Ken bergegas memanggil beberapa penjaga yang berada di depan ruangan itu. Mereka membereskan mayat sekaligus ruangan. Dave memukul tembok berkali-kali untuk melampiaskan kekesalannya.
"Orang ini mau diapakan, Dave?" tanya Reza yang membuat Dave langsung menoleh.
"Gua masih belum puas menghukum orang yang berani mengusik keluarga gua!" lirih Dave yang membuat siapapun bergidik ngeri.
Si gajah terlihat berteriak histeris, ia seperti berteriak minta tolong. Karena sudah tidak punya lidah jadi yang terdengar hanya a u a u a u saja.
"Dave!" seru Reza memberikan usul kepada Dave dengan bersemangat, ia menujuk-nunjuk ember yang berisi air garam.
Dave langsung menyeringai, ia mengambil seember air garam yang sudah disiapkannya tadi.
Byuurrr,
"Aaaaaaaaaaaaa..." teriak si gajah dengan pilu, ia terus meronta di kursinya.
Air garam itu mengguyur seluruh tubuhnya. Semua luka di tubuh si gajah membuatnya merasakan rasa sakit yang luar biasa. Hingga akhirnya si gajah kaku, tidak bergerak lagi.
"Bereskan!" teriak Dave.
Prang,
Dave, Reza, dan Ken langsung menoleh ke sumber suara. Suara itu seperti vas yang terjatuh, asal suaranya dari depan ruangan itu. Dave berjalan perlahan memeriksa apakah ada orang di depan ruangan itu.
.......................
Aduh siapa ya? Apakah ada yang mengintip mereka?
__ADS_1
Jangan lupa like, vote ,dan rate bintang lima ya! Love you All