
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Frans sudah menyiapkan mobil Dave di depan pintu utama mansion sesuai dengan perintah Dave. Terlihat Dave sudah keluar dari mansion dengan masih menggunakan kemeja yang ia gunakan tadi pagi. Ia memutuskan untuk menunggu Aryn depan mansion.
Sepuluh menit kemudian Aryn keluar dari lift dan menghampiri Dave. Aryn langsung menggandeng lengan Dave dan membawanya masuk ke dalam mobil. Dave sedikit terkejut melihat tangan Aryn sudah melingkar di lengannya yang berotot. Bukankah Aryn akan mual jika mencium bau tubuhnya?
"Kamu tidak merasa mual?" tanya Dave yang terus melihat tangan Aryn.
"Tidak, aku pakai ini!" jawab Aryn dengan ceria.
Ternyata Aryn menggunakan masker.
"Benarkah? Jadi aku bisa memelukmu?" tanya Dave girang.
Aryn hanya menjawab dengan anggukan. Dave langsung memeluk Aryn dengan erat, ia juga menghujani pucuk kepala Aryn dengan kecupan hangat tanpa mempedulikan Frans yang diam-diam mengintip dari kaca spion.
"Kenapa tidak dari pagi kamu memakainya? Apakah kamu tidak peduli denganku? Aku harus menjaga jarak sejauh 2 meter," keluh Dave.
"Aku baru memikirkannya, sayang! Asal kamu tahu, aku harus menggunakan dua masker sekaligus agar aku tidak bisa mencium bau badanmu," jawab Aryn.
"Sebentar lagi kita akan bertemu dokter, dia pasti mempunyai jawaban sekaligus solusi untuk masalah yang kita hadapi, jadi kamu tidak perlu memakai masker sebanyak ini!" ucap Dave sambil memeluk erat Aryn.
Mereka hampir sampai di rumah sakit. Gedung tinggi bertuliskan Win's Hospital sudah terlihat. Frans dengan lincah membelokkan dan memarkirkan mobil milik tuannya di area parkir. Seorang security menghampiri mobil mereka. Security itu membuka pintu yang berada tepat di samping Dave. Setelah Dave turun dari mobil, security itu langsung berlarian menuju pintu satunya. Tapi sebelum dia membuka pintu untuk Aryn, tangannya sudah dihalangi oleh Dave.
"Jangan merampas tugasku kalau kau tidak ingin jika pekerjaanmu kurampas!" ancam Dave.
"Maaf tuan muda!" lirih security itu.
Dave lantas membukakan pintu untuk Aryn dan mengulurkan tangannya kepada Aryn. Aryn pun menerima uluran tangan Dave. Karena ia sudah menggunakan masker tentu ia tidak akan merasa mual jika berdekatan dengan Dave.
Para pegawai rumah sakit berjajar rapi di loby rumah sakit. Begitu kaki Dave dan Aryn melangkah masuk, mereka semua menunduk hormat. Ya, rumah sakit ini milik keluarga yang di kelola papanya. Tapi Dave memiliki saham atas namanya sendiri di sini, nilainya pun sama besar dengan saham papanya. So, Dave tentu sama berkuasanya di rumah sakit ini. Sebenarnya Dave bisa saja memilih rumah sakit lain, tapi setelah mempertimbangkan satu dan lain hal akhirnya Dave memilih untuk membawa Aryn ke rumah sakit ini. Paman Kevin juga bekerja di sini. Dave merasa lebih mempercayakan kesehatan istrinya ditangan para dokter di rumah sakit ini. Sebelumnya ia juga merasa khawatir jika harus bertemu dan berhadapan dengan papanya, tapi Paman Kevin mengatakan jika papanya sangat jarang mengunjungi rumah sakit. Berbeda dengan Dave yang rutin mengecek rumah sakit satu bulan sekali.
"Sebenarnya dia punya apa saja? Yang aku tahu dia pemilik hotel dimana dia menyelamatkanku dulu, lalu mall yang aku kunjungi bersama Silvi waktu itu, sekarang rumah sakit sebesar ini? Apakah hotel di seberang jalan itu juga miliknya?" gumam Aryn.
Tanpa Aryn sadari gumamannya di dengar Dave.
"Itu semua bukan milikku, tapi milikmu juga! Semua yang aku miliki adalah milikmu juga, termasuk hotel di seberang jalan yang kamu katakan itu, dan masih ada beberapa lagi!" lirih Dave di telinga Aryn.
Aryn bersusah payah menelan salivanya. Hotel di seberang jalan yang di bicarakannya berada tepat di depan rumah sakit ini. Hotelnya mewah dan cukup besar. Ah sudahlah, kekayaan Dave tidak penting baginya.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter wanita menyambut Dave dan Aryn dengan ramah. Dave yang meminta Paman Kevin untuk menyiapkan dokter kandungan itu. Dan harus wanita.
"Selamat siang Tuan dan Nona Winata! Saya Dessy, dokter kandungan di rumah sakit ini! Dokter Kevin mengatakan jika tuan dan nona akan berkonsultasi, mari ruangan saya ada di sebelah sana!" ucap Dokter Dessy dengan sopan.
__ADS_1
Dave dan Aryn berjalan beriringan di belakang Dokter Dessy. Saat mereka tiba di ruangan Dokter Dessy mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Silahkan tuan, nona! Apa yang bisa saya bantu?" ucap dokter cantik itu, ia menyuguhkan beberapa kue dan jus dalam kemasan.
"Sejak pagi saya mual dan pusing jika mencium bau badan suami saya, dok! Saya sampai lemas karena saya muntah sangat banyak," ucap Aryn.
"Saya juga mendadak menyukai jeruk, dok! Sangat terobsesi untuk memakan bahkan mencium aromanya, sekarang saya sampai menyimpan kulit jeruk ndi saku celana saya!" imbuh Dave.
Aryn langsung menatap Dave, ia tidak terlalu memikirkan perubahan sikap Dave akhir-akhir ini. Ia baru tahu jika Dave sampai menyimpan kulit jeruk di saku celananya.
"Kapan terakhir kali Nona Aryn menstruasi?" tanya Dokter Dessy.
"Kata suami saya sih telat tujuh hari, dok!" jawab Aryn dengan polos.
"Oh telat tujuh hari ya?" Dokter Dessy Hanya tersenyum menatap pasangan di hadapannya ini.
"Silahkan berbaring di sini nona," ucap Dokter Dessy.
Aryn berbaring di bed sesuai arahan dokter. Dave berdiri tepat di samping bed dimana Aryn akan diperiksa. Jantungnya terasa berdegup lebih kencang, seperti genderang mau perang.
Dokter Dessy tampak meletakkan stetoskopnya di dada Aryn, ia juga mengecek denyut nadi Aryn.
"Apakah Tuan Dave melihat ada perubahan bentuk tubuh Nona Aryn? Dan juga perubahan emosi yang secara tiba-tiba?" tanya Dokter Dessy di sela-sela pemeriksaan. Membuat Aryn dan Dave semakin bingung, cemas, sekaligus penasaran.
"Sekarang agar lebih jelas, saya akan menunjukkannya saja," ucap Dokter Dessy menimbulkan banyak pertanyaan dari Aryn dan Dave.
Dokter Dessy menyingkap baju yang Aryn gunakan. Dioleskannya suatu benda yang mirip gel di perut rata Aryn.
"Apa yang kau lakukan padanya?" seru Dave.
"Lihatlah gambar yang ada di monitor itu, tuan dan nona!" seru Dokter Dessy.
Lantas Aryn dan Dave menatap monitor itu bersamaan. Terlihat sebuah kantong kecil yang belum sempurna bentuknya di sana. Kedua bola mata Aryn tampak basah. Walaupun ia belum pernah hamil, tapi ia mengerti ada kehidupan di rahimnya. Ia tahu itu adalah darah dagingnya. Berbeda dengan Aryn, Dave sama sekali tidak mengerti.
"Itu apa?" tanya Dave.
"Anak kita, Dave Junior," ucap Aryn dengan sesenggukan.
Dave mematung, ia menatap Dokter Dessy. Walaupun bibirnya tertutup rapat, tapi kedua sorot matanya menuntut kebenaran ucapan Aryn. Dokter Dessy pun tersenyum.
"Benar, tuan! Itu adalah calon anak tuan dan nona! Usia kehamilannya masih sangat muda baru 3 minggu karena itu bentuknya seperti kantong tapi belum menampakkan diri secara utuh!" jawab Dokter Dessy.
"Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu!" ucap Dave dengan derai air mata.
Pertama kalinya, Dokter Dessy melihat sosok Dave Winata yang kejam, angkuh, dan dingin sedang menangis.
__ADS_1
Dave menggenggam erat tangan Aryn, air matanya menetes saat melihat monitor di hadapannya. Lalu ia menghujani wajah Aryn dengan kecupan. Ia mengambil ponselnya, dan berfoto selfi dengan Aryn dan monitor yang bergambarkan calon anak mereka. Sebuah foto bersejarah baru saja ia ambil. Foto pertama dari keluarga kecil mereka.
Dokter Dessy membiarkan pasangan itu mengekspresikan kebahagiaan mereka. Setelah mereka selesai, baru dia mempersilahkan keduanya untuk duduk di kursi yang telah disediakan.
"Ini vitamin yang harus Nona minum," ucap Dokter Dessy menyerahkan beberapa bungkus vitamin.
"Baik, dok!" jawab Aryn.
"Lalu untuk hidung istri Saya apakah ada masalah?" tanya Dave dengan polos.
"Apa yang terjadi dengan anda dan nona akhir-akhir ini adalah bawaan dari sang bayi! Bukan penyakit. Banyak ibu hamil yang mengalami hal semacam itu, tiba-tiba menyukai bau badan suami yang tidak mandi atau bahkan tidak menyukai bau badan suami meskipun sudah bermandikan parfum! Banyak pria juga yang merasakan hal-hal aneh selama kehamilan istrinya, seperti anda tuan! Malah terkadang ada beberapa kasus sang suami lah yang morning sickness dan ngidam! Selain itu Perasaan istri yang sedang hamil akan lebihq sensitif. Mudah marah, sedih, ataupun tersinggung," jawab Dokter Dessy.
"Jadi apa solusinya?" Dave bertanya lagi.
"Solusi satu-satunya adalah bersabar! Karena masalah ini lumrah terjadi di trimester pertama," jawab Dokter Dessy.
"Berapa lama trimester pertama itu?" tanya Dave.
"Sampai minggu ke 13, tuan!" jawab dokter dengan ramah.
"Lama sekali, apakah tidak bisa dikurangi?" seru Dave.
"Sabar Dessy... orang kaya mah bebas! Sampe lama trimester pertama aja dinego!" batin Dokter Dessy.
Seketika Dave merasa lemas. Ia harus menjaga jarak dengan Aryn selama itu. Artinya ia tidak akan tidur bersama Aryn selama itu juga. Dave bisa saja meminta Aryn memakai masker. Tapi tidak mungkin meminta Aryn memakai masker semalaman agar ia bisa memeluk Aryn saat tidur. Tiba-tiba sebuah pertanyaan melintas di kepalanya.
"Apakah masih bisa ML?" tanya Dave.
"ML?" tanya Dokter Dessy kebingungan.
"Making love," ucap Dave membuat Dokter Dessy langsung tertawa.
Aryn menatap tajam ke arah Dave. Dave hanya menyengir menunjukkan deretan giginya. Aryn berusaha menyembunyikan pipinya yang sudah merah keduannya.
"Boleh, tapi frekuensinya harus dikurangi! Tidak boleh kasar karena akan membahayakan janin." jawab Dokter Dessy.
"Baikalah! Terima kasih!" ucap Dave.
"Sama-sama, tuan! Sekali lagi selamat atas kehamilan Nona Aryn! Nona Aryn tidak boleh strees dan terlalu lelah, usia kandungannya masih rawan!" jawab Dokter Dessy.
Dave mengangguk, ia menggandeng Aryn keluar dari ruangan itu. Ia sangat bahagia hari ini. Rasanya ia tidak sabar memberitahu Silvi dan sahabatnya.
.........
Stay tuned ya!
__ADS_1