
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Dua bulan berlalu dengan cepat, mansion yang dulu hampa, kini semakin penuh warna. Perkembangan Davin hari demi hari membuat semua orang enggan mengalihkan pandangan mereka pada bayi menggemaskan satu ini. Di usianya yang genap tiga bulan hari ini, Davin berlatih tengkurap. Badan mungilnya selalu miring-miring ke kiri.
Dave ikut berbaring di karpet bersama Davin. Karpet itu tebal dan lembut jadi aman untuk alas bermain seperti sekarang. Sementara semua orang duduk mengelilingi Davin dan Dave, kebetulan hari ini hari libur. Setelah sekian lama mereka bisa berkumpul dengan personil yang bisa dikatakan komplit, tapi tanpa Reza tentunya.
Dave sengaja berbaring menghadap Davin agar Davin melihatnya. Dave mengikuti gerakan Davin yang miring, lalu kemudian Dave berhasil untuk tengkurap. Davin tampak tersenyum melihat daddynya. Kedua kaki dan tangannya bergerak aktif untuk mencoba miring lagi.
"Lihatlah, sayang! Dia mengikutimu!" seru Aryn antusias.
"Iya, sayang!" Dave tersenyum.
"Wah benar..." Katy bersorak gembira.
"Inikah yang dinamakan, pohon jauh tidak jatuh buahnya?" seloroh Mei.
"Kamu ini ngomong apa?" Zack terkekeh.
"Itu pepatah yang artinya tingkah atau sifat anak yang menurun dari ayahnya," jawab Mei.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, dasar stupid!" sahut Zack terkekeh.
"Idih, kamu ini bicara seolah-olah kamu juara olimpiade saja!" protes Mei.
Zack melengos, ia beralih menghampiri Davin.
Dave masih di posisinya yang tengkurap, Erick juga ikut bergabung. Erick tampak memberikan semangat untuk cucunya. Begitu juga dengan Katy, Uti, dan semua orang. Tapi yang paling heboh adalah Mei dan Silvi.
"Go Davin go Davin go!" seru Mei.
"Davin pasti bisaaa!" seru Silvi.
Kalau ada Mei dan Silvi si duo rusuh, pasti suasana menjadi sangat ramai. Tanpa diminta, Ken berdiri dan mengambil video kejadian saat ini. Momen seperti ini harus diabadikan.
"Ayo Davin semangat! Disemangatin cewek cantik nih!" ucap Angel saat mendudukan Kelyn di dekat Davin.
Kelyn sudah bisa duduk, usianya kini 6 bulan. Kelyn berambut pirang seperti mamanya, pipinya chubby, dan bibirnya tipis seperti Samuel.
"Wow, couple goals!" seru Samuel.
"Heh, Davin itu jodoh anakku!" seru Mei.
"Mana anakmu? Punya saja belum, buat dulu sana!" sahut Samuel.
"Nanti pasti aku bikin anak, tapi Davin itu jodoh anakku, titik! Aku yang lebih dulu memintanya!" Mei berkacak pinggang.
"Dasar!" Samuel menyerah, berdebat dengan Mei sama saja menabur garam di lautan. Tidak ada gunanya.
"Masih kecil saja sudah direbutkan, sayang!" ucap Dave pada Aryn.
"Biarkan saja, masih kecil juga! Yang penting nanti Davin tidak jadi playboy!" jawab Aryn terkekeh.
Davin masih berusaha memiringkan badannya. Dan Dave juga memberikan contoh lagi pada Davin. Hingga akhirnya Davin berhasil tengkurap.
"Pintarnya anak mommy," Aryn mencium Davin.
"Anak daddy juga ini, aku yang mengaduk adonannya," Dave juga mencium Davin.
"Horeeeee!!!" sorak Mei dan Silvi yang sudah berjingkrak-jingkrak karena Davin berhasil tengkurap.
Duo rusuh itu bersorak dengan keras sekali, sampai membuat Aryn menutup telinganya. Mungkin karena terbawa suasana gembira, Silvi dan Mei yang dari dulu selalu ribut hari ini berpelukan dengan erat. Semua orang pun bersorak gembira.
"Berpelukannn!" Samuel menggoda Silvi dan Mei.
Silvi dan Mei langsung melepas pelukan mereka seketika. Keduanya menjauh beberapa langkah.
"Aku khilaf!" seru Silvi.
"Astaga, emangnya memelukku itu perbuatan dosa?" sahut Mei.
"Namanya juga meluk nenek lampir!" Silvi menjauh dari Mei.
__ADS_1
"Kalau aku nenek lampir akan aku gentayangin kamu!" jawab Mei kesal.
Semua orang tertawa melihat tingkah Mei dan Silvi. Tiba-tiba Katy berlarian menjauh dengan tangan yang menutup mulutnya.
"Mama kenapa, pa?" tanya Silvi.
"Papa tidak tahu, tiba-tiba mamamu berlari, katanya tidak tahan gitu!" jawab Erick.
"Tidak salah lagi, ayo mengaku siapa yang kentut!" seru Mei.
"Kenapa memangnya, Mei?" tanya Aryn.
"Tante Katy berlari sambil tutup hidung, pasti ada yang kentut. Tante Katy pasti tidak tahan dengan baunya. Aku juga mencium bau kentut sekarang," ucap Mei.
"Dasar sok tahu!" ejek Dave.
Erick akhirnya berlari menyusul Katy. Katy terlihat masuk ke kamar mandi di dekat ruang tengah.
"Aku saja tidak mencium bau apapun," seru Silvi.
"Benar itu, aku juga tidak mencium bau kentut!" imbuh Zack.
"Aku juga!" sahut Samuel.
"Bau begini kok kalian tidak menciumnya sih?" seru Mei.
"Tidak ada bau, Mei!" ucap Uti.
"Bau lain mungkin," sahut Aryn.
"Atau hidungmu yang konslet," imbuh Angel.
"Jelas-jelas ini mau kentut, baunya seperti telur busuk," ucap Mei.
"Biasanya orang yang kentut adalah yang pertama kali mencium baunya," seloroh Frans.
Semua orang menatap Mei. Mei kembali menatap mereka dengan bingung. Apa salahnya hingga semua orang menatapnya.
"Kenapa kalian semua menatapku?" ucap Mei.
"Enggak!" bantah Mei.
"Mulai bau nih," Silvi menutup hidungnya.
"Astaga, ayo sayang kita bawa Davin ke kamar saja! Kasihan paru-parunya! Samuel, Angel! Bawa Kelyn menjauh juga!" Dave menggendong Davin dan mengajak Aryn ke kamarnya.
Samuel dan Angel membawa Kelyn menjauh juga. Tersisa Zack, Mei, dan Frans saja.
"Mengaku saja Mei!" seru Zack.
"Aku enggak!" seru Mei.
"Enggak apa?" tanya Zack.
"Enggak tau, tadi enggak kerasa juga," jawab Mei menampilkan deretan giginya.
"Dasar gross!" seru Zack.
"Aku nggak kerasa keluar kentutnya tadi," bantah Mei.
Mei memperhatikan sekelilingnya, ia baru sadar jika semua orang sudah bubar.
"Astaga jadi bubar semua," keluh Mei.
"Dia yang kentut, dia sendiri yang rusuh!" gumam Frans.
"Frans seharusnya membela aku dong, calon jodohmu! Kenapa malah mengatakan teori yang membuatku menjadi tersangka seperti ini?" keluh Mei.
"Teori itu kebenarannya sudah terbukti," Frans berjalan menjauh.
Mei memegangi dadanya, Frans selalu menolaknya secara halus. Sepertinya ia tidak akan bisa mendapatkan Frans. Belakangan ini ia tidak sengaja melihat Frans sedang memperhatikan Sonya secara diam-diam. Frans mungkin bukan jodohnya.
"Emangnya tadi aku kentut ya? Tapi kok nggak kerasa?" Mei bermonolog.
__ADS_1
"Makanya jadi wanita itu bersihan dikit. Mau pulang enggak?" tanya Zack.
"Iya nih, mau pulang aja! Malu aku... By the way, mau nawarin tumpanganya? Maaf, aku bawa mobil sendiri!" Mei berlagak jutek.
"Siapa yang nawarin? Aku cuma basa-basi!" Zack terkekeh, lalu pergi dari mansion Dave.
Mei mematung di tempatnya. Double kill, sudah ditolak halus Frans dan sekarang ia jutek pada Zack tapi malah dikerjai. Hari ini bukan hari minggu, tapi hari sial untuk Mei.
---------------------
Erick mengetuk pintu kamar mandi di hadapannya beberapa kali. Tapi tidak ada jawaban dari dalam. Erick hanya mendengar suara orang muntah dari dalam sana. Ia menjadi semakin cemas.
Klek,
Pintu kamar mandi dibuka dari dalam. Katy keluar dari kamar mandi dengan wajah yang menjadi sedikit pucat.
"Apa yang terjadi?" tanya Erick.
"Aku mual, tapi tidak ada yang aku keluarkan," ucap Katy.
"Pusing?" tanya Erick.
"Iya, sedikit!" jawab Katy.
"Apa gara-gara bau kentut?" tanya Erick. Erick teringat kejadian di ruang tengah tadi.
"Bukan, sudah sejak pagi aku merasakannya," jawab Katy.
"Kenapa tidak mengatakannya padaku?" Erick menatap istrinya itu.
"Karena aku tidak apa-apa," jawab Katy.
"Kita ke rumah sakit, ya?" tanya Erick.
"Tidak usah, aku mau istirahat saja. Nanti waktu bangun juga mendingan," Katy menggandeng Erick, mengajaknya ke kamar.
"Baiklah," Erick mengikuti kemauan Katy.
Dalam hatinya, Erick menduga-duga Katy mengandung buah hati mereka. Waktu Katy mengandung Dave dan Silvi dulu, Katy juga mengalami hal serupa, mual dan pusing. Tapi Erick enggan mengatakan pemikirannya itu pada Katy. Erick akan menunggu sampai tanda-tanda selanjutnya. Ia takut berharap lebih dan menjadi kecewa jika ternyata kenyatannya tidak sesuai pemikirannya.
Malam harinya,
Setelah makan malam, kebiasaan keluarga Dave sekarang adalah menonton TV bersama. Hanya Uti yang tidak bergabung, karena ia sudah mengantuk.
Silvi berada di tengah-tengah mama dan papanya. Sementara Dave dan Aryn duduk di sofa lain, Davin sudah tidur di pangkuan Dave. Mereka sedang menonton film terbaru, rekomendasi dari Mei. Film itu bertema romantis. Hanya Aryn, Katy, dan Silvi saja yang fokus menonton. Dave dan Erick hanya menontonnya sebentar, lalu bermain ponsel.
"Aryn..." lirih Katy. Katy duduk berdekatan dengan Aryn.
"Iya, ma?" jawab Aryn.
"Kamu punya testpack?" bisik Katy.
"Ada ma," jawab Aryn.
"Besok pagi antar ke kamar mama, ya? Tapi jangan sampai orang lain tahu," bisik Katy.
"Iya, ma! Aman kok! Tapi memangnya mama merasa tanda-tanda hamil?" bisik Aryn.
"Mama mual sejak pagi, pusing juga," jawab Katy.
"Bukan karena kentut Mei kan, ma?" tanya Aryn.
"Bukan," jawab Katy.
Erick melirik Katy yang sedang berbisik-bisik dengan Aryn. Mereka terlihat mencurigakan.
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa bisik-bisik?" seru Erick.
Silvi dan Dave menoleh pada Erick, lalu menatap Katy.
"Bukan apa-apa kok," Katy mengedipkan sebelah matanya pada Aryn.
........................
__ADS_1
Aduh... Hamil nggak ya?
Jangan lupa like, vite, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!