Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
DI MALL


__ADS_3

WARNING:


SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.


HAPPY READING 😘


.............................


"Take care babe!" seru Dave dengan senyum yang mengembang.


Aryn bergegas menarik Silvi masuk ke dalam mobil yang sudah siap berangkat. Sesaat setelah pintu tertutup rapat, sang sopir langsung melajukan mobilnya perlahan keluar dari gerbang mansion. Kali ini mereka terbebaskan dari pengawalan anak buah Dave, Silvi dan Aryn bersusah payah memohon kepada Dave untuk mengizinkan mereka menghabiskan waktu tanpa gangguan. Jelas saja Dave tidak bisa menolak permohonan mereka. Tapi bukan Dave namanya jika dia tidak mempunyai soludi dari kesulitannya. Ia akan mengirim anak buahnya diam-diam.


"Kak Aryn dan Kak Dave sekarang semakin dekat, ya?" tanya Silvi.


"Ya begitulah! Tempo hari Dave mengajakku untuk membakar foto Elsa dan barang-barangnya, lalu dia mengatakan bahwa dia membuka hatinya untukku!" jawab Aryn dengan malu-malu.


"Sungguh?" kedua mata Silvi berbinar penuh harapan.


"Iya, Silvi! Menurutmu, apakah Dave akan mencintaiku?" Aryn bertanya balik.


"Aku yakin 100% Kak Dave akan mencintaimu, kak! Bahkan aku tahu sekarang Kak Dave mulai menaruh hati, buktinya sikapnya berubah drastis!" jawab Silvi.


"Semoga saja!" lirih Aryn.


"Bagaimana dengan Kakak? Apakah Kak Aryn mulai merasakan getaran-getaran asmara saat sedang berdekatan dengan Dave?"


"Entahlah! Di saat aku berdekatan dengan kakakmu, aku masih merasa takut! Terlebih jika ia berbicara dengan nada tinggi, membuatku teringat trauma masa lalu," jawab Aryn dengan sendu.


"Silvi paham, kak! Tapi Silvi mohon cobalah mencintai Kak Dave," seru Silvi.


"Aku sedang mencobanya," jawab Aryn yang menggenggam tangan Silvi.


Ciittt,

__ADS_1


Sopir Silvi mendadak menginjak pedal rem. Silvi hampir saja terjungkal ke depan, untung Aryn memegangi tangannya dengan sangat erat.


"Ada apa, pak?" seru Silvi.


"Mobil hitam itu hampir saja menyerempet mobil ini, nona! Maaf jika saya tiba-tiba mengerem!" jawab sopir Silvi dengan gugup.


"Kalau nanti aku melihat mobil itu, akan ku gantung semua rodanya di atas pohon! Hampir saja ciuman pertama ku diambil oleh jok ini!" seru Silvi memukul jok di depannya.


Aryn menaikkan alisnya sebelah, gadis berusia 15 tahun yang duduk di sebelahnya ini sudah mengerti tentang ciuman pertama. Mungkin efek dari hobinya yang membaca novel romantis.


"Sudahlah, Silvi! Mungkin mobil tadi sedang terburu-buru! Pak tolong jangan beritahu Dave, ya!" ucap Aryn.


"Baik, nona!" jawab sopir yang menjalankan lagi mobil dengan perlahan.


Perjalanan mereka menuju ke mall berlanjut. Sopir Silvi mengendarai mobil jauh lebih berhati-hati daripada sebelumnya. Silvi dan Aryn mengobrol santai sepanjang perjalanan. Hingga tidak terasa mobil yang mereka tumpangi memasuki area parkir mall. Yang membuat Aryn heran, mobil mereka berhenti tepat di depan pintu utama mall tidak seperti mobil lainnya yang berhenti di area parkir. Lalu semua pegawai mall berbaris di depan pintu, mereka menunduk hormat saat Silvi dan Aryn berjalan masuk.


"Kenapa semua pegawai mall ini menunduk kepada kita, Silvi?" tanya Aryn.


"Karena ini semua milik Kak Dave!" jawab Silvi yang merentangkan kedua tangannya.


Aryn tidak tahu seberapa kaya pria yang menikahinya. Ia hanya merespon Silvi dengan anggukan. Ia tidak mempedulikan kekayaan yang dimiliki Dave.


"Maaf nona, kami tidak tahu jika anda dan Nyonya Dave akan berkunjung! Saya akan segera memerintah para pegawai untuk menyeterilkan semua area dari pengunjung dan menutup mall!" ucap manager.


"Baiklah," sahut Silvi singkat.


"Kami hanya ingin membeli beberapa buku, kalian tidak perlu mengusir semua pengunjung yang sedang berbelanja di sini. Perlakukan saya dan Silvi seperti pengunjung mall biasa saja, sekarang lanjutkan pekerjaan kalian! Layani pengunjung mall dengan baik!" ucap Aryn yang langsung diangguki manager dan pegawai lainnya.


Silvi tersenyum melihat sikap kakak iparnya yang sederhana. Ia lalu menggandeng tangan Aryn, membimbingnya untuk menuju tempat yang ingin ia datangi.


"Kak Aryn lihatlah! Baru sinopsisnya saja sudah membuatku terbawa perasaan alias baper! Uh so sweet nya..." seru Silvi menunjukkan sebuah novel bergenre romantis.


"Aduh, Silvi! Sebaiknya kamu stop baca novel romantisnya," Aryn mendumel sembari menyodorkan buku motivasi.


"Novel ini bahkan lebih cukup memotivasiku kak! Jadi aku tidak perlu membaca buku motivasi untuk orang tua seperti itu!" sanggah Silvi.

__ADS_1


"Memotivasi untuk apa? Untuk mendapatkan pasangan hidup yang sangat pandai seperti Soke Bahtera? Atau pasangan hidup yang akan selalu menyapamu di dalam bus seperti Hakan Karim?" ledek Aryn.


"Semoga saja aku bisa mendapatkan salah satu yang seperti mereka kak!" jawab Silvi dengan senyumnya yang merekah hingga menampilkan gigi putihnya.


Lalu mereka berdua tertawa bersama. Silvi mengambil sepuluh novel yang bergenre hampir romantis semua. Sementara Aryn, ia hanya mengambil sebuah buku. Ia merasa tidak enak jika memilih lebih dari satu novel, karena Silvi yang membayar semua tagihan mereka. Walaupun Silvi bisa mengambil apapun dan sebanyak yang ia mau di mall milik kakaknya ini, tapi ia tetap membayar barang pilihannya di kasir.


Berkeliling mencari novel membuat perut mereka keroncongan. Mereka memutuskan untuk mampir di food court. Meja yang berada di ujung menjadi pilihan mereka berdua.


Di saat mereka sedang menyantap makanan mereka, datang seorang wanita dengan pakaian yang terlihat seperti kurang bahan menghampiri meja mereka.


"Silvi? Kau Silvi adik perempuan Dave Winata, bukan?" sapa wanita itu.


"Kakak siapa ya?" tanya Silvi.


"Aku Viny! Aku kira kau masih mengingatku! Kakakmu pernah membawaku mengunjungi mansion miliknya, kita sempat berkenalan waktu itu! Oops, aku lupa jika di sini ada istrinya Dave!" ucap Viny.


Para wanita yang tergila-gila dengan Dave pasti rela membayar orang untuk mencari tahu apa saja yang Dave lakukan. Tidak heran jika Viny bisa tahu informasi tentang pernikahan Dave dan siapa istrinya.


"Maaf jika aku tidak mengingat kakak! Kakak pasti juga tahu jika Kak Dave tidak hanya membawa pulang satu wanita saja! Jadi aku tidak hafal semua wanita Kak Dave! Maklum lah ya, Kak Dave uangnya banyak. Jadi banyak wanita murahan yang kecantol!" jawab Silvi, nadanya halus tapi setiap kata yang ia ucapkan benar-benar membuat Viny mengepalkan kedua tangannya.


Aryn memilih untuk diam, ia tidak tahu banyak mengenai Dave. Jadi diam adalah pilihan yang paling aman untuknya sekarang.


"Bagaimana kabar Dave?" tanya Viny berusaha menahan amarahnya.


"Dia baik-baik saja, bahkan sedang bahagia!" jawab Silvi sambil melirik Aryn.


"Aku kira dia masih teringat mantannya yang sudah mati itu! Berhubung jadwalku padat hari ini, aku pergi dulu ya! Selamat bersenang-senang!" ucap Viny yang bergegas melangkah pergi.


Deg,


"Wanita ini juga mengetahui Elsa, apakah Dave benar-benar bisa melupakan Elsa?


"Oh, iya hampir lupa! Saat kalian pulang nanti, tolong sampaikan pada Dave jika aku merindukannya! Aku rindu berolahraga malam hingga berbagi keringat dengannya, bye!" seru Viny yang kembali ke meja Aryn dan Silvi lalu pergi dengan senyum sinisnya.


"Kampret nih cewek!" umpat Silvi dengan lirih.

__ADS_1


Deg,


Dada Aryn terasa sesak, ia memang mengetahui jika Dave bergonta-ganti wanita. Tapi entah mengapa perkataan Viny membuatnya merasa sakit hati dan memikirkan sudah berapa banyak wanita yang Dave tiduri. Silvi mengetahui ekspresi Silvi yang berubah seketika, ia juga melihat bulir air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Ia menggenggam erat tangan kakak iparnya dan berusaha meyakinkannya.


__ADS_2