Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
MANGGA


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


..........................


Sore hari di kebun mansion Dave,


Silvi membaca novelnya di bawah pohon mangga yang sedang berbuah. Ia hanya berdua dengan Mira, karena Reza sedang mandi. Lagipula Silvi bukan anak kecil yang harus selalu diawasi oleh orang dewasa.


Di depannya, Mira duduk dan selalu menatapnya. Tidak jauh di belakang Mira, ada sebuah danau buatan kecil yang berisi ikan-ikan. Itulah mengapa Mira suka duduk di sana. Jika ada ikan yang muncul di permukaan, Mira terkadang langsung menyerbunya. Mira terlihat sangat manis ketika sedang duduk seperti ini.



Bulu cokelatnya terlihat cantik saat ditimpa sinar matahari. Terkadang Mira berdiri dan menyatukan kedua kaki depannya untuk menarik perhatian Silvi, saat Silvi terlalu fokus membaca novelnya.


"Hey Mira!" seru Reza dari kejauhan.


"Kak Reza ngapain sih? Silvi tahu jika tugas Kak Reza itu menjagaku, tapi tidak perlu mengawasiku setiap saat!" seru Silvi kesal.


"Siapa juga yang mengawasimu setiap saat? Buktinya sekarang aku hanya ingin memetik mangga kok! Sayang banget mangga sebanyak ini tidak dipetik!" jawab Reza enteng.


Silvi mengalihkan pandangannya, ia berusaha bersikap normal. Ia selalu salah sangka kepada Reza. Tapi bisa jadi Reza hanya mencari alasan saja.


Kak Reza itu keterlaluan! Selalu saja bisa memutarbalikkan keadaan dan membuatku malu sendiri. Huft.. ayo fokus, Silvi! Jangan baper terus dengan Kak Reza! Ingat, dia mencintai orang lain!


"Kak Reza ngapain?" tanya Silvi.


"Manjat pohon mangga lah! Kakak kan mau metik buah mangganya!" jawab Reza membuat Silvi menepuk jidatnya sendiri.


"Kak Reza suka mempersulit hidup ya? Kakak aja bisa metik langsung karena pohonnya pendek begitu, kenapa harus manjat?" seru Silvi.


"Kalau nggak dipanjat rasanya kurang nikmat hehehe," sahut Reza yang menampilkan senyum manisnya.


Silvi kembali fokus kepada novelnya. Sementara Mira, ia berlari dan memperhatikan Reza dari bawah pohon mangga yang Reza panjat.


Bug,


"Satu," seru Silvi saat mendengar sebuah mangga sudah jatuh dari pohonnya.


"Kenapa dihitung?" tanya Reza.


"Biar nanti Kak Reza gampang bayarnya, tinggal 10 dollar dikali jumlah mangga yang jatuh!" jawab Silvi enteng.


"Baru tadi pagi belajar matematika, sekarang sudah jadi perhitungan banget sama kakak ya?" keluh Reza.


"Hmm," jawab Silvi singkat.


Bug bug,


"Tiga," seru Silvi setelah mendengar dua buah mangga yang jatuh bersamaan.

__ADS_1


Bug,


"Empat... tapi sepertinya mangganya besar sekali," lirih Silvi.


"Guk guk guk..." Mira menggonggong dan langsung membuat Silvi menoleh.


"Oh My God, buah mangga raksasa rupanya hahaha!" seru Silvi yang tertawa terpingkal.


Reza terduduk di tanah dengan wajah masam. Ia menepuk-nepuk lengannya untuk membersihkan tanah yang menempel. Mira berjalan mengelilinginya, seperti ingin memberikan bantuan.


"Makanya kalau mau metik mangga nggak udah banyak gaya, kak!" ledek Silvi.


"Enggak banyak gaya kok, hanya satu gaya saja yaitu memanjatnya!" elak Reza.


"Harus mandi lagi nih! Tadi gara-gara Sindy, sekarang gara-gara mangga," keluh Reza yang berusaha membersihkan tanah yang menempel di pakaiannya.


"Sudah jatuh, terus jatuh lagi ya kak?" ledek Silvi.


"Itu juga gara-gara kamu sampai aku jatuh di kotak kotoran Sindy!" seru Reza membuat Silvi terkekeh.


"Aku? Bukannya kakak jatuh sendiri?" tanya Silvi yang tersenyum sinis.


"Aku jatuh karena Sindy, nah Sindy itu kan harimaumu jadi sama saja kamu penyebab kakak jatuh," tukas Reza.


Reza teringat kejadian menggelikan saat di kandang Sindy tadi siang. Seluruh badannya gemetaran saat Silvi menyuruhnya untuk meyuapi daging kepada Sindy. Tapi anehnya kali ini Sindy terlihat malu-malu untuk memakan daging yang diberikan Reza. Reza bahkan sampai menggunakan kedua tangannya untuk menyodorkan sepotong daging ayam untuk Sindy. Jika hanya menggunakan satu tangannya yang gemetaran, tak akan kuat menopang daging itu.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Sindy mau membuka mulutnya, walaupun masih terlihat malu-malu. Walaupun ia hanya seekor harimau, tapi Sindy juga tahu jika pria yang menyuapinya itu tampan. Mungkin saja Sindy malu karena itu. Tapi tiba-tiba Sindy meletakkan salah satu kaki depannya di bahu Reza. Tubuh Reza tentu semakin bergetar hebat. Bukan karena jatuh cinta ya, tapi karena sentuhan mendadak dari seekor harimau. Reza memang sering menemani Silvi bermain di kandang Sindy, tapi tidak pernah sedekat ini. Kemudian, Sindy meletakkan kaki kirinya juga di bahu Reza. Alhasil kedua kaki depan Sindy berada di bahu Reza sekarang. Entah karena ketakutan atau lemas menopang kaki Sindy, Reza jatuh ke belakang tepat di sebuah kotak kecil berisi pasir dan berbau busuk. Ternyata kotak itu adalah toilet Sindy.


"Aku bukan anak kecil lagi, kak! So, stop it! Aku bisa menjaga diriku sendiri, dan tahu kalau akan bahaya jika aku keluar dari mansion! Satu hal lagi, kalau ingin melakukan sesuatu lakukan saja. Tidak perlu mengatakannya kepadaku, aku juga tidak mempedulikannya," sahut Silvi.


"Aku pikir jika aku tidak memberitahumu, kamu akan merindukanku dan mencariku! Aku juga takut jika kamu pura-pura tenggelam lagi," jawab Reza terkekeh.


Blush,


Kenapa semua seranganku selalu berbalik kepadaku lagi? Ah malu sendiri kan jadinya! Tapi... aku penasaran, apakah Kak Reza sudah tahu tentang perasaanku?


Reza berjalan masuk ke dalam mansion dengan menenteng tiga buah mangga yang ia petik tadi. Ia bersikap seperti tidak pernah mengatakan apapun kepada Silvi. Hingga membuat Silvi gemas sendiri.


"Aku harus menyelidikinya, sepertinya Kak Reza sudah tahu semuanya!" lirih Silvi yang mengemasi semua buku yang ia bawa ke dalam tasnya.


Di dalam mansion,


Angel, Samuel, Ken, dan Zack tengah mengobrol santai di ruang tengah. Sebenarnya hanya ketiga pria itu saja yang mengobrol, Angel hanya bermalas-malasan di pangkuan Samuel. Akhir-akhir ini ia semakin lengket dengan Samuel, karena jika berjauhan satu meter saja Angel akan mual. Terpaksa Samuel hanya menghabiskan waktunya di rumah mengurus Angel yang sedang hamil. Urusan pekerjaannya sudah di handle oleh asistennya.


"Widih, calon papa siaga semakin mesra dengan calon mama!" seru Reza saat tiba di ruang tengah. Awalnya ia ingin membersihkan badannya di kamar, tapi kemesraan Samuel dan Angel menghentikan langkahnya.


"Berisik lo! Ngaca dulu sana, penampilan lo sudah seperti gelandangan," ledek Samuel.


"Gua boleh nggak minta mangganya, Za?" tanya Angel.


"Sure, ambil saja! Biar anak Samuel nggak kayak papanya, suka ngiler!" sahut Reza saat memberikan ketiga mangganya kepada Angel.

__ADS_1


"Nih orang bibirnya macam ibu-ibu arisan," celetuk Zack.


"Dimana Silvi? Kenapa lo ninggalin dia sendirian?" seru Ken.


"Dia sedang membaca buku di kebun, ada Mira yang siap mengejar siapapun yang akan mencelakai Silvi! Lagipula Silvi selalu mengusirku, ia bilang ia bukan anak kecil lagi!" jawab Reza enteng.


"Bukan anak kecil gimana? Usianya saja masih 15 tahun," sahut Samuel.


"Walaupun masih 15 tahun, tapi ia pernah berani mengorbankan diri untuk menjadi tameng Reza dari tembakan Dave. Iya kan, Reza?" celetuk Zack.


"Tapi sayang, kecil-kecil Silvi sudah terjebak perasaan dengan om om ini," imbuh Zack sambil melirik Reza.


"Bukan om, tapi kakak!" sahut Samuel terkekeh.


"Hanya panggilannya saja yang kakak, tapi usianya sudah masuk dalam golongan om om!" seru Zack.


"Daripada membuang-buang waktu untuk menggosipkan hubungan gua dengan Silvi, lebih baik kita bahas saja pernikahan Samuel dan Angel! Kasihan Angel jika nanti berdiri dipelaminan perutnya sudah besar," seru Reza.


"Telat lo," seru Samuel, Ken, dan Zack. Sementara Angel, ia hanya diam dalam pangkuan Samuel.


"Maksudnya kalian berdua sudah menikah? Kapan?" tanya Reza membuat ketiga sahabatnya kesal.


"Dengerin baik-baik, tidak ada pengulangan lagi setelah ini! Minggu depan mereka akan menikah di mansion ini. Hanya orangtua Samuel yang tahu dan mereka sudah merestui. Kalau Hans, itu urusan belakangan yang terpenting calon pengantin wanitanya sudah yes. Sebagai pengganti Hans, gua udah beli wali!" ucap Ken serius.


"Dave sudah tahu tentang ini?" tanya Reza.


"Sudah, lo sih berduaan sama Silvi terus jadi ketinggalan kan online meeting kita!" ucap Zack.


"Bagus kalau Dave sudah tahu, berarti dia juga sudah siap dengan risiko setelah pernikahan ini! Hans tidak akan tinggal diam jika suatu hari nanti dia tahu putrinya menikah tanpa sepegetahuannya. Apalagi menikahnya dengan seorang cassanova tengil wkwk!" jawab Reza.


"Diam lo! Jangan bicara sok polos, tingkah lo aja juga melenceng," seru Samuel.


"Gua sudah pensiun ya," ucap Reza membela diri.


"Jangan lupa lo panglima tempur minggu depan!" seru Ken.


"Yeah, lalu Dion apa kabar? Sejauh mana hasil penyelidikan Doni?" tanya Reza.


"Nihil, setelah insiden penangkapan mata-mata itu Doni tidak menemukan pergerakan dari Dion lagi! Dia benar-benar menghilang, rumah papanya juga sudah kosong tidak ada tanda-tanda keberadaan Dion di sana! Gua curiga jika ini bagian dari rencananya," jawab Ken dengan raut wajah cemas.


"Benar, Dion adalah tipe orang yang susah ditebak. Pergerakannya teratur dan terencana, kita jangan sampai lengah hanya karena dia menghilang sekarang, bisa jadi dia sudah mulai bergerak sekarang!" sahut Reza.


"Dia mulai bergerak? Maksud lo, dia mulai menyerang lagi?" tanya Zack.


"Penasaran ya? Nanti gua jelasin setelah mandi!" sahut Reza terkekeh.


Zack bersiap mengepalkan tangannya tapi Reza sudah berlarian menuju lift sebelum Zack menoyor kepalanya. Sebenarnya Reza sengaja mengakhiri obrolan serius mereka karena Reza yakin ada telinga yang sedang menguping obrolan mereka.


..................


Bagaimana Readers? Mana pasangan kalian? Tulis di kolom komentar ya,

__ADS_1


__ADS_2