Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
JEJAK PETUALANGAN


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


.....................


Hari ini mansion terasa lebih ramai, tentu karena Samuel dan Angel menambah jumlah pemghuni mansion yang besar ini. Ditambah lagi sekarang adalah weekend.


"Lo masih mau muntah lagi?" tanya Samuel.


"Sekarang sudah tidak, thanks!" jawab Angel menerima segelas air putih pemberian Samuel.


Kenapa kalau Samuel di dekat gua mualnya hilang ya? Aneh...


Ketika Samuel berolahraga di ruang fitnes pagi tadi, Angel berkali-kali memuntahkan isi perutnya. Sampai membuatnya lemas, ia baru berhenti muntah saat ia bertemu Samuel yang sedang mengambil minuman dingin di dapur.


"Lo nggak pengen mangga muda gitu?" tanya Samuel.


"Ini masih pagi, masa makan mangga muda!" sahut Angel.


"Biasanya wanita hamil suka makan yang asem-asem, terus ngidam makanan gitu! Lo nggak pengen makan sesuatu?" ucap Samuel yang mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Angel.


"Enggak," jawab Angel datar.


"Ya sudah, gua mandi dulu!" ucap Samuel beranjak dari kursinya.


Baru tiga langkah Samuel meninggalkan meja makan, Angel berlari terbirit-birit menuju wastafel. Lagi-lagi ia memuntahkan isi perutnya. Samuel mengurungkan niatnya untuk mandi, ia bergegas menghampiri Angel.


Ia memijit lembut tengkuk Angel.


"Jangan jauh-jauh dari gua!" lirih Angel.


"Kenapa?" tanya Samuel.


"Kalau lo jauh dari gua pasti gua langsung mual!" ucap Angel yang sedang membersihkan mulutnya.


Lantas Samuel terkekeh mendegar ucapan Angel yang terdengar konyol baginya. Apa hubungannya mereka tidak berjauhan dengan mual?


"Kenapa lo ketawa? Gua rasa ini bawaan dari anak lo!" seru Angel.


"Bilang aja lo yang nggak mau jauh dari gua, nggak usah menggunakan anak kita untuk tameng," sahut Samuel terkekeh.


"Terserah," ucap Angel cuek, ia mengisi gelasnya yang sudah kosong dengan air mineral lalu kembali duduk di meja makan.


"Wah, calon papa dan mama sedang berduaan disini rupanya!" seru Reza yang baru datang.


Samuel memutar bola matanya malas, jika Reza datang pasti ia akan menjadi korban utama kegiatan bullying yang dia lakukan.


"Mirip setan lo, Za! Datangnya tiba-tiba plus tidak diinginkan!" ucap Samuel.


"Mentang-mentang udah jadi calon papa ngatain gua seenaknya!" seru Reza kesal.


"Gua males di apartemen sendirian," lanjut Reza.


"Pulang ke rumah mami dong! Cek tuh ponsel lo, pasti sudah penuh misscalled dari mami!" ledek Samuel.


"Males ah! Nanti gua diajak ke arisan lagi!" ucap Reza.


"Bhuahahaha! Yang bener lo?" Samuel terpingkal.

__ADS_1


"Iya, mami jodoh-jodohin gua!" tukas Reza.


"Makanya cepet-cepet cari calon istri! Kalau lo bingung yang mana yang jadi duluan lo nikahin aja!" seru Samel.


"Shit! Kalau jadi semua mati gua!" Reza menoyor kepala Samuel, lalu keduanya dan juga Angel tertawa.


"Good morning, Kak Reza!" seru Silvi berjalan menghampiri meja makan.


"Morning, Babang!" seru Silvi kepada Samuel.


Silvi melempar senyum kepada Samuel, Samuel membalasnya dengan kedipan mata. Saat Angel menatapnya, ia membalasnya dengan tatapan tidak suka.


Malas sekali jika setiap hari aku harus melihat wanita ular ini! Cepat nikahi wanita ini dan bawa dia pergi yang jauh Bang Sam!


"Morning, Silvi! Dave mana?" sahut Reza.


"Masih di kamar sama kakak ipar lah!" jawab Silvi.


Reza menghembuskan napasnya dengan kasar. Dadanya selalu terasa sesak saat mendengar Aryn dan Dave sedang bersama.


"Makan dulu, Za! Galau juga butuh tenaga!" seru Samuel membuyarkan lamunan Reza.


"Sialan lo!" umpat Reza.


Walaupun Reza tidak pernah berbagi cerita kepada siapapun mengenai perasaannya untuk Aryn, sebagai sahabat Samuel hapal gelagat Reza. Sudah sejak lama Samuel melihat wajah Reza yang tiba-tiba muram saat melihat kebersamaan Dave dan Aryn. Dugaannya semakin kuat saat Reza membantu Aryn kabur dari mansion dulu.


"Mereka berdua setiap hari begini ya?" tanya Samuel pada Silvi dengan menyuapkan makanan dalam mulutnya.


"Siapa? Kak Dave dan Kak Aryn?" Silvi bertanya balik.


"Iyalah, siapa lagi!" seru Samuel.


"Baru dua minggu ini sih mereka terlambat sarapan, yang aku lihat dua minggu ini juga mereka semakin lengket seperti perangko. Mereka bahkan beradegan mesra dimanapun dan kapanpun, sudah berkali-kali mata suciku ini ternodai!" jawab Silvi bersungut-sungut.


"Ya sepertinya begitu," jawab Silvi singkat.


Reza hanya mengaduk-aduk makanan dalam piringnya. Nafsu makannya menghilang setelah mendengar kabar kedekatan Dave dan Aryn. Sebenarnya ia sudah mencoba mengubur perasaannya dalam-dalam. Sekarang ia juga mulai aktif berkencan dengan gebetannya. Tapi bayangan wajah Aryn tidak pernah hilang dari pikirannya.


Dari arah lift terdengar perdebatan antara Dave dan Aryn.


"Turunkan aku Dave! Sampai sini saja, sudah tidak sakit kok!" seru Aryn.


Aryn memukul-mukul dada bidang Dave agar Dave mau menurunkannya dari gendongan. Perdebatan ini terjadi sejak mereka di dalam kamar tadi. Setelah mendapat jatah pagi,Dave tidak mengizinkan Aryn melakukan aktivitasnya sendiri. Ia menyuruh Aryn untuk diam di ranjang, ia dengan telaten memakaikan baju sekaligus mengeringkan rambut Aryn. Dan ketika Dave melihat Aryn meringis kesakitan saat akan berjalan, Dave langsung menggendong Aryn.


"Diamlah, sayang! Aku tidak tega melihatmu kesakitan!" protes Dave.


"Aku tidak apa-apa, Dave!" ucap Aryn dengan lembut.


"Tidak apa-apa bagaimana? Itumu sampai bengkak," seru Dave.


"Ssttt! Jangan keras-keras! Apa kau mau semua isi mansion mengetahuinya?" hardik Aryn.


"Baiklah, tapi kamu harus mengikuti kemauanku! Karena ini semua salahku, jadi biarkan aku membantumu!" ucap Dave.


"Tapi aku malu! Lihatlah semua orang sudah berkumpul di meja makan! Jika mereka melihatmu menggendongku maka mereka akan meledek!" seru Aryn.


"Biarkan saja!" jawab Dave.


Kamu akan lebih malu saat mereka juga melihat jejak petualanganku di leher indahmu.

__ADS_1


Dave terkekeh melihat jejaknya hampir rata di leher Aryn. Ia sengaa tidak memberitahunya. Dave ingin Reza melihat semua ini, agar dia bisa menjauhi Aryn.


Semua orang melongo melihat kemesraan Dave dan Aryn. Apalagi saat Dave mendudukan Aryn di kursinya, Samuel yang melihatnya sampai geleng-geleng kepala. Sementara Reza, lagi-lagi ia harus gigit jari melihat kemesraan Dave dan Aryn. Ia bahkan kesulitan bernapas saat melihat rambut Aryn yang masih sedikit basah.


Gua nggak tahan kalau setiap hari seperti ini, bisa-bisa gua mati muda gara-gara putus cinta! Lo harus move on, Za! Move on!


"Bukan main, kemesraan pasutri ini benar-benar membuatku iri!" ucap Samuel membuat Angel langsung meliriknya.


"Biasa aja!" celetuk Angel.


"kode tuh, Sam!" seru Reza yang mencoba bersikap biasa saja.


Aryn memutar bola matanya malas, ia baru ingat jika ada penghuni baru di mansion ini. Sekarang ia harus menguatkan hatinya untuk bertemu dengan wanita sejenis ular berbisa itu.


"Kenapa tidak dipangku sekalian aja kak?" seru Silvi bersungut-sungut, posisi duduknya bersebelahan dengan Aryn dan Dave.


"Jangan bilang kamu iri, Silvi? ID card aja belum punya," celetuk Samuel.


"Biarin wleek!" seru Silvi menjulurkan lidahnya.


"Kamu harus makan yang banyak, sayang! Biar kamu tidak lemas!" ucap Dave yang mengisi penuh piring Aryn dengan makanan.


Silvi bergidik mendengar ucapan kakaknya. Seumur-umur baru kali ini kakaknya lebay. Tanpa sengaja ia melihat leher Aryn yang penuh dengan tanda merah.


"Oh My God! Kak Aryn!" pekik Silvi.


"Ada apa?" jawab Aryn kebingungan.


"Emangnya pendingin udara di kamar kakak mati, ya? Kok kakak digigitin nyamuk, sampe merah-merah gitu!" ucap Silvi menunjuk leher Aryn.


Mendengar kepolosan Silvi, sontak saja membuat semua orang di meja makan itu tertawa terbahak-bahak.


"Pasti gede banget tuh nyamuknya!" celetuk Samuel.


"Ada apa ini, Dave? Apakah ada sesuatu di wajahku?" tanya Aryn kebingungan.


"Tidak, sayang! Mereka hanya kagum melihat jejak petualanganku!" sahut Dave dengan menampakkan senyum manisnya.


Jejak petualangan?


Aryn terdiam, mencerna kalimat Dave baik-baik.


Astaga... leherku pasti penuh bekas Dave!


Ia langsung menutupi leher sampingnya dengan rambutnya yang terurai. Ingin rasanya ia menutup wajahnya dengan kantong kresek sekarang.


"Sepertinya tidak lama lagi Dave junior akan hadir di tengah-tengah kita! Kalau anakku perempuan dan anakmu laki-laki atau sebaliknya kita bisa besanan, Dave!" seru Samuel.


Angel memutar bola matanya malas, ia kesal mendengar obrolan mereka.


"Emangnya sekali bikin langsung jadi? Lo aja yang sudah berkali-kali bikin jadinya baru sekarang, kan?" celetuk Reza.


"Gua yakin langsung jadi! Bibit unggul tidak bisa diragukan lagi!" ucap Dave dengan sombong sambil mengelus perut Aryn yang masih rata.


Aryn benar-benar tidak tahu dimana letak urat malu Dave. Ia pasti sengaja tidak memberitahu tentang kissmark di lehernya. Sekarang malah membahas obrolan mesum, ngelus-ngelus perut rata. Tapi di sisi lain, ia merasa terharu karena Dave menginginkan segera mendapat anak darinya.


Gua harus kuat! Gua harus move on!


Reza mencoba tersenyum dan bersikap biasa saja di hadapan mereka, padahal hatinya sedang tersayat-sayat sekarang. Tapi akhirnya Sarapan berlanjut dengan obrolan seru mereka mengenai rencana Samuel dan Dave yang akan berbesanan.

__ADS_1


..........


Jagan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya!


__ADS_2