Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
MENDAPAT PETUNJUK


__ADS_3

WARNING:


SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.


HAPPY READING 😘


.............................


"Dimana Aryn?" Dave mengulangi pertanyaannya.


"Aryn sedang dalam perjalanan menuju tanah kelahirannya!" sahut Reza.


"Dia pulang ke Indonesia?" seru Dave.


Reza mengangguk, menandakan jika ucapannya benar.


"Bagaimana bisa lo tahu informasi itu?" Tanya Dave.


Reza memutar kedua bola matanya malas, ia masih mengantuk saat ini tapi si muka tembok masih saja mengintrogasinya. Ia berniat menutup pintunya, tapi tangan Dave lebih cepat dan kuat menahan pintu agar tetap terbuka.


"Mana handphone lo?" teriak Dave.


"Gebetan gua aja nggak pernah ngurusin handphone gua," tukas Reza.


"Lo mau gua kirim ke Afrika? Okay! Besok juga gua akan suruh Ken nyiapin tiket ke Kongo, dia bakal siapin gubuk di hutannya buat lo!" ucap Dave dengan senyum smirknya.


"Nih!" Reza mencebikan bibirnya.


Hidup di pedalaman Afrika adalah hal yang mustahil untuk Reza, apalagi di dalam hutan. Ia tidak akan bisa bertahan lebih dari 10 menit. Reza memang patut dijuluki anak mami. Ia tidak akan bisa tidur jika AC tidak menyala, kasur yang kurang empuk, nyamuk dan lalat yang berterbangan. Apalagi jika ia tidak memeluk guling kesayangannya.


Reza mengusap wajahnya dengan kasar ketika membayangkan betapa sengsara hidupnya di sana. Tidak akan ada internet, mami yang memanjakannya, dan yang terpenting tidak akan ada wanita-wanita seksi. Jadi biarlah Dave mengambil dan membuka seluruh isi ponselnya. Lagipula ia akan berdosa jika memisahkan pasangan suami istri. Tapi kalau istrinya mau Reza nggak masalah sih.


"Mana? Gua kira lo telponan sama Aryn! Tapi ternyata lo cuma telponan sama tukang gas! Darimana lo tahu kalau Aryn pergi ke Indonesia? Gausah ngarang!" seru Dave mulai sewot.


Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia baru ingat jika ia menyamarkan nama Aryn.


"Sorry! Gua ganti nama bini lo, hehehe!" ucap Reza.


"Sialan lo! Lo ada niat misahin gua sama Aryn? Makanya lo ganti namanya, biar Gua nggak curiga? Gitu?" seru Dave.


"Awalnya gitu! Tapi gua liat penyesalan di mata lo, gua kasihan!" jawab Reza.


"Syukur kalau gitu!" seru Dave dengan ketus.


Dave melempar ponsel Reza ke dada Reza, untung saja berhasil ditangkap Reza. Sebelumnya Dave sudah mengirim nomor Aryn ke ponselnya. Ia akan melacak keberadaan Aryn dengan mudah. Ia meninggalkan Reza yang kini juga menutup pintu apartemennya dan kembali tidur.

__ADS_1


Mobil mewah berwarna silver milik Dave melaju dengan kecepatan sedang. Tidak biasanya Dave tidak mengebut. Rupanya ia sibuk berbicara dengan anak buahnya melalui bluetooth earphones di kedua telinganya yang terhubung dengan ponsel milik Dave. Ia juga sudah memerintahkan Ken untuk melacak keberadaan Aryn melalui nomor ponselnya. Dave tidak melimpahkan tugas itu kepada Joe selaku kepala keamanan mansion, dikarenakan Joe dirawat di rumah sakit.


Ada sedikit kebahagiaan yang terpancar di wajah Dave pagi ini. Walaupun Dave belum tahu jelas keberadaan Aryn tapi setidaknya ada harapan untuk bertemu dengan Aryn.


"Akhirnya," gumam Aryn.


Aryn merentangkan tangannya lebar-lebar merasakan udara kebebasannya. Ia sudah tiba di tanah kelahirannya. Ia melirik jam tangan kecil di pergelangan tangannya, sudah pukul 1 pagi waktu setempat atau pukul 3 sore waktu Amerika. Badannya terasa sangat lelah setelah melakukan penerbangan dengan jarak yang jauh. Aryn akan menginap di penginapan murah sekitar bandara, ia akan pergi ke rumah neneknya besok pagi.


Tidak sulit untuk Aryn mendapatkan penginapan dengan harga murah di sekitar bandara. Aryn kabur dari mansion Dave tanpa membawa koper, ia hanya membawa sebuah tas gendong kecil yang berisi uang pemberian Reza, ponsel, dan sebuah jaket. Ia bawa tas itu masuk ke dalam kamar yang ia sewa.


"Tidak luas, tapi bersih!" gumam Aryn.


Aryn merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia ambil ponselnya, lalu melempar tasnya ke sembarang arah. Ia bergegas menghidupkan ponselnya. Seketika kedua bola matanya membelalak lebar, ia mendapatkan pesan dari nomor dengan kode +1. Kode nomor itu jelas berasal dari Amerika.


Hi, istriku !


Saat kau membaca pesanku ini pasti kau sudah sampai di tanah kelahiranmu!


Nikmatilah liburanmu sepuasnya! Aku akan menjemputmu! Jangan mencoba kabur dariku, kau sudah tahu bukan? Aku akan menemukanmu meski di lubang semut sekalipun!


Aryn melempar ponselnya di ranjang. Pesan itu ternyata dari Dave.


"Kalau begini, usahaku untuk kabur sia-sia!" ucap Aryn.


Aryn berpikir keras, memikirkan bagaimana caranya agar Dave tidak menemukannya. Ia tidak heran jika Dave bisa mendapatkan nomornya. Aryn tahu dengan kekuasaan dan uang yang dimiliki Dave, tidak ada hal yang mustahil untuk dilakukan suami kejamnya itu.


Aryn mengambil SIM card dalam ponselnya, lalu ia gunting menjadi kecil-kecil. Ia menghempaskan tubuhnya di ranjang. Seharusnya malam pertama kebebasannya ia lalui dengan mimpi indah, tapi untuk memejamkan matanya saja tidak bisa.


..........................


Dua orang tinggi besar yang berdiri di pintu ruang perawatan Silvi mengangguk lalu meninggalkan petugas kebersihan itu. Kebetulan mereka lapar, sekalian mereka pergi ke kantin rumah sakit untuk istrirahat sebentar. Walaupun kejam, Dave terkenal toleran kepada anak buahnya. Dave tidak mempermasalahkan anak buahnya yang beristirahat saat bertugas. Yang terpenting tidak lebih dari 30 menit.


"Kerja bagus! Ini upahmu!" seru Reza yang memberikan dua lembar uang kepada petugas kebersihan itu.


Reza bergegas masuk ke dalam ruang rawat Silvi. Masih pukul 3 pagi, Reza mengendap-endap agar Silvi tidak terbangun karena mendengar kedatangannya. Sejak kemarin ia mencemaskan keadaan Silvi. Ia berkali-kali menelpon Dave agar mengizinkannya menemui Silvi tapi ia selalu mendapat cacian dari Dave. Akhirnya Reza mengeluarkan sedikit jurus agar bisa menemui Silvi. Waktunya kurang dari 30 menit sebelum dua anak buah Dave itu kembali berjaga di depan pintu.


Reza melangkah perlahan mendekati Silvi yang masih tertidur pulas di bednya. Ia duduk di kursi sebelah Silvi. Tangannya bergerak mengelus lembut pucuk kepala Silvi.


"Maafkan Kak Reza yang baru sempat menemuimu, sebenarnya bukannya kakak tidak sempat, tapi Dave yang melarangku menemuimu! Dia selalu saja mengancam akan mengirimku ke Afrika jika aku tidak menuruti kemauannya!" lirih Reza.


Sebenarnya Silvi terbangun saat Reza membuka pintu ruang rawatnya. Tapi ia tetap memejamkan matanya seolah ia masih tidur. Jantungnya mulai berdetak kencang setelah mendengar perkataan tulus Reza.


"Kamu tahu tidak? Kakakmu itu sampai menugaskan anak buah yang badannya seperti kulkas dua pintu untuk berjaga di depan ruang perawatanmu!" ucap Reza.


"Hahahaha..." Silvi tidak bisa menahan tawanya.


"Kamu tidak tidur ya?" Reza memencet hidung Silvi dengan gemas.

__ADS_1


"Peace!" Silvi mengangkat tangannya menunjukkan dua jarinya.


"Terus bagaimana kakak bisa masuk ke sini jika di depan pintu ada penjaga?" tanya Silvi.


"Anak buah kakakmu itu hanya badannya saja yang sebesar kulkas dua pintu, tapi otak mereka hanya sebesar biji sawi! Kakak suruh petugas kebersihan untuk menyuruh kedua orang itu pergi dengan alasan lantainya akan dipel, dan mereka menurut hahahaha!" jawab Reza.


Silvi ikut tertawa bersama Reza, sosok pria di hadapannya ini memang pandai membuat orang-orang di sekitarnya tertawa karena ucapannya yang ceplas-ceplos.


"Kamu kenapa?" tanya Reza heran melihat Silvi yang tiba-tiba menghentikan tawanya.


"Kalau ketahuan Kak Dave gimana?"


"Kakakmu itu sedang sibuk mencari istrinya yang kabur, lagipula penjaga itu akan kembali setelah 30 menit. Mereka sekalian mengambil jam istirahat mereka. So, tenang saja!" jawab Reza.


"Iya, kak!" jawab Silvi lega.


Reza menggenggam erat tangan Silvi, jantung Silvi berdetak tidak karuan. Reza menatap Silvi, secara tidak sengaja Silvi juga menatap Reza. Pandangan mereka terkunci dalam beberapa detik. Silvi yang tersadar, segera memalingkan wajahnya yang sudah merah seperti tomat. Sementara Reza, ia terlihat biasa-biasa saja karena Silvi sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Silvi," lirih Reza.


Silvi dengan menatap Reza dengan malu-malu.


"Terima kasih, kamu sudah menyelamatkan kakak!" ucap Reza.


"Iya, kak! Kak Reza tidak sepenuhnya bersalah, aku tahu itu. Kak Dave itu selalu saja menghukum orang seenaknya, entah berapa puluh orang yang nyawanya melayang hanya karena kesalahan yang tidak sepenuhnya mereka lakukan!"


"Aku tidak tega melihat Kak Reza terluka," lanjut Silvi.


"Tapi kakak merasa bersalah melihatmu berbaring di sini! Kemarin sebenarnya kamu tidak perlu memasang tubuhmu untuk menghadang peluru itu, aku yakin Dave tidak membidik kepala atau jantungku! Dia tidak akan benar-benar membunuhku!"


"Luka ini tidak seberapa sakitnya jika dibandingkan dengan melihatmu yang terluka, kak!" ucap Silvi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu ini memang adik kecil kakak yang paling manis! Aku menyayangimu!" Reza mengusap lembut pucuk kepala Silvi.


"Kakak sayang kepadaku? Sungguh?" tanya Silvi dengan antusias.


"Tentu saja! Di dunia ini tidak ada seorang kakak yang tidak menyayangi adiknya sendiri! Kamu sudah seperti adikku sendiri, sudah jelas aku menyayangimu!" jawab Reza.


"Iya, kak!" jawab Silvi dengan lemah.


Silvi terlihat memasang senyum simpul yang terpaksa. Ada semburat kekecewaan di wajahnya. Silvi mengharapkan jawaban yang lebih.


"Tapi rasa sayangku melebihi rasa sayang seorang adik kepada kakaknya, kak!" batin Silvi.


.......................


Aduh Silvi patah hati deh!

__ADS_1


Nantikan kelanjutan kisah mereka di episode selanjutnya!


Jangan lupa like, vote dan rate bintang lima ya!❤️ Jangan lupa tinggalkan komentar!


__ADS_2