Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
REZA


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Zack dan Samuel saling menatap, wajah mereka sama-sama pucat. Sekeras apapun mereka berusaha rasa takut mereka dengan darah tidak bisa dihilangkan. Mereka terduduk lemas di bangku pinggir halaman belakang, berseberangan dengan markas tadi.


Tidak ada percakapan di antara mereka. Keduanya hanya terdiam, menenangkan diri masing-masing.


"Tuan!"


Dubrak,


Samuel dan Zack melihat ke sumber suara. Nampak Frans terjungkal menabrak tanaman hias di pinggir halaman.


Frans terlihat sangat ketakutan, wajahnya pucat seperti dikejar hantu. Susah payah ia berdiri membenahi pakaiannya yang berantakan. Ia berjalan gontai menghampiri Samuel dan Zack.


"Itu!" lirih Samuel menunjuk-nunjuk Frans.


Dubrak,


Frans jatuh tengkurap mencium rumput halaman itu. Kakinya tersandung ornamen batu hiasan di sisi tanaman hias. Frans berdiri lagi. Langkah kakinya terseret-seret menghampiri Samuel dan Zack.


"Darah, tuan!" lirih Frans tangannya menunjuk markas. Samuel dan Zack mengangguk, mereka tadi melihat darah itu. Mereka juga takut dengan darah itu, sama seperti Frans.


"Mamaaa...." lirihnya.


Bruk,


Frans jatuh pingsan di pangkuan Samuel dan Zack. Samuel dan Zack saling menatap, lalu


Dubrak,


Samuel dan Zack menjatuhkan Frans dari pangkuan mereka. Frans terguling ke rerumputan.


"Selalu saja menyusahkan! Pingsan saja memilih tempat!" seru Samuel.


"Tinggalkan saja!" sahut Zack.


Mereka berdua meninggalkan Frans yang tergeletak di rumput. Tapi wajah mereka masih terlihat pucat. Baru saja mereka berniat masuk ke dalam mansion, dari markas terlihat beberapa Ken dan beberapa anak buah Dave mengangkat kantong berukuran besar. Pasti kantong itu berisi mayat Dion.


"Apa lo memikirkan hal yang sama?" tanya Zack.


"Kita memang sehati dan sepemikiran! Hitungan ketiga, kita harus pergi dari sini!" sahut Samuel.


"Tiga!" Samuel berlari memasuki mansion.

__ADS_1


"Brengs*k!" umpat Zack.


Tanpa menunggu lama, Zack menyusul Samuel yang sudah masuk ke dalam mansion. Ken tersenyum sinis melihat Samuel dan Zack yang berlarian masuk. Ditambah lagi melihat Frans yang terkapar tidak berdaya di atas rumput.


"Mau kemana?" seru Ken pada salah satu anak buah Dave yang hendak mendekati Frans.


"Saya mau menolongnya, tuan!" jawabnya.


"Tinggalkan saja! Dia hanya pingsan, lima menit lagi juga sadar!" seru Ken.


Mereka melanjutkan tugas mereka membawa mayat Dion pergi dari mansion sesuai perintah Dave.


 


Di Paris,


Reza merebahkan tubuhnya di sebuah sofa panjang yang terletak di sudut ruangannya. Ia hanya menatap ponselnya. Berulang kali ia mencoba menghubungi Silvi tapi tidak mendapat balasan. Pekerjaannya hari ini sudah selesai, tapi rasanya ia enggan untuk beranjak dari tempatnya. Reza masih menunggu balasan dari Silvi. Zona waktu mereka memiliki perbedaan 6 jam. Sekarang pukul 8 malam di Paris, itu artinya pukul 2 pagi di tempat Silvi berada.


"Dia pasti sudah tidur," gumam Reza.


Reza mengecek sekali lagi ponselnya. Kedua matanya melotot saat mengetahui jika Silvi sudah membaca semua pesannya. Tapi Silvi tidak membalasnya. Reza memejamkan kedua matanya. Pikirannya menerawang jauh, memikirkan posisinya saat ini.


Tiba-tiba pintu ruangannya di buka dari luar. Seorang wanita cantik dengan tubuh yang sexy masuk ke dalam ruangannya. Usianya hanya selisih 2 tahun dengan Reza. Wanita itu melangkah perlahan mendekati Reza. Senyumnya terlihat menggoda. Tapi Reza tidak memeperhatikannya sama sekali, ia sungguh tidak tertarik.


"Bersikaplah layaknya seorang kekasih," sahut wanita itu.


"Kekasih?" Reza membenahi posisi duduknya.


"Iya, kita adalah sepasang kekasih, kamu lupa?" serunya. Wanita itu duduk di sebelah Reza. Wanita itu duduk sangat dekat, lengannya menempel pada tubuh Reza.


"Hubungan kita sudah lama berakhir!" seru Reza.


"Tapi papimu yang memintaku untuk bersamamu! Dia menginginkan kita segera menikah!"


"Aku tidak akan pernah menikahimu, jangan memaksaku lagi!" sahut Reza.


"Tidak bisa, kamu harus menikahiku! Papimu sudah berjanji dengan papaku!"


"Hati tidak bisa dipaksakan!" Reza beranjak dari sofanya.


Dengan cepat, wanita itu menarik tangan Reza. Wanita itu mendorong Reza hingga terjatuh ke sofa. Reza berusaha untuk bangun, tapi ia kalah cepat. Wanita itu menindih tubuhnya, memegangi kedua tangannya agar tidak melawan. Reza sempat berhasil menggulingkannya, jadi Reza yang berada di atas wanita itu. Tapi wanita itu membalik keadaan dengan cepat.


"Wanita gila!" umpat Reza.


Wanita itu tidak mempedulikan sumpah serapah yang dilontarkan Reza. Ia kini mencium Reza. Reza terdiam, ia menutup bibirnya rapat-rapat. Ia tidak membalasnya. Hingga saat wanita itu lengah, Reza mendorongnya dengan keras.

__ADS_1


Bruk,


Wanita itu jatuh terjengkang di lantai yang dingin. Kedua mata Reza terlihat dipenuhi oleh amarah.


"Kau pikir aku akan menuruti keinginan papiku? Setelah kejadian ini aku semakin yakin keputusanku sudah benar! Aku tidak akan menikahimu! Tindakanmu tidak jauh berbeda dari seorang jal**g di luaran sana. Aku tidak mungkin menikahi wanita rendah sepertimu!" Reza terlihat sangat marah.


"Aku seperti ini karena kau mencintaimu!" serunya.


"Benarkah? Tapi aku rasa perasaanmu itu tidak lebih dari sebuah ambisi untuk memilikiku!" sahut Reza.


Wanita itu terdiam. Ia merasa ucapan Reza benar.


"Benarkan ucapanku? Kau hanya berambisi untuk memilikiku! Tidak ada rasa cinta, hanya ambisi! Untuk mencapai apa yang kau inginkan, kau memperalat papiku! Itu salah besar! Cinta tidak bisa dipaksakan! Dan asal kau tahu cintaku sudah memiliki rumah untuk pulang! Aku hanya akan kembali kepadanya dan menikahinya!" seru Reza.


"Tidak... Kamu hanya milikku! Tidak ada seorangpun yang pantas memilikimu selain aku, Reza!" protes wanita itu.


"Kau mengatakan kau pantas? Lihatlah dirimu! Dirimu sangat jauh dari kata pantas! Apakah tindakanmu tadi benar? Tidak... hanya jal**g yang melakukan tindakan itu! Apakah seorang jal**g pantas memilikiku?" Reza tersenyum sinis.


Blam,


Wanita itu menutup pintu ruangan Reza dengan sangat keras. Ia merasa terpojok dengan ucapan Reza. Jadi ia memutuskan untuk mengalah dan keluar dari ruangan itu. Mengalah bukan berarti kalah, wanita itu telah merencanakan sesuatu untuk mendapatkan keinginannya.


"Hampir saja dia menggagahiku! Pria itu harusnya dijaga bukan dirusak!" keluh Reza.


Reza masuk ke dalam toilet. Ia membasuh bibirnya dengan air dari kran. Ia menggosoknya berkali-kali. Reza tidak ingin bibir wanita itu meninggalkan bekas di bibirnya.


Reza memijat pelipisnya. Kepalanya terasa sangat pusing. Semakin lama semakin banyak masalah yang ia hadapi terutama dalam hubungannya dengan Silvi. Silvi pasti marah karena wanita itu. Reza yakin Silvi diam-diam mengawasi gerak-geriknya selama di Paris. Apalagi ia tidak mengabari Silvi semenjak keberangkatannya. Reza ingin menjelaskan yang sebenar-benarnya pada Silvi. Tapi Silvi bahkan tidak ingin mengangkat teleponnya.


Wanita itu benar-benar membuat beban hidupnya semakin berat. Perlahan tapi pasti, Reza pasti akan terlepas dari wanita itu.


"Kamu harus mendengarkan penjelasanku, Silvi!" ucap Reza saat mencoba menelpon Silvi lagi.


Lagi-lagi Silvi tidak mengangkatnya. Padahal baru beberapa menit lalu dia membaca pesannya. Reza merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Ia malas untuk pulang ke apartemennya. Reza membuka galeri ponselnya. Bibirnya tersenyum tipis melihat wajah gadis kecil yang berhasil memporak-porandakan hatinya saat ini.


"Aku sungguh minta maaf, aku merindukanmu," lirih Reza.


Akhirnya Reza tertidur di sofa dengan memeluk ponselnya.


.................


Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin 🙏 Eid Mubarak!


Author minta maaf lahir dan batin, apalagi hari ini tidak bisa up banyak😅, InshaAllah di episode selanjutnya author banyakin up nya ya! Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian!


Sekali lagi mohon maaf lahir dan batin semuanya!

__ADS_1


__ADS_2