Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
OM KECIL (THE END)


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Katy mencengkeram lengan Erick sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Erick terlihat sangat cemas dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Sakit...Sakit sekali sayang!" rintih Katy.


Mendengar rintihan Katy, Erick semakin cemas. Tangan kirinya memukul kepalanya sendiri dengan keras. Dia merasa sangat bersalah dalam kecelakan yang di alami Katy di kamar mandi tadi.


"Sakit...." rintih Katy.


"Kamu harus kuat, sayang! Sebentar lagi kita akan sampai." Erick mengelus kepala Katy yang bersandar di bahunya.


"Ayo lebih cepat lagi, ini mobil atau siput sebenarnya?" seru Erick penuh amarah.


"Kecepatan mobil ini bahkan sudah melanggar batas kecepatan maksimal di jalan raya ini, tuan!" sahut Frans.


Erick mencium pucuk kepala Katy, berusaha menenangkan istrinya. Tangannya juga tidak berhenti mengelus perut buncit Katy. Beberapa saat kemudian, mobil mereka masuk ke area rumah sakit. Di depan rumah sakit Dokter Dessy sudah menunggu dengan beberapa orang suster. Begitu mobil berhenti, Erick langsung menggendong Katy keluar dari mobil. Suster mendekatkan brankar.


"Nyonya Katy harus dioperasi sekarang juga," ucap Dokter Dessy setelah mengecek kondisi Katy dan melihat darah mengalir di kakinya.


"Aku serahkan semuanya pada kau, selamatkan keduanya! Kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka, akan aku pastikan kalian tidak akan mempunyai pekerjaan setelahnya!" seru Erick yang terdengar mengancam.


Dokter dan para suster mengangguk patuh, mereka bergegas membawa Katy ke ruang operasi. Erick berlarian mengikuti sambil terus menggenggam tangan Katy. Mobil Dave, Samuel, dan Zack tiba tepat disaat brankar Katy di dorong masuk. Semua orang bergegas mengejar.


Erick memberontak di depan ruang operasi, melihat kondisi Katy yang semakin lemah Erick ingin menemaninya. Tapi dua orang suster menahannya. Dave dan Silvi berusaha menenangkan papa mereka.


"Mama dan adik pasti akan baik-baik saja, pa!" ucap Dave.


"Adikmu masih kecil, Dave! Belum waktunya dia dilahirkan, papa khawatir...Papa itu seorang suami dan papa yang tidak berguna! Kalau saja aku tidak menuruti ucapan Katy untuk menunggunya di luar, pasti mereka baik-baik saja sekarang!" Erick memukuli kepalanya sendiri.


"Pa...Tidak ada yang bersalah, saat ini mama dan adik butuh doa dan dukungan kita, bukan tangisan kita!" Silvi memeluk Erick dengan erat.


Erick menunduk, ia menangis kencang di pelukan Silvi. Dalam hatinya, ia memohon untuk keselamatan istri dan babynya. Sungguh jika ia bisa menggantikan posisi Katy pasti ia sudah melakukannya. Silvi berhasil menenangkan Erick, Erick kini duduk di kursi tunggu. Frans datang membawakan air mineral untuk semua orang.


"Terima kasih," ucap Erick saat menerima air mineral dari tangan Frans.


"Ayo diminum dulu, pa! Biar lebih tenang," ucap Silvi.


Hampir tiga jam berlalu, tapi lampu di atas pintu ruang operasi masih menyala. Itu artinya operasi masih berlangsung. Erick tidak bisa tenang lagi. Ia mondar-mandir di depan ruang operasi. Semua orang juga tampak cemas. Hingga akhirnya pintu ruang operasi dibuka dari dalam. Dokter Dessy keluar dari ruang operasi itu dengan masih menggunakan baju khusus. Erick langsung mendekati Dokter, begitu juga semua orang.


"Bagaimana?" tanya Erick.


"Operasinya sudah selesai, tuan!" jawab Dokter Dessy.


"Apakah mereka baik-baik saja? Kenapa aku tidak mendengar suara tangisan babynya?" tanya Erick penuh rasa cemas.


"Istri anda baik-baik saja, dan baby tuan juga baik-baik saja. Hanya saja karena dilahirkan prematur, baby anda lemah dan membutuhkan perawatan di inkubator. Tapi anda tidak perlu khawatir, dia akan segera pulih kembali. Beruntung Nyonya Katy tadi dibawa cepat ke rumah sakit, jadi kami bisa bertindak cepat!" Dokter Dessy menjelaskan.


"Baby boy or Baby girl?" seru Silvi.


"Baby boy, dia sangat tampan!" jawab Dokter Dessy.


Erick sangat bahagia, ia memeluk Silvi dengan sangat erat. Dave dan Aryn pun bergabung untuk memeluk mereka. Mereka merasa sangat bersyukur dan bahagia karena kedua orang yang mereka cintai baik-baik saja.


Melihat pemandangan haru itu, Samuel juga berpelukan dengan Angel. Zack merentangkan tangannya ingin bergabung.


"Berpelukan..." ucapnya.


"Enak aja, peluk Mei saja sana!" seru Samuel.


Zack pun merentangkan kedua tangan mengarah pada Mei. Mei hanya diam saja, dari sudut bibirnya ia tersenyum smrik.

__ADS_1


Dari ruang operasi, Erick melihat seorang suster mendorong box bayi. Erick bisa melihat putranya yang sedang berbaring di dalam box itu. Tubuhnya terlihat gemuk, dan sangat tampan tentunya. Dokter mengizinkan Erick untuk melihat putranya sejenak. Kemudian box itu dibawa ke ruang perawatan bayi. Tidak berselang lama, brankar Katy didorong keluar oleh beberapa suster. Erick bergegas menggandeng tangan Katy dan mengikutinya sampai ruang perawatan yang sudah disiapkan. Semua orang pun berlarian mengikuti juga.


Di ruang perawatan Katy,


Katy baru saja membuka matanya, tapi sudah dikejutkan dengan Erick yang memeluknya erat. Semua orang terkekeh melihat pasangan tua satu ini.


"Aku takut sekali," ucap Erick di pelukan Katy.


"Takut apa?" tanya Katy.


"Kehilanganmu," jawab Erick dengan semakin mengetatkan pelukannya.


"Aaww... Kalau kamu memelukku seperti ini kamu akan benar-benar kehilangan aku," rintih Katy.


"Aduh, pa! Itu perut mama dijahit tau!" seru Silvi.


"Maaf aku tidak tahu," Erick langsung melepaskan pelukannya.


"Si om nyosor mulu!" celetuk Mei.


Mendengar suara Mei, Samuel dan Angel langsung menoleh. Bukankah tadi Zack sedang berpelukan dengan Mei saat mereka semua kemari?


"Bukankah kau dan Zack tadi sedang...." ucap Samuel terpotong karena seseorang membuka pintu.


Ternyata Zack yang datang. Wajah Zack terlihat sangat kesal. Begitu melihat Zack, Mei langsung bersembunyi di belakang Aryn.


"Ada apa sih?" tanya Aryn pada Mei.


"Jangan banyak bertanya, Aryn sayangku! Lindungi saja sahabatmu ini dari kepunahan!" seru Mei.


"Maksudmu apa?" Dave tidak tahan untuk tidak berteriak pada Mei.


"Apa yang terjadi?" karena Mei tidak menjawab, Dave bertanya pada Zack.


Flashback on,


Zack merentangkan tangannya hendak memeluk Mei. Mei tidak berkata apapun, ia hanya tersenyum smrik.


"Mereka membuatku terharu," ucap Zack.


Zack mengeratkan tangannya yang memeluk gadis yang ia pikir Mei. Tapi di saat yang bersamaan Mei tertawa puas di balik dinding.


"Peluk tuh perawan tua!" Mei terkekeh.


Saat Zack mau memeluknya tadi, seorang suster yang berusia lebih tua darinya lewat di dekatnya. Tanpa pikir panjang, Mei menarik tangan suster itu. Jadi suster itulah yang dipeluk Zack. Suster itu memberontak dari pelukan Zack. Tapi Zack menahannya.


"Jangan menolak, biarkan seperti ini sebentar saja!" ucap Zack.


Mei terkekeh mendengarnya, ia bergegas pergi menyusul Dave dan yang lainnya meninggalkan Zack.


"Tuan sadar tuan!" seru suster yang dipeluk Zack.


"Sejak kapan kamu memanggilku tuan, Mei?" tanya Zack.


"Saya bukan Mei, tuan!" seru suster itu.


Zack terdiam, ia lalu melepaskan pelukannya. Setelah melihat siapa yang ia peluk, Zack berteriak.


"Ngapain kamu peluk saya?" teriak Zack.


"Tuan yang memeluk saya," jawab suster itu.


"Kepedean!" seru Zack.

__ADS_1


"Dasar orang gila!" suster itu mengumpat lalu pergi.


Tapi baru beberapa langkah suster itu pergi, ia menoleh lagi pada Zack.


"Tuan pasti gila karena kesepian, hubungi saya saja tuan! Saya masih jomblo kok," suster itu mengedipkan sebelah matanya, menggoda Zack.


"Amit-amit..." Zack melangkah pergi.


Flashback off,


Semua orang tertawa mendengar cerita Zack. Katy yang merasakan sakit di perutnya pun bisa tertawa keras.


"Sangat memalukan," Dave tertawa.


"Awas kamu, Mei!" Zack menatap Mei tajam.


"Rasakan! Salah siapa sembarang meluk anak perawan, makan tuh perawan tua!" Mei meledek.


Ruang perawatan Katy dipenuhi canda tawa semua orang. Mereka semua menemani Katy, mereka tidur di ruang perawatan lain yang kosong. Karena ini rumah sakit keluarga Erick, tentu mereka bebas. Hingga keesokan harinya, Dokter Dessy dan suster datang ke ruang perawatan Katy. Mengatakan mereka bisa bergiliran masuk ruang perawatan bayi untuk menjenguk baby mereka. Sebenarnya Katy dilarang untuk menjenguk, karena ia masih lemah dan luka jahitannya tentu masih basah. Tapi ia memaksa untuk melihat. Katy pergi ke ruang perawatan babynya dengan menggunakan kursi roda.


"Itu baby kita?" ucap Katy saat melihat babynya dari luar kaca ruang perawatan.


"Iya, sayang!" jawab Erick.


Katy dan Erick masuk ke ruang perawatan. Sisanya melihat dari kaca pembatas. Mereka bisa bergiliran masuk, tapi mereka sudah memutuskan hanya Katy dan Erick yang masuk. Mereka takut terjadi sesuatu dengan sang baby.


"Adikku tampan sekali," ucap Silvi sendu.


"Itu adikku juga," seru Dave.


"Tampan sekali," ucap Aryn.


"Sekarang Davin punya om, ya! Om kecil!" ucap Mei membuat semua orang terkekeh.


"Semoga adik lo nggak manggil papanya dengan sebutan opa," Samuel menepuk bahu Dave.


"Rese lo!" sahut Dave.


"Namanya siapa, om?" tanya Samuel lirih sambil menunjuk-nunjuk babynya.


"Desmon Abrar Winata," Erick menunjukkan sebuah kartu kecil dari sakunya.


Rupanya Erick sudah menyiapkan nama itu sejak lama. Erick menghujani Katy dan babynya dengan ciuman cinta.


"Astaga! Arynnnnn!" Mei tiba-tiba berteriak.


"Ada apa?"


"Cemilan yang aku bungkus tertinggal di sofa, aku mau ambil dulu!" ucap Mei.


"Terserah lah terserah..." Aryn putus asa dengan watak sahabat satu-satunya itu.


Dave merangkul bahu Aryn. Mereka menatap Erick dan Katy yang tengah memeluk baby mereka. Samuel ikut-ikutan merangkul Angel.


"Jangan rangkul Silvi ya, kak!" seru Silvi pada Zack.


Zack menatap semua pasangan itu sambil menggigit jari. Ia tidak tahan jomblo lagi. Sudut matanya menatap Mei yang berlarian pergi yang tadi katanya mau mengambil bungkusan cemilan.


"Nggak mungkin aku suka gadis itu," gumamnya.


Kehadiran Desmon di tengah-tengah keluarga Winata membuat kebahagian mereka bertambah berkali-kali lipat. Kehadiran Desmon, juga memberikan banyak harapan untuk Erick. Kesalahannya di masa lalu, tidak akan dia ulangi. Karena kesalahannya dulu, keluarganya terpecah belah. Ia akan memperbaiki kesalahannya dengan mendidik Desmon menjadi pria yang mencintai keluarganya kelak.


.....................

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar ya!


__ADS_2